Malaysia

Suatu Sore yang Terik di Malaka, Malaysia

oleh : Eka Herlina * 

“Kamu juga bisa ikut Melaka River Cruise. 15 ringgit saja,” jelas William sembari memberi lingkaran pada peta kertas yang telah disiapkannya. Ia menjabarkan satu persatu tempat yang menarik yang bisa saya kunjungi di Malaka termasuk tempat makanan halal. Diam-diam saya mengagumi sosoknya sebagai penjaga guesthouse yang memahami informasi apa yang dibutuhkan oleh tamu.

malaka

Saya mengunjungi Malaka di suatu siang yang panas menyengat di awal September 2016 –sehari sesudah menunaikan ibadah Idul Adha di Kuala Lumpur. Informasi yang dipaparkan William tak terlalu saya simak, rasa lelah perjalanan dari Kuala Lumpur membuat saya ingin segera melepas penat dengan tidur dan kembali beraktivitas menjelang sore.

Sebagai penikmat sejarah, kota Malaka salah satu destinasi impian saya untuk menelusuri jejak perdagangan Portugis di kota kecil ini. Kota ini sukses menjadi pusat perdagangan antar bangsa sekitar abad 15. Sayangnya, kondisi pikiran dan badannya saya yang kelelahan usai pusing-pusing di Kuala Lumpur, membuat saya malas segera ‘membaca’ Malaka.

Malaka menawarkan sensasi seperti sebuah taman yang menenangkan ditengah terik panasnya matahari. Setidaknya itu yang saya rasakan sesaat mendaratkan kaki di kota yang mendapat predikat World Heritage Site dari UNESCO. Panasnya matahari sore tak menyurutkan kaki saya untuk melangkah santai menelusuri sungai Malaka. Sesekali berhenti menyaksikan Cruise yang melintas.

Malaka Red Square ; Kota Tua Yang Menakjubkan

Saya melepas penat di salah satu tempat duduk di kawasan Malaka Red Square. Melempar pandangan ke beberapa wisatawan baik asing maupun lokal yang asyik berfoto ria. Dari berbagai gaya dengan keceriaan yang menyenangkan.

Kebahagiaan bukan saja milik mereka yang berfoto ria, tapi juga para abang becak yang menghiasi becaknya dengan ragam modifikasi yang indah. Senyum gembira terpancar di wajah si Abang, menawarkan becaknya pada saya. Saya mengeleng kepala. Menghirup udara sore yang panas. Si abang pun tetap ramah menawarkan becaknya dengan harga yang ia bilang murah dari turis biasanya.

“ 20 ringgit saja.”

Lagi-lagi saya tersenyum tipis mengeleng kepala. Kembali berjalan menelusuri kawasan Malaka Red Square atau di kenal dengan sebutan Dutch Square. Di tempat ini terdapat gereja protestan pertama di Malaysia, Christ Church yang dibangun sekitar tahun 1753. Pembangunan gereja ini dalam rangka memperingati 100 tahun pendudukan Belanda di Malaka. Menarik adalah bata merah pembangunan gereja ini didatangkan langsung dari Belanda.

20160924_174756.jpg

Seraya menghela napas, saya beralih pandangan lepas ke Stadthuys, yang dibangun sekitar tahun 1641 an, yang awalnya merupakan rumah dinas gubernur Belanda. Saat Malaka jatuh ke penjajahan Inggris tempat ini dialihfungsikan menjadi alun-alun.

            Bangunan tersebut masih terawat dengan baik. Berdiri dengan kokoh. Saya pun mengakui totalitas Belanda dalam segi pembangunannya yang penuh cerita nan menawan.

Selain bangunan tersebut, di Red Square ini terdapat juga Menara Jam Tan Beng Swee, yang dibangun pada 1886 oleh seorang pemuda Malaka sebagai penghormatan terhadap ayahnya. Jam ini masih berfungsi dengan baik.

Kehadiran replika kincir angin di kawasan ini juga menjadi bukti keberadaan kolonial Belanda di tempat ini. Selain itu juga terdapat air mancur Queen Victoria Fountain, yang dibangun saat Malaka jatuh ke tangan Inggris pada 1904 sebagai persembahan kepada Ratu Victorias dalam rangka perayaan 60 tahun kekuasaan. Dua kekuasaan di masa lalu tergambar dengan bukti bangunan yang menakjubkan.

 

Menyaksikan Keindahan Malaka dari Menara Taming Sari

Menikmati Malaka di pengujung sore adalah pilihan yang tepat. Saya merasakan sensasi yang berbeda saat melihat bangunan tua ketika kaki ini menelusuri tak tentu arah menuju Menara Taming Sari. Mata saya menatap takjub pada sebuah replika kapal Flor De La Mar yang difungsikan sebagai Museum Maritim. Kapal Flor de La Mar sendiri merupakan kapal milik Portugis yang pernah ditengelam di selat Malaka pada November 1511.

Di seberangan kapal tersebut, sebuah pusat perbelanjaan oleh-oleh menanti saya. Karena perjalanan ini adalah bertujuan untuk menenangkan pikiran saya dari keramaian ibukota Malaysia sebelumnya saya kunjungi, saya melangkah santai. Tidak untuk membeli oleh-oleh, sekedar menikmati aktivitas jual beli yang tampak tenang.

Tak ada yang bisa saya beli di pusat oleh-oleh tersebut selain satu bungkus bumbu masak asam pedas – sebagai orang Minangkabau masakan ini sangat khas bagi lidah saya. Saya menyadari bahwa makanan favorit saya ini, tidak saja milik suku saya, tapi masyarakat Melayu pada umumnya. Di Aceh pun dapat ditemui masakan asam pedas. Begitu pedagang tersebut bercerita pada saya.

 Saya mengakhir ‘istirahat’ sejenak dari kelelahan menikmati kehidupan urban Kuala Lumpur di bawah menara Taming Sari. Mengadahkan kepala. Menerka pemandangan apa yang akan terlihat di sana.

taming sari.jpg

Sebuah selat dengan lautan luas terbentang, di seberang sana pulau tempat saya dilahirkan dan dibesarkan berada ; Sumatera. Nun jauh kebelakang, berabad-abad dulu, pikiran saya membayangkan kapal-kapal perdagangan yang lalu lalang melintas selat tersebut. Salah satu dari mereka, mungkin singgah di pelabuhan Teluk Bayur. Entahlah… sejarah tetap saja menjadi cerita yang menarik nan penuh praduga. (ekahei)

*Tulisan ini pernah dimuat di Phinemo

 

 

Niat Hati PPJ Malah Berpusing Ria di Kuala Lumpur

*PPJ — Para pencari Jodoh

Suatu hari yang tak biasa, seorang teman bernama Mara, yang sudah saya kenal sejak belasan tahun walaupun perteman kami harus terpisahkan pulau, tiba-tiba mengajak melakukan perjalanan ke Kuala Lumpur.

” Backpackeran salah satu ikhtiar cari jodoh ka…”

Begitu alasannya. Ya kami memang sedang memasuki usia dimana teror tentang jodoh dan harapan untuk memiliki sahabat hati menjadi konsumsi obrolan tiap hari. Sebenarnya agak sangsi juga sih ngajak teman dekat. Saya biasanya melakukan jalan kaki, berjalan santai melintasi sudut perkotaan, tersesat tak tentu arah tanpa dipusingkan perasaan khawatir menengang perasaan orang lain. eda, Saudara kembar saya pun mempertanyakan pertimbangan saya melakukan perjalanan dengan teman — biasanya sendiri atau sesama komunitas.

KL benar-benar akan buat pusing dan melelahkan lho! kira-kira seperti itu kalimat yang pernah terlontar dari mulut eda yang punya pengalaman menjelajahi KL. Saya pun mengabaikan perasaan ragu ini. Dan dengan keberanian saya mengajak salah satu teman SMA saya yang ingin merasakan liburan ke Luar Negeri. Saya wanti-wanti, meskipun ini kali ketiga saya ke Kuala Lumpur, jujur ini pertama kalinya bagi saya menjelajahi kota Kuala Lumpur. Jadi kita tak apelah pusing-pusing nantinya!– tentu hal ini dalam arti sebenarnya dalam bahasa ibu pertiwi.

Maka perjalanan di mulai di Minggu pagi setelah semalaman tidur di KLIA 2. Mara yang besar dan tinggal di Jakarta, sempat ngoceh tak jelas karena merasa terganggu dengan dengkuran orang yang tidur tak jauh dari dia. Saya sempat menghibur dia ditengah rasa lelah setelah diajak main ‘kereta-keretaan’ mengeliling KLIA2 ” Anggap aja lagi dininabobokan mara….”

Maka pagi ini, saya berinisiatif mengunjungi Batu Caves —  sebenarnya bagi saya tak terlalu menarik di Batu Caves. Tapi, karena ini tempat tujuan kebanyakan turis, rasanya kurang afdol kalau ke Kuala lumpur tak mengunjungi tempat ini. Beruntung, kami berkenalan dengan Mbak Ratna, backpacker asal Jakarta yang sama penerbangan dengan Mara ; Mara bilang mbak Ratna adalah orang yang dikirim Allah untuk membantu di tengah kebingungan dia dengan KLIA2.

Berkat Mbak Ratna, saya — kami pun tak perlu berpusing soal transportasi. Sebagai orang yang sudah malah melintang di dunia backpackeran, mbak Ratna yang memberi saran dan antri membeli tiket PP ke batu caves dengan commuterline.

img-20160918-wa0074

Senyum adalah senjata ampuh dalam memulai perjalanan yang mengembirakan — ekahei

Tips : Bawa kain sarung jika ada niat bermalaman di KLIA2

Menjumpai Pernikahan di Batu Caves

 “Ih, ada pernikahan. Gue mo foto…!” seru Mbak Ratna riang. Saya celingak-celinguk. Sesuatu menarik perhatian kami, sebuah pernikahan sederhana sedang di helat sesaat kami memasuki kawasan wisata Batu Caves. Sempat terpikir untuk menyelundup sebagai tamu sekedar menikmati hidangan gratis. Maklum secara dari wajah dan warna kulit, sebelas dua belas lah dengan Kajol. Sayangnya saya lagi puasa 😦

Percayalah, ini pernikahan yang sederhana yang pernah saya lihat. Maka lupakan tarian menyenangkan seperti film Bollywood. Yang ada alunan musik tenang.

Bagi saya batu Caves menawarkan harmonisasi sebuah kehidupan yang tenang dan bersih ditengah cuaca panas. Beberapa monyet yang berkeliaran bebas dan burung-burung yang beterbang dengan bebas termasuk mengeluarkan kotoran begitu saja, sementara beberapa ragam orang dengan keriangan masing-masing.

Inilah kehidupan masyarakat sesungguhnya. Batin saya ketika mata menangkap pemandangan yang menarik. Saat itu batu caves lagi ada renovasi penambahan anak tangga menuju gua. Beberapa wisatawan diminta tolong membawa ember yang berisi tanah ke atas. Saya melihat jiwa gotong royong  disana sementara di lingkungan saya sudah memudar.

img-20160918-wa0073

Pernikahan multikultural yang sederhana dan penuh kegembiraan.

Tips : Hati-hati dengan makanan yang dibawa dengan tangan terbuka jika tak ada niat untuk membaginya pada monyet yang ada disana.

Berburu Milo di Central Market

Tadinya saya mau mengajak dua teman saya ke kawasan Putra Jaya. Melihat kelelahan ditubuh mereka, saya pun mengurungkan niat. Membiarkan mereka sejenak terlelap. Merasakan empuknya kasur hostel setelah semalam terjebak di dinginnya ubin Musholla KLIA2.

Kehebohan Mara soal oleh-oleh dan Milo, pada akhirnya membawa langkah saya ke Central Market, pusat oleh-oleh. Mengeliling pertokoan dengan ragam souvenir. Sebagai orang yang tidak suka membeli oleh-oleh, saya lebih banyak mengamati transaksi jual beli.

” Mara mo beli Milo….!”

Ya beli lah…. borong sekalipun tak ape. batin saya. Maka dicarilah harga yang sesuai dengan saku dan keinginan. Tawar menawar pun terjadi.  Milo isi 18 percuma tiga pun dibeli dengan Harga 17 RM.

img-20160918-wa0047

Milo di dapat, senyum pun terukir

Tips : Tawarlah semampunya. Saran saya, berbelanja Milo atau coklat mending di KL Sentral atau di Jaya Grocer yang ada di KLIA2. Lebih murah!

Riweh di Bukit Bintang

“Mara, itu bus percuma menuju KLCC !” seru saya ditengah ramainya kawasan Bukit Bintang. Alasan saya memilih bukit bintang saat itu adalah ingin membeli sandal di Vincci, sebab sendal yang saya kenakan putus tiba-tiba.

Reflek Mara berlari mengejar bus sambil melambaikan tangan. Begonya adalah, dengan kondisi sendal putus saya pun melepaskan satu sendal dan ikut berlari mengikuti Mara , pun dengan Silta. Kami bertiga berlari berurutan sambil berteriak :“mas-mas tungguin kita dong….” *okeh bagian teriak itu tentu cuma dalam hati (mungkin) — dan serius saya tak bisa membayangkan adegan ini.

Bus sempat berhenti di lampu merah, namun tak ada tanda-tanda membuka pintu. Saya terdiam sejenak. Menatap dengan tampang cengo’ ke arah Mara sambil mengeleng kepala. Memaksa memasang kembali sandal yang putus.

” Ya kali Mar, disangka kayak Jakarta!” dengus saya seraya berbalik arah.  transportasi publik bisa di stop semberangan tempat. Saya pun kembali menelusuri kawasan bukit bintang.

“Mana Mara tahu. Lo sih nggak ngasih tahu,” dengan logat betawinya, perempuan berjilbab lebar ini pun ngedumel nggak jelas.

Sementara Silta masih tenang mengikuti kami dari belakang. Sore itu Bukit Bintang benar-benar padat ditengah lalu lalang kendaraan dan orang-orang yang berjalan. Melihat pemandangan ini, tentu makin membuat mood Mara nggak ngenaki banget, yang sehari-hari disuguhi pemandangan serupa di kawasan kuningan Jakarta — maklum kantornya di daerah tersebut.

Saya melangkah santai ke arah kerumunan orang-orang yang menunggu bus GO KL. Jauh di dasar hati saya, sedang berkomat-kamit semoga tak ada yang menvideokan adegan kami lari-lari tadi mengejar bus. batin saya. Sungguh, Yoona tak sanggup jadi orang terkenal!

” Untung nggak ada yang kenal gini…”

Entah siapa yang berujar, saya menghela napas.

img-20160918-wa0041

Suatu Sore di Kawasan Bukit Bintang

Tips naik GO KL : Hati-hatilah terhadap pelecehan seksual ketika bis dalam kondisi padat. Pilihlah posisi di pintu tengah, di dekat kaum hawa banyak berdiri.  Ini tak saja berlaku ketika naik bus GO KL tapi juga public transportasi lainnya.

****

Menikmat sore di KLCC

Saya sengaja mengajak dua teman saya ke area bagian belakang Suriah. Menelusuri taman yang tenang seraya menanti air mancur. Ini kali kedua saya menginjak Mall Suriah — kunjungi pertama saya cuma sekedar menumpang sholat ashar dan tak lebih dari sekedar itu.

Maka tak banyak yang saya tahu tentang kawasan ini. Mereka mengikuti langkah kaki saya — entah mungkin dalam hati bete juga diajak jalan kaki mulu. Maka maafkan Yoona, Chingu’….!

img-20160918-wa0004

Kaki-kaki yang (tak) lelah berjalan demi mengukir senang

Menikmati sore adalah pilihan tepat di taman ini. Mengamati lalu lalang orang-orang dengan berbagai aktivitas. Saya menghirup udara di pengujung sore — tak ada bedanya dengan udara di Padang. Ya iyalah ka…!

Diiringi sholawat segerombol pria yang duduk di belakang kami, saya dan dua teman yang kelelahan ini tetap tersenyum manis melakukan beberapa aksi di depan kamera.

Di belakang menjulang tinggi menara kembar, perlahan saat langit mulai gelap lampu pun berpejar satu persatu. Saya pun beranjak, seraya meneguk air mineral. Mengajak mereka untuk menikmati air mancur menari tepat di bagian halaman belakang Mall Suriah. Mengabaikan keindahan menara kembar petronas yang mempesona.

Makin malam, tempat ini mengiurkan… untuk sekedar menikmati segelas kopi seraya mengamati tarian air mancur nan penuh warna. Sayang tak ada segelas kopi… yang tersisa adalah rasa lapar dan lelah.

img-20160918-wa0039

Cantik…. airnya 🙂

Tips : Jangan banyak ngayal di sini. Serius tempatnya bikin ngayal romantis ala adegan K-Drama.

Sholat Idul Adha di Mesjid Jamek dan Narsis di Dataran Merdeka

” Bagaimana rasanya idul adha di sana ka?”

Tanya supir travel yang menjemput saya dari Bandara Internasional Minangkabau. Saya mengangkat bahu, seraya tersenyum. Tak ada kesan apapun selain biasa saja. Saya pikir akan ada ‘penyembelihan sapi’ lazimnya di tanah air. Ternyata tidak, yang tersisa adalah sepi ditengah ramainya teriakan dari perut yang minta makan.

img-20160918-wa0022

Masha Allah…. dek punya abang yang udah usia 25++ nggak yang butuh sahabat hati? *eh

Menelusuri kawasan mesjid jamek,tak ada sekali pun toko makanan terlihat buka. Tadinya saya berharap ada pembagian makanan gratis selepas sholat di gerbang depan, sayangnya hujan sedang yang menyambut kami usai  sholat. Mengabaikan ocehan Mara yang heboh soal segera ‘batal puasa’, saya terus berjalan. Hingga bertemu gedung bertulisan Mud, sejenis GKJ mungkin. Di depannya terhampar jalan raya lebar, dan di seberangnya dataran merdeka.

Saya memencet sesuatu di balik tonggak lampu lalu lintas. Memberi tanda bahwa akan menyemberang. Mara sempat cengo’, ” Ih, kayak di monas.”

— Ya kali, di kokas juga ada tahu….! seru saya seraya berjalan tenang melintas jalan raya.

Dan, secara jujur saya terganggu dengan ocehan Mara yang masihhh pusing soal makanan. Padahal, menelusuri kawasan dataran Merdeka dengan berpose cantik memberi sensasi pamer yang beda nantinya di sosial media.

Ya sudahlah, mara … mari melipir ke sevel. Beli roti yang tak sampai 1 RM.

Tips : Jangan lupa persiapkan sehari sebelumnya bekal makanan untuk penganjal perut. Ya, minimal malkist roma lah yang dibawa dari tanah air.

 Pusing-pusing dengan bus percuma ; GO KL

” Mara nggak mau lagi ke KL,” sahut mara ditengah menikmati burger Mcd di KL Sentral. Saya meringis menyimpan rasa bersalah tak bisa menghadirkan liburan yang menyenangkan baginya. ” Kapok Mara.”

Saya melirik ke Silta. Mempertanyakan apakah ia merasakan hal yang sama. Silta hanya tersenyum. Dia bilang, ke depan lebih baik melakukan perjalanan salah satunya harus ada cowok dalam rombongan sekedar menjaga. Tentu hal ini bertolak dari gaya perjalanan saya yang lebih mengandalkan diri sendiri dan Tuhan. Saya pun manggut-manggut.

Menghabiskan sisa waktu sebelum mengantar Mara ke bus yang membawanya ke KLIA, saya pun mengajak mereka sekedar keliling tak jelas dengan bus GO KL. Menelusuri jalanan Kuala Lumpur tak tentu arah.

img-20160918-wa00201

Main Kereta-keretaan pusing-pusing KLIA 2

Tips : Jangan sampai kelelahan dan kelaparan. Dibutuhkan kesehatan dan senyum indah menelusuri perjalanan ini.

Niat yang Terlupakan

” Ka PPJ di Indonesia aja yuk ka…”

Suatu malam yang tenang, tiba-tiba Mara mengirim pesan whatsapp. Saya pun tersenyum membaca pesannya. Tertawa geli… sejujurnya, tak pernah kepikir untuk mencari jodoh sampai ke luar negeri. Hahahah, Toh, pada akhirnya ia akan datang dengan sendirinya. Begitulah saya menyakini hati ini.

” Mara malas kalo ke KL lagi.”

img-20160918-wa00261

AKU CINTA INDONESIA…. tentunya 🙂

Ya, mara…. dan saya kapok tidak mempersiapkan perjalanan yang menyesuaikan karakter siapa yang saya ajak. Pada akhirnya, perjalanan melelah ini tetap saja menyisakan pelajaran berarti bagi saya ; bahwa jangan sampai melupakan tujuan awal yang telah direncanakan. PPJ *eh

Ya kita terlalu banyak nonton inpotainment yang ngarap kisah romansa dengan pangeran. Pada akhirnya…. ada ragam keindahan alam dengan karakter para pria yang mengagumkan di tanah air sendiri.

” Ke Anambas yuk Mara…. siapa tahu dapat orang melayu!”

” Anambas dimana ka.”

” Tanyaaaaa google nggih… sekalian lihat foto-fotonya. Mimpi eka dari 2011 itu Mara….!”

****

  • PPJ adalah istilah Mara , singkatan dari : Para pencari jodoh, merujuk pada serial PPT — Para pencari Tuhan 🙂

Dinginnya KLIA 2, Hangatnya Malaysia

Part 1

KLIA 2, 01 September 2015

Jika ada waktu kurang dari dua puluh jam di Kuala Lumpur, bagusnya ngapain aja?

     Kira-kira seperti itu pertanyaan yang saya ajukan kepada seorang teman yang baru saja pulang menjelajahi Kuala Lumpur. Sebuah pertanyaan yang beralasan, mengingat jeda waktu menunggu penerbangan saya ke Bangkok keesok harinya pukul 06.45 AM. Ia pun menyarankan saya untuk ngopi santai di KLCC.

“ Rasanya nggak mungkin untuk menjelajahi Kuala Lumpur. Eka sampai jam empat sore disana. Perjalanan ke KL Sentral saja hampir satu jam. Tapi, kalau tidak lelah, ya udah lakukan saja.” Ucap Eda—saudara kembar saya ketika saya mendiskusikan apa sebaiknya yang saya lakukan.

            Eda pun menyarankan saya untuk menghabiskan waktu di KLIA 2. “ Disana bisa windows shopping, “ lanjutnya mengingat suasana di Bandara KLIA2 yang memang seperti suasana Mall. Sebuah pilihan yang melelahkan saya rasa

            Dan, disinilah saya berada. Melewati imigrasi dengan lancar –meskipun si Eda sempat meragukan saya dengan tiket pulang yang belum saya beli. Bismillah… satu langkah telah berlalu. Langkah selanjutnya menanti. Kejutan apa yang akan diterima? Dan, saya tak sabar menanti kejutan tersebut.

            Keluar dari imigrasi Malaysia, saya langsung menuju Surau, menunaikan sholat Ashar. Berdiam sejenak. Ada perasaan buncah sekaligus khawatir. Buncah, karena saya melakukan perjalanan. Khawatir, ini perjalanan seorang diri, di negeri asing yang belum pernah saya jejaki dan keterbatasan bahasa yang saya miliki. Dan, pada akhirnya percayalah ketika kau melibatkan sang Pencipta dalam perjalananmu, tak ada banyak ketakutan berarti di jiwa ini.

            Lepas dari surau, saya memilih berjalan keluar menuju terminal keberangkatan. Mencari colokan listrik untuk gadget saya. Bersyukurlah dengan ketersediaan wifi di tempat ini. Saya pun memilih duduk diantara segerombol remaja yang sedang duduk lesehan. Menumpang menyolok di kabel cabang yang mereka gunakan.

            Salah satu yang saya senangi dari sebuah perjalanan adalah membuka percakapan dengan orang asing. Meskipun sebatas hari itu, dan jika beruntung mungkin bisa berlanjut menjadi pertemanan –tapi saya tak pernah mengharap lebih dari sebuah percakapan dengan orang asing kecuali rasa nyaman.

            Ternyata gerombolan remaja tersebut merupakan mahasiswa kedokteran di Malaysia yang baru selesai melakukan Magang di salah satu rumah sakit swasta di Lampung selama dua bulan ini. Tak banyak percakapan berarti, selain tampak kelelahan di wajah mereka. Saya pun membayangkan perjalanan dari Lampung menuju Bandara Soekarno-Hatta, kemudian Kuala Lumpur, dan sekarang menunggu penerbangan keesok harinya ke salah satu daerah di Malaysia ( saya lupa namanya).

            Dari percakapan dengan mereka, saya pun ketiban rejeki sebuah ice cream potong. Sempat menolak, tapi mereka memaksa saya untuk sama-sama menikmati ice cream yang mereka beli. Tak peduli dinginnya hawa suasana bandara, ice cream tersebut terasa hangat di hati saya.

foto

Ais-Krim Potong dari kehangatan Mahasiswa Kedokteran Malaysia ( 01/09/2015)

            Sehangat senyuman mereka melepaskan kepergian saya yang hendak melaksanakan sholat maghrib. Lepas sholat pun saya memilih tetap berdiam di surau menanti Isya. Setelah selesai menunaikan kewajiban dengan sang Pencipta, saya pun memilih makan di salah fast food disana. Tiba-tiba saya menitik air mata, biasanya dalam perjalanan saya dibekali sebungkus nasi dan lauk oleh Ama –Mama saya. Tapi, perjalanan ini …. – saya tidak tahu apakah beliau mengizinkan perjalanan ini apa tidak.

            Malam itu, ketika saya berbaring untuk tidur di salah satu spot istirahat di Bandara KLIA2, saya menyelipkan do’a: Allah, ijinkan saya kembali ke rumah dan melihat wajah Ama. Jadikan perjalanan ini adalah perjalanan terbaik.

****

           Keesokan harinya, selepas subuh, saya bergegas ke bagian keberangkatan. Kembali menemukan gerombol mahasiswa kedokteran Malaysia tersebut yang wajahnya masih saja menyisakan kelelahan. Tapi, senyuman mereka tetap sama. Hangat. Menyapa saya, dan menanyakan pukul berapa saya akan boarding.

            Saya membekali diri dengan roti dan satu botol air mineral yang saya sisakan tak lebih dari 100 ml ketika berjalan memasuki bagian imigrasi sebelum melangkah ke Gate.

Bismillah….

Lagi. Tak ada masalah di imigrasi. Saya tersenyum melangkah berjalan menuju gate. Ada debar yang sulit saya deskripsikan. Ini bukan perasa takut, tapi lebih dari perasaan seperti bertemu dengan sang kekasih. Menanti kejutan apa yang akan dihadirkan dengan senyum mengembirakan.

Pengeluaran :

Tiket Padang-KL        : Rp 660.000,- ( * beli tiket H-1 sebelum berangkat 😦 )

Air mineral 2 botol      : 4 RM ( * 1 RM :3300,-)

Roti                             : 0.85 sen

Makan                         : 12 RM