padang

Panduan Keliling Kota Padang Dalam 24 Jam

Padang bukan Jam Gadang yang melegenda, juga bukan Lembah Arau yang menakjubkan, dan juga bukan Kelok Sembilan yang mengagumkan. Padang adalah…

Panas.

Begitu seorang teman mengungkapkan Padang dalam satu kata. Tapi, bagi saya Padang adalah rindu. Kerinduan dibalik tagline-nya “Kota tercinta, kujaga dan kubela”. Setiap sudut kotanya menyimpan cerita yang menyenangkan ditengah hempasan ombak pantai Padang yang menganas dan cuacanya yang panas.

Maka lupakan sejenak ademnya suasana Bukittinggi dan Lembau Arau atau pemandangan mengagumkan dari Kelok Sembilan, luangkan waktu menjelajahi setiap sudut kota yang terkenal dengan oleh-oleh Bengkoangnya ini.

Gunung Padang

Mengawali pagi di kota Padang bagi saya lebih seru Jogging ke Gunung Padang — lebih tepatnya sih sejenis bukit. Berjalan menelusuri pesisir pantai hingga ke Jembatan Siti Nurbaya. Sejenak bayangan saya larut pada kisah Siti Nurbaya karya Marah Rusli, sebuah roman kasih tak sampai, ketika kaki melewati jembatan Siti Nurbaya. Oh, ya di Gunung Padang ini juga terdapat makam yang disinyalir makam Siti Nurbaya.

Menelusuri tepian sungai batang Arau, gunung Padang sudah terlihat dari kejauhan. Sebuah pemandangan yang menyenangkan disela udara pagi yang segar menyambut kedatangan saya.

Terus berjalan, sebuah gapura bertulis objek wisata gunung Padang bukan berarti menandakan bahwa perjalanan sudah selesai. Inilah awal sebuah langkah menemui keindahan kota Padang. Perjalanan ke puncak tidak terlalu ekstrim, sebab tersedia ratusan anak tangga yang sudah dibeton semen. Disini kamu akan menemukan bungker dan meriam yang merupakan situs peninggalan jaman penjajahan.

foto diam

Menikmati keindahan kota Padang dari Ketinggian Gunung Padang

Perlu sekitar satu kilometeran atau menapaki 300an lebih anak tangga untuk mencapai puncak, sebuah taman yang disebut taman Siti Nurbaya menanti sekedar tempat leyeh-leyeh. Saya melepas pandangan ke hamparan laut luas Samudra Hindia.

Maka, Keindahan Indonesia bagian mana lagi kau dustai?

Seorang teman menyeletuk bahwa kawasan ini mungkin dulunya tempat yang strategis bagi penjajah sebagai pos pengintai. Namun, bagi saya lebih dari sekedar itu, Gunung Padang bukan sekedar menyimpan cerita sejarah di masa penjajahan, tapi juga kisah cinta melegenda dan menawarkan panorama indah yang tak terbantahkan.

Tips :

  1. Gunakan pakaian yang menyerap keringat dan sepatu olah raga
  2. Bawalah botol air minum meskipun diatas terdapat warung — namun biasanya kalau terlalu pagi takutnya masih tutup.
  3. Hati-hati dengan monyet yang berkeliaran tapi jangan takut. Mereka sudah akrab kok dengan pemandang lalu lalang manusia. Asal kita tak menganggu mereka saja.

Museum Adityawarman

Menjelang siang ditengah teriknya panasnya cuaca Padang, ademkan hati di sebuah bangunan seperti rumah gadang khas Sumatra Barat dengan taman yang cukup luas. Perkayakan pikiran dengan ragam informasi tentang budaya Sumatera  Barat lewat Museum Adityawarman yang terletak di Jl. Diponegoro no.10, Padang.

museum

Museum Adityawarman : Mengenal Minangkabau lebih dekat

Alunan musik khas acara pernikahan menyambut langkah kaki saya. Sejenak saya menghempaskan tubuh ke kursi yang disediakan. Melepas pandangan pada ragam etalase yang memanjang manekin yang menggunakan pakaian adat khas minangkabau. Selain itu, juga ada miniatur makanan yang disajikan ketika acara pernikahan.

Setiap daerah di Sumatra Barat ternyata memiliki perbedaan dalam penyelenggarakan pernikahan bertema adat minangkabau. Seperti di Pariaman, ada nasi kuning dengan juadah — ragam kue tradisional yang tak saya pahami. hehehe, tapi waktu kecil saya sempat menikmati kelezatan makanan ini.

Minangkabau menerapkan sistem Matrilineal, di museum ini dipaparkan dengan jelas kegiatan para wanita Minangkabau. Selain itu, juga ada ragam peninggalkan bersejarah dan kehidupan di masa lampau.

Tips :

  1. Gunakan pakaian nyaman yang menyerap keringat mengingat kondisi kota Padang yang memiliki cuaca panas
  2. Cukupkan baterai ponsel dan kamera sekedar mengabadikan setiap moment. Banyak spot menarik di sini untuk berfoto

Berpenat ria di kawasan Pondok

Menjelang sore, menelusuri kawasan Pondok adalah pilihan yang baik menurut saya disaat matahari tak terlalu menyengat. Pondok bisa dikatakan kawasan Pencinan kota Padang. Banyak bangunan tua serta ragam pusat kuliner dengan ragam cafe di tempat ini.

bangunan klasik yang mengagumkan membuat kita terlempar pada zaman Belanda. Sejenak hati membenarkan pada cerita sejarah tentang peranan perdagangan di masa penjajahan Belanda di tempat ini. Saya menyempatkan diri mampir ke Klenteng See Hin Kiong yang terkenal dengan arsitekturnya yang indah.

photo (1)

Flower girl hahahah *abaikan sandal jepitnya :p

Tips :

  1. Sediakan kaki yang kuat untuk menelusuri kawasan yang terkenal dengan kota tua nya ini.
  2. Bagi yang muslim berhati-hatilah pada makanan yang tidak ada label Halal.
  3. Tunjukan ke Indonesiaan-mu dengan tersenyum ramah

Menikmati Sunset di Pantai Padang

Spot terbaik menikmati keindahan Tuhan bernama sunset adalah Pantai. Berada di pesisir pantai dengan samudra Hindia terbentang luas, inilah anugerah terindah bagi Kota Padang.

Sayangnya abrasi yang parah, membuat sebagian pantai ini tak berpasir luas. Hanya bebatuan besar yang digunakan sebagai tempat memecahkan hempasan ombak. Tapi bukan berarti hal ini mengurangi kedamaian menikmati sunset.

photo

Menikmati sunset di tepi pantai Padang

Aroma khas ikan bakar dan ragam penglihatan street food  khas minangkabau seperti Pensi dan Langkitang — sejenis kerang-kerangan — mengugah selera untuk segera melumatinya. Dari deretan cafe yang berada di danau Cimpago — bukan danau dalam artian sebenarnya, hanya seperti buatan sebab tidak terlalu luas, saya menikmati lukisan Tuhan.

Tips :

  1. Lazimnya tempat wisata pada umumnya bertanyalah terlebih dahulu harga makanan yang disajikan atau yang hendak dibeli untuk menghindari penipuan/scam.

Menyinggahi Mesjid Raya Sumatra Barat

Untuk menuju ke tempat ini dari pantai Padang kamu bisa menggunakan jasa ojek atau naik angkot arah pasar raya. Kemudian berhentilah di lampu merah daerah Damar dan berjalan ke arah belakang olo. Tunggu angkot bewarna biru jurusan Lapai dengan mengatakan pada supir angkot,“ mesjid Raya, Pak!”

mesjid raya

Mesjid Raya Sumatra Barat salah satu spot terbaik untuk berkodak ria di Padang 🙂

Mesjid Raya Sumatra Barat adalah spot terbaik untuk berfoto dengan redup cahaya lampu dan suasana malam yang indah. Tapi, bagi saya tempat ini berguna melepas lelah dan meluangkan waktu untuk mensyukuri nikmat Tuhan hari ini.

Tips :

  1. Jangan melakukan vandalisme di tempat ini termasuk membuang sampah sembarang. Dan jagalah kebersihan dimana pun kamu berada.
  2. Bercengkramalah dengan warga sekitar. Pada umumnya, warga Padang senang mengobrol. (ekahei)

Tulisan ini pernah dimuat di phinemo

Iklan

Inilah 5 Spot Menarik Berkodak Ria di Kota Padang

Berfoto saat ini seperti ritual wajib kekinian saat bertemu bersama teman-teman. Selain untuk menangkap momen indah untuk dikenang, juga untuk di upload dan di share di akun media sosial. Ada rasa kepuasan tersendiri ketika love, like dan menuai komentar membanjiri foto tersebut.

Tak jarang background juga menjadi pertimbangan dalam beraksi di depan kamera. Selain itu, tentu kehadiran beragam gadget yang dilengkapi kamera memudahkan kamu menangkap momen indah. Apalagi tersedia aplikasi yang bisa mempercantik hasil foto.
Tak perlu lagi repot mengandalkan orang lain, kehadiran tongsis – tongkat narsis, memudahkan aktivitas kekinian kamu dalam mengabadikan momen kebersamaan dengan orang-orang terkasih.

Dan, inilah 5 spot seru berkodak ria di kota Padang dengan background yang mengagumkan:

1. Pantai Padang
Kehadiran tagline Padang-IORA di kawasan pantai Padang menjadi tempat iconic untuk berfoto baik selfie atau bersama teman dan keluarga tercinta. Terletak tepat di dekat danau Cimpago, IORA sendiri singkatan dari Indian Ocean Rim Association (IORA) atau Asosiasi Negara-Negara di Kawasan Samudra Hindia. Saat ini kota Padang menjadi gerbang IORA.

20160305_172058.jpg

MMenghabiskan sore di Pantai Padang

 

(lebih…)

Dialog Sunyi di Sarasah

“Indak (Tidak)…!”

Eda mengeleng kepala kuat. Memohon pada saya untuk tidak memaksanya mengikuti tujuan akhir kami. Ia terduduk lemas diatas batu besar.

Dilema merasuki diri. Melempar pandangan pada tiga teman yang asyik bermandian di bawah air terjun atau menemani Eda yang ketakutan duduk di atas batu besar. Mata saya mengembara memandang hutan rimbun.

Sunyi.

Saya menarik napas. Hingga bang DJ — seseorang yang baru saya kenal dalam hitungan jam sejak perjalanan ini dimulai, akhirnya memilih menyusul saya dan Eda. Atas bantuannya hati eda luruh juga untuk melangkah lebih jauh menuju aie tajun selanjutnya.

Sebagai orang yang tumbuh bersama Eda, saya tahu alasan ketakutan Eda. melintasi batu besar cukup terjal –baginya- dengan sungai yang terlihat deras ada kengerian dalam dirinya.

Tersisa satu air terjun lagi. Sayangnya, kata Ami — teman dalam rombongan, mengatakan tak ada yang menarik. Maka di air terjun  tingkat kedua inilah kami melepas lelah. Menikmati segarnya air yang jatuh ke badan. Terasa seperti relaksasi.

Menyenangkan.

sarasah 2.jpg

Ami menikmati relaksasi ala aie tajun sarasah

Pesona Aie Tajun Bertingkat (lebih…)