citilink

Jakarta, Kisah Kita Belum Usai

Jakarta,

Ada banyak sumpah serapah penuh makian tiap hari ditujukan kepadamu. Tentu berat bukan? ditengah beban menampung ratusan pendatang tiap tahunnya yang ingin merengkuh dan berbagi masalah denganmu. Mungkin, ini alasan kenapa aku memilih meninggalkanmu setelah lima tahun bergulat dengan keromantisan hidup yang kau sajikan. Memberi sedikit nafas lega untukmu.

Sayangnya, aku terlalu terburu-buru meninggalkanmu tanpa mengucapkan salam perpisahan –jangankan salam, kata ‘bye’ tak sempat aku update di sosial media. Tak terpikirkan tentang ragam memori penuh emosi yang telah kau lukiskan dalam kehidupanku. Dan disinilah, di kota kelahiranku, Padang, aku terpuruk pada rasa rindu yang cukup menyesakan. Bukan ingin kembali mengulang apa yang pernah aku lakukan dulu di tempatmu, tapi lebih pada keinginan merengkuhmu seutuhnya yang belum terselesaikan.

Menikmati malam di Bundaran HI

Menikmati malam di Bundaran HI

Aku terlalu sibuk dengan jalanan kemacetan ibukota, terlena dengan obrolan penuh bual di tiap sudut caffe, dan tersesat dengan gembira di jejaran Mall kawasan kuningan. Lupa kalau pada janjiku ketika Sekolah Dasar dulu, akan mengunjungi Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Melihat ibu pertiwi dalam ragam miniatur yang mengagumkan.

Jakarta, aku merindukanmu.

Bukan rindu untuk terburu-buru memasuki kereta api, berlari mengejar bus, dan berdiri di dalam transjakarta. Tapi kerinduan pada sebuah kisah yang belum usai. Dan, pada akhirnya kadang imajinasi liarku berlari ke arahmu.

Menaiki burung besi, mendarat di Bandara Soekarna Hatta, membayangkan sosok temanku, Rahma,-partner in crime menikmati romansa jalanan yang kau sajikan, menungguku.

Booking tiket

Booking tiket

Kali ini aku memilih maskapai citilink, bukan karena berbudget murah, tapi lebih penerbangan terakhirku dengan maskapai bewarna hijau ini sangat berkesan. Pramugari yang ramah dan sigap menolongku untuk meletakan tas di atas kabin. Dan, tentunya pantun-pantun yang dilontarkan membuat bibirku tersenyum geli. Satu hal lagi, aku paling takut ketika landing, dan penerbangan dengan citilink tak menghadirkan ketakutanku. Landing nya lembut.

Aku akan memilih penerbangan pagi menjelang siang, perkiraan akan sampai di Jakarta tengah hari. Aku ingin langsung menunaikan sholat di Mesjid Istiqlal dan menikmati sore di taman Menteng.

Ticket pulang

Ticket pulang

Untuk menghabiskan istirahat malam bersama Rahma, tak ingin menyiakan waktu, aku mengajak Rahma untuk menginap di hotel Amaris di Thamrim City. Alasan memilih, selain memiliki konsep minimalis juga tentu dari segi harga yang tidak terlalu mahal. Akses 24 jam dan kawasan Thamrin yang makin malam, makin keren. Rahma pernah bercita-cita menghabiskan malam di bundaran HI (Hotel Indonesia) sambil menikmati kacang– sebab ia belum pernah menikmati malam disana karena harus mengejar kereta setiap sore menuju rumahnya di daerah Depok. Aku akan mewujudkan mimpi rahma tersebut.

hotelAku berencana menghabiskan dua hari untuk menyelesaikan akhir dari kisah bersamamu,Jakarta. Keesok paginya, Masih bersama Rahma aku akan menjelajahi tiap sudut Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Berpose di depan istana boneka  — aku suka saat menonton serial “Saras 008″‘ dulu. Aku berharap jalanan Jakarta bersahabat denganku sehingga bisa menngunjungi Kebun Binatang Ragunan — cuma pernah aku lihat lewat menonton film ” Postcard From The Zoo”. Ironis memang, lima tahun pernah berada di kawasan Lenteng Agung, dua tempat itu tak pernah aku kunjungi. 😦

Sisa waktu, ingin kuhabiskan di Museum nasional serta kawasan kota dan berakhir kembali di bundaran HI. Pada Tugu Selamat Datang, aku ingin menyampaikan rasa terima kasih padamu, Jakarta. Untuk kenangan yang pernah kau hadirkan dalam jiwaku, ada banyak hal-hal yang baik dari dirimu ditengah sumpah serapah makian orang-orang terhadapmu. Aku belajar tentang sebuah harapan yang tak pernah sia-sia, tentang sebuah kekuatan dalam menghadapi ragam romansa hidup ini. Pada tugu selamat datang ini, aku ucapkan salam perpisahan padamu, Jakarta.

Untuk perjalanan ini aku menggunakan Traveloka. Aku sangat terima kasih  dengan adanya Traveloka App, yang memudahkanku mewujudkan perjalanan ini. Tak perlu kerepotan pergi ke tour travel untuk memesan ticket pesawat. Tak usah kebingungan soal mencari hotel, cukup lewat traveloka App yang mudah dipahami semua terselesaikan. Oh, ya aku sangat diuntungkan dengan notifikasi informasi mengenai ticket promo lho!