Kesederhanaan Hidup di Sepiring Sampadeh

Adalah sampadeh, begitu saya sedari kecil menyebutnya. Dia tak mendunia seperti rendang sang juara diantara 50 masakan terlezat di dunia versi CNN International Tapi, dia membumi diantara lauk pauk yang disajikan di rumah makan Padang.

Sampadeh bukanlah sesuatu yang favorit dibawa anak rantau dari rumah ketika kembali ke tanah rantau. Sebab, tentu ia tidak seperkasa rendang yang bisa bertahan sampai sebulan. Tapi, ia selalu menyelipkan rasa rindu akan suasana sederhananya kebahagiaan.

Sampadeh — atau bahasa Indonesianya Asam-pedas– juga tidak populer seperti deretan makanan lezat yang kerap disebut orang tentang masakan Padang — Rendang, dendeng balado, itik lado ijo, gulai kikil dan tunjang. *tetiba lapar.

Dan, sampadeh tak menimbulkan efek yang mengerikan bagi kesehatan tentang olahan masakan minang seperti kolestrol…

atau seperti iklan minuman kesehatan yang memperlihatkan deretan piring berisi lauk-pauk khas di rumah makan Padang yang bisa menyebabkan panas dalam.

*****

Sampadeh, begitu telinga saya akrab mendengar nama itu. Sebuah nama yang mengacu pada salah satu masakan tradisional khas Sumatra yang biasanya mengunakan ikan segar. Keluarga saya kerap mencampur dengan tahu atau terkadang kentang.

Sampadeh tak sekedar ada di rumah makan Padang dan Sumatra Barat. Hampir sebagian wilayah Sumatra ada. Di Aceh, dikenal dengan sebutan asam keueng. Di Riau biasanya olahan sampadeh dari ikan Patin. Tak heran ada yang bilang sampadeh merupakan masakan bumi nusantara Sumatra.

Ditelisik dari sejarah, kata seorang teman kegemaran masyarakat Minangkabau yang merantau membuat masakan ini hampir ada di semenanjung daerah Sumatra hingga ada yang bilang sampai Malaysia. Maka ada yang bilang sampadeh merupakan masakan khas melayu.

Namun, dari segi rasa yang dihasilkan setiap daerah tentu berbeda dan memiliki karakter yang khas tapi tidak meninggalkan citra rasa keunikan perpaduan asam dan pedas. Konon kepiawaian padusi* Minangkabau yang terlatih mengolah rempah-rempah yang ada dan menyesuaikan dengan daerah mereka berada menjadi bumbu masakan. Ini yang membuat rasa sampadeh tiap daerah berbeda tapi masih memberi sensasi sama yaitu rasa asam dan pedas.

Segar.

sampadeh
Kesegaran Sampadeh

****

” Segar.”

Saya menarik napas lega mendengar kata yang keluar dari mulut Mimin, teman kosan saya saat menjadi perantau di Ibukota beberapa tahun silam. Malam itu, saat berkeliling mengitari aneka bumbu masakan di supermarket salah satu mall. Mata saya terhenti pada sebungkus asam kandis, sesuatu yang belum pernah saya temukan setelah hampir lima tahun berada di Jakarta.

Maka dengan bermodal asam kandis dan bumbu yang ada di kulkas kosan saya mengolah masakan sampadeh. Saya membeli beberapa potong ikan segar. Tak butuh waktu lama untuk mengolahnya menjadi masakan berkuah merah tersebut.

ikan
Jeruk nipis berfungsi menghilangkan bau amis pada ikan

Sebab, mengolah sampadeh sungguhlah sederhana dengan bumbu minimalis yang tentu berbeda dengan masakan Sumatra Barat lainnya –apalagi rendang. Terbiasa dengan olahan masakan yang ‘ribet’, tak heran sebagian orang Minangkabau mengatakan masakan sampadeh adalah masakan orang pemalas.

bumbu
Tanpa serai, daun kunyit, dan daun ruku-ruku yang kata mama saya penetral rasa sehingga ‘melindungi’ lambung agar tetap aman. ūüė¶

Bagaimana tidak, dengan memasuki ikan dan tahu atau sayuran lain dengan semua bumbu seperti cabe giling, bawang merah dan bawang putih yang sudah dihaluskan, dikasih air dan dimasak dengan tambahan asam kandis, garam, serai, daun jeruk, daun kunyit atau daun ruku-ruku. Biasanya saya akan menambah potongan tomat ditengah-tengah proses memasak. Rebus sampai ikan tak lagi terasa amis dan kuah terlihat sedikit mengental.

Simpel. Tak butuh waktu lama seperti olahan rendang yang perlu kita aduk terus menerus sampai satu jam untuk menghasilkan rasa yang pas dan tidak hangus. Sebenarnya, sampadeh pun tanpa serai atau daun kunyit masih terasa sampadeh. Bagi saya yang terpenting dari masakan ini adalah cabe giling halus dan asam kandis, tomat serta bawang merah dan putih.

sam
Sensasi segarnya tomat dalam sampadeh

Masakan yang ramah bagi tubuh

Percaya atau tidak dari ragam pujian kebanyakan orang tentang keunikan kuliner Sumatra Barat nan lezat ada yang mengeluh tentang masakan ini. Seorang peserta tour yang ditemukan saudara saya saat jalan-jalan ke Sumatra Barat sempat stress soal makan. Makanan bersantan, berlemak dan berminyak terbayang dibenaknya.

Tapi tidak dengan sampadeh. Tampilan merahnya tak sebanding dengan rasa pedas yang terbayang. Mimin, teman saya itu sempat menolak ketika saya menyuruhnya untuk menyicip masakan sampadeh saya karena takut pedas. Saya bilang pedasnya normal.¬† Namun, hal mengejutkan justru mimin bilang ‘segar’ dan beberapa kali menyeruput kuah sampadeh dengan normal.

Rasa segar yang bisa melegakan hati bagi mereka yang takut akan kolestrol. Sebab, sampadeh memiliki kandungan gizi dan protein yang sehat untuk badan. Proses memasakan dengan cara direbus tak merusak nilai protein pada ikan termasuk dari segi rempah yang digunakan dapat menetralkan rasa pedas dari cabe giling sehingga aman untuk perut.

Oh, ya bagi tak suka dengan olahan ikan yang kerap digunakan dalam masakan sampadeh, biasanya juga bisa dengan daging. Mama saya biasanya mencampurnya dengan labu siam atau dalam bahasa minangkabau japan. Untuk menyeimbangi protein hewani dengan nilai gizi dari sayur-sayuran.

Filosofi sampadeh

Bagi saya hidup itu seperti sampadeh. Ketegasan dari warna merah yang merekah tak melulu menghasilkan sensasi pedas yang berefek pada kesehatan perut. Artinya bahwa hidup adalah sewajarnya dan tidak berlebihan. Dalam artian adalah kesederhanaan.

Bahwa hidup tak melulu soal rasa manis, tapi juga asam dan pedas namun masih memberi napas segar bagi kehidupan. Kesederhanaan hidup bukan soal tak menikmati tapi memberi ruh bagi rasa nikmat itu sendiri. Kesegaran bagi kehidupan.

Dan, bahagia itu sederhana. Melihat wajah sumringah mimin menikmati sampadeh.

****

catatan :

Padusi : Gadis/perempuan dalam bahasa Minangkabau