Menemui Kebaikan di Let’s Read

Keep reading. It’s one of the most marvelous adventures anyone can have

Lloyd Alexander

salah satu koleksi buku yang berada di rumah

Saya terpaku cukup lama usai membaca salah satu cerita di aplikasi Let’s Read berjudul ” Ibu Guru Hebat” . Sepertinya halnya Sarah, saya penasaran dengan ibu guru yang diceritakan oleh Reta dan membuat saya tak sabaran mengeser ke kanan untuk segera menyelesaikan cerita tersebut. Misteri ibu guru Reta pun terkuak dengan pengenalan terhadap sosok Bu Een Sukaesih, bu guru nan menakjubkan. Sosok ibu guru digambarkan dalam cerita mengalami Rheumatoid Arthritis ( RA) yang membuatnya lumpuh, namun tidak menghambat aktivitasnya dalam mengajar.

Bu Een adalah guru yang pintar dengan menguasai ragam mata pelajaran seperti Bahasa Inggris, Sejarah, Komputer dan matematika. Siapa pun boleh datang dan belajar ke rumah buk Een. Sebuah cerita yang sederhana namun mengasah sisi humanis saya sebagai makhluk sosial. Keterbatasan yang dimiliki oleh buk Een ternyata tidak membuat beliau berhenti berkarya. Dan, tentu saja kebaikan hati anak murid beliau saling membantu di rumah buk Een seperti membersihkan rumah. Sejatinya begitulah kehidupan saling menolong dan berbuat baik.

Membaca bagi saya bukan saja sekedar hobi tapi sebuah sarana sebagai pembentukan karakter. Saya percaya buku dan tulisan apa yang kita baca akan membentuk kita seperti apa. Dan, sedihnya adalah ketika saya memperhatikan anak-anak di lingkungan saya yang jauh dari kebaikan lebih banyak berteriak serta terpaku pada game di ponsel. Sungguh sangat langka melihat bocah memegang buku bacaan – kecuali mungkin di kota kali ya ?

Sejatinya cerita baik seperti kisah buk Een bisa dijadikan sebagai perenungan bagi anak untuk menjadi pribadi yang baik dan lebih humanis. Adik saya tumbuh dengan minat bacanya yang bikin orangtua saya mengeleng kepala. Ayah saya sempat ngedumel kala lihat buku-buku yang ada di kamar adik.

“ Ini kalau di totalin bisa beli mobil nih! ” begitu ayah berujar jika dihitung -hitung jumlah buku yang sudah dibeli sejak usia dia sekolah dasar. Membacalah yang membuat adik saya tahu bagaimana transaksi membeli buku online.

Ayah mungkin tidak sadar, deretan buku tersebut membentuk karakter adik lebih bijak dan jeli dalam membaca situasi. Adik tahu dimana ia harus berbicara dan menjaga sikap serta lebih mawas diri. Dan, kisah “Ibu Guru Hebat” bukan satu – satunya kisah yang menghadirkan nilai kebaikan. Ada banyak kisah yang membuat kita terperangkap pada perenungan akan kesederhanaan cerita yang disajikan di Let’s Read, sebuah aplikasi perpustakaan digital masa kini.

Let’s Read more !

Saatnya mengunduh lets read yang bisa kamu nikmati di kala offline — tanpa perlu pakai data membaca cerita anak 🙂

Let’s Read adalah perpustakaan digital berisi buku cerita anak yang dapat di unduh di playstore. Aplikasi ini dipersembahkan oleh komunitas literasi dan The asia foundation dalam rangka bertujuan untuk membudayakan kegemaran membaca sejak dini dengan menghadirkan ragam cerita bergambar nan menarik dan sederhana.

Kehadiran Let’s Read di tengah kemajuan era teknologi yang tak lepas dari smartphone adalah oase di tengah gersangnya kebiasaan membaca terutama dalam dunia anak. Solusi bagi ibu – ibu muda yang terkadang berat mengeluarkan lembaran rupiah demi satu buah buku, namun disisi lain ia ingin anaknya bisa membaca dengan baik. Ada banyak bacaan baik hanya bermodal smartphone. Tak ada alasan untuk mengkambinghitamkan anak kecanduan ponsel pintar, kalau yang di buka adalah bacaan di Let’s read !

Saya belum punya menikah dan punya anak. Tapi menelusuri cerita -cerita di Let’s read membuat saya kehilangan kata-kata. Seperti menemukan mutiara nan indah. Tak sekedar menyajikan cerita, tapi juga informasi soal cerita tersebut dari berbagai bahasa yang bisa jadi media belajar bagi kita. Dan, menariknya adalah informasi soal tingkat kesulitan membaca yang justru sebagai tantangan dalam diri ini. Membaca jadi menyenangkan, bukan?

Ada banyak kebaikan dalam perihal membaca, dan ada ratusan cerita bergambar yang menawarkan nilai kebaikan dalam tumbuh kembang anak saat melewati masa emasnya hingga ia akrab dengan bacaan yang baik. Inilah yang tanpa sadar ditawarkan oleh Let’s Read menurut saya pribadi. Bagi orang dewasa membacakan kisah – kisah yang terdapat di Let’s read tanpa sadar kembali belajar tentang kebahagiaan sederhana khas dunia anak-anak — mengasah sisi humanis dan senyum menyenangkan. Bagi bocah ia belajar mengenai rangkaian kalimat dan imajinasi dan pembentukan karakter menjadi pribadi yang mengembirakan.

Beberapa cerita unggulan yang terdapat di Let’s read Indonesia

Tentang membaca kisah …

Saya dan adik tumbuh di sebuah desa yang tidak terdaftar di peta. Bahkan untuk menyebut dimana kami tinggal, kami terpaksa mengatakan nama kota Kabupaten bukan nama daerah dimana kami tinggal. Membaca buku kala saya kecil dulu merupakan kemewahan yang terangkai dalam khayalan saya. Tak ada perpustakaan dan tak ada toko buku di desa saya seperti hal yang digambarkan dalam cerita – cerita yang saya baca.

Saya bersyukur ada salah satu guru yang berinisiatif menjual Majalah Bobo yang ia ambil dari kota kabupaten dan dijual dengan harga sedikit mahal dari tarif mengingat biaya transportasi. Bagi anak yang gemar membaca, majalah Bobo tak bisa memenuhi kepuasan mengisi waktu sepanjang hari Minggu atau kala liburan tiba. Majalah Bobo hanya hitungan jam sudah selesai di baca, sementara ada banyak waktu yang membuat bosan jika tak ada kegiatan. Terkadang saya mesti mengubek -ngubek koran bekas dagangan ayah yang beliau beli lumayan banyak dari kota Padang kemudian membagikan perkilo. Koran tersebut dijual ke pedagang toko baju atau penjual ikan asin.

Di koran bekas saya menemui cerita dongeng salah satunya tentang bawang merah dan bawang putih yang mengajarkan saya tentang nilai kebaikan dari bawang putih. Cerita tersebut dimuat dalam sisipan terbitan hari Minggu pada sebuah koran daerah. Kecintaan saya pada cerita dimanfaatkan oleh saudara kembar saya kala ia minta tolong. ” Ka, temani Eda ke kamar mandi dong. Eda ada cerita , kemaren nemu di Koran minggu di toko,” kalimat itu menjadi kalimat pamungkas membuat saya menuruti apa maunya Eda.

Saya tumbuh menjadi pribadi yang jatuh cinta pada kata-kata dan cerita termasuk dongeng yang mengajarkan nilai kebaikan. Buku bergambar berjudul Heidi yang dibelikan ibu saya sepulang dari kota Padang kala saya sekolah dasar dulu melekat dalam ingatan saya. Betapa menyenangkan memiliki pribadi ramah dan periang seperti halnya Heidi. — dikemudian hari saya baru tahu kalau Heidi berangkat dari kisah novel yang ditulis oleh Johanna Spyri pada 1879.

surganya pengemar bacaan

Tumbuh dengan kegemaran membaca membuat saya sadar buku memberi banyak kebaikan dalam setiap langkah menuju kedewasaan diri. Meniti kata dan menata langkah adalah proses yang di dapat kala bergelut dengan ragam bacaan. Let’s read more dan temukan kebaikan di ragam cerita bergambar yang terdapat di aplikasi Let’s read !