Kuala Lumpur : A Beautiful day from a stranger

Suatu ketika di sebuah perjalanan – tentang mereka yang hadir tanpa sebuah nama, tapi tertanam di ingatan.– quote’s ekahei

Sebuah teriakan memaksa langkah kaki kami untuk berhenti. Menoleh ke belakang. Seorang perempuan bertubuh kurus dan berkulit tidak coklat seperti saya melambaikan tangan. Perempuan yang beberapa menit lalu saya hampiri sekedar bertanya dimana bisa menemui area jalan yang saya tuju.

Saya melempar pandang kepada kedua adik saya yang ekspresi mereka sulit saya pahami. Ragu saya mengikuti langkah perempuan tersebut yang memaksa saya untuk mengikutinya.

“ Saya antar you ke tempat tujuan,” begitu ia berujar.

Ia membawa langkah kami ke area bangunan yang agak sepi. Sebuah mobil L-200 menunggu. Jantung berdebar, pikiran negatif mulai bermunculan. Mata saya memandang awas satu persatu ke arah dua adik saya yang terlihat juga ragu. Perempuan itu memaksa kami menaiki mobil tersebut. Saya mengabaikan pikiran mengerikan, sudut hati berusaha menyakin bahwa tak akan terjadi apa-apa.

28535043_10214790539338378_1124925917_n
Mesjid Jamek ; Setelah di Renovasi, mesjid jamek jadi lebih keren dan adem plus menyenangkan.

 

Saya menarik napas. Ternyata mobil tersebut grab car yang ia pesan. Tapi, tetap saja hati saya tidak tenang. Sepanjang perjalanan kami banyak bermain dalam diam. Tubuh saya kaku dan bingung bagaimana bersikap – untuk pertamakalinya dalam sejarah perjalanan saya kebingungan bersikap pada orang asing.

Pun dengan dua adik saya yang baru pertamakali melakukan perjalanan keluar negeri. Tak banyak kalimat yang keluar dari mulut kami, si perempuan sibuk dengan ponsel dan berbicara dengan supir grab. Sampai dimana ia memngeluarkan selembar uang 20 RM yang membuat saya kebingungan bersikap : haruskah saya mengantikan uang si mbak tersebut?

Kami turun dekat kawasan Pudu, ia pun ikut turun. Dan menyakinkan apakah saya akan aman jika berjalan sendiri dan memahami arah tujuan. Ia memberi arahan kemana langkah kaki kami harus berjalan. Saya pun mengangguk. Saya mengucapkan terima kasih atas kebaikannya.

28511917_10214790539138373_1297245355_n
Dataran Merdeka : salah satu tempat populer di kalangan wisatawan asing — hal wajib disinggahi saat ke KL

 

Kami berjalan, dan saya menoleh ke belakang, ia masih mengawasi langkah kami. Setelah yakin baru ia menghampir sebuah bus yang melintas. Dan… satu jam berlalu, saya terdiam menyadari pertolongan Allah ditengah kelelahan kami melangkah mencari alamat hotel lewat kebaikan perempuan asing tersebut.

****

 

28459432_10214790539058371_410227706_n
Gedung Sultan Abdul Samad ; dibangun pada 1897 oleh A.C. Norman. Selama masa pendudukan Inggris di Malaya, gedung ini digunakan sebagai kantor beberapa departemen pemerintah. — Tak heran arsitekturnya khas bangunan tua di Inggris.

Kuala Lumpur bagi saya bukan sekedar tempat persinggahan untuk sebuah kata ‘liburan’,  tapi kota ini bagaikan berkunjung ke rumah seorang teman sekedar memperoleh rasa menyenangkan. Maka, tak banyak tempat yang sudah saya kunjungi di ibukota Malaysia tersebut.

Beberapa kali singgah, saya lebih senang duduk di Go KL dan menikmati perkotaan lewat kaca jendela bus gratis tersebut yang berakhir di KL Sentral dan kembali ke KLIA2 untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya. Yup, Kuala Lumpur tak ubahnya bagi saya persinggahan sesaat sekedar melampiaskan kesenangan belaka.

Menarik bagi saya adalah keragaman kota ini yang menyenangkan. Diantara gedung perkotaan, ragam etnis terlihat saling menghargai satu sama lain. Inilah menjadi alasan dasar saya mengajak dua adik saya untuk liburan ke negara tetangga tersebut awal tahun kemaren – bahwa hidup ini tak sekedar nikmatnya sepiring nasi Padang.

Jauh sebelumnya, saat saya masih duduk di bangku sekolah, Kuala Lumpur tak ubahnya sebuah kota yang membuat saya geram penuh amarah dengan ulah yang kerap diberitakan media ; entah menyiksa para butuh migran, entah soal perebutan budaya dan lain sebagainya. Sayangnya, semua terbantahkan ketika pertamakalinya melakukan solo traveling dan singgah di KLIA sekelompok Mahasiswa berkewarganegaraan Malaysia memberikan saya ice cream. – saya mah anaknya mudah luluh dengan makanan.

28535364_10214790539418380_71905608_n
BATIK ?!

Traveling mengajarkan saya untuk melihat sesuatu dari berbagai sudut pandang tentang keragamanan. Bersama dua adik saya, sayangnya karena menganggap sudah akrab dengan kota ini, saya memulai awal yang salah. Saya lupa memasang paket rooming dan mengabaikan stand simcard lokal. Alhasil, saat menuju penginapan, kami merepotkan diri dengan berjalan tak tentu dn bertanya pada beberapa orang yang ditemui.

Termasuk seorang perempuan muda berkulit putih dan bermata sipit.  Gayanya terlihat santai dengan baju kaos putihnya, dia akhirnya memberi arahan jalan yang harus kami tempuh saat saya bertanya mengenai daerah Pudu Lama, tempat dimana saya akan menginap.

Setelah beberapa ratus meter saya berjalan, tiba-tiba perempuan itu menyusul langkah kaki dan berteriak memanggil kami. Ia pun mengajak untuk ikut bersamanya yang sempat membuat saya curiga. Ternyata ia mengantarkan saya dengan grabcar yang ia order. Tadinya saya pikir ia hanya akan menyinggahi saya di suatu tempat, ternyata ia ikut turun dan memastikan bahwa kami aman sampai tujuan.

Saya tak mungkin lupa sorot mata kekhawatiran seorang kakak di sepasang matanya. Lama saya terpaku, yang akhirnya membuat saya menyesal tak memberi apa-apa selain ucapan terima kasih. Diam-diam saya menyelipkan sebuah do’a : semoga hal-hal yang baik di anugerah kepada perempuan tersebut.

28534129_10214790539458381_1524120189_n
Salah satu kawasan di mesjid Jamek ; terlihat potret pasangan nan romantis — ah semoga ekanya disegerakan menemui sahabat hati 🙂

****

Suatu Sore yang Terik di Malaka, Malaysia

oleh : Eka Herlina * 

“Kamu juga bisa ikut Melaka River Cruise. 15 ringgit saja,” jelas William sembari memberi lingkaran pada peta kertas yang telah disiapkannya. Ia menjabarkan satu persatu tempat yang menarik yang bisa saya kunjungi di Malaka termasuk tempat makanan halal. Diam-diam saya mengagumi sosoknya sebagai penjaga guesthouse yang memahami informasi apa yang dibutuhkan oleh tamu.

malaka

Saya mengunjungi Malaka di suatu siang yang panas menyengat di awal September 2016 –sehari sesudah menunaikan ibadah Idul Adha di Kuala Lumpur. Informasi yang dipaparkan William tak terlalu saya simak, rasa lelah perjalanan dari Kuala Lumpur membuat saya ingin segera melepas penat dengan tidur dan kembali beraktivitas menjelang sore.

Sebagai penikmat sejarah, kota Malaka salah satu destinasi impian saya untuk menelusuri jejak perdagangan Portugis di kota kecil ini. Kota ini sukses menjadi pusat perdagangan antar bangsa sekitar abad 15. Sayangnya, kondisi pikiran dan badannya saya yang kelelahan usai pusing-pusing di Kuala Lumpur, membuat saya malas segera ‘membaca’ Malaka.

Malaka menawarkan sensasi seperti sebuah taman yang menenangkan ditengah terik panasnya matahari. Setidaknya itu yang saya rasakan sesaat mendaratkan kaki di kota yang mendapat predikat World Heritage Site dari UNESCO. Panasnya matahari sore tak menyurutkan kaki saya untuk melangkah santai menelusuri sungai Malaka. Sesekali berhenti menyaksikan Cruise yang melintas.

Malaka Red Square ; Kota Tua Yang Menakjubkan

Saya melepas penat di salah satu tempat duduk di kawasan Malaka Red Square. Melempar pandangan ke beberapa wisatawan baik asing maupun lokal yang asyik berfoto ria. Dari berbagai gaya dengan keceriaan yang menyenangkan.

Kebahagiaan bukan saja milik mereka yang berfoto ria, tapi juga para abang becak yang menghiasi becaknya dengan ragam modifikasi yang indah. Senyum gembira terpancar di wajah si Abang, menawarkan becaknya pada saya. Saya mengeleng kepala. Menghirup udara sore yang panas. Si abang pun tetap ramah menawarkan becaknya dengan harga yang ia bilang murah dari turis biasanya.

“ 20 ringgit saja.”

Lagi-lagi saya tersenyum tipis mengeleng kepala. Kembali berjalan menelusuri kawasan Malaka Red Square atau di kenal dengan sebutan Dutch Square. Di tempat ini terdapat gereja protestan pertama di Malaysia, Christ Church yang dibangun sekitar tahun 1753. Pembangunan gereja ini dalam rangka memperingati 100 tahun pendudukan Belanda di Malaka. Menarik adalah bata merah pembangunan gereja ini didatangkan langsung dari Belanda.

20160924_174756.jpg

Seraya menghela napas, saya beralih pandangan lepas ke Stadthuys, yang dibangun sekitar tahun 1641 an, yang awalnya merupakan rumah dinas gubernur Belanda. Saat Malaka jatuh ke penjajahan Inggris tempat ini dialihfungsikan menjadi alun-alun.

            Bangunan tersebut masih terawat dengan baik. Berdiri dengan kokoh. Saya pun mengakui totalitas Belanda dalam segi pembangunannya yang penuh cerita nan menawan.

Selain bangunan tersebut, di Red Square ini terdapat juga Menara Jam Tan Beng Swee, yang dibangun pada 1886 oleh seorang pemuda Malaka sebagai penghormatan terhadap ayahnya. Jam ini masih berfungsi dengan baik.

Kehadiran replika kincir angin di kawasan ini juga menjadi bukti keberadaan kolonial Belanda di tempat ini. Selain itu juga terdapat air mancur Queen Victoria Fountain, yang dibangun saat Malaka jatuh ke tangan Inggris pada 1904 sebagai persembahan kepada Ratu Victorias dalam rangka perayaan 60 tahun kekuasaan. Dua kekuasaan di masa lalu tergambar dengan bukti bangunan yang menakjubkan.

 

Menyaksikan Keindahan Malaka dari Menara Taming Sari

Menikmati Malaka di pengujung sore adalah pilihan yang tepat. Saya merasakan sensasi yang berbeda saat melihat bangunan tua ketika kaki ini menelusuri tak tentu arah menuju Menara Taming Sari. Mata saya menatap takjub pada sebuah replika kapal Flor De La Mar yang difungsikan sebagai Museum Maritim. Kapal Flor de La Mar sendiri merupakan kapal milik Portugis yang pernah ditengelam di selat Malaka pada November 1511.

Di seberangan kapal tersebut, sebuah pusat perbelanjaan oleh-oleh menanti saya. Karena perjalanan ini adalah bertujuan untuk menenangkan pikiran saya dari keramaian ibukota Malaysia sebelumnya saya kunjungi, saya melangkah santai. Tidak untuk membeli oleh-oleh, sekedar menikmati aktivitas jual beli yang tampak tenang.

Tak ada yang bisa saya beli di pusat oleh-oleh tersebut selain satu bungkus bumbu masak asam pedas – sebagai orang Minangkabau masakan ini sangat khas bagi lidah saya. Saya menyadari bahwa makanan favorit saya ini, tidak saja milik suku saya, tapi masyarakat Melayu pada umumnya. Di Aceh pun dapat ditemui masakan asam pedas. Begitu pedagang tersebut bercerita pada saya.

 Saya mengakhir ‘istirahat’ sejenak dari kelelahan menikmati kehidupan urban Kuala Lumpur di bawah menara Taming Sari. Mengadahkan kepala. Menerka pemandangan apa yang akan terlihat di sana.

taming sari.jpg

Sebuah selat dengan lautan luas terbentang, di seberang sana pulau tempat saya dilahirkan dan dibesarkan berada ; Sumatera. Nun jauh kebelakang, berabad-abad dulu, pikiran saya membayangkan kapal-kapal perdagangan yang lalu lalang melintas selat tersebut. Salah satu dari mereka, mungkin singgah di pelabuhan Teluk Bayur. Entahlah… sejarah tetap saja menjadi cerita yang menarik nan penuh praduga. (ekahei)

*Tulisan ini pernah dimuat di Phinemo

 

 

Niat Hati PPJ Malah Berpusing Ria di Kuala Lumpur

*PPJ — Para pencari Jodoh

Suatu hari yang tak biasa, seorang teman bernama Mara, yang sudah saya kenal sejak belasan tahun walaupun perteman kami harus terpisahkan pulau, tiba-tiba mengajak melakukan perjalanan ke Kuala Lumpur.

” Backpackeran salah satu ikhtiar cari jodoh ka…”

Begitu alasannya. Ya kami memang sedang memasuki usia dimana teror tentang jodoh dan harapan untuk memiliki sahabat hati menjadi konsumsi obrolan tiap hari. Sebenarnya agak sangsi juga sih ngajak teman dekat. Saya biasanya melakukan jalan kaki, berjalan santai melintasi sudut perkotaan, tersesat tak tentu arah tanpa dipusingkan perasaan khawatir menengang perasaan orang lain. eda, Saudara kembar saya pun mempertanyakan pertimbangan saya melakukan perjalanan dengan teman — biasanya sendiri atau sesama komunitas.

KL benar-benar akan buat pusing dan melelahkan lho! kira-kira seperti itu kalimat yang pernah terlontar dari mulut eda yang punya pengalaman menjelajahi KL. Saya pun mengabaikan perasaan ragu ini. Dan dengan keberanian saya mengajak salah satu teman SMA saya yang ingin merasakan liburan ke Luar Negeri. Saya wanti-wanti, meskipun ini kali ketiga saya ke Kuala Lumpur, jujur ini pertama kalinya bagi saya menjelajahi kota Kuala Lumpur. Jadi kita tak apelah pusing-pusing nantinya!– tentu hal ini dalam arti sebenarnya dalam bahasa ibu pertiwi.

Maka perjalanan di mulai di Minggu pagi setelah semalaman tidur di KLIA 2. Mara yang besar dan tinggal di Jakarta, sempat ngoceh tak jelas karena merasa terganggu dengan dengkuran orang yang tidur tak jauh dari dia. Saya sempat menghibur dia ditengah rasa lelah setelah diajak main ‘kereta-keretaan’ mengeliling KLIA2 ” Anggap aja lagi dininabobokan mara….”

Maka pagi ini, saya berinisiatif mengunjungi Batu Caves —  sebenarnya bagi saya tak terlalu menarik di Batu Caves. Tapi, karena ini tempat tujuan kebanyakan turis, rasanya kurang afdol kalau ke Kuala lumpur tak mengunjungi tempat ini. Beruntung, kami berkenalan dengan Mbak Ratna, backpacker asal Jakarta yang sama penerbangan dengan Mara ; Mara bilang mbak Ratna adalah orang yang dikirim Allah untuk membantu di tengah kebingungan dia dengan KLIA2.

Berkat Mbak Ratna, saya — kami pun tak perlu berpusing soal transportasi. Sebagai orang yang sudah malah melintang di dunia backpackeran, mbak Ratna yang memberi saran dan antri membeli tiket PP ke batu caves dengan commuterline.

Tips : Bawa kain sarung jika ada niat bermalaman di KLIA2

Menjumpai Pernikahan di Batu Caves

 “Ih, ada pernikahan. Gue mo foto…!” seru Mbak Ratna riang. Saya celingak-celinguk. Sesuatu menarik perhatian kami, sebuah pernikahan sederhana sedang di helat sesaat kami memasuki kawasan wisata Batu Caves. Sempat terpikir untuk menyelundup sebagai tamu sekedar menikmati hidangan gratis. Maklum secara dari wajah dan warna kulit, sebelas dua belas lah dengan Kajol. Sayangnya saya lagi puasa 😦

Percayalah, ini pernikahan yang sederhana yang pernah saya lihat. Maka lupakan tarian menyenangkan seperti film Bollywood. Yang ada alunan musik tenang.

Bagi saya batu Caves menawarkan harmonisasi sebuah kehidupan yang tenang dan bersih ditengah cuaca panas. Beberapa monyet yang berkeliaran bebas dan burung-burung yang beterbang dengan bebas termasuk mengeluarkan kotoran begitu saja, sementara beberapa ragam orang dengan keriangan masing-masing.

Inilah kehidupan masyarakat sesungguhnya. Batin saya ketika mata menangkap pemandangan yang menarik. Saat itu batu caves lagi ada renovasi penambahan anak tangga menuju gua. Beberapa wisatawan diminta tolong membawa ember yang berisi tanah ke atas. Saya melihat jiwa gotong royong  disana sementara di lingkungan saya sudah memudar.

Tips : Hati-hati dengan makanan yang dibawa dengan tangan terbuka jika tak ada niat untuk membaginya pada monyet yang ada disana.

Berburu Milo di Central Market

Tadinya saya mau mengajak dua teman saya ke kawasan Putra Jaya. Melihat kelelahan ditubuh mereka, saya pun mengurungkan niat. Membiarkan mereka sejenak terlelap. Merasakan empuknya kasur hostel setelah semalam terjebak di dinginnya ubin Musholla KLIA2.

Kehebohan Mara soal oleh-oleh dan Milo, pada akhirnya membawa langkah saya ke Central Market, pusat oleh-oleh. Mengeliling pertokoan dengan ragam souvenir. Sebagai orang yang tidak suka membeli oleh-oleh, saya lebih banyak mengamati transaksi jual beli.

” Mara mo beli Milo….!”

Ya beli lah…. borong sekalipun tak ape. batin saya. Maka dicarilah harga yang sesuai dengan saku dan keinginan. Tawar menawar pun terjadi.  Milo isi 18 percuma tiga pun dibeli dengan Harga 17 RM.

Tips : Tawarlah semampunya. Saran saya, berbelanja Milo atau coklat mending di KL Sentral atau di Jaya Grocer yang ada di KLIA2. Lebih murah!

Riweh di Bukit Bintang

“Mara, itu bus percuma menuju KLCC !” seru saya ditengah ramainya kawasan Bukit Bintang. Alasan saya memilih bukit bintang saat itu adalah ingin membeli sandal di Vincci, sebab sendal yang saya kenakan putus tiba-tiba.

Reflek Mara berlari mengejar bus sambil melambaikan tangan. Begonya adalah, dengan kondisi sendal putus saya pun melepaskan satu sendal dan ikut berlari mengikuti Mara , pun dengan Silta. Kami bertiga berlari berurutan sambil berteriak :“mas-mas tungguin kita dong….” *okeh bagian teriak itu tentu cuma dalam hati (mungkin) — dan serius saya tak bisa membayangkan adegan ini.

Bus sempat berhenti di lampu merah, namun tak ada tanda-tanda membuka pintu. Saya terdiam sejenak. Menatap dengan tampang cengo’ ke arah Mara sambil mengeleng kepala. Memaksa memasang kembali sandal yang putus.

” Ya kali Mar, disangka kayak Jakarta!” dengus saya seraya berbalik arah.  transportasi publik bisa di stop semberangan tempat. Saya pun kembali menelusuri kawasan bukit bintang.

“Mana Mara tahu. Lo sih nggak ngasih tahu,” dengan logat betawinya, perempuan berjilbab lebar ini pun ngedumel nggak jelas.

Sementara Silta masih tenang mengikuti kami dari belakang. Sore itu Bukit Bintang benar-benar padat ditengah lalu lalang kendaraan dan orang-orang yang berjalan. Melihat pemandangan ini, tentu makin membuat mood Mara nggak ngenaki banget, yang sehari-hari disuguhi pemandangan serupa di kawasan kuningan Jakarta — maklum kantornya di daerah tersebut.

Saya melangkah santai ke arah kerumunan orang-orang yang menunggu bus GO KL. Jauh di dasar hati saya, sedang berkomat-kamit semoga tak ada yang menvideokan adegan kami lari-lari tadi mengejar bus. batin saya. Sungguh, Yoona tak sanggup jadi orang terkenal!

” Untung nggak ada yang kenal gini…”

Entah siapa yang berujar, saya menghela napas.

Tips naik GO KL : Hati-hatilah terhadap pelecehan seksual ketika bis dalam kondisi padat. Pilihlah posisi di pintu tengah, di dekat kaum hawa banyak berdiri.  Ini tak saja berlaku ketika naik bus GO KL tapi juga public transportasi lainnya.

****

Menikmat sore di KLCC

Saya sengaja mengajak dua teman saya ke area bagian belakang Suriah. Menelusuri taman yang tenang seraya menanti air mancur. Ini kali kedua saya menginjak Mall Suriah — kunjungi pertama saya cuma sekedar menumpang sholat ashar dan tak lebih dari sekedar itu.

Maka tak banyak yang saya tahu tentang kawasan ini. Mereka mengikuti langkah kaki saya — entah mungkin dalam hati bete juga diajak jalan kaki mulu. Maka maafkan Yoona, Chingu’….!

img-20160918-wa0004
Kaki-kaki yang (tak) lelah berjalan demi mengukir senang

Menikmati sore adalah pilihan tepat di taman ini. Mengamati lalu lalang orang-orang dengan berbagai aktivitas. Saya menghirup udara di pengujung sore — tak ada bedanya dengan udara di Padang. Ya iyalah ka…!

Diiringi sholawat segerombol pria yang duduk di belakang kami, saya dan dua teman yang kelelahan ini tetap tersenyum manis melakukan beberapa aksi di depan kamera.

Di belakang menjulang tinggi menara kembar, perlahan saat langit mulai gelap lampu pun berpejar satu persatu. Saya pun beranjak, seraya meneguk air mineral. Mengajak mereka untuk menikmati air mancur menari tepat di bagian halaman belakang Mall Suriah. Mengabaikan keindahan menara kembar petronas yang mempesona.

Makin malam, tempat ini mengiurkan… untuk sekedar menikmati segelas kopi seraya mengamati tarian air mancur nan penuh warna. Sayang tak ada segelas kopi… yang tersisa adalah rasa lapar dan lelah.

img-20160918-wa0039
Cantik…. airnya 🙂

Tips : Jangan banyak ngayal di sini. Serius tempatnya bikin ngayal romantis ala adegan K-Drama.

Sholat Idul Adha di Mesjid Jamek dan Narsis di Dataran Merdeka

” Bagaimana rasanya idul adha di sana ka?”

Tanya supir travel yang menjemput saya dari Bandara Internasional Minangkabau. Saya mengangkat bahu, seraya tersenyum. Tak ada kesan apapun selain biasa saja. Saya pikir akan ada ‘penyembelihan sapi’ lazimnya di tanah air. Ternyata tidak, yang tersisa adalah sepi ditengah ramainya teriakan dari perut yang minta makan.

Menelusuri kawasan mesjid jamek,tak ada sekali pun toko makanan terlihat buka. Tadinya saya berharap ada pembagian makanan gratis selepas sholat di gerbang depan, sayangnya hujan sedang yang menyambut kami usai  sholat. Mengabaikan ocehan Mara yang heboh soal segera ‘batal puasa’, saya terus berjalan. Hingga bertemu gedung bertulisan Mud, sejenis GKJ mungkin. Di depannya terhampar jalan raya lebar, dan di seberangnya dataran merdeka.

Saya memencet sesuatu di balik tonggak lampu lalu lintas. Memberi tanda bahwa akan menyemberang. Mara sempat cengo’, ” Ih, kayak di monas.”

— Ya kali, di kokas juga ada tahu….! seru saya seraya berjalan tenang melintas jalan raya.

Dan, secara jujur saya terganggu dengan ocehan Mara yang masihhh pusing soal makanan. Padahal, menelusuri kawasan dataran Merdeka dengan berpose cantik memberi sensasi pamer yang beda nantinya di sosial media.

Ya sudahlah, mara … mari melipir ke sevel. Beli roti yang tak sampai 1 RM.

Tips : Jangan lupa persiapkan sehari sebelumnya bekal makanan untuk penganjal perut. Ya, minimal malkist roma lah yang dibawa dari tanah air.

 Pusing-pusing dengan bus percuma ; GO KL

” Mara nggak mau lagi ke KL,” sahut mara ditengah menikmati burger Mcd di KL Sentral. Saya meringis menyimpan rasa bersalah tak bisa menghadirkan liburan yang menyenangkan baginya. ” Kapok Mara.”

Saya melirik ke Silta. Mempertanyakan apakah ia merasakan hal yang sama. Silta hanya tersenyum. Dia bilang, ke depan lebih baik melakukan perjalanan salah satunya harus ada cowok dalam rombongan sekedar menjaga. Tentu hal ini bertolak dari gaya perjalanan saya yang lebih mengandalkan diri sendiri dan Tuhan. Saya pun manggut-manggut.

Menghabiskan sisa waktu sebelum mengantar Mara ke bus yang membawanya ke KLIA, saya pun mengajak mereka sekedar keliling tak jelas dengan bus GO KL. Menelusuri jalanan Kuala Lumpur tak tentu arah.

Tips : Jangan sampai kelelahan dan kelaparan. Dibutuhkan kesehatan dan senyum indah menelusuri perjalanan ini.

Niat yang Terlupakan

” Ka PPJ di Indonesia aja yuk ka…”

Suatu malam yang tenang, tiba-tiba Mara mengirim pesan whatsapp. Saya pun tersenyum membaca pesannya. Tertawa geli… sejujurnya, tak pernah kepikir untuk mencari jodoh sampai ke luar negeri. Hahahah, Toh, pada akhirnya ia akan datang dengan sendirinya. Begitulah saya menyakini hati ini.

” Mara malas kalo ke KL lagi.”

Ya, mara…. dan saya kapok tidak mempersiapkan perjalanan yang menyesuaikan karakter siapa yang saya ajak. Pada akhirnya, perjalanan melelah ini tetap saja menyisakan pelajaran berarti bagi saya ; bahwa jangan sampai melupakan tujuan awal yang telah direncanakan. PPJ *eh

Ya kita terlalu banyak nonton inpotainment yang ngarap kisah romansa dengan pangeran. Pada akhirnya…. ada ragam keindahan alam dengan karakter para pria yang mengagumkan di tanah air sendiri.

” Ke Anambas yuk Mara…. siapa tahu dapat orang melayu!”

” Anambas dimana ka.”

” Tanyaaaaa google nggih… sekalian lihat foto-fotonya. Mimpi eka dari 2011 itu Mara….!”

****

  • PPJ adalah istilah Mara , singkatan dari : Para pencari jodoh, merujuk pada serial PPT — Para pencari Tuhan 🙂