Busan : Kota Pelabuhan Nan Menakjubkan

Bayangan mengenai kota pelabuhan dengan pemandangan ragam kontainer, kapal dan kesibukan yang membosankan terbantahkan begitu saja saat kaki menelusuri jalanan di Busan.

Kesan aman dan tenang saya rasakan sejak pertamakali menginjak kaki di Busan suatu malam awal November nan dingin. Ketakutan akan penipuan supir taksi buyar seketika saat sang supir dengan susah payah mencari alamat hostel hanya mengandalkan nomor telpon hostel yang saya berikan melalui GPS mobilnya – tak ada niat menipu di wajahnya yang mulai keriput, pun dengan sepasang anak muda yang mengantar saya ke depan pintu masuk hostel saat saya kebingungan menemui pintu menuju hostel.

Ketika sinar mentari menyapa pagi pertama saya di kota terbesar kedua di negeri ginseng tersebut dengan angin yang cukup membuat tubuh ini  mengigil, namun terabaikan begitu saja saat melihat senyum sepasang kakek nenek yang saya jumpai tak jauh dari stasiun Haeundae. Kehangatan menjalar di seluruh tubuh, saat langkah kecil ini memutuskan menelusuri jalanan Haeundae secara acak. Menikmati pembangunan kota yang hampir bersaing dengan sang ibukota, Seoul. Gedung-gedung bertingkat menarik perhatian dengan ragam keunikan yang mengagumkan.

DSC02943
Rooftop hostel yang menyenangkan

Menghirup udara dingin nan menyegarkan, saya melintasi pasar Haeundae yang tertata rapi dan bersih. Menikmati aktivitas pasar nan menyenangkan dengan ragam interaksi sosial. Muka-muka semangat melakukan kegiatan terpancar di wajah para Ahjumma – sebutan untuk wanita berumur – tanpa mempedulikan udara dingin. Lewat lensa kamera, saya membekukan satu momen kehidupan humanis yang menenangkan tersebut.

DSC02951

Beranjak dari pasar saya berjalan menuju pantai. Pagi itu tak ada aktivitas yang berarti, pesisir Haeundae tampak lenggang. Beberapa dari mereka benar-benar menikmati minggu pagi dengan kegiatan menyenangkan. Bersepeda dengan pelan, berjalan dengan santai, bercengkrama dengan sang buah hati, dan bersama orang terkasih menikmati debur ombak nan tenang.

Burung-burung camar pun tak kalah riangnya, beterbangan seolah mengajak ikut serta menjadi bagian dari aktivitas kegembiraan tersebut. Sebuah harmonisasi kehidupan diantara lautan pasir Haeundae, saya pun melepas pandangan lepas. Menikmati denyut kehidupan kota, sejenak mengabaikan fakta tentang Busan adalah kota Pelabuhan tersibuk se Asia.

DSC02909

Fisheries Science Museum

Terletak di muara sungai Nakdong yang mengalir sepanjang 700 KM dari pendalaman semenanjung Korea, Busan dikelilingi oleh lautan di tiga sisinya yang menjadi daya tarik kota ini sebagai obyek wisata pantai. Keadaan geografis ini juga menjadikan Busan sebagai kota pelabuhan yang berkembang cukup baik. Bahkan masuk dalam jajaran salah satu dari tiga pelabuhan tersibuk di dunia.

Sebagai kota pelabuhan, Busan memiliki budaya kelautan dan menyimpan cerita sejarah yang menarik. Memanfaatkan Bus City Tour yang di beri nama BUTI ( BUSAN City Tour) di depan Haeundae Beach dengan tiket seharian 15.000 Won saya memilih menghabiskan waktu lama di Fisheries Science Museum ; sekedar menemui cerita kelautan Busan.

DSC02991

Sebuah bangunan yang cukup besar dengan taman dan halaman yang luas tertata sangat bersih serta rapi. Saya menjumpai suara riang segerombolan yang saya perkirakan siswa sekolah taman kanak-kanak di depan pintu masuk sedang mengikuti tour bersama dua orang guru mereka.

Seorang petugas informasi menyapa dengan senyum ramah dan mempersilahkan untuk menjelajahi museum ini tanpa dikenakan biaya apapun. Saya tak dapat menyembunyikan ragam decak kagum melihat koleksi museum yang ditampilkan dengan perpaduan teknologi yang membuat saya menarik napas ; Andai di Indonesia ada museum seperti ini mengingat negara kita termasuk negara maritim.

DSC03007

Beberapa tanda memberitahu kemana langkah ini harus melangkah. Melihat sejarah kegiatan kelautan dari menangkap ikan dengan jala hingga menggunakan teknologi canggih. Miniatur kapal yang sederhana hingga yang modern. Beberapa layar ragam aquarium dengan koleksi ikan nan unik pun saya jumpai.

DSC03017

Dibangun pada 1997 Fisheries Science Museum merupakan museum perikanan yang pertama di Korea Selatan dengan tujuan sebagai pusat untuk mempromosi ilmu pengetahuan mengenai kemaritiman. Terdiri dari beberapa bangunan, museum ini memberikan gambaran yang menarik mengenai teknologi perikanan dan peralatan maritim hingga pameran mengenai ikan hiu. Selain itu, juga disediakan sebuah ruangan dimana pengunjung dapat belajar bagaimana mengoperasi kapal laut.

Memanjakan lidah di pasar Bupyeong Kkantong Yasijang (Night Market)

Malam mulai beranjak, gemerlap lampu menghiasi perkotaan Busan ditengah suasana hujan yang baru saja reda. Sejenak saya merasakan suasana romantis menelusuri jalanan di kawasan Nampodong.

DSC03146

Busan tak saja berkembang menjadi kota Pelabuhan dan Metropolitan yang menakjubkan, tapi juga sebagai kota penuh kreativitas. Jangan lupakan mengenai Festival Film Internasional Busan, Festival Film terbesar di Asia yang setiap tahun diselenggarakan. Saya pun sempat melewati kawasan BIFF (Busan Internasional Festival Film) dengan keindahan lampu dan beberapa streetfood dengan tenda bewarna merah ; mengingat saya pada pecel lele di jalanan Jakarta.

DSC03142
siapa yang tega buang sampah plastik di jalanan ini? *hiks

Dari kawasan BIFF saya melipir ke Bupyeong Kkangttong Yasijang ( Night Market), sebuah pasar yang  sudah ada sejak tahun 1910. Awalnya merupakan pasar tradisional biasa, namun berjalan waktu pasar ini berubah menjadi pasar malam yang dipenuhi aneka jajanan pasar dari berbagai negara. Kata Kkantong sendiri mengacu pada makanan kaleng yang saat itu banyak di jual di pasar ini ketika jaman perang Korea masih berlangsung.

DSC03260

Maya, seorang mahasiswa Pusan Nasional University asal Bandung yang tak sengaja saya temui di kawasan Jung-gu – tempat saya menginap, bersama keluarga kecilnya mengajak saya menelusuri tiap  sudut Bupyeong Kkangttong Yasijang ( Night Market) yang dipenuhi dengan aroma makanan mengoda imam.

DSC03266

Saya melihat hal yang sama seperti di Indonesia — keramahan– saat Maya dan keluarga kecilnya saling menyapa beberapa pedagang makanan. Maya pun bercerita, dulu ia sempat bekerja part-time dan menjual mie goreng di tempat ini. Ia pun suka tukar makanan dengan salah satu Ahjumma yang jualan makanan tradisional khas Korea yang sempat ia sapa di pasar Bupyeong Kkantong Yasijang.

Malam itu, Maya mentraktir saya beberapa jajanan pasar yang mengiurkan. Membekali kebab dan kue khas Busan yang isinya kacang merah untuk perjalanan saya ke Seoul. Kehangatan keluarga Maya membuat saya lupa pada dinginnya Busan Malam itu. Tersisa adalah rasa kekaguman yang menakjubkan tentang Busan nan Indah. (eka)

 

 

Menemui Indonesia di Selatan Ibukota Negeri Ginseng

Menyinggahi kota Ansan adalah jawaban kerinduan akan sebuah negeri yang menyenangkan dengan keramahan dan masakannya ; Indonesia.

Udara dingin langsung menyapa tubuh saya sesaat keluar dari Subway line 4 di stasiun Ansan. Perjalanan satu jam lebih dari stasiun Dongdaeumun, Seoul – kawasan tempat saya menginap– tidak begitu melelahkan. Maklum saya melewati dengan terlelap sejenak mengabaikan keindahan pemandangan diluar sana dari jendela kaca Subway pagi itu.

Saya merapat sweater pemberian seorang mahasiswa Indonesia yang lagi kuliah di Busan yang saya temui tak sengaja dalam perjalanan saat di Busan. Rasa kasihan melihat tubuh ringkih ini hanya terselimuti jacket tipis membuat Mahasiswa tersebut menghadiahkan sweater yang nyaman bagi saya.

DSC03653
Sebuah taman terbuka yang berada tak jauh dari kawasan keramaian Ansan Stasiun

Saya datang di awal November ketika Korea Selatan memasuki musim gugur yang saya perkirakan awalnya cuaca tak terlalu dingin. Sayangnya, meskipun matahari bersinar terik anginnya cukup membuat tangan membeku kedinginan. Saya jadi teringat ucapan  seorang teman : “ kita tidak pernah tahu apa yang terjadi dalam perjalanan.”

Mata saya sejenak terpejam. Menghirup udara dingin. Menghentikan langkah. Menikmati suara riuh di sekitar stasiun Ansan. Sebuah percakapan yang akrab membuat saya menyunggingkan senyum. Logat Jawa nan kental.

Tempat itu bernama Ansan

Terletak di Selatan Seoul, ibukota Korea Selatan, Ansan adalah sebuah kota di provinsi Gyeonggi, Korea Selatan. Kota ini bukanlah termasuk tujuan wisata populer seperti Busan saat traveling ke negeri ginseng. Namun ketenangan kota kecil ini mampu menjawab kerinduan akan rumah disela-sela rasa lelah sepanjang perjalanan menjelajahi negeri ginseng.

DSC03649
Minggu Pagi di Ansan

Rasa itulah yang membuat saya rela bangun pagi setelah kelelahan berjibaku di pusat perbelanjaan Myeongdong, Seoul, tadi malam hanya sekedar ingin melakukan perjalanan ke Ansan. Semesta pun menyambut saya dengan sinar matahari yang cukup cerah. Saya pun menelusuri lorong stasiun Ansan yang sejenak mengingatkan saya pada kawasan Glodok dan Mangga Dua, Jakarta, dengan ragam pertokoannya. Beberapa tulisan dalam bahasa Indonesia berseliweran. Akhirnya mata ini bisa terlepas juga dari huruf Hangul – huruf Korea. Suara-suara dengan logat Jawa pun menghampiri telinga saya.

Kaki saya melangkah dengan semangat, melempar pandangan pada penjual sayuran dengan senyum terukir. Ahjumma pun melempar senyum yang sama ; Ah, bahasa senyum memang selalu menyenangkan!

DSC03615
Koridor stasiun Ansan. Menariknya, disini masih ditemui street market — pedagang kaki lima, yang tertata rapi dan bersih.

“ Mas Mesjid dimana ya?”

Kaki saya terhenti pada segerombolan pemuda yang asyik bercengkrama. Mereka sejenak memandang saya. Salah satu dari mereka memberi arahan. “ Mbaknya menyeberang di bawah dulu. Nanti jalan lurus belok kiri udah jalan aja terus.”

“ Kira-kira sepuluh menitlah jalan,” sahut mas yang satu lagi.

Saya mengangguk. Beberapa diantara mereka tersenyum menyadari ekspresi wajah saya mendengar jalan kaki selama sepuluh menit. “Tenang mbak. Nggak capek kok jalannya.”

Saya nyengir. Kalau di negeri sendiri ini udah manggil abang ojek. Pikir saya. Saya pun mengucapkan terima kasih. Berjalan mengikuti arahan mereka.  Lagi-lagi wajah saudara setanah air banyak saya temui sepanjang jalan. Saya menghela napas penuh kelegaan. Ada ketenangan menyusup di dalam diri ini. Tak lagi khawatir soal bahasa dan tersesat.

DSC03613
Mas-mas yang lagi menikmati liburan. Adakah sahabat hati eka diantara mereka? *eh 

Mereka benar bahwa saya tak akan lelah menelusuri perjalanan sepuluh menit ke mesjid dari stasiun Ansan dengan berjalan kaki. Daun-daun yang berguguran di sepanjang jalan menyegarkan mata . Pun pertokoaan yang tertata rapi. Saya pun banyak menemui makanan khas Indonesia.

 Ah… INDONESIA. Kenapa selalu menghadirkan rindu?

Kenyamanan di Mesjid Shirathol Mustaqim -Ansan

Sebuah mesjid berdiri kokoh diantara bangunan yang ada di kawasan Danwon-gu, Ansan. Ragu saya memasuki mesjid. Seorang pemuda sedang berjalan memasuki area mesjid. Saya pun tampak ragu memilih bahasa yang digunakan ; Inggris atau Bahasa. Reflek saya mengeluarkan bahasa Indonesia. Ia pun menjawab dengan bahasa yang sama dengan lancar. Memberi arahan tentang tempat wudhu dan sholat khusus wanita yang terletak di lantai 3. Mesjid ini cukup bersih dan nyaman.

DSC03626
Renovasi pada mesjid Shirathol Mustaqim ini tak lepas dari sumbangsih perkumpulan pemuda Indonesia yang ada di Korea Selatan

            Merupakan kota industri yang banyak mendatangkan pekerjaan asing termasuk Indonesia, Ansan kerap dijadikan meeting point bagi Imigran termasuk di mesjid ini. Dari obrolan dengan salah satu pekerja yang berasal dari Malang yang sudah dua tahun berada di Korea Selatan, ia menceritakan kepengurusan mesjid tersebut bercampur dari berbagai Negara ; ada yang dari Pakistan, Bangladesh dan Indonesia.

            “Namun, karena orang Indonesia suka ngumpul kali ya. Jadi kadang emang lebih suka terlihat aktif orang Indonesia di sana.”

            Saya mengangguk menyetujui omongannya. Menyadari beberapa tulisan di mesjid menggunakan bahasa Indonesia termasuk terjemahan alqur’an dalam bahasa Indonesia yang saya temui saat menunaikan sholat di sana. Saya pun menjumpai brosur informasi tentang paket menunaikan ibadah haji dalam bahasa Indonesia di pintu masuk mesjid.

            “ Dan tempat ini menjadi tujuan bagi mereka yang ingin mencari makanan halal,” tukas si Mas.

            Dari cerita teman saya yang lain, mesjid ini juga banyak dapat bantuan dari perkumpulan pemuda Indonesia yang ada di Korea Selatan.

            Kehangatan di semangkuk Bakso

Lupakan mie rebus instan dengan potongan cabe rawit di kala dingin merasuki tubuh ini.  Ada yang tak kalah lezat yang membuat kamu menelan ludah dan terkenang rasa kaldu kuah bakso di ujung lidah. Rasanya makanan inilah yang paling dirindukan selama berada di luar Indonesia. Apalagi dikala udara dingin, sangat menginginkan abang bakso lewat depan rumah.

DSC03633
Kangen Bakso. Ini kali kedua menikmati semangkuk bakso di luar Indonesia ; Malaysia dan Korea Selatan.

Saya pun tak dapat menahan diri untuk memesan semangkuk bakso saat menemui warung bakso di dekat mesjid. Mengabaikan harga yang cukup mahal jika dirupiahkan – 8000 won. Di warung ini juga tersedia beberapa produk makanan khas Indonesia seperti teh dan mie instan.

Rusdi, sang pengelola pun bercerita pada saya warung bakso yang dikelolanya ini hasil kerja sama dengan warga Korea sebagai pemilik. “ saya cerita ada nih  usaha yang tidak repot, tidak butuh modal besar, dan sederhana tapi selalu dicari. Yaitu bakso.” Ia pun menambahkan warung bakso yang bernama Kangen Bakso ini adalah warung bakso pertama di daerah Ansan.

 Ditangan Rusdi bakso dibuat dengan citra rasa yang tak kalah lezat dengan bakso di tanah air. Mengimpor daging dari Australia, ia pun memastikan kehalalan daging bakso yang digunakannya.

DSC03628.JPG
Kangen Indonesia… melipir ke Ansan aja 🙂

Saya beruntung datang di Minggu siang, saat para pekerja Imigran lagi menikmati liburannya. Dua orang mbak-mbak asal Surabaya yang sudah tinggal selama tiga tahun di Korea Selatan bercerita pada saya, ia kerap menghabiskan Minggu  di Ansan –padahal ia tidak tinggal di kawasan ini – sekedar melampiaskan kerinduan pada masakan Indonesia

The Little Town Indonesia

“ Boleh mbak sepatunya!”

Saya terperanjat kaget ketika melintasi pertokoan dengan tumpukan sepatu olahraga yang di obral. Sebuah sapaan membuat saya akhirnya menyungging senyum tipis. Mengelengkan kepala. Saya seperti terlempar dari negeri Ginseng sejenak. Tidak seperti beberapa pusat pertokoaan yang saya kunjungi di Seoul, sepatu ini tertulis ‘made in China’ dengan jelas di sebuah kertas yang terletak diantara tumpukan sepatu tersebut.

DSC03658
Adakah nyelip sahabat hati eka di antara mas-mas yang ngerumpi asyik ini? *Eh

Pertamakalinya selama seminggu berada di negeri dongeng saya melihat produk selain ‘made in Korea’. Saya terkenang pada ucapan seorang pedagang pusat perbelanjaan Good Morning di Dongdaemun saat menawar belanjaan. “ Ini made in Korea bukan China.”

Kaki saya melangkah memasuki kawasan yang tertulis kuliner internasional. Ansan memang terkenal dengan kawasan imigran asing melihat beberapa pabrik dan universitas yang berada di kota kecil ini. Kamu dapat menemui masakan Vietnam, Thailand dan tentu saja Indonesia. Tapi entah kenapa mata saya lebih banyak menangkap tulisan berbahasa Indonesia termasuk ‘warung Indonesia’.

Tak sekedar menjual ragam masakan tradisional Khas Indonesia, di kawasan ini juga mudah ditemui warung yang menjual produk Indonesia. Ketika saya kesulitan mencari money changer yang mau menerima rupiah selama berada di Seoul, di kota Ansan lah Rupiah disambut dengan hangat. Yup, pada akhirnya Rupiah saya diterima untuk ditukar dengan Won.

DSC03645.JPG
Keramaian Ansan di suatu minggu pagi nan cerah

Menikmati Minggu di daerah Ansan adalah agenda yang tepat saat menyinggahi Negeri Ginseng. Menemui Indonesia lewat wajah-wajah saudara setanah air yang sedang berjuang di negeri orang, menikmati ragam kuliner Indonesia yang menambah rasa syukur terlahir sebagai Indonesia. Saya seperti menemui ‘pelukan ibu’ di kota Ansan. Dan… Jika harus mengambil kesimpulan saya menyebut daerah Ansan adalah The Little Town Indonesia nya South Korea. (Eka)

 

Sakura dan Romantisme Kehidupan Musim Semi di Kyoto

Ketika angin musim melambai

Kelopak bunga sakura bertaburan

Suaranya menggema di jalan ini

Saat kita berdua berjalan

dikutip dari terjemahan lagu Cherry Blossom ‘Busker-Busker’

Sebuah telapak tangan perlahan mulai bersentuhan. Saling mengengam erat berjalan melintasi pepohonan rindang yang bunganya sedang bermekaran. Satu kelopak bunga jatuh tepat di atas rambut hitam sang perempuan. Sang lelaki dengan lembut meraih kelopak tersebut tanpa melepas gengaman tangannya.

            Pasangan tersebut tak berhenti saling melempar senyum sumringah. langkah kaki terhenti pada lapangan luas. Mereka mulai mengelar tikar. Sang perempuan sibuk mengeluarkan bento dengan segala bentuk yang menakjubkan ; telur mata sapi yang diukir senyum dengan saos atau potongan tomat berbentuk lambang love. Tak lupa kudapan Sakuramochi, kue mochi yang dibungkus dengan sehelai daun sakura.

Di sekitar mereka hal serupa terjadi, penuh keriangan dan bahagia yang tak terlukiskan. Anak-anak saling berlari, bermain penuh tawa. Sementara orang dewasa menikmati semilir angin seraya melempar pemandangan bunga sakura yang lagi bermekaran sangat indah.

kento-yamazaki
Source : Google Image

CUT!

Adegan yang tergambarkan lewat kalimat di atas bukanlah sebuah kejadian nyata atau apalah namanya — berharap suatu saat bisa mengalami sih *lope-lope*. Tapi itulah yang terlintas dalam benak saya ketika tak sengaja melihat pemandangan bunga sakura entah itu dari layar televisi, majalah, koran, laptop maupun ponsel.

semi
Keindahan yang memukau!

Sebagai penikmat Dorama dan melewati masa remaja bersama manga shoujo (serial cantik) yang kerap mengambil latar belakang kehidupan remaja serta keindahan berbagai kota di Jepang, tentu perasaan penuh imajinasi menemani tidur saya. Ah, membayangkan senyum sinis Kento Yamazaki atau tampang cengo’ Takeru Satoh berjalan di sisi tubuh mungil ini menelusuri jalan setapak yang dipenuhi dengan ratusan bunga sakura sedang bermekaran indah sungguh sebuah kebahagiaan yang tak terlukiskan lewat kata-kata.

satohtakeru-amuseblog-jp
Bang senyummu bang… Ibarat sakura yang sedang bermekaran. Indah ! ( source : satoh)

Sebuah kebahagiaan yang tergambarkan lewat keindahan bunga sakura yang rimbun. Yup, bagi saya bunga sakura tak ubahnya lambang kebahagiaan apalagi bergandengan tangan dengan Satoh. Bunga yang bermekaran ketika musim semi  selama dua minggu dalam setahun sekitar  Maret hingga akhir Juni ini merupakan bunga nasional negara Jepang. Sementara Jepang sendiri merupakan rumah bagi ratusan jenis Cherry blossom tersebut. Sedangkan bagi masyarakat Jepang adalah simbol sebuah pembaharuan dan harapan.

Meskipun mengunjungi negara Jepang dapat dilakukan di berbagai 4 musim yang dimiliki negara Doraemon ini — sebab selalu ada kejutan yang menakjubkan dari setiap musimnya, tapi saya ingin menjadi bagian dari romantisme kebahagiaan yang tak terlukiskan tersebut lewat musim seminya. Mengukir harapan di bawah  rindangnya pohon bunga Sakura pada hidup yang lebih baik ke depannya. Syukur-syukur bisa nemu sahabat hati seperti karakter Kento Yamazaki sebagai Kanata Shibasaki di dorama Sukina Hito Ga Iru Koto.*kalem*

Maka lupakan sejenak romantisme Jepang di musim gugur kala warna-warni dedaunan mulai berjatuhan menghiasi jalanan, abaikan keriangan saat musim panas dengan mendaki gunung Fuji dan senyum gembira menikmati festival salju. Lagi-lagi saya ingin mengukir cerita nan manis yang dilengkapi eksotisme pemandangan bunga bewarna pink muda menakjubkan itu.

his-travel
Masya Allah, kawaii! sumber : H.I.S

****

Maka kemanakah langkah saya untuk memulainya?

Kyoto. Tak ada yang meragukan keindahan kota terbaik di dunia versi majalah travel + Leisure ini. Sebagai pencinta keindahan dan cerita sejarah, bagi saya mantan ibukota kekaisaran Jepang ini sungguh menakjubkan. Ibarat makanan Kyoto adalah paket lengkap dari sajian makanan ala Sumatera Barat. Penuh cerita dan keeksostisan yang tak terbantahkan.

Ditengah gempuran modernisasi arsitektur bangunan yang futuristik, Kyoto masih bertahan dengan gaya tradisionalnya. Kota ini merupakan jantungnya sejarah Jepang dan rumah bagi ribuan keajaiban arsitektur bangunan tuanya yang terjaga dengan baik –salah satunya termasuk dalam 17 warisan budaya dunia UNESCO.

kyoto-rumah
Kyoto adalah salah satu  kota Jepang yang masih teguh suasana tradisionalnya. Salah satu kuil tua yang menjadi landmarknya kota Kyoto dan merupakan warisan dunia UNESCO ; Kiyomizudera Temple

Kyoto adalah salah satu kota yang wajib dikunjungi oleh para traveller jika berkunjung ke Jepang. Setidaknya itu yang saya simpulkan dari beberapa pengalaman travel blogger yang melancong ke Jepang. Maka, Kyoto adalah pilihan terbaik mengukir kisah manis menikmati momen sakura bermekaran.

Kota nan klasik. Budaya yang masih kental Jepangnya. Dan, pemandangan bunga Sakura. Ehm….

Dan, bagi saya meluapkan khayalan di tulisan ini tentang Kyoto adalah seni mewujudkan perjalanan ke Jepang. Berikut ini khayalan yang akan saya lakukan jika suatu hari nanti Sang Pemberi Hidup, Allah Subhanahu wa ta’ala memberi kesempatan untuk melancong ke Jepang, terutama Kyoto.

fushimi
Fushimi inari taisha ; Kuil sinto yng merupakan kuil pust bai sekitr 40.000 kuil Inari yang memuliakan Inari. Tempat ini sangat populer di kalangan pelancong saat berkunjung ke Kyoto

Bismillah 🙂

7 Hal Seru mengukir cerita musim semi tak terlupakan di Kyoto :

  1. Menikmati Malam di Distrik Gion

Gion merupakan distrik hiburan terkenal di Kyoto yang masih kental dengan arsitektur dan dekorasi budaya tradisional Jepang. Di tempat ini kita juga bisa bertemu Geisha. Tapi, sejujurnya saya tak ingin bertemu Geisha. Saya ingin menelusuri romantisme daerah yang masih mempertahan keindahan arsitektur tradisional khas Jepang dibawah sinar rembulan dan gemerlap lampu jalanan yang membawa saya pada kesan kehidupan di zaman Edo.

kyoto-geish
Geishanya cantik. Hehehehe, Kyoto salah satu kota yang masih bisa di temuinya Geisha, salah satunya di kawasan Gion.

Menyinggahi salah satu kedai dan menikmati secangkir kehangatan teh yang menyegarkan badan. Berdasarkan cerita sejarah Gion dulunya merupakan tempat dimana kedai-kedia teh melayani para pengunjung yang kelelahan setelah dari Kuil Yasaka (Yasaka-Jinja). Nah, rasanya seru saja nongkrong seraya ngeteh cantik di tempat ini. Apalagi kalau ditemani sahabat hati. *eh

ngeteh-cantik
upacara minum teh atau disebut Chatoo adalah tradisi Jepang dalamm menyambut tamu.

   2. Berjalan di The Philosopher’s Path  

Hanami merupakan sebuah tradisi di Jepang untuk menikmati bunga terutama saat Sakura mulai bermekaran. Biasanya orang Jepang akan melakukan piknik untuk menikmati pemandangan dan atmosfer yang menyenangkan pada Cherry Blossom tersebut.

salah satu tempat terbaik Hanami di Kyoto dengan berjalan  di bawah pohon Sakura adalah Tetsugaku no michi atau lebih di kenal dengan sebutan The Philosopher’s Path. Sebuah jalan setapak disisinya mengalir sungai kecil yang menghubungkan antara kuil Ginkaku-ji dan Kuil Nanzen-ji. Sepanjang jalan yang memiliki panjang sekitar 3 km ini dihiasi oleh pohon Sakura nan rindang.

the path.jpg
Jalan romantis. heheheh . (sumber gambar : klik di sini)

Menarik tentu saja kuil yang ada di kawasan ini untuk memberi kesan bahwa saya benar-benar berada di Kyoto. Selain itu berjalan beriringi tangan dengan orang terkasih atau menelusuri dengan sepeda adalah pilihan yang menyenangkan menikmati Hanami di The Philosopher’s Path.

hanami
Ayooo siapa yang mau Hanami di sini??? Baper hiks lihat ginian -_-

3. Piknik di Arashiyama 

Arghtt! Saya tak dapat menahan diri untuk tidak berteriak saat menelusuri twitter salah satu akun travel tour agen, HIS Travel Indonesia. Sebuah foto terpampang indah. Deretan pohon bambu berjajar sangat asri di sepanjang jalan setapak. Sepanjang mata melihat, perasaan damai dan tentram perlahan menyusup di relung hati ini. Ah, apalagi ada adegan dimana Sato membonceng saya menelusur jalan setapak ini. 😀

C21yinPUkAAS7c6.jpeg
Tambah baper lihat ini. Babang Satoh kapan ajak dedek main sepeda di sini????

Menariknya adalah ternyata Arashiyama termasuk salah satu kawasan terbaik melakukan Hanami. Sebab di sini juga terdapat banyak sekali pohon sakura di sekitar Togetsukyo Birdge, jembatan yang menjadi ikonnya Arashiyama. Sebuah jembatan kayu yang berusia sekitar 400 tahun tersebut membentang diatas Katsura River dengan latar pengunungan Arashiyama. Tidak terbayang keindahan pemandangan di tempat ini saat Sakura bermekaran.

Mengelarkan tikar diseberang jembatan, tepatnya di salah satu taman dimana pohon Sakura berkumpul adalah aktivitas terbaik harus dilakukan di tempat ini. Menikmati Bento seraya memintal impian untuk menikmati hidup yang lebih baik dan bahagia ke depannya. Tanpa kata, saling melempar pandangan mata yang indah. Seindah bunga sakura.

BENTO BENT.jpg
Bentonyaa unyu !

Mengakhiri piknik asyik, di tempat ini kita bisa mencoba menaiki Rickshaw, sebuah alat transportasi tradisional khas Jepang yang ditarik menggunakan tenaga manusia. Sensasi seru mengabadikan momen tak terlupakan saat liburan di Kyoto ketika menaiki Rickshaw, menurut saya sih.

Hehehe…

4. Menelusuri Kanal Okazaki

Lupakan sejenak tentang keeksotisan kota Venesia dengan kanalnya. Ada yang tak kalah indah dan menyenangkan ketika kaki menginjak Kyoto apalagi di saat Sakura bermekaran. Berperahu ria menelusuri kanal Okazaki, sebuah kanal yang menghubungkan danau Biwa dengan Kamo River.

okazaki-canal
Bang Satoh yuk berlayar! (sumber foto : japan-guide)

Romantis tak terlupakan saat pandangan lepas ke jejaran bunga-bunga Sakura di sisi Kanal dari atas perahu yang melaju tenang di kanal Okazaki. Rasanya inilah Hanami yang mengesankan, yah meskipun harus merogoh kocek untuk sekedar menelusuri kanal dengan perahu tersebut. Tapi hal tersebut terbalas dengan momen mengesankan yang tak terlupakan. Pemandangan yang memukau!

5. Mencari Sahabat Hati di Kuil Kiyomizudera

Ayo siapa yang pernah menjadikan salah satu kuil Budha kuno ini sebagai walpaper di desktop PC komputernya? Yup, kuil yang dibangun pada tahun 789 masehi ini sungguh memiliki arsitektur klasik nan indah. Ditambah dengan pemandangan lanskap yang menyegarkan mata.

Tak heran kuil ini menjadi landmarknya Kyoto dan tempat wisata yang populer dikalangan pelancong. Menarik dari kuil ini adalah dibagian belakang kuil utama terdapat kuil Jisshu-jinja yang disebut dengan dewa jodoh. Hah, semoga saya berjodoh dengan Keshin, eh Sato ding!

Amin.

kuil.jpg
foto dicomot dari : klik di sini

Ada cukup banyak bunga sakura di tempat ini, terutama di kolam dekat pintu keluar kuil. Seraya berhanami dan menikmati atmosfer yang menyegarkan, kita bisa diam-diam memintal harapan semoga bertemu sahabat hati di sini. *kemudian mengedarkan mata ke ragam pengunjung kuil. Adakah terselip jodohku?*

6. Bertemu Kenshin di Toei Kyoto Studio Park ( Toei Uzumasa Eigamura )

Dua puluh tahun lalu, kakak sepupu saya pernah berteriak dalam tidurnya.” Satria Baja Hitam. Berubah!” Yah, bagi mereka yang tumbuh di era 90-an tahu serunya menonton serial Kamen Rider Black itu seperti apa.

Sama seperti halnya kakak sepupu saya yang kerap membayangkan kehidupan yang terjadi di Kamen Rider Black tersebut, saya pun juga kerap menghayal berada di kehidupan periode Meiji ala Rurouni Kenshin. Berjalan mengunakan kimono nan cantik menelusuri bangunan kayu klasik khas Jepang. Yah, anggap saja saya Kamiya Kaoru. *kalem

samurai
Kenshin!

Impian untuk merasakan era Jepang kuno bisa dinikmati di Toe Kyoto Studio Park (Toei Uzumasa Eigamura), sebuah tempat dimana kita bisa melihat banyak set untuk shooting beberapa film Jepan termasuk Rurouni Kenshin. Ada rumah jaman dulu, teater, jembatan dengan nuansa Jepang kuno. Dijamin Instagramble deh!

Maka lupakan sejenak bermain di Fushimi Inari taisha yang mengagumkan tersebut, rasanya menemui sahabat hati si Kenshin disini lebih prioritas. Terus baru deh si Kenshinnya dibujuk ke kuil Shinto tersebut. Sekedar berfoto bahwa ; Saya  di Kyoto lho! hehehe….

7. Bertamu ke The Kyoto International Manga Museum

Saya tumbuh bersama Manga, sebut saja Serial Cantik, Naruto, Conan, dan Samurai X. Komik-komik tersebut menghiasi beberapa bofet di rumah. Bertamu di The Kyoto International Manga Museum adalah kegiatan yang wajib saya lakukan ketika berada di Kyoto. Sebuah mimpi yang sempurna nan indah.

museum.jpg
Boleh bobok cantik nggak sambil baca buku di rumputnyaaa??? (sumber : insidekyoto)

Berbicara mengenai manga tak lepas dari kultur Jepang itu sendiri terutama mengambil peran terhadap berkembangnya budaya J-Pop. Ya, lewat manga saya  mungkin adalah diantara ribuan orang di luar Jepang yang melihat negara ini dari sisi yang menyenang — sangat menyenangkan.

Museum ini didedikasikan untuk manga dan pengemar seperti saya * tersenyum kalem*. Sebagai tepat berinteraksi dan berkomunikasi bagi para pencinta komik Jepang. Menariknya adalah di tempat ini juga menyelipkan pertunjukan tradisional bersejarah yang disuguhi secara reguler yaitu Kamishibai ( drama kertas), dongeng bergambar tradisional Jepang yang disampaikan narator lewat gambar-gambar.

Zaman dulu pertunjukkan tersebut populer sebagai hiburan jalanan. Seru nggak sih? Ngebayangi aja sudah seru 😀

****

Kalimat bijak pernah bilang, jangan pernah berhenti untuk bermimpi. Ya, impian untuk suatu hari bisa melancong ke Kyoto saya jaga di ruang hati ini termasuk mimpi bersanding di pelaminan dengan Satoh. Oke, bagian terakhir ngayal parah!

sato
Si babang lagi on the way menjemput si Eka. Jangan ngelamun aku mulu dong bang! *kalem*

Well, selalu ada usaha disamping do’a yang terus menerus diucapkan untuk bisa menginjak Kyoto — bahkan membuat ‘kyotojepang’ sebagai password wifi hotspot ponsel pintar saya. hehehehe, jadi … *tari napas dulu*

Bagaimana cara termudah bisa menikmati liburan ke Jepang?

Cobalah iseng bertandang ke website  H.I.S. Travel and Tour , sebuah agen perjalanan yang siap membantu memudahkan mewujudkan perjalanan menikmati keindahan Sakura. Dari mulai membantu mengurus Visa, sampai merancang sebuah perjalanan yang menyenangkan baik itu individu maupun grup — ada jual JR Pass lho sama rental egg wi-fi 🙂

jr-pass-banner-harga-rupiah-newjuly2016-4

Yup, kenapa harus H.I.S?

alasanhis

No tipu-tipu ! Hehehehe, setidaknya travel tour ini terpercaya, sebab seorang teman pernah cerita kalau perusaha tempat dia bekerja suka mengunakan  H.I.S dalam mengatur perjalanan gathering kantor selama ini. Waktu itu teman saya cerita mengenai liburan seru dia ke Singapura bareng teman kantornya yang diatur oleh H.I.S

Kenapa harus mencoba dengan H.I.S?

his

 

Lewat kelebihan yang dimiliki oleh H.I.S, bagi saya ini bisa menjadi pilihan yang menarik bagi yang bermimpi seperti saya untuk bisa menikmati romantisnya wisata ke Jepang. Kamu bisa memilih HAnavi , sebuah paket travel domestik Jepang kolaborasi H.I.S dengan salah satu maskapai terbaik di dunia, ANA (All Nippon Airways) untu mengukir kenangan indah perjalanan liburan ke negeri sakura.

Disini kamu tidak perlu repot-repot, soalnya  HAnavi telah menyediakan paket tiket penerbangan plus hotel dengan harga yang cukup ramah. Satu lagi bagi yang muslim seperti saya yang selalu mikirin makan halal, H.I.S bisa membantu lho. hehehe

 Berikut beberapa hal yang kamu dapati dari HAnavi :

  1. Hemat, dari segi biaya, paket yang ditawarkan Hanavi sangat ramah. Selain itu, hemat dari segi waktu, kamu tak perlu berpusing-pusing ria mencari destinasi sebab sudah diatur semakin rupa oleh HAnavi.
  2. Banyak pilihan paket yang dapat kamu pilih sesuai dengan keinginanmu. Ada sekitar 800 penerbangan maupun ribuan hotel. O,ya kamu bisa juga lho menyewa wifi, sehingga masih bisa terkoneksi dengan sosial media dan memamerkan foto indah selfiemu bersama bunga sakura.
  3. Paket hotel dan tiket pesawat dengan diskon besar-besaran. Ehm… tentu ini sangat mengiurkan bukan?

Ayo rencanakan perjalanan bersama H.I.S Travel and tour lewat HAnavi untuk menyaksikan bunga Sakura yang sebentar lagi mulai menghiasi negeri Jepang yang memukau indah. Kamu juga bisa lho berkesempatan memenangkan wisata ke Jepang dengan mengikuti lomba blog yang diselenggarakan H.I.S.

**** Tulisan ini diikut sertakan dalam lomba blog bertema #HISAmazingsakura. info lebih lanjut : http://his-travel.co.id/amazing-sakura-blogger-competition/

HIS Amazing Sakura - Blogger Competition