Daypack Fjallraven

Ransel dan kenyamanan beraktivitas

Saya dan Ransel adalah dua hal yang sulit dilepaskan dalam beraktivitas. Kampus, kerja, bahkan ke pasar sekalipun, rasanya ada yang kurang jika tak menyandang sesuatu padahal kadang isinya cuma pulpen satu doang. Berkat tas ransel juga saya dibilang ninja 😦

” Udah badan kayak anak SD pakai tas besar-besar lagi,” celetuk seorang teman.

Bukan satu dua orang yang protes dengan kebiasaan saya mengunakan ransel kemana-mana meskipun tidak sedang melakukan perjalanan. Saya akui, saya kesulitan menepati sesuatu pada tempatnya termasuk penggunaan ransel yang tepat. Soal selera pun saya dinilai buruk. 😦

Bagi saya jika ada satu ransel, maka ia digunakan sampai benar-benar butut. Tak peduli ke kondangan, ke pasar anti kaya, pasar anti sengsara, kampus, tempat kerjaan, dan interview kerja. Saat itu memang saya terlanjur membeli tas ransel cukup besar untuk pulang kampung dan berlanjut pada penggunaan sehari-hari.

” Ka, hati-hati ya, tasnya di arahkan ke depan. Kereta rawan!”

 ” Mana doyan copet dengan eka… belum tahu saja dia isi ranselnya apa’an.”

Obrolan beberapa teman saya tercetus begitu saja saat saya pamit kepada mereka mau pergi bermain ke daerah Cikini seorang diri beberapa tahun lalu. Saya pun mengangguk. Sedikit kurang nyaman sih dengan menyandang tas besar di bagian depan.

Dan, semakin berkurang sisa usia saya di bumi Allah ini, tersadar tentang cerita saya dan ransel selama ini. Senang menggunakannya, tapi mengabaikan kenyamanan baik bagi diri saya maupun orang lain. Mengabaikan beban berat yang kadang membuat bahu saya lecet karena tali. Mengabaikan mata orang-orang yang melihat betapa tidak indah saya dengan ransel besar. Dan… mengabaikan kesehatan pundak yang terasa pegal.

(lebih…)