Kpop

Romantisme Korea di Kawasan Hongdae, Seoul

Korea hadir di Indonesia dengan cerita romantisnya lewat drama dan mimpi yang mengagumkan untuk bisa plesiran ke negara Ahjushi Goblin tersebut bagi mereka yang terperangkap dalam virus Hallyu. Termasuk Saya.

jjy

Saya mengunjungi Korea Selatan ketika negara ini sedang bersiap memasuki musim dingin di pertengahan November tahun lalu. Tak ada ekspektasi khusus terhadap negara tersebut. Ya, virus Hallyu yang sempat merasuki jiwa beberapa tahun lalu memudar seiring realitas hidup yang seharusnya saya hadapi di usia yang tak lagi muda. Dan hal ini tentu berimbas pada antusias saya terhadap negeri gingseng tersebut berkurang tersisa hanya rasa penasaran terhadap suasana kotanya. Tak ada itinerary yang pasti bagaimana semestinya saya menikmat waktu di tempat ini.

Ketinggalan jadwal kapal Feri untuk menelusuri Sungai Hangang agar bisa melihat keindahan kota Seoul, saya pun beralih ke Hongdae tanpa ekspektasi apapun – saat itu saya menghadapi kebosanan suasana hiruk pikuk perkotaan khas metropolitan yang sibuk.

DSC03537

Dentuman suara musik yang sangat familiar di telinga menyambut kedatangan saya saat beberapa langkah keluar dari Subway Station. Kebisingan, lalu lalang orang-orang yang berjalan santai, dan semarak lampu pertokoan berbaur menjadi satu dalam sebuah harmonisasi geliat kehidupan yang menyenangkan; Hongdae. Perlahan rasa jemu pada kehidupan perkotaan menguap begitu saja.

Sambutan Yang Menyenangkan dari Street Dancer di Hongdae

 Bang..bang..bang

            pangya ppangya ppangya

            Alunan suara G-Dragon dan kawan-kawan sesama personil Bigbang menghentak salah satu jalanan di Hongdae, sebuah daerah dimana terletak sekolah seni terkemuka , Hongik University , Sabtu malam itu. Saya melangkah mencari sumber musik tersebut. Kerumunan anak muda terlihat menambah rasa penasaran. Sebuah atraksi dance sedang dilakukan tiga pemuda dengan gerakan tubuh yang cukup mengagumkan.

DSC03544.JPGYa, Korea menghipnotis lewat boyband-nya yang memukau dengan atraksi kekompakan gerakan tubuh. Gerakan yang seirama itu pun diikuti musik nan riang yang mampu membawa budaya pop Korea di kancah internasional. Gelombang korea hadir ditengah teriakan mereka yang terperangkap pada pesona rangkaian cowok dengan wajah menyegarkan tersebut ; khas idol Korea.

Tak terkecuali di negara asalnya, tiga cowok kurus dihadapan saya tanpa lelah mengerakan tubuhnya dengan lincah mengikuti iringan musik. Mereka bukanlah Idol kpop. Namun, atraksi yang dilakukan di jalanan Hongdae menarik perhatian puluhan pemuda pemudi yang sedang menikmati sabtu malam. Teriakan penuh kekaguman dan tepuk tangan saling bersahutan setiap kali tiga dancer itu melakukan gerakan memukau.

DSC03539.JPGSaya pun larut dalam alunan musik dan pemandangan yang menyenangkan tersebut. Perlahan jiwa Kpop yang luntur mulai bangkit lagi. Reflek badan saya ikut bergerak.

Hongdae dan pusatnya Budaya Seni Urban

Hongdae bisa dikatakan distrik penuh energik khas anak muda. Nama Hongdae sendiri merupakan akronim dari Hongik Daehakgyo. Keberadaan yang terletak di sekolah seni terkemuka di Seoul, menjadikan kawasan ini terkenal dengan seni urbannya.

Ada banyak ragam festival seni jalanan, pertunjukan dan konser musik kerap menghiasi sudut area Hongdae. Kawasan ini juga dikaitkan dengan musik indie, dimana para seniman mencari gaya khas uniknya masing-masing dan tidak sekedar mengikut trend budaya populer yang ada. Bisa dikatakan distrik ini adalah kiblatnya budaya urban anak muda Korea.

DSC03599.JPG

Hongdae adalah pusat kebebasan berekspresi khas anak muda nan kreatif. Semakin malam, daerah ini semakin bergeliat ; lalu lalang anak muda, suara musik jalanan, dan pendar lampu pertokoan. Saya pun larut dalam keriuhan kawasan tersebut. Berjalan santai menelusuri jalanan Hongdae. Hingga terpaku pada sebuah taman. Dua orang sedang asyik akuistikan. Sementara beberapa meter dari mereka seorang pemuda sibuk dengan mic nya ; bernyanyi merdu.

Hongdae juga diidentikan dengan musisi underground yang memiliki khas tersendiriBerada di Hongdae mengingatkan saya pada musisi rock sekaligus member salah satu variety show Korea, Jung Joonyoung yang pernah berada dalam musik Indie Hongdae dengan group band Flower Mist kala itu. Apalagi ketika beberapa pemuda melintas dengan menyandang gitar dibahunya. Ah, Jung Joonyoung!

jjjy

Pusatnya Fashion dan Kreatif Dunia Anak Muda

DSC03575

Hongdae tak saja hadir dengan urban art nya, tapi juga keberadaan ragam pertokoan fashion, kafe, restoran dan hiburan malam menambah semarak dunia yang mengairahkan khas anak muda. Saya lupa pada kepenatan badan yang saya rasakan, kaki ini terus berjalan dengan acak menelusuri tiap sudut Hongdae. Bahkan rasa penasaran terhadap daerah ini, membuat saya memutuskan memisahkan diri dengan travelmates saya yang hendak segera pulang ke hostel karena malam semakin larut.

DSC03573Fashion dari mulai busana, tas, sepatu dan aksesoris terkini maupun vintage khas anak muda memanjakan mata di sepanjang pertokoan yang saya lewatkan. Menariknya adalah masing-masing interior dari pertokoan di Hongdae terlihat unik, lucu dan memiliki ciri khas tersendiri.

Berbeda dengan Myeondong, aktivitas lalu lintas orang di Hongdae terlihat santai. Beberapa pasangan tampak saling mengenggam tangan. Berjalan menikmati pendar lampu pertokoan dan romantisme malam. Beberapa penjual kaki lima aksesoris seperti cincin menghiasi jalanan tersebut. Agaknya mereka tahu segmentasi di Hongdae sebagai tempat hang out kawula muda. Kreatifnya adalah cincin tersebut bukan terbuat dari emas, tapi sejenis aluminium atau logam atau perak gituh – saya tidak terlalu paham juga– yang bisa diukir dengan nama pasangan.

DSC03592Selain itu juga ada ada cincin karakter toko kartun yang terbuat dari plastik – mengingatkan saya pada cincin hadiah snack kala sekolah dasar dulu. Dari cerita yang saya dapatkan kawasan ini juga kerap diselenggarakan pasar HeeMang (pasar loak) yang diadakan oleh para seniman muda.

DSC03549.JPGMalam benar-benar makin larut, saya pun memutuskan dengan berat hati beranjak pergi meninggalkan keriuhan Hongdae. Sepanjang jalan saya melihat beberapa barang couple dijajakan yang membuat saya menelan ludah (baper!). Tersadar mengenai romantisme kehidupan yang tiba-tiba saya rindukan : menikmati dramaqueen khas usia early 20-an. Ibukota korea Selatan, terutama di distrik Hongdae masih saja menyisakan hal yang sama dengan cerita drama mereka yang mendunia di luar sana : Romantisme kehidupan pasangan. (Ekahei)

 

Iklan

Menemui Indonesia di Selatan Ibukota Negeri Ginseng

Menyinggahi kota Ansan adalah jawaban kerinduan akan sebuah negeri yang menyenangkan dengan keramahan dan masakannya ; Indonesia.

Udara dingin langsung menyapa tubuh saya sesaat keluar dari Subway line 4 di stasiun Ansan. Perjalanan satu jam lebih dari stasiun Dongdaeumun, Seoul – kawasan tempat saya menginap– tidak begitu melelahkan. Maklum saya melewati dengan terlelap sejenak mengabaikan keindahan pemandangan diluar sana dari jendela kaca Subway pagi itu.

Saya merapat sweater pemberian seorang mahasiswa Indonesia yang lagi kuliah di Busan yang saya temui tak sengaja dalam perjalanan saat di Busan. Rasa kasihan melihat tubuh ringkih ini hanya terselimuti jacket tipis membuat Mahasiswa tersebut menghadiahkan sweater yang nyaman bagi saya.

DSC03653

Sebuah taman terbuka yang berada tak jauh dari kawasan keramaian Ansan Stasiun

Saya datang di awal November ketika Korea Selatan memasuki musim gugur yang saya perkirakan awalnya cuaca tak terlalu dingin. Sayangnya, meskipun matahari bersinar terik anginnya cukup membuat tangan membeku kedinginan. Saya jadi teringat ucapan  seorang teman : “ kita tidak pernah tahu apa yang terjadi dalam perjalanan.”

Mata saya sejenak terpejam. Menghirup udara dingin. Menghentikan langkah. Menikmati suara riuh di sekitar stasiun Ansan. Sebuah percakapan yang akrab membuat saya menyunggingkan senyum. Logat Jawa nan kental.

Tempat itu bernama Ansan

Terletak di Selatan Seoul, ibukota Korea Selatan, Ansan adalah sebuah kota di provinsi Gyeonggi, Korea Selatan. Kota ini bukanlah termasuk tujuan wisata populer seperti Busan saat traveling ke negeri ginseng. Namun ketenangan kota kecil ini mampu menjawab kerinduan akan rumah disela-sela rasa lelah sepanjang perjalanan menjelajahi negeri ginseng.

DSC03649

Minggu Pagi di Ansan

Rasa itulah yang membuat saya rela bangun pagi setelah kelelahan berjibaku di pusat perbelanjaan Myeongdong, Seoul, tadi malam hanya sekedar ingin melakukan perjalanan ke Ansan. Semesta pun menyambut saya dengan sinar matahari yang cukup cerah. Saya pun menelusuri lorong stasiun Ansan yang sejenak mengingatkan saya pada kawasan Glodok dan Mangga Dua, Jakarta, dengan ragam pertokoannya. Beberapa tulisan dalam bahasa Indonesia berseliweran. Akhirnya mata ini bisa terlepas juga dari huruf Hangul – huruf Korea. Suara-suara dengan logat Jawa pun menghampiri telinga saya.

Kaki saya melangkah dengan semangat, melempar pandangan pada penjual sayuran dengan senyum terukir. Ahjumma pun melempar senyum yang sama ; Ah, bahasa senyum memang selalu menyenangkan!

DSC03615

Koridor stasiun Ansan. Menariknya, disini masih ditemui street market — pedagang kaki lima, yang tertata rapi dan bersih.

“ Mas Mesjid dimana ya?”

Kaki saya terhenti pada segerombolan pemuda yang asyik bercengkrama. Mereka sejenak memandang saya. Salah satu dari mereka memberi arahan. “ Mbaknya menyeberang di bawah dulu. Nanti jalan lurus belok kiri udah jalan aja terus.”

“ Kira-kira sepuluh menitlah jalan,” sahut mas yang satu lagi.

Saya mengangguk. Beberapa diantara mereka tersenyum menyadari ekspresi wajah saya mendengar jalan kaki selama sepuluh menit. “Tenang mbak. Nggak capek kok jalannya.”

Saya nyengir. Kalau di negeri sendiri ini udah manggil abang ojek. Pikir saya. Saya pun mengucapkan terima kasih. Berjalan mengikuti arahan mereka.  Lagi-lagi wajah saudara setanah air banyak saya temui sepanjang jalan. Saya menghela napas penuh kelegaan. Ada ketenangan menyusup di dalam diri ini. Tak lagi khawatir soal bahasa dan tersesat.

DSC03613

Mas-mas yang lagi menikmati liburan. Adakah sahabat hati eka diantara mereka? *eh 

Mereka benar bahwa saya tak akan lelah menelusuri perjalanan sepuluh menit ke mesjid dari stasiun Ansan dengan berjalan kaki. Daun-daun yang berguguran di sepanjang jalan menyegarkan mata . Pun pertokoaan yang tertata rapi. Saya pun banyak menemui makanan khas Indonesia.

 Ah… INDONESIA. Kenapa selalu menghadirkan rindu?

Kenyamanan di Mesjid Shirathol Mustaqim -Ansan

Sebuah mesjid berdiri kokoh diantara bangunan yang ada di kawasan Danwon-gu, Ansan. Ragu saya memasuki mesjid. Seorang pemuda sedang berjalan memasuki area mesjid. Saya pun tampak ragu memilih bahasa yang digunakan ; Inggris atau Bahasa. Reflek saya mengeluarkan bahasa Indonesia. Ia pun menjawab dengan bahasa yang sama dengan lancar. Memberi arahan tentang tempat wudhu dan sholat khusus wanita yang terletak di lantai 3. Mesjid ini cukup bersih dan nyaman.

DSC03626

Renovasi pada mesjid Shirathol Mustaqim ini tak lepas dari sumbangsih perkumpulan pemuda Indonesia yang ada di Korea Selatan

            Merupakan kota industri yang banyak mendatangkan pekerjaan asing termasuk Indonesia, Ansan kerap dijadikan meeting point bagi Imigran termasuk di mesjid ini. Dari obrolan dengan salah satu pekerja yang berasal dari Malang yang sudah dua tahun berada di Korea Selatan, ia menceritakan kepengurusan mesjid tersebut bercampur dari berbagai Negara ; ada yang dari Pakistan, Bangladesh dan Indonesia.

            “Namun, karena orang Indonesia suka ngumpul kali ya. Jadi kadang emang lebih suka terlihat aktif orang Indonesia di sana.”

            Saya mengangguk menyetujui omongannya. Menyadari beberapa tulisan di mesjid menggunakan bahasa Indonesia termasuk terjemahan alqur’an dalam bahasa Indonesia yang saya temui saat menunaikan sholat di sana. Saya pun menjumpai brosur informasi tentang paket menunaikan ibadah haji dalam bahasa Indonesia di pintu masuk mesjid.

            “ Dan tempat ini menjadi tujuan bagi mereka yang ingin mencari makanan halal,” tukas si Mas.

            Dari cerita teman saya yang lain, mesjid ini juga banyak dapat bantuan dari perkumpulan pemuda Indonesia yang ada di Korea Selatan.

            Kehangatan di semangkuk Bakso

Lupakan mie rebus instan dengan potongan cabe rawit di kala dingin merasuki tubuh ini.  Ada yang tak kalah lezat yang membuat kamu menelan ludah dan terkenang rasa kaldu kuah bakso di ujung lidah. Rasanya makanan inilah yang paling dirindukan selama berada di luar Indonesia. Apalagi dikala udara dingin, sangat menginginkan abang bakso lewat depan rumah.

DSC03633

Kangen Bakso. Ini kali kedua menikmati semangkuk bakso di luar Indonesia ; Malaysia dan Korea Selatan.

Saya pun tak dapat menahan diri untuk memesan semangkuk bakso saat menemui warung bakso di dekat mesjid. Mengabaikan harga yang cukup mahal jika dirupiahkan – 8000 won. Di warung ini juga tersedia beberapa produk makanan khas Indonesia seperti teh dan mie instan.

Rusdi, sang pengelola pun bercerita pada saya warung bakso yang dikelolanya ini hasil kerja sama dengan warga Korea sebagai pemilik. “ saya cerita ada nih  usaha yang tidak repot, tidak butuh modal besar, dan sederhana tapi selalu dicari. Yaitu bakso.” Ia pun menambahkan warung bakso yang bernama Kangen Bakso ini adalah warung bakso pertama di daerah Ansan.

 Ditangan Rusdi bakso dibuat dengan citra rasa yang tak kalah lezat dengan bakso di tanah air. Mengimpor daging dari Australia, ia pun memastikan kehalalan daging bakso yang digunakannya.

DSC03628.JPG

Kangen Indonesia… melipir ke Ansan aja 🙂

Saya beruntung datang di Minggu siang, saat para pekerja Imigran lagi menikmati liburannya. Dua orang mbak-mbak asal Surabaya yang sudah tinggal selama tiga tahun di Korea Selatan bercerita pada saya, ia kerap menghabiskan Minggu  di Ansan –padahal ia tidak tinggal di kawasan ini – sekedar melampiaskan kerinduan pada masakan Indonesia

The Little Town Indonesia

“ Boleh mbak sepatunya!”

Saya terperanjat kaget ketika melintasi pertokoan dengan tumpukan sepatu olahraga yang di obral. Sebuah sapaan membuat saya akhirnya menyungging senyum tipis. Mengelengkan kepala. Saya seperti terlempar dari negeri Ginseng sejenak. Tidak seperti beberapa pusat pertokoaan yang saya kunjungi di Seoul, sepatu ini tertulis ‘made in China’ dengan jelas di sebuah kertas yang terletak diantara tumpukan sepatu tersebut.

DSC03658

Adakah nyelip sahabat hati eka di antara mas-mas yang ngerumpi asyik ini? *Eh

Pertamakalinya selama seminggu berada di negeri dongeng saya melihat produk selain ‘made in Korea’. Saya terkenang pada ucapan seorang pedagang pusat perbelanjaan Good Morning di Dongdaemun saat menawar belanjaan. “ Ini made in Korea bukan China.”

Kaki saya melangkah memasuki kawasan yang tertulis kuliner internasional. Ansan memang terkenal dengan kawasan imigran asing melihat beberapa pabrik dan universitas yang berada di kota kecil ini. Kamu dapat menemui masakan Vietnam, Thailand dan tentu saja Indonesia. Tapi entah kenapa mata saya lebih banyak menangkap tulisan berbahasa Indonesia termasuk ‘warung Indonesia’.

Tak sekedar menjual ragam masakan tradisional Khas Indonesia, di kawasan ini juga mudah ditemui warung yang menjual produk Indonesia. Ketika saya kesulitan mencari money changer yang mau menerima rupiah selama berada di Seoul, di kota Ansan lah Rupiah disambut dengan hangat. Yup, pada akhirnya Rupiah saya diterima untuk ditukar dengan Won.

DSC03645.JPG

Keramaian Ansan di suatu minggu pagi nan cerah

Menikmati Minggu di daerah Ansan adalah agenda yang tepat saat menyinggahi Negeri Ginseng. Menemui Indonesia lewat wajah-wajah saudara setanah air yang sedang berjuang di negeri orang, menikmati ragam kuliner Indonesia yang menambah rasa syukur terlahir sebagai Indonesia. Saya seperti menemui ‘pelukan ibu’ di kota Ansan. Dan… Jika harus mengambil kesimpulan saya menyebut daerah Ansan adalah The Little Town Indonesia nya South Korea. (Eka)

 

Kuala Lumpur ; Putrajaya yang Panas, Putrajaya yang Mengagumkan

“Putrajaya nggak ada bagusnya sih. Biasa saja menurutku. Panas.” Cece pemilik guest house tempat dimana saya dan dua teman saya ; Silta dan Mara melepaskan penat berguman sesaat setelah mendengar perdebatan kecil kami bertiga tentang destinasi selanjutnya.

 “Aku dulu ngikut tour. 15 ringgit kalo tak salah. Mending sih ikut paket tournya aja…”

Sebelumnya kalimat itu terlontar dari perempuan asal Jakarta ini.  Cece menatap kami bertiga dengan ekspresi yang sulit dipahami. Saya menghela napas, melempar pandangan pada Mara yang sudah menyerah — memilih untuk kembali ke Jakarta.

mesjid-putra-jaya

Nama mesjid Putra diambil dari nama mantan Perdana Menteri Malaysia pertama, (Alm) Tunku Abdul Rahman Putra Al Haj, sebagai salah satu bentuk penghormatan rakyat dan pemerintahan Malaysia terhadap beliau.

Baiklah!

Perjalanan ini bukanlah perjalanan egois, ada langkah-langkah kaki lain yang mengikuti langkah saya. Tak ada renungan berarti, tak ada waktu sia-sia untuk sekedar bernapas sejenak mengambil jeda  dari kelelahan yang mampir. Saya pun mengalah tidak memaksa Mara untuk ke kawasan Putrajaya.

****

Tahun lalu, saya sempat diajak ke Putrajaya Square dengan rombongan tour umroh yang pernah saya ikuti. Sempat merasakan sholat zuhur di tempat ini, kawasan mesjid Putra memberi kesan tersendiri bagi saya. Ya, saat itu, seperti biasa ikut dalam rombongan tour selalu di desak soal waktu yang terburu-buru. Dan, saat itu saya pun bertekad suatu hari bisa kembali mampir di tempat ini.

Inilah menjadi alasan saya kenapa harus mampir ke Putrajaya meskipun saya buta dengan arah dan transportasi serta tempat seperti apa sebenarnya kawasan ini. Mengabaikan kelelahan di wajah teman saya, Silta, saya pun mengajaknya menaiki KLIA Ekspress (padahal sisa ringgit sudah menipis 😦 ) menuju stasiun Putrajaya. Kami sempat kebingungan, pusing-pusing tak jelas kemana langkah selanjutnya.

” Bagaimana menuju mesjid Putrajaya?”

Pertanyaan saya pun membuat beberapa orang di stasiun Putrajaya yang saya tanyakan mengeryit dahi bingung — Dan, beberapa saat kemudian setelah mutar-mutar di kawasan tersebut saya pun tersadar pada pertanyaan yang membingungkan tersebut. Ternyata yang saya maksud sama masyarakat setempat disebut mesjid Putra.

puta-jaya

Bus Putrajaya Sightseeing tour ; peserta tour tak menyiakan kesempatan yang diberi uncle untuk mengabadikan moment dalam bidikan kamera.

Kelelahan membuat kami tersesat pada jalan yang benar ( Ya kali ka… tersesat di jalan yang benar 😀 ). Ya, kami menemukan tempat mangkal bis. Segerombolan turis sedang mengerumuni seorang uncle. Saya pun menghampiri uncle tersebut. Ternyata ia sedang menawarkan Putrajaya sightseeing tour.

Tanpa pikir panjang saya pun turut serta ikut paket tour yang menghabiskan waktu sekitar dua jam dengan harga 20 Ringgit atau sekitar enam puluhan ribu lebih rupiah yang ditawarkan uncle tersebut.

Putrajaya Sightsseeing tour ; Mengenal lebih jauh kawasan pusat administrasi pemerintahan Malaysia

Mesjid Putra yang saya kunjungi setahun silam adalah merupakan kawasan Putrajaya Square. Mengabungan arsitektur tempo dulu yang dipadu dengan kemodernan bangunan mesjid ini menawarkan keindahan yang tak terbantahkan. Terletak dipinggirkan danau, mesjid Putra memiliki puncak menara yang menjulang tinggi. Menakjubkan! Sesekali cobalah sholat di mesjid ini.  Oh, ya kawasan ini juga terdapat komplek tempat tinggal perdana menteri Malaysia.

jubah

Perbedaan keyakinan tak menyurut hati untuk bisa menikmati keindahan bangunan mesjid. Bagi mereka yang tidak menggunakan hijab atau pakaian pendek  dipinjamkan jubah percuma. Inilah hidup yang menyenangkan ; saling menghargai 🙂

Yup, Putrajaya merupakan pusat administrasi pemerintahan negara Malaysia. Begitu uncle yang ternyata sopir bus Putrajaya Sightseeing tour menjelaskan secara singkat. Baru diresmikan sekitar tahun 1995 lalu, kawasan ini ditata begitu apik dengan ragam bangunan menakjubkan bertujuan mengatasi kepadatan Kuala Lumpur. Tak heran terlihat beberapa bangunan pemerintahan saat bus kami melaju dengan kecepatan santai.

bukan-harry-potter

Bukan Hogwarts School ; jadi jangan harap bisa bertemu si manis Ronald Weasley. Heh, Pak cieknya cukup ganteng lho! 😀

Dari mulai Jembatan yang melintasi danau cukup luas ; Jembatan Seri perdana dan Jembatan putra, serta beberapa gedung pusat pemerintahan seperti kehakiman, putrajaya Ministry of finance dan lain sebagainya membuat mata saya pun terpana pada arsitektur megah khas ala Eropa dan jalanan yang cukup luas.

pemandangan

salah satu sudut kawasan Putrajaya dari seberang Putrajaya Convention Centre (PCC)

Mengikut paket tour Putrajaya Sightseeing adalah pilihan yang tepat bagi saya. Melintasi kawasan Putrajaya seperti Dataran kemerdekaan Putrajaya, Mesjid Putra, Putrajaya Convention Centre (PCC), dan beberapa gedung pemerintahan. Menyenangkan !

Menghabiskan waktu sekitar dua jam, berhenti di spot-spot tertentu yang menarik untuk di foto, uncle  memberi jeda waktu  dan kesempatan untuk kami mengambil foto. Oh, ya bus ini beroperasi sampai pukul 03.00 p.m.

PutraJaya ; Biasa saja, tapi mengagumkan !  

” Wajar cece itu bilang biasa saja, lah dia udah pernah ke sini !” seloroh saya ditengah panasnya cuaca Putrajaya. “Tapi bagi yang belum pernah, ini adalah tempat yang harus dikunjungi.”

Sebagai orang yang menghabiskan masa kecil di pelosok daerah transmigrasi Jambi, melihat bangunan-bangunan yang ada di kawasan Putrajaya adalah kemewahan tersendiri bagi saya.

kehakiman

Bukannya takut debu sih sebenarnya, tapi Yoona nya takut hitam makanya pake masker :p

Silta tertawa pelan. Ia beberapa kali berkomentar mengenai foto yang diambilnya jadi gelap karena cahaya matahari yang lagi semangatnya. Padahal banyak spot menarik untuk berpose diantara ragam bangunan yang mengagumkan tersebut.

Dari jendela kaca bus, saya melempar pandangan ke danau yang cukup luas. Menikmati pemandangan pada beberapa bangunan dan taman yang terlihat asri. Di tengah teriknya matahari dan keringat yang mengucur di dahi, pikiran saya sempat mengkhayal.

Sungguh menyenangkan melintasi pinggiran danau di sore menjelang senja. Bersepeda santai bersama seorang sahabat hati yang entah dimana keberadaannya. Ah, Yoona terlalu merindukan moment tersebut!

jembatan

Ada yang lagi ngikuti K-Drama ”On the way to the airport” salah satu pemandangan ya ini : Jembatan Seri perdana. Oh, ya pengemar AA boleh lho nonton episode ! *kode airport aja sih.

🙂