Komunitas

Traveller Kaskus dan Candu Perjalanan

A Journey of a thousand miles must begin with a single step – Lao Tzu

Saya meringkuk, memeluk erat kedua lutut dan tertunduk dengan bibir sedikit bergetar. Awak kapal turun ke bawah, mengeluarkan beberapa air yang masuk ke dalam bagian bawah kapal. Wajahnya tampak tenang –situasi ini membuat saya tenang. Nggak akan terjadi apa-apa eka…

Dan, disinilah saya berada. di tengah laut Karimunjawa dengan hamparan laut yang mengagumkan. Sayangnya, di tengah perjalanan menjelajahi satu pulau ke pulau lainnya, kapal kami sempat dihadang oleh ombak serta hujan badai. Awak kapal dan guide lokal tetap melaju kapal. Beberapakali ombak menghempas ke badan kapal, membuat jantung saya berdetak. Mbak Irma — salah satu teman di rombongan mengajak saya untuk berzikir.

Entah beberapa waktu kami melewati situasi yang menegangkan itu. Akhirnya kapal perlahan mendekat ke sebuah pulau. Kami pun bernapas lega seiring hujan yang mulai reda. Kembali bergembira melepaskan rasa cemas dengan bermain air.

****

Adalah Traveller kaskus, sebuah komunitas tanah air yang saya kenal lewat laman group facebook secara tak sengaja di suatu hari, bulan April 2011. Saat itu, kejenuhan menjalankan rutinitas kuliah dan keinginan untuk menjelajahi bumi jawa mengebu-ngebu. Sayangnya, mengajak teman selalu ditolak. “Waduh ka, nggak ada duit!” — begitulah alasan mereka.

Saat itu, saya tidak terlalu tahu ‘Dimana Karimun Jawa dan apa yang dilihat di sana? ‘– Satu-satunya keinginan saya adalah lepas sejenak dari hiruk pikuknya Jakarta.

Saya sempat ingin membalikan badan ketika sampai di tempat meeting point, di Kampung Rambutan. Mempertanyakan kembali langkah dan keputusan saya. Yakin bepergian dengan orang asing?

Keramahan Arif, ketua rombongan, cukup membuat hati saya sedikit tenang. Saya merasa sendiri — sebab rata-rata rombongan pergi bersama teman yang sudah saling kenal, tapi dengan seiringnya waktu mereka pun ternyata menyenangkan.

Sendiri. Orang Asing. Menuju tempat asing.

Lagi, saya ingin membalikan badan ketika tahu bahwa perjalanan harus menyeberang laut selama enam jam. Ketakutan kembali menghantui, seumur-umur saya menyeberang laut paling lama itu antara Bakauheni dan Merak. Dan, itu masih terselip ketakutan. Enam jam?

Kehadiran Nunik dan Nina yang mengajak mengobrol cukup membuat saya benar-benar tenang melangkah memasuki kapal.

f

traveller kaskus 1

Bersama teman-teman Traveller kaskus (foto : by Gery)

****

Bagi saya, Karimunjawa tak ubahnya surga dunia yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Cristina, seorang Traveller asal Filandia yang saya temui beberapa waktu lalu dalam perjalanan menjelajahi Bangkok tak dapat mengucapkan rangkaian kata selain decak kagum saat kami berbagi tentang keindahan Karimunjawa — Ia sempat menghabiskan 3 tahun di Semarang.

Terlahir sebagai anak yang selalu dimanjakan dengan kenyamanan, perjalanan ke Karimunjawa membuat saya belajar mengatasi rasa takut. Kemandirian karakter dari sebagian anggota traveller kaskus saat itu membuat saya sekarang berani melangkah melakukan perjalanan bahkan mrnjadi candu.

Satu hal yang paling tak bisa dbeli dengan lembaran mata uang manapun adalah rasa persahabatan yang tercipta. Meskipun tak banyak kegiatan yang telah dilakukan bersama, namun entah kenapa hati ini selalu merasa dekat layaknya anggota keluarga. Terkadang kami saling mengobrol akrab dan berbagi banyak hal lewat sosial media.

Dan, seperti kalimat bijak bilang, “Destinasi seseorang bukanlah sebuah tempat, melainkan cara baru melihat sesuatu.” Perjalanan awal bersama traveller kaskus mengajarkan saya memiliki pandangan berbeda bagaimana semestinya menikmati keindahan alam tanpa merusaknya.

traveller kaskus

Dan komunikasi  masih terjalin — Bersama Gery, Novi, Mbak Ria, Mbak Sundus, Riza, June, Mbak Irma, Anggie, Wawan dan Budi. 🙂

Iklan

Komunitas Minang Landscaper : Berbagi Ilmu, Mengukir Keindahan Lewat Landscape

Sumatera Barat, Warta Komunitas – Sumatra Barat salah satu daerah yang tak diragukan lagi keindahan alamnya. Hal ini pun tak disia-siakan oleh komunitas pencinta fotografi lanscape, Minang Landscaper untuk mengeskplor keindahan alam daerah yang terkenal dengan masakan rendang ini.
“Apa yang kita tidak ada? Semua ada. Gunung, sungai, laut, air terjun bahkan pesawahan, dan sebagainya. Kenapa tidak kita angkat dalam suatu media mengenai keindahan Sumbar yang bisa dinikmati,”ungkap Jeriadi Pratama, salah satu pendiri Minang Landscaper saat ditemui di studio A.d.a, Balai Baru, Padang, Rabu (17/09).
Seperti yang diketahui foto landscape identik dengan hamparan pemandangan yang indah. Tak sekedar itu, foto landscape juga memiliki kemampuan dalam menterjemahkan nilai estetika dari sebuah pemandangan. Istilah landscaper mengacu pada pencinta foto landscape.
Minang Lanscaper sendiri merupakan komunitas yang lahir dari komunitas yang pernah ada yaitu Padang Landscaper yang sudah vakum. Atas obrolan tiga pemuda, Daniel Saputra, Rio Masriel dan Jeriadi Pratama untuk kembali membentuk komunitas pecinta Landscape maka lahirlah komunitas ini.
“Cakupannya minang ataupun diluar Sumbar tapi masih minang,” jelas Jeriadi. Ia pun memaparkan tujuan awal dari komunitas ini adalah merupakan wadah bagi teman-teman khususnya Sumatra Barat untuk saling belajar tentang landscape.
Kegiatan rutin komunitas yang baru berdiri 19 Juli lalu ini adalah hunting foto.“Biasanya kalau hunting sih pas lihat cuaca bagus dan spot-spot Sumatra barat yang sudah dibicarakan kemana,”ujar Daniel , ketua Minang Landscaper.
Biasanya sehabis mereka hunting foto, jika waktunya memungkinan hasil-hasil foto akan dibedah. Disinilah biasanya terjadi saling berbagi ilmu mengenai landscape baik itu mengenai trik maupun tips untuk mendapatkan hasil foto landscape yang bagus. Selain itu, dengan memanfaatkan sosial media facebook, hasil foto yang didapat juga di share dan di diskusikan lewat media tersebut.
Diakui mereka, facebook memudahkan untuk mensosialisasi mengenai komunitas yang memiliki anggota aktif sekitar 23 orang ini. Daniel pun juga menimpali lewat sosialisasi facebook mereka sudah mempunyai jaringan di Lombok, Bali, Bandung. Bahkan, baru-baru ini mereka kedatangan tamu dari China dan Korea Selatan untuk menikmati salah satu keindahan pantai di Padang. “Kami ajak ke nirwana dan taplau –tepi laut,” ucap Daniel. Rencananya, dalam waktu dekat ini Minang Landscaper akan mengadakan workshop November mendatang. Selain itu, mereka pun berencana mengadakan pameran pada ulang tahun pertama dengan bekerjasama dinas pariwisata sumatra barat tahun depan.
Tekait mengenai keangotaan, diakui keduanya tak perlu memiliki kamera canggih. Hal yang utama adalah memiliki kemauan untuk belajar dan berbaur dengan anggota lainnya. Selain itu, juga ada biaya Rp. 50.000,- untuk IDcard dan sticker tanda keanggotaan. Info lebih lanjut bisa berkunjung ke facebook dengan nama:Minang Landscaper. (Eka Hei)

*** The first time writing after 9 month never write again. This articel can see disini

And i wanna thank to my oldfriend , Huda for information about the community, Daniel and Jery from Minang Landscape and spesial to my cousin Filtra.