lombablog

Kiat Tetap Kenyang di Tanggal Tua

Ini adalah sebuah acara Kompetisi Blogger ShopCoupons X MatahariMall. Yang diselenggarakan oleh ShopCoupons. voucher mataharimall dan hadiah disponsori oleh MatahariMall.

mataharimall-kompetisi

 

Mata saya melirik Udin –mahasiswa sesama perantau asal pulau Sumatra di kampus– ketika sebuah gerobak nasi goreng berhenti tak jauh dari halte bis depan kampus, tempat kami sedang nongkrong asyik. Sejenak kami pun beradu pandang dengan cengiran yang entah tahu artinya apa. Mata Udin menyirat sesuatu yang saya pahami betapa kurang ajarnya si Abang nasi goreng yang mangkal di dekat kami.

Secara bersamaan, nyanyian dari perut Udin pun terdengar nyaring. Seakan menyambut gembira aroma nasi goreng yang mengoda. Saya pun menahan tawa sembari menunduk. Menatap lantai halte yang berdebu. Andai debu itu bisa menjelma menjadi sepiring nasi goreng… andai.

batin saya pelan.

“Aish…” Ipah, teman kami asli Jakarta beranjak dari tempat duduknya yang tepat berada di sebelah saya. Ia menarik napas. Mengeluarkan sisa uang yang masih ada di saku celananya.

Berteman dengan mahasiswa perantau membuat Ipah paham tentang kondisi kami malam ini ; tidak malam ini, tapi masih ada sisa malam-malam yang menyiksa hingga awal bulan menyambut kami dengan senyum bahagia. Sepahamnya Ipah, tapi sebagai mahasiswa yang dijatahi uang jajan perhari tak mungkin ia bisa menanggung kehidupan dua anak rantau yang makannya bisa menghabiskan dua piring nasi Padang Ya iyalah.

Ipah berjalan menghampiri gerobak nasi goreng. Berbicara sejenak dengan sang Abang sementara kami berdua tersenyum lebar menatapnya. Sayangnya, Ipah berbalik dengan raut muka yang tidak enak dibaca apalagi dimakan.

” Uangnya kurang,” keluh Ipah memperlihatkan satu lembar uang lima ribu yang bikin saya dan udin menarik napas.

Dengan berat hati saya mengeluarkan sisa uang di saku. 4 lembar gambar patimura. Udin pun melakukan hal yang lebih menyedihkan. Satu lembar uang seribu. Saya menatap tak percaya. Pemuda asal Medan itu hanya nyengir. Dengan uang sejumlah punya Ipah, saya dan Udin , Ipah pun kembali menghampiri sang Abang. Memesan satu bungkus nasi goreng.

Sayup-sayup kami mendengar ucapan manja Ipah yang memohon untuk ditambahkan porsi nasinya. Lagi kami hanya cengir tak jelas melempar pandangan ke Ipah dan Abang nasi Goreng.

Akhirnya, satu bungkus nasi goreng untuk kami bertiga sekedar melelapkan mata malam ini. Menyambut hari esok yang penuh misteri. Berdo’a semoga esok tak ada satu bungkus bertiga tapi sepiring nasi Padang yang mengugah rasa dan mengenyangkan perut.

Sayangnya, keesok harinya justru sepiring nasi goreng yang disinyalir Udin paling murah di kawasan kampus — yang membuat kami berjalan satu kilometer lebih demi sepiring nasi goreng seharga empat ribu ,dan berakhir membuat kami muntah. Bukannya dapat kenyang, tapi ini nasi goreng yang akhirnya membuat saya trauma. Rasanya nauzubillah…. perpaduan telur tidak masak bercampur rasa garam dan nasi lembek.

Bayangi aja!

****

koin mas

Bahkan coklat koin mas pun bikin perasaan delusional ketika tanggal tua

Saya tak mungkin lupa peristiwa makan nasi goreng bertiga di suatu malam yang biasa — Juga makan nasi goreng murah tapi tak enak– ketika tanggal berada di angka menuju dua puluhan. Istilah kebanyakan orang bilang Tanggal Tua. Kondisi dimana kebanyakan orang dipusingkan dengan finansial dan kebutuhan lainnya. Kondisi dimana muka banyak orang ditekuk seolah-olah dunia berakhir. Iya, bagian terakhir terlalu lebay.

Tapi apapun itu, pengalaman menjadi anak rantau baik itu ketika kuliah dan bekerja selama hampir enam tahun mengasah kreativitas saya dalam hal ‘TETAP KENYANG DI TANGGAL TUA’.

Berikut buat kamu yang pernah mengalami nasib serupa dan musuhan dengan Tanggal Tua. Di jamin akan membuat kamu akan berseru : “Tanggal Tua? Apaan tuh… yang ada mah diharapkan tanggal merah semua!” *ngarep

  1. Berteman akrab dengan orang yang masih tinggal dengan keluarga

Adalah Latifah, atau biasa di panggil Ipah, seorang anak dari keturunan betawi-palembang, menghabiskan kehidupan di salah satu daerah di kampung rambutan, Jakarta timur. Dalam artian kata Ipah tinggal bersama orang tuanya dan rumah yang membuat ia tetap kenyang meskipun di tanggal tua.

Sebenarnya saya berharap bisa dapat pacar yang minimal kayak karakter Yoo jung dalam drama korea Cheese in th trap. Yang mungkin bisa ngbayari uang kosan dan menghidupi makan saya di tanggal tua. Tapi apalah daya, hidup tak seindah drama korea bahkan tak sesedih sinetron Indonesia. Percayalah!

 Mujur bagi saya dan Udin, malang bagi Ipah — mungkin. Kami kadang dengan rayuan gombal ngalahin gombalnya Kapten Yoo Si Jin membuat Ipah membawa bekal nasi untuk kami. Yah, meskipun cuma nasi putih dan telor ceplok doang, yang penting disyukuri. Perut kenyang!

3. Menyimpan uang lupa

Seorang teman pernah memberi trik jitu pada saya dengan istilah uang lupa. Jadi ketika baru menerima uang bulanan/gaji bulanan, lunasin kewajiban seperti membayar kos dan utang. Lalu sisihkan 10% dari uang tersebut, dan simpan di tempat yang sulit dijangkau termasuk oleh pikiranmu sendiri ; alias lupa.

Jadi ketika kepepet, kamu bisa ingat akan uang tersebut. Cara ingatnya gampang, beri alarm pada smartphone mu ketika tanggal sudah menua. Dan, kasih kode dimana uang itu kamu simpan.

2. Manfaatkan wifi kampus

Saya penghuni setia perpustakaan kampus. Bukan berarti saya anak yang pintar dengan tumpukan buku dan nilai terjaga dengan baik. Meskipun terkesan cerdas dengan kacatamata, tapi seriusss saya tidak secerdas Maudi Ayunda.

Perpustakaan kampus adalah surganya wifi. Saya mendonlot banyak film sebagai hiburan di akhir pekan — daripada ngemall ngabisin duit. Saya browsing tak jelas sampai mencoba keberuntungan via kuis. Ya, jadi kuis hunter gituh. Lumayan lah, hadiahnya bisa diuangkan. Minimal dapat pulsa gratis lah.

****

Percayalah, selalu ada jalan untuk kamu yang menikmati tanggal tua dan selalu ada keberuntungan buat kamu yang addict banget dengan berselancar di dunia maya. Seperti cerita cerita Budi nih yang nggak sengaja ketemu dengan pahlawannya bernama Matahari Mall

 

Jadilah seperti Budi yang gigih menemukan kebahagiaan yang hakiki di tanggal tua . Menikmati diskon yang berarti dari matahari mall.

Dan, tak perlu berkhayal bebas bisa macarin CEO ganteng seperti karakter dalam drama Korea, percayalah selalu ada yang menyenangkan bisa melewati tanggal tua dengan tetap kenyang bukan?

Saya dan cerita Bersama XL

Sebut saja namanya Jempol, ‘teman’ yang menemani ponsel pertama saya sekitar tahun 2005 lalu. Lewat Jempol saya berkenalan dengan XL. Waktu itu, saya sempat beralih dari Jempol ke kartu merah. Tarif simcard merah terlalu mahal bagi saya dan merindukan si Jempol.

Entah karena musabab apa Jempol lenyap dari peredaran simcard yang menghubungi saya dengan beberapa orang yang tercinta di belahan bumi Indonesia lain dalam hitungan detik. Singkat kata, pencarian terhadap Jempol berlabuh pada XL –dan ini bukan sebuah ukuran baju lho.

XL menjawab kerinduan saya pada jempol. Tak sekedar murah untuk sms –seperti jempol — Tapi, juga menelepon. Saat saya tergila-gila pada seorang siswa dari sekolah lain ketika masih menggunakan seragam putih abu-abu, berkat XL kami bisa  mengobrol banyak hal setiap malam. Sebab saat itu ada promo dari XL nelpon gratis. Paling penting dari semua itu adalah sinyal kuat XL yang membuat komunikasi dengan orang tersayang tetap terjaga meskipun saya sedang liburan di daerah pelosok transmigrasi.

Dengan meningkatnya teknologi internet dan smartphone, XL tak tinggal diam. Ini yang saya senangi dari simcard alat komunikasi satu ini, Ada banyak promo dan paket menarik yang tentunya dapat menyelamati beberapa rupiah saya. Paling penting adalah rasa puas.

Rasa puas yang berujung jatuh cinta. Saya jatuh cinta dengan XL, yang tak sekedar menawarkan paket internet yang membuat kantong saya tidak kebablasan, tapi ia tetap menjaga konsisten sinyal kuatnya.

Rasa cinta tentu saja bukan berisi hal-hal yang menyenangkan, bukan? Saya pernah merasa berduka dengan XL, ketika kebanyakan orang-orang terdekat saya mengeluh dengan simcard yang saya gunakan berbeda dari mereka. Saya pun memaklumi, dan terkadang membujuk mereka untuk menggunakan XL. Ada banyak keuntungan yang didapati dari operatior selular ini.

XL dan event yang Inspirasi

XL tak sekedar memenuhi kebutuhan komunikasi pelanggannya. Ada banyak rangkaian event menarik XL yang saya perhatian tak sekedar untuk anak muda tapi juga berbagai kalangan dan usia.

Saya ingat, di suatu sore beberapa tahun lalu saya menghadirkan acara sharing tentang fotografi di XL Experience Center di Senayan City. Sebuah pengalaman yang inspiratif dan sangat berguna bagi saya saat itu.

XL sebagai teman perjalanan yang ramah

Seperti yang saya ceritakan, sinyal XL tetap terjaga meskipun saya melakukan perjalanan ke daerah pelosok transmigrasi provinsi Jambi. Semakin booming-nya kegiatan Travelling, lagi XL jeli membaca kebutuhan pelanggan sebelum pelanggan itu menyadari tentang kebutuhan itu sendiri.

Salah satunya adalah XL menyediakan fasilitas Rooming yang dapat terkendali dengan baik sehingga tidak bikin jantung ‘shock‘ akibat tarif yang membengkak. Ini tak sekedar berlaku untuk sms, telpon tapi juga paket internet. Jadi, yang aadict sama sosial media masih bisa aktif lho tanpa khawatir dengan pulsa yang mahal.

Tentu caranya adalah dengan mengatur setting pemakaian. Kamu bisa dapat info lebih lengkapnya disini

tipsroaming

Dan dari sepanjang pengalaman saya, XL tidak saja sekedar memenuhi kebutuhan pelanggan, tapi juga menjadi teman yang menyadari tentang kita tentang kebutuhan itu sendiri. Seperti menyediakan layanan Isi Pulsa otomatis , Xl tunai — yang memungkinkan pelanggan dapat melakukan transaksi keuangan hanya dengan ponsel. Lebih penting adalah layanan MInsurance yang memberi informasi menarik tentang produk asuransi. Hal ini tentunya sejalan dengan komitmen XL dalam hal memberi pelayanan terbaik dan menjadi operator selular nomor satu di tanah air.

Selamat ulang tahun ke 19 tahun XL. Cieee, udah mulai beranjak dewasa. Tetap bijak dalam menjaga komitmen memberi layanan terbaik. Sukses selalu.

Satu Hari Bersama Jakarta

Jakarta oh Jakarta….

Aku terpuruk oleh rasa rindu yang menyesakan dada. Bukan rasa rindu ingin kembali mengulang apa yang pernah aku lakukan dulu di kota ini selama hampir lima tahun, tapi lebih pada keinginan merengkuh seutuhnya yang belum terselesaikan.

Aku merindukanmu, Jakarta.

Bukan rindu untuk kembali menikmati kemacetan jalanan atau terlena dengan obrolan penuh bual di sudut cafe dan tersesat di jejaran Mall mewah. Tapi, sebuah rindu yang belum terselesaikan untuk mengenalmu lebih jauh. Pada janji masa kecil yang pernah aku ukirkan untuk menjelajahi Taman Mini Indonesia Indah (TMII) belum sempat terwujud. Pada keinginan untuk melihat sisi lain dirimu di Ragunan, setelah film ‘Postcard from the zoo’ sempat membuatku berkesan. Dan, janji seorang sahabat menikmati romansa malam di Bundaran Hotel Indonesia.

Dan, kisah kita belum benar-benar usai — bahkan mungkin tak pernah usai dengan pesonamu yang tak pernah memudar. Imajinasi liarku selalu bermain, berharap bisa kembali menyapamu, meskipun dalam satu hari.

Satu hari bersama Jakarta

Ini tentang imajinasi liarku membayangkan kembali menyapamu meskipun dalam satu hari — dan, maafkan aku lebih mencintai tanah kelahiranku, Padang. Layaknya seorang sahabat yang saling bersua setelah sekian lama, maka aku berusaha mengemas cerita ini dengan penuh bahagia.

Rasanya mengawali pagi di kawasan kota tua, Fatahillah sungguh menyenangkan. Menyewa sebuah sepeda, aku akan menelusuri tiap sudut kota tua dan mengayuh sepeda ke Jembatan merah hingga ke Pelabuhan Sunda Kelapa . Oh, ya biar terasa Jakarta, disini aku akan sarapan kerak telor.

Selalu ada cerita indah di kota tua

Selalu ada cerita menyenangkan di Kota Tua

Lepas dari Kota tua, dengan kembali bernostalgia menggunakan commuterline, aku menuju kawasan stasiun Juanda. Berjalan ke arah monumen nasional (Monas), dan mendinginkan badan dengan ice cream di Ragusa sebelum melanjutkan perjalanan ke monas. disini aku juga akan mampir ke mesjid Istiqlal. Meskipun tidak terlalu menyukai dunia arkeologi, aku ingin mampir ke Museum nasional atau museum Gajah. Ya, sekedar melihat koleksi keramik… maklum punya jiwa mak-mak.

menggunakan Transjakarta, aku ingin melanjutkan perjalanan ke kebun binatang Ragunan, sekedar memenuhi rasa penasaranku tentang keadaan kebun binatang disini. Dari Ragunan aku akan menuju ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Jika masih ada transportasi Koantasbima 509, aku akan menaikinya hingga kampung rambutan dan melanjutkannya dengan angkot merah ke TMII. Jika tak ada, mungkin aku akan mencoba naik taksi menimbang efisiensi waktu yang akan aku peroleh.

Menjelang maghrib, terbayang nikmatinya menunaikan ibadah di mesjid Sunda Kelapa sebelum berlabuh ke arah Taman Menteng sekedar menikmati streetfood sana. Setelah itu, aku akan ke Cikini, ada satu tempat makan Sunda, di dekat daerah Taman Ismail Marzuki, yang aku rindukan untuk makan malam. — lupa namanya apa.

Wow, aku masih ada waktu tersisa untuk kota yang selalu terbangun dan tidak pernah lelah. Aku pun akan menghabiskan pengujung malam dengan nongkrong di Bundaran Hotel Indonesia. Menyapamu dengan ‘resmi’ dengan segelas kopi dari abang-abang sepeda di kawasan tersebut. Dan, menyeruput kopi merasakan romansa malam yang kau hadirkan.

Menikmati malam di Bundaran HI

Menikmati malam di Bundaran HI

Jakarta, besok aku kembali ke kotaku. Dan, sebagai sahabat suatu hari nanti aku akan kembali mengunjungimu. Maka pesona apalagi yang akan kau suguhi untukku?

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog “Blog Competition #TravelNBlog 4: Jakarta 24 Jam“ yang diselenggarakan oleh @TravelNBblogID