Resolusi Travelling 2019 : Berburu Keindahan Sunrise dan Mengukir Cerita di Sudut Perkotaan

“ Gimana mau bangun rumah tangga, bangun pagi aja berat ! ” kelakar seorang teman kala dia menginap di rumah saya.

Saya bukanlah orang yang mudah bangun pagi, tidur selesai menunaikan sholat subuh adalah kenikmatan yang sulit saya jelaskan alasannya. Meskipun beberapakali ibu saya mengomel soal kebiasaan tersebut. “ Tidur abis subuh itu memang nikmat Ka, tapi bisa buat pikun.”

Satu-satunya yang bisa membuat saya semangat beraktivitas di pagi hari selain tanggung jawab pekerjaan adalah traveling. Karena entah kenapa saya masih percaya pagi selalu menyimpan cerita penuh harapan indah akan kehidupan. Itu kenapa setiap memasuki pergantian tahun, saya berharap bisa bangun pagi dengan perasaan baik dan semangat.

jagalchi
Suatu pagi di Jagalchi Fish Market, Busan

Pagi selalu menawarkan cerita baru tentang impian akan hidup yang lebih baik dari sebelumnya. Saya tak mungkin lupa momen menelusuri pagi selepas subuh di Jagalchi, kala Ahjumma mulai berkemas terhadap dagangannya, dan para Ahjushi yang sibuk dengan box-box ikan dan mengangkat ke dalam mobil pick up. Di wajah mereka tersimpan harapan janji kehidupan yang lebih baik terhadap semangat memulai hari di pagi hari.

Terlepas dari kebiasaan saya menelusuri sudut perkotaan sekitar penginapan kala traveling untuk sekedar mengamati aktivitas manusia di pagi hari, saya lupa pada momen romantisme pagi bermula. Kala matahari perlahan-lahan mulai muncul diatas horizon di timur dengan keindahan pancaran pantulan cahaya. Pada kekuasaan-Nya yang menciptakan pergantian hari yang begitu menakjubkan.

Saya ingin mengabadikan momen itu dalam bidikan kamera dan ingatan di ruang pikiran dan menyesap ke dalam relung hari ini. Akan syahdu nya romantisme matahari terbit. Pada rasa syukur akan kehidupan yang masih bisa dinikmati.

Saya bukan penikmat gunung, meskipun beberapa orang kerap terjebak dengan image ‘anak gunung’ yang melekat dalam diri ini. Kelelahan mendaki bukanlah sesuatu yang saya harapkan, meskipun beberapa dari mereka mengatakan mendaki gunung adalah candu tersendiri.

Laut
Laut mmembekukan segala ingatan yang melelahkan ; menenangkan.

Saya penyuka laut, namun, tidak semua laut bisa memberi pemandangan yang menakjubkan dengan budget gembelita ala saya. Akses penginapan yang dekat laut terkadang membuat saya ingin menangis pilu.

Saya pengemar pendar cahaya lampu dan gedung perkotaan. Dan, rasanya menyenangkan kala mengabadikan momen matahari terbit diantara bangunan perkotaan yang menakjubkan.

53609546_483563922179394_7251656291901243392_n
Santai sejenak di salah satu Mall di Singapore

 

Dan, inilah beberapa list resolusi perjalanan saya yang mungkin bisa jadi inspirasi teman-teman sekedar berburu keindahan matahari terbit dan menikmati pagi yang menyenangkan . Siapa tahu kita bisa join dan traveling bareng. — Oh, ya anaknya juga available lho buat dijadikan teman hidup *kalem*

Menikmati Sunrise di Merlion Park, Singapore

Kesan saya terhadap negara tetangga ini tak lebih dari rasa lelah dan membosankan dengan kesibukan aktivitas manusianya. Tapi entah kenapa, selalu ada magnet yang membuat saya ingin kembali, kembali dan kembali menelusuri negara tersebut.

Dua kali mengunjungi Singapore, saya tak pernah menginap atau menghabiskan malam di negara tersebut. Akomodasi yang mahal menjadi alasan untuk saya memilih menyeberang kembali ke Batam atau terus melanjutkan perjalanan ke negara seberang ; Malaysia.

53345299_1141303909364062_8827136998578847744_n

Mungkin ini yang menjadi alasan kenapa Singapore terus menarik hati saya untuk segera kembali menyinggahi dan menikmati atmosfer perkotaan negara tersebut yang ramah bagi penyuka jalan kaki seperti saya. Tentunya untuk menemui keindahan sunrise diantara ragam bangunan angkuh dan futuristik khas Singapore.

Saya ingin kembali ke Singapore sebagai slow traveler, barangkali melupakan sejenak tentang kekhawatiran akan akomodasi yang mahal. Saya lupa akan keberadaan RedDoorz di Singapore, yang menawarkan harga sesuai kantong gembelita seperti saya.

53570256_307709829828774_9077344351381618688_n
Pemandangan salah satu sudut perkotaan Singapore

Pengalaman saya pernah menginap di RedDoorz Tebet, Jakarta, membuat saya tidak terlalu khawatir akan harga murah yang ditawarkan. Kebersihan kamar mandi yang menjadi prioritas saya ketika menginap terjaga dengan baik. Pun dengan kamar yang dibersihkan dengan rapi. Wi-fi nya terbilang lancar serta tentu saja ada hiburan dengan ketersediaan televisi di kamar bukan di lobby penginapan.

Menarik adalah ketika saya mendapatkan amnesti alat mandi yang tentunya mengurangi beban di ransel. Tak perlu repot-repot packing persoalan sabun, shampo, sikat gigi plus bonus sisir lho. Dan, itu semua gratis yang bisa digunakan pada destinasi selanjutnya.

53740559_2120911814873330_6488085920707772416_n(1)
Yang tersisa dari pengalaman menginap di RedDoorz — tempat fasilitas alat mandi 🙂

Lalu bagaimana dengan RedDoorz di Singapore?

Ketika membuat resolusi perjalanan, penginapan adalah hal yang harus dipikirkan baik-baik. Kala menelusuri web RedDoorz, ada 6 jaminan yang mereka tawarkan seperti apa yang telah saya alami kala menginap di RedDoorz, tebet, Jakarta. Dari kebersihan kamar mandi, kerapian dan kebersihan kamar, wi-fi, air mineral, amnesti alat mandi, dan televisi. Sesuatu yang tak perlu dikhawatirkan bukan?

Mengabadikan Aktivitas Pagi di Hong Chi Minh City, Vietnam

Saya belum pernah ke Vietnam, termasuk ke Hong Chi Minh, sebuah nama yang kerap berseliweran diantara pengemar traveling. Rasa penasaran terhadap salah satu tempat destinasi favorit turis tersebut membuat saya kerap berselancar soal kota yang terkenal dengan riuh suara motornya. Dua tahun yang lalu saya pernah mengikrar diri untuk menyinggahi negara ASEAN sebelum memasuki usia 30 termasuk tentunya Vietnam.

Menelusuri Hong Chi Minh di internet tak memberi gambaran pasti tentang kota tersebut seperti apa selain konsep bangunannya khas Eropa. Tapi, satu yang pasti saya tak bisa membayangkan romantisme geliat pagi di Hong Chi Minh yang menyenangkan tersebut. Selalu ada cerita yang seru untuk segera dijumpai. Keluar dari penginapan selepas subuh, menelusuri sudut bangunan perkotaan sekedar menjumpai keindahan matahari terbit diantara bangunan perkotaan.

panduan-wisata-vietnam-1
Keindahan Ho Chi Minh ( Sumber foto : Blog RedDoorz )

Saya teringat dimana Eun Ji Won dan Lee Se Geun menikmati secangkir kopi di warung sederhana kala syuting variety show Korea, The Journey To The West di Vietnam. Sebagai penikmati kopi, rasanya pagi begitu menyenangkan kala diawali oleh aroma kafein. Dan, menikmati lorong-lorong pasar di Hong Chi Minh, berburu secangkir kopi tentu memberi kesan tersendiri bukan?

Karena pagi adalah cara menawarkan kesan dan cerita yang menyenangkan. Keindahan pagi nan sederhana di Hong Chi Minh masuk dalam list resolusi travelling tahun ini. Salah satu alasan saya juga, adalah keberadaan RedDoorz yang membuat saya tak perlu khawatir soal budget liburan yang nyaman di kantong dan tentunya juga di hati.

Menyapa Pagi di Jakarta

Sempat menghabiskan waktu selama lima tahun tinggal di Jakarta, ibukota Indonesia tercinta ini tentu memberi kesan berarti dalam perjalanan hidup saya. Selama lima tahun di Jakarta, saya tak benar-benar menikmati suasana pagi yang menyenangkan selain kemacetan dan tertidur di dalam bus Patas.

53595910_325809248283813_7464191674801979392_n(1).jpg
Merindukan langit Jakarta

Pagi saya sering dilalui dengan terlelap di tempat tidur. Dan kehidupan kerap berawal dari jarum jam sudah menunjukkan angka sepuluh. Namun, ada momen yang membuat saya terpaku pada pagi di Jakarta, yaitu kala menikmati pagi di taman Suropati.

Dua tahun sudah saya tak menyapa Jakarta, meskipun saya sadar Jakarta bukanlah tempat impian destinasi liburan orang-orang seperti saya. Kota yang menjemukan sekaligus menawarkan cerita penuh emosi bagi saya pribadi. Dan sejujurnya pilihan resolusi traveling 2019 ke Jakarta bukanlah pilihan yang tepat mengingat harga tiket domestik yang bikin keuangan saya menjerit pilu.

Tapi, saya rindu Jakarta. Kerinduan yang tentu harus dibayar tuntas, bukan? Untuk menuntaskan kerinduan namun tak membuat kantong saya menjerit, cara terbaik adalah dengan memilih akomodasi yang murah. Murah bukan berarti menawarkan kualitas tidak mengenakan.

foto eka

Kenyamanan tetap menjadi salah satu prioritas dalam sebuah perjalanan. RedDoorz masih menjadi andalan saya dalam menekankan budget liburan termasuk perjalanan menuntaskan rindu ke Jakarta. Menikmati pagi di taman Suropati, Bersepeda di Kota Tua, dan nongkrong malam hari di bundaran HI sambil menikmati kopi abang – abang sepeda ( eh masih ada nggak ya? )

Tiga destinasi itu menjadi prioritas utama Resolusi traveling 2019 selain tentunya resolusi perjalanan kehidupan nan spesial ; pernikahan. *Ehmmmm… berabe benaran kerudung * — Jadi kapan kita Ta’arufan??? 😀

 

Tentang dia yang Memberitahukan Saya Bagaimana Menikmati Perjalanan

Ini tentang dia, seorang laki-laki, yang saya panggil Pak Aie. Bersama mobil truk ia mengenalkan perjalanan yang menyenangkan saat itu.

foto eka

Saya tersentak seiring laju bus tingkat yang membawa saya dalam perjalanan Bangkok menuju Krabi melambat. Saya pun meraih Iphone 4 dari saku tas kecil yang saya peluk sepanjang perjalanan. Pukul 04.30 A.M dan langit masih menyisakan suasana gelap. Sembari menarik napas, saya melempar pandangan ke luar jendela kaca. Tak ada pemandangan yang menarik selain semak belukar dan beberapa rumah.

Namun entah kenapa suasana subuh itu membuat saya merasa dejavu’ terlempar pada sebuah perjalanan yang kerap saya lakukan semasa kecil dulu melewati lintas Sumatera. Bedanya, saat ini tak ada suara adzan subuh dan … truk, serta pak Aie.

Pak Aie

Pak Aie tak ubahnya keluarga bagi kami. Ia adalah orang yang bekerja dengan ayah saya saat itu. Ia membawa barang dagangan ayah yang dibeli dari kota Padang menuju daerah transmigrasi Provinsi Jambi setiap minggunya. Ayah saya adalah perantau asal minang yang mengadu nasib pada suatu daerah dusun yang membuat kehidupan penuh rutinitas yang membosankan saat itu – bahkan listrik cuma hidup di malam hari.

Ama – ibu saya, kerap menyuruh saya dan saudara kembar saya ke kota Padang sekedar liburan di tempat kedua orangtua beliau serta kakaknya dan beberapa sepupu saya. bersama pak Aie dan mobil truknya kami kerap melakukan perjalanan di mulai dengan melintasi jalan logging, kota Muaro Bungo, lintas Sumatera untuk menuju kota Padang – yang kemudian hari baru saya tahu bahwa itu truk milik ayah saya.

Dalam perjalanan menuju kota Padang, truk Pak Aie terkadang dibebani dengan hasil perkebunan dusun tersebut seperti Nangka dan Jengkol yang nantinya akan dijual di Pasaraya Padang. Biasanya menjelang subuh, kami sudah sampai di Kota Padang. Saya ingat Pak Aie terkadang membangunkan saya ketika truk berada di Sitinjau Laut sekedar menikmati keindahan kota Padang dari ketinggian daerah tersebut.

foto diam
Pemandangan kota Padang dari Gunung Padang, Padang

Pak Aie juga kerap menunjukkan dua tanduk kerbau yang bertuliskan PT Semen Padang yang menandakan sebentar lagi kami akan sampai ke tempat tujuan. Layaknya anak-anak berusia enam tahun saat itu, saya bersenandung senang. Terkadang dalam perjalanan, pak Aie sengaja menghentikan truk dan menyuruh saya membaca billboard atau plang nama toko yang pada akhirnya mengenalkan saya pada nama daerah tersebut.

Puzzle Perjalanan Bersama Pak Aie

Saya menghela napas. Kembali memejamkan mata dan sesaat kemudian perlahan membuka mata. Saat itu langit telah berubah jadi terang yang membuat pemandangan di luar jendela kaca bus tingkat terlihat jelas. Sayangnya tidak ada plang nama yang bisa saya baca yang memberitahu apakah saya sudah memasuki daerah Krabi atau belum.

11163201_10207128533033009_6722218364864285020_n
Salah satu pemandangan dari balik jendela kaca bus yang membawa saya kembali ke Kota Bangkok dari Krabi,Thailand

Lagi-lagi pikiran saya terlempar pada laju truk semasa kecil dulu, pemandangan di luar sana tak ubah seperti memasuki daerah Muaro Bungo saat itu. Saya ingat, saya berdiri memegang dashboard truk bersenandung meluapkan kegembiraan, sebentar lagi saya akan tiba dan tak sabar membagi cerita ke Ama  mengenai liburan selama di Padang.

Cerita masa kecil saya pun terhenti seiring laju bus berhenti di terminal. Saya pun bergegas turun mengabaikan perasaan emosional yang dihasilkan dari puzzle-puzzle masa lalu tersebut. Sayangnya, memori yang sudah lama terlupakan itu selalu ‘hidup’ setiap kali saya melakukan perjalanan.

****

Bumbu – bumbu Perjalanan

Bagaimana rasanya terjebak tidur di Bandara, di terminal, di rumah makan, dan tersesat kebingungan pada suatu daerah yang asing?

Saya berbagi cemilan dengan bapak-bapak asal Yogyakarta yang hendak melakukan perjalanan ke Brunei saat transit di KLIA 2 sebelum melakukan penerbangan ke Bangkok esok harinya. Mengobrol banyak hal. Dan, ini bukan kali pertamanya saya terjebak bermalaman di Bandara, di Soetta terminal 2F kerap saya singgahi paling tidak enam bulan sekali.

terima kasih ibu

Perjalanan dengan Pak Aie membuat saya tidak terlalu peduli tempat persinggahan seperti apa yang akan saya temui sebelum tiba di tempat tujuan. Pak Aie selalu singgah di Rumah Makan yang dipenuhi mobil tronton, truk serta L-300 yang sebagian mereka  baru pulang dari pulau Jawa. Meskipun tak terlalu mengerti, saya menikmati obrolan kaum bapak tersebut. Biasanya Pak Aie akan memesan secangkir kopi susu buat saya, dan secangkir kopi hitam untuknya.

Saya pun belajar bagaimana nikmatnya menyeruput kopi susu di piring tadah agar cepat dingin – hal serupa juga dilakukan bapak-bapak terhadap kopi mereka. Menyuruh saya untuk tidur di mobil percuma, karena tahu karakter saya yang heboh dan penuh rasa ingin tahu. Kadang ketika Pak Aie tidur sejenak di ruang yang disediakan oleh pemilik rumah makan untuk para supir, berlantai papan, ia merelakan kain sarungnya untuk selimut saya ketika tidur di sebelahnya. Memberikan saya lotion nyamuk khusus anak-anak, dan membiarkan saya mengunakan dengan tangan sendiri. Mewanti-wanti untuk segera mencuci telapak tangan yang sudah kena lotion tersebut.

Perjalanan tidak selalu tentang hal-hal yang menyenangkan. Diantara perjalanan yang tidak menyenangkan selama ini yang saya alami bersama Pak Aie adalah ketika bocor ban di daerah yang belum jauh dari rumah. Saat itu pukul sepuluh malam, lima belas menit lepas dari rumah tiba-tiba ban truk berbunyi cukup keras. Suasana sepi, tak ada kendaraan lain yang lalu lalang.

16558753_1374216105963615_635721856_n
Salah satu perjalanan saya adalah mengunjungi museum kereta api di Sawahlunto

Jika ada, tak ada yang mau berhenti sekedar membantu pak Aie. Dari dalam truck, saya kecil mengamati keresahan pak Aie di jalan menunggu kendaraan lain untuk mau mengantar saya dan dia pulang ke rumah agar beristritahat (saat itu belum ada ponsel untuk mengehubungi ayah saya) sejenak. Sayangnya sia-sia, berakhir dengan menunggu pagi yang kemudian keesoknya menumpangi Angkot kota.

Saya tersadar pengalaman perjalanan masa kecil dengan pak Aie membuat saya jadi terbiasa untuk tak banyak mengeluh dalam perjalanan. Ketika ketinggalan Subway terakhir saat backpacking ke Korea tahun lalu, dengan hati tabah saya memilih berjalan kaki seorang diri menembus dinginnya cuaca musim gugur saat itu.

Saya pun pernah terjebak di warung mie aceh di Pasar Minggu saat ketinggalan bus Damri yang akan membawa saya ke bandara untuk melakukan penerbangan paling pagi. Sementara untuk kembali ke kosan di lenteng agung bukan pilihan yang baik mengingat angkutan umum sudah tidak ada – saat itu kondisi keuangan saya sedang memprihatinkan. Saya memohon ke karyawan mie aceh untuk tidak tutup terlebih dahulu dan membiarkan saya menunggu di warungnya hingga  Damri pertama melintas di depan warung tersebut.

Sekolah di Perjalanan

Perjalanan mengasah sisi nurani saya menjadi pribadi yang lebih baik pada kehidupan sosial. Tersadar terhadap hampir tujuh tahun semasa kecil menikmati perjalanan dengan truk bersama Pak Aie melintasi jalanan Sumatera membuat saya tumbuh dengan baik. Pak Aie mengisi ruang kosong yang seharusnya di isi dengan ayah saya yang sangat sibuk saat itu.

13442342_10209200013538727_5173343686293616954_n

“ Eka itu apa bacaannya?” dari balik kemudinya Pak Aie memperlambat laju truk. Menepi sejenak.

“ Dua kali lima berapa?”

“ Coba ucapkan A sampai Z!”

Pak Aie dan Truknya saat itu tak ubahnya ruang kelas dan sekolah bagi saya. Tak sekedar mengajarkan berhitung, membaca selama perjalanan, tapi juga berbaur dan bersosialisasi yang baik selama perjalanan tanpa memandang latar belakang seseorang. Tentang pelajaran moral yang kadang tidak saya dapatkan di bangku sekolah dasar dulu.

****

Aha Moment Skyscanner

Saya memulai perjalanan sejak usia belum genap enam tahun saat bersama Pak Aie hingga pengujung sekolah dasar. Pak Aie kemudian lepas dari ayah dan saya pun melewati masa tumbuh yang biasa tanpa perjalanan yang berarti.

20161114_142442

Perjalanan adalah candu yang tak terbantahkan.  Hingga ketika semasa kuliah kembali saya diingatkan pada moment menyenangkan akan sebuah perjalanan. Tak banyak perjalanan yang saya lakukan saat itu mengingat keuangan dan waktu yang saya dedikasikan untuk menjadi mahasiswa yang baik.

Perkenalan saya pada situs skyscanner membangkit hasrat saya untuk melakukan perjalanan yang lebih jauh, dalam artian melintasi negara, menemui hal-hal yang baru ; bahasa, budaya, suasana dan sistem transportasi. Kemudahan informasi yang diberikan Skyscanner mengenai waktu dan biaya untuk tiket pesawat promo membawa langkah saya akhirnya nekat melakukan solo backpacking untuk pertamakalinya ke negara asing ; Thailand 2015 lalu.

Keberanian juga didukung dengan beberapa informasi di blog tentang Bangkok — meskipun teman saya yang sempat berlibur di sana mengingatkan tentang kriminalitas Bangkok. Saya percaya pada pikiran positif, pada hati yang selalu berdo’a dan langkah nan tenang semua akan baik-baik saja.

22236424_10213600457267070_960960519_n.png
Skyscanner inspirasi cerdas untuk menentukan destinasi liburan

Mengembalikan momen menyenangkan selama perjalanan adalah mengukir cerita perjalanan itu sendiri. Kerinduan saya akan perjalanan diobati dengan solusi yang ditawarkan oleh Skyscanner lewat informasi tiket murah yang akhirnya bisa mewujudkan perjalanan itu sendiri. Saya tak perlu bergadang sekedar mengejar harga yang memuaskan.

22184777_10213600456347047_494749641_n
Skyscanner membandingkan harga dari beberapa situs travel perjalanan yang memudahkan Anda untuk memilih

Hal yang menyenangkan adalah tawaran sewa mobil dan info hotel yang sesuai dengan budget bisa kita dapatkan di situs perjalanan nan cerdas ini. Selain itu,bagi saya situs ini inspirasi kebingungn saya yang terkadang tidak tahu mau kemana. Sebab tawaran informasi destinasi populer menjadi inspirasi tersendiri bagi saya. (****)