Menemui Indonesia di Selatan Ibukota Negeri Ginseng

Menyinggahi kota Ansan adalah jawaban kerinduan akan sebuah negeri yang menyenangkan dengan keramahan dan masakannya ; Indonesia.

Udara dingin langsung menyapa tubuh saya sesaat keluar dari Subway line 4 di stasiun Ansan. Perjalanan satu jam lebih dari stasiun Dongdaeumun, Seoul – kawasan tempat saya menginap– tidak begitu melelahkan. Maklum saya melewati dengan terlelap sejenak mengabaikan keindahan pemandangan diluar sana dari jendela kaca Subway pagi itu.

Saya merapat sweater pemberian seorang mahasiswa Indonesia yang lagi kuliah di Busan yang saya temui tak sengaja dalam perjalanan saat di Busan. Rasa kasihan melihat tubuh ringkih ini hanya terselimuti jacket tipis membuat Mahasiswa tersebut menghadiahkan sweater yang nyaman bagi saya.

DSC03653
Sebuah taman terbuka yang berada tak jauh dari kawasan keramaian Ansan Stasiun

Saya datang di awal November ketika Korea Selatan memasuki musim gugur yang saya perkirakan awalnya cuaca tak terlalu dingin. Sayangnya, meskipun matahari bersinar terik anginnya cukup membuat tangan membeku kedinginan. Saya jadi teringat ucapan  seorang teman : “ kita tidak pernah tahu apa yang terjadi dalam perjalanan.”

Mata saya sejenak terpejam. Menghirup udara dingin. Menghentikan langkah. Menikmati suara riuh di sekitar stasiun Ansan. Sebuah percakapan yang akrab membuat saya menyunggingkan senyum. Logat Jawa nan kental.

Tempat itu bernama Ansan

Terletak di Selatan Seoul, ibukota Korea Selatan, Ansan adalah sebuah kota di provinsi Gyeonggi, Korea Selatan. Kota ini bukanlah termasuk tujuan wisata populer seperti Busan saat traveling ke negeri ginseng. Namun ketenangan kota kecil ini mampu menjawab kerinduan akan rumah disela-sela rasa lelah sepanjang perjalanan menjelajahi negeri ginseng.

DSC03649
Minggu Pagi di Ansan

Rasa itulah yang membuat saya rela bangun pagi setelah kelelahan berjibaku di pusat perbelanjaan Myeongdong, Seoul, tadi malam hanya sekedar ingin melakukan perjalanan ke Ansan. Semesta pun menyambut saya dengan sinar matahari yang cukup cerah. Saya pun menelusuri lorong stasiun Ansan yang sejenak mengingatkan saya pada kawasan Glodok dan Mangga Dua, Jakarta, dengan ragam pertokoannya. Beberapa tulisan dalam bahasa Indonesia berseliweran. Akhirnya mata ini bisa terlepas juga dari huruf Hangul – huruf Korea. Suara-suara dengan logat Jawa pun menghampiri telinga saya.

Kaki saya melangkah dengan semangat, melempar pandangan pada penjual sayuran dengan senyum terukir. Ahjumma pun melempar senyum yang sama ; Ah, bahasa senyum memang selalu menyenangkan!

DSC03615
Koridor stasiun Ansan. Menariknya, disini masih ditemui street market — pedagang kaki lima, yang tertata rapi dan bersih.

“ Mas Mesjid dimana ya?”

Kaki saya terhenti pada segerombolan pemuda yang asyik bercengkrama. Mereka sejenak memandang saya. Salah satu dari mereka memberi arahan. “ Mbaknya menyeberang di bawah dulu. Nanti jalan lurus belok kiri udah jalan aja terus.”

“ Kira-kira sepuluh menitlah jalan,” sahut mas yang satu lagi.

Saya mengangguk. Beberapa diantara mereka tersenyum menyadari ekspresi wajah saya mendengar jalan kaki selama sepuluh menit. “Tenang mbak. Nggak capek kok jalannya.”

Saya nyengir. Kalau di negeri sendiri ini udah manggil abang ojek. Pikir saya. Saya pun mengucapkan terima kasih. Berjalan mengikuti arahan mereka.  Lagi-lagi wajah saudara setanah air banyak saya temui sepanjang jalan. Saya menghela napas penuh kelegaan. Ada ketenangan menyusup di dalam diri ini. Tak lagi khawatir soal bahasa dan tersesat.

DSC03613
Mas-mas yang lagi menikmati liburan. Adakah sahabat hati eka diantara mereka? *eh 

Mereka benar bahwa saya tak akan lelah menelusuri perjalanan sepuluh menit ke mesjid dari stasiun Ansan dengan berjalan kaki. Daun-daun yang berguguran di sepanjang jalan menyegarkan mata . Pun pertokoaan yang tertata rapi. Saya pun banyak menemui makanan khas Indonesia.

 Ah… INDONESIA. Kenapa selalu menghadirkan rindu?

Kenyamanan di Mesjid Shirathol Mustaqim -Ansan

Sebuah mesjid berdiri kokoh diantara bangunan yang ada di kawasan Danwon-gu, Ansan. Ragu saya memasuki mesjid. Seorang pemuda sedang berjalan memasuki area mesjid. Saya pun tampak ragu memilih bahasa yang digunakan ; Inggris atau Bahasa. Reflek saya mengeluarkan bahasa Indonesia. Ia pun menjawab dengan bahasa yang sama dengan lancar. Memberi arahan tentang tempat wudhu dan sholat khusus wanita yang terletak di lantai 3. Mesjid ini cukup bersih dan nyaman.

DSC03626
Renovasi pada mesjid Shirathol Mustaqim ini tak lepas dari sumbangsih perkumpulan pemuda Indonesia yang ada di Korea Selatan

            Merupakan kota industri yang banyak mendatangkan pekerjaan asing termasuk Indonesia, Ansan kerap dijadikan meeting point bagi Imigran termasuk di mesjid ini. Dari obrolan dengan salah satu pekerja yang berasal dari Malang yang sudah dua tahun berada di Korea Selatan, ia menceritakan kepengurusan mesjid tersebut bercampur dari berbagai Negara ; ada yang dari Pakistan, Bangladesh dan Indonesia.

            “Namun, karena orang Indonesia suka ngumpul kali ya. Jadi kadang emang lebih suka terlihat aktif orang Indonesia di sana.”

            Saya mengangguk menyetujui omongannya. Menyadari beberapa tulisan di mesjid menggunakan bahasa Indonesia termasuk terjemahan alqur’an dalam bahasa Indonesia yang saya temui saat menunaikan sholat di sana. Saya pun menjumpai brosur informasi tentang paket menunaikan ibadah haji dalam bahasa Indonesia di pintu masuk mesjid.

            “ Dan tempat ini menjadi tujuan bagi mereka yang ingin mencari makanan halal,” tukas si Mas.

            Dari cerita teman saya yang lain, mesjid ini juga banyak dapat bantuan dari perkumpulan pemuda Indonesia yang ada di Korea Selatan.

            Kehangatan di semangkuk Bakso

Lupakan mie rebus instan dengan potongan cabe rawit di kala dingin merasuki tubuh ini.  Ada yang tak kalah lezat yang membuat kamu menelan ludah dan terkenang rasa kaldu kuah bakso di ujung lidah. Rasanya makanan inilah yang paling dirindukan selama berada di luar Indonesia. Apalagi dikala udara dingin, sangat menginginkan abang bakso lewat depan rumah.

DSC03633
Kangen Bakso. Ini kali kedua menikmati semangkuk bakso di luar Indonesia ; Malaysia dan Korea Selatan.

Saya pun tak dapat menahan diri untuk memesan semangkuk bakso saat menemui warung bakso di dekat mesjid. Mengabaikan harga yang cukup mahal jika dirupiahkan – 8000 won. Di warung ini juga tersedia beberapa produk makanan khas Indonesia seperti teh dan mie instan.

Rusdi, sang pengelola pun bercerita pada saya warung bakso yang dikelolanya ini hasil kerja sama dengan warga Korea sebagai pemilik. “ saya cerita ada nih  usaha yang tidak repot, tidak butuh modal besar, dan sederhana tapi selalu dicari. Yaitu bakso.” Ia pun menambahkan warung bakso yang bernama Kangen Bakso ini adalah warung bakso pertama di daerah Ansan.

 Ditangan Rusdi bakso dibuat dengan citra rasa yang tak kalah lezat dengan bakso di tanah air. Mengimpor daging dari Australia, ia pun memastikan kehalalan daging bakso yang digunakannya.

DSC03628.JPG
Kangen Indonesia… melipir ke Ansan aja 🙂

Saya beruntung datang di Minggu siang, saat para pekerja Imigran lagi menikmati liburannya. Dua orang mbak-mbak asal Surabaya yang sudah tinggal selama tiga tahun di Korea Selatan bercerita pada saya, ia kerap menghabiskan Minggu  di Ansan –padahal ia tidak tinggal di kawasan ini – sekedar melampiaskan kerinduan pada masakan Indonesia

The Little Town Indonesia

“ Boleh mbak sepatunya!”

Saya terperanjat kaget ketika melintasi pertokoan dengan tumpukan sepatu olahraga yang di obral. Sebuah sapaan membuat saya akhirnya menyungging senyum tipis. Mengelengkan kepala. Saya seperti terlempar dari negeri Ginseng sejenak. Tidak seperti beberapa pusat pertokoaan yang saya kunjungi di Seoul, sepatu ini tertulis ‘made in China’ dengan jelas di sebuah kertas yang terletak diantara tumpukan sepatu tersebut.

DSC03658
Adakah nyelip sahabat hati eka di antara mas-mas yang ngerumpi asyik ini? *Eh

Pertamakalinya selama seminggu berada di negeri dongeng saya melihat produk selain ‘made in Korea’. Saya terkenang pada ucapan seorang pedagang pusat perbelanjaan Good Morning di Dongdaemun saat menawar belanjaan. “ Ini made in Korea bukan China.”

Kaki saya melangkah memasuki kawasan yang tertulis kuliner internasional. Ansan memang terkenal dengan kawasan imigran asing melihat beberapa pabrik dan universitas yang berada di kota kecil ini. Kamu dapat menemui masakan Vietnam, Thailand dan tentu saja Indonesia. Tapi entah kenapa mata saya lebih banyak menangkap tulisan berbahasa Indonesia termasuk ‘warung Indonesia’.

Tak sekedar menjual ragam masakan tradisional Khas Indonesia, di kawasan ini juga mudah ditemui warung yang menjual produk Indonesia. Ketika saya kesulitan mencari money changer yang mau menerima rupiah selama berada di Seoul, di kota Ansan lah Rupiah disambut dengan hangat. Yup, pada akhirnya Rupiah saya diterima untuk ditukar dengan Won.

DSC03645.JPG
Keramaian Ansan di suatu minggu pagi nan cerah

Menikmati Minggu di daerah Ansan adalah agenda yang tepat saat menyinggahi Negeri Ginseng. Menemui Indonesia lewat wajah-wajah saudara setanah air yang sedang berjuang di negeri orang, menikmati ragam kuliner Indonesia yang menambah rasa syukur terlahir sebagai Indonesia. Saya seperti menemui ‘pelukan ibu’ di kota Ansan. Dan… Jika harus mengambil kesimpulan saya menyebut daerah Ansan adalah The Little Town Indonesia nya South Korea. (Eka)

 

Kuala Lumpur ; Putrajaya yang Panas, Putrajaya yang Mengagumkan

“Putrajaya nggak ada bagusnya sih. Biasa saja menurutku. Panas.” Cece pemilik guest house tempat dimana saya dan dua teman saya ; Silta dan Mara melepaskan penat berguman sesaat setelah mendengar perdebatan kecil kami bertiga tentang destinasi selanjutnya.

 “Aku dulu ngikut tour. 15 ringgit kalo tak salah. Mending sih ikut paket tournya aja…”

Sebelumnya kalimat itu terlontar dari perempuan asal Jakarta ini.  Cece menatap kami bertiga dengan ekspresi yang sulit dipahami. Saya menghela napas, melempar pandangan pada Mara yang sudah menyerah — memilih untuk kembali ke Jakarta.

mesjid-putra-jaya
Nama mesjid Putra diambil dari nama mantan Perdana Menteri Malaysia pertama, (Alm) Tunku Abdul Rahman Putra Al Haj, sebagai salah satu bentuk penghormatan rakyat dan pemerintahan Malaysia terhadap beliau.

Baiklah!

Perjalanan ini bukanlah perjalanan egois, ada langkah-langkah kaki lain yang mengikuti langkah saya. Tak ada renungan berarti, tak ada waktu sia-sia untuk sekedar bernapas sejenak mengambil jeda  dari kelelahan yang mampir. Saya pun mengalah tidak memaksa Mara untuk ke kawasan Putrajaya.

****

Tahun lalu, saya sempat diajak ke Putrajaya Square dengan rombongan tour umroh yang pernah saya ikuti. Sempat merasakan sholat zuhur di tempat ini, kawasan mesjid Putra memberi kesan tersendiri bagi saya. Ya, saat itu, seperti biasa ikut dalam rombongan tour selalu di desak soal waktu yang terburu-buru. Dan, saat itu saya pun bertekad suatu hari bisa kembali mampir di tempat ini.

Inilah menjadi alasan saya kenapa harus mampir ke Putrajaya meskipun saya buta dengan arah dan transportasi serta tempat seperti apa sebenarnya kawasan ini. Mengabaikan kelelahan di wajah teman saya, Silta, saya pun mengajaknya menaiki KLIA Ekspress (padahal sisa ringgit sudah menipis 😦 ) menuju stasiun Putrajaya. Kami sempat kebingungan, pusing-pusing tak jelas kemana langkah selanjutnya.

” Bagaimana menuju mesjid Putrajaya?”

Pertanyaan saya pun membuat beberapa orang di stasiun Putrajaya yang saya tanyakan mengeryit dahi bingung — Dan, beberapa saat kemudian setelah mutar-mutar di kawasan tersebut saya pun tersadar pada pertanyaan yang membingungkan tersebut. Ternyata yang saya maksud sama masyarakat setempat disebut mesjid Putra.

puta-jaya
Bus Putrajaya Sightseeing tour ; peserta tour tak menyiakan kesempatan yang diberi uncle untuk mengabadikan moment dalam bidikan kamera.

Kelelahan membuat kami tersesat pada jalan yang benar ( Ya kali ka… tersesat di jalan yang benar 😀 ). Ya, kami menemukan tempat mangkal bis. Segerombolan turis sedang mengerumuni seorang uncle. Saya pun menghampiri uncle tersebut. Ternyata ia sedang menawarkan Putrajaya sightseeing tour.

Tanpa pikir panjang saya pun turut serta ikut paket tour yang menghabiskan waktu sekitar dua jam dengan harga 20 Ringgit atau sekitar enam puluhan ribu lebih rupiah yang ditawarkan uncle tersebut.

Putrajaya Sightsseeing tour ; Mengenal lebih jauh kawasan pusat administrasi pemerintahan Malaysia

Mesjid Putra yang saya kunjungi setahun silam adalah merupakan kawasan Putrajaya Square. Mengabungan arsitektur tempo dulu yang dipadu dengan kemodernan bangunan mesjid ini menawarkan keindahan yang tak terbantahkan. Terletak dipinggirkan danau, mesjid Putra memiliki puncak menara yang menjulang tinggi. Menakjubkan! Sesekali cobalah sholat di mesjid ini.  Oh, ya kawasan ini juga terdapat komplek tempat tinggal perdana menteri Malaysia.

jubah
Perbedaan keyakinan tak menyurut hati untuk bisa menikmati keindahan bangunan mesjid. Bagi mereka yang tidak menggunakan hijab atau pakaian pendek  dipinjamkan jubah percuma. Inilah hidup yang menyenangkan ; saling menghargai 🙂

Yup, Putrajaya merupakan pusat administrasi pemerintahan negara Malaysia. Begitu uncle yang ternyata sopir bus Putrajaya Sightseeing tour menjelaskan secara singkat. Baru diresmikan sekitar tahun 1995 lalu, kawasan ini ditata begitu apik dengan ragam bangunan menakjubkan bertujuan mengatasi kepadatan Kuala Lumpur. Tak heran terlihat beberapa bangunan pemerintahan saat bus kami melaju dengan kecepatan santai.

bukan-harry-potter
Bukan Hogwarts School ; jadi jangan harap bisa bertemu si manis Ronald Weasley. Heh, Pak cieknya cukup ganteng lho! 😀

Dari mulai Jembatan yang melintasi danau cukup luas ; Jembatan Seri perdana dan Jembatan putra, serta beberapa gedung pusat pemerintahan seperti kehakiman, putrajaya Ministry of finance dan lain sebagainya membuat mata saya pun terpana pada arsitektur megah khas ala Eropa dan jalanan yang cukup luas.

pemandangan
salah satu sudut kawasan Putrajaya dari seberang Putrajaya Convention Centre (PCC)

Mengikut paket tour Putrajaya Sightseeing adalah pilihan yang tepat bagi saya. Melintasi kawasan Putrajaya seperti Dataran kemerdekaan Putrajaya, Mesjid Putra, Putrajaya Convention Centre (PCC), dan beberapa gedung pemerintahan. Menyenangkan !

Menghabiskan waktu sekitar dua jam, berhenti di spot-spot tertentu yang menarik untuk di foto, uncle  memberi jeda waktu  dan kesempatan untuk kami mengambil foto. Oh, ya bus ini beroperasi sampai pukul 03.00 p.m.

PutraJaya ; Biasa saja, tapi mengagumkan !  

” Wajar cece itu bilang biasa saja, lah dia udah pernah ke sini !” seloroh saya ditengah panasnya cuaca Putrajaya. “Tapi bagi yang belum pernah, ini adalah tempat yang harus dikunjungi.”

Sebagai orang yang menghabiskan masa kecil di pelosok daerah transmigrasi Jambi, melihat bangunan-bangunan yang ada di kawasan Putrajaya adalah kemewahan tersendiri bagi saya.

kehakiman
Bukannya takut debu sih sebenarnya, tapi Yoona nya takut hitam makanya pake masker :p

Silta tertawa pelan. Ia beberapa kali berkomentar mengenai foto yang diambilnya jadi gelap karena cahaya matahari yang lagi semangatnya. Padahal banyak spot menarik untuk berpose diantara ragam bangunan yang mengagumkan tersebut.

Dari jendela kaca bus, saya melempar pandangan ke danau yang cukup luas. Menikmati pemandangan pada beberapa bangunan dan taman yang terlihat asri. Di tengah teriknya matahari dan keringat yang mengucur di dahi, pikiran saya sempat mengkhayal.

Sungguh menyenangkan melintasi pinggiran danau di sore menjelang senja. Bersepeda santai bersama seorang sahabat hati yang entah dimana keberadaannya. Ah, Yoona terlalu merindukan moment tersebut!

jembatan
Ada yang lagi ngikuti K-Drama ”On the way to the airport” salah satu pemandangan ya ini : Jembatan Seri perdana. Oh, ya pengemar AA boleh lho nonton episode ! *kode airport aja sih.

🙂

Sebuah kisah dengan nama Yoona

” Atas mbak siapa ya?”

” Yoona. Kim Yoona.”

Mas-mas dengan celemek bewarna hijau mengeryit dahi. ” Yuna.”

Mengangguk.

yuna
Si abang-abang selalu salah nulis, harusnya kan “YOONA!” -_-

 

****

Adalah Yoona. Jangan bayangan gadis berambut panjang dengan kaki yang skinny sedang menari indah bersama delapan anggota yang tak kalah cantiknya — Oh, lupa minus Jessica sudah keluar.

Jangan!

Sebenarnya ini bukan tentang kisah girls band Korea yang sukses menghipnotis mata dunia terfokus pada negeri ginseng. Bukan. Sangat bukan — bahkan sampai sekarang saya masih kesulitan antara membedakan Yuri, Sooyoung, dan Tifanny.

Yoona adalah satu-satunya yang saya ingat wajahnya di girl band bernama Girls Generation atau biasa dikenal dengan SNSD. Maraknya pengaruh hallyu, pada 2012-2013 membuat saya kerap mengeluarkan kata ‘Yoona’ setiap kali orang bertanya ‘atas nama siapa?’ — tentu disesuaikan dengan kondisi yang ada, tidak mungkin ketika wawancara kerja saya jawab nama : Kim Yoona . Ketika itu saya kerap menjadikan sebuah warung kopi anti kaya sebagai tempat menyelesaikan tulisan baik itu skripsi, artikel dan khayalan tak jelas.

Sejujurnya saya anak baik yang sulit berbohong, tapi untuk pemakaian nama Yoona pengecualiannya. Yah…berharap suatu hari bisa secantik Yoona, minimal memiliki keberuntungan seperti Yoona yang disukai oleh Lee Seung gi. Okeh abaikan!

yoona
” Ka, jadi cewek tuh seperti ini… tinggi, putih rambut panjang,” cetus seorang teman di suatu siang yang terik. -_-

 

Continue reading “Sebuah kisah dengan nama Yoona”