Pejalan

Tentang dia yang Memberitahukan Saya Bagaimana Menikmati Perjalanan

Ini tentang dia, seorang laki-laki, yang saya panggil Pak Aie. Bersama mobil truk ia mengenalkan perjalanan yang menyenangkan saat itu.

foto eka

Saya tersentak seiring laju bus tingkat yang membawa saya dalam perjalanan Bangkok menuju Krabi melambat. Saya pun meraih Iphone 4 dari saku tas kecil yang saya peluk sepanjang perjalanan. Pukul 04.30 A.M dan langit masih menyisakan suasana gelap. Sembari menarik napas, saya melempar pandangan ke luar jendela kaca. Tak ada pemandangan yang menarik selain semak belukar dan beberapa rumah.

Namun entah kenapa suasana subuh itu membuat saya merasa dejavu’ terlempar pada sebuah perjalanan yang kerap saya lakukan semasa kecil dulu melewati lintas Sumatera. Bedanya, saat ini tak ada suara adzan subuh dan … truk, serta pak Aie.

Pak Aie

Pak Aie tak ubahnya keluarga bagi kami. Ia adalah orang yang bekerja dengan ayah saya saat itu. Ia membawa barang dagangan ayah yang dibeli dari kota Padang menuju daerah transmigrasi Provinsi Jambi setiap minggunya. Ayah saya adalah perantau asal minang yang mengadu nasib pada suatu daerah dusun yang membuat kehidupan penuh rutinitas yang membosankan saat itu – bahkan listrik cuma hidup di malam hari.

Ama – ibu saya, kerap menyuruh saya dan saudara kembar saya ke kota Padang sekedar liburan di tempat kedua orangtua beliau serta kakaknya dan beberapa sepupu saya. bersama pak Aie dan mobil truknya kami kerap melakukan perjalanan di mulai dengan melintasi jalan logging, kota Muaro Bungo, lintas Sumatera untuk menuju kota Padang – yang kemudian hari baru saya tahu bahwa itu truk milik ayah saya.

Dalam perjalanan menuju kota Padang, truk Pak Aie terkadang dibebani dengan hasil perkebunan dusun tersebut seperti Nangka dan Jengkol yang nantinya akan dijual di Pasaraya Padang. Biasanya menjelang subuh, kami sudah sampai di Kota Padang. Saya ingat Pak Aie terkadang membangunkan saya ketika truk berada di Sitinjau Laut sekedar menikmati keindahan kota Padang dari ketinggian daerah tersebut.

foto diam

Pemandangan kota Padang dari Gunung Padang, Padang

Pak Aie juga kerap menunjukkan dua tanduk kerbau yang bertuliskan PT Semen Padang yang menandakan sebentar lagi kami akan sampai ke tempat tujuan. Layaknya anak-anak berusia enam tahun saat itu, saya bersenandung senang. Terkadang dalam perjalanan, pak Aie sengaja menghentikan truk dan menyuruh saya membaca billboard atau plang nama toko yang pada akhirnya mengenalkan saya pada nama daerah tersebut.

Puzzle Perjalanan Bersama Pak Aie

Saya menghela napas. Kembali memejamkan mata dan sesaat kemudian perlahan membuka mata. Saat itu langit telah berubah jadi terang yang membuat pemandangan di luar jendela kaca bus tingkat terlihat jelas. Sayangnya tidak ada plang nama yang bisa saya baca yang memberitahu apakah saya sudah memasuki daerah Krabi atau belum.

11163201_10207128533033009_6722218364864285020_n

Salah satu pemandangan dari balik jendela kaca bus yang membawa saya kembali ke Kota Bangkok dari Krabi,Thailand

Lagi-lagi pikiran saya terlempar pada laju truk semasa kecil dulu, pemandangan di luar sana tak ubah seperti memasuki daerah Muaro Bungo saat itu. Saya ingat, saya berdiri memegang dashboard truk bersenandung meluapkan kegembiraan, sebentar lagi saya akan tiba dan tak sabar membagi cerita ke Ama  mengenai liburan selama di Padang.

Cerita masa kecil saya pun terhenti seiring laju bus berhenti di terminal. Saya pun bergegas turun mengabaikan perasaan emosional yang dihasilkan dari puzzle-puzzle masa lalu tersebut. Sayangnya, memori yang sudah lama terlupakan itu selalu ‘hidup’ setiap kali saya melakukan perjalanan.

****

Bumbu – bumbu Perjalanan

Bagaimana rasanya terjebak tidur di Bandara, di terminal, di rumah makan, dan tersesat kebingungan pada suatu daerah yang asing?

Saya berbagi cemilan dengan bapak-bapak asal Yogyakarta yang hendak melakukan perjalanan ke Brunei saat transit di KLIA 2 sebelum melakukan penerbangan ke Bangkok esok harinya. Mengobrol banyak hal. Dan, ini bukan kali pertamanya saya terjebak bermalaman di Bandara, di Soetta terminal 2F kerap saya singgahi paling tidak enam bulan sekali.

terima kasih ibu

Perjalanan dengan Pak Aie membuat saya tidak terlalu peduli tempat persinggahan seperti apa yang akan saya temui sebelum tiba di tempat tujuan. Pak Aie selalu singgah di Rumah Makan yang dipenuhi mobil tronton, truk serta L-300 yang sebagian mereka  baru pulang dari pulau Jawa. Meskipun tak terlalu mengerti, saya menikmati obrolan kaum bapak tersebut. Biasanya Pak Aie akan memesan secangkir kopi susu buat saya, dan secangkir kopi hitam untuknya.

Saya pun belajar bagaimana nikmatnya menyeruput kopi susu di piring tadah agar cepat dingin – hal serupa juga dilakukan bapak-bapak terhadap kopi mereka. Menyuruh saya untuk tidur di mobil percuma, karena tahu karakter saya yang heboh dan penuh rasa ingin tahu. Kadang ketika Pak Aie tidur sejenak di ruang yang disediakan oleh pemilik rumah makan untuk para supir, berlantai papan, ia merelakan kain sarungnya untuk selimut saya ketika tidur di sebelahnya. Memberikan saya lotion nyamuk khusus anak-anak, dan membiarkan saya mengunakan dengan tangan sendiri. Mewanti-wanti untuk segera mencuci telapak tangan yang sudah kena lotion tersebut.

Perjalanan tidak selalu tentang hal-hal yang menyenangkan. Diantara perjalanan yang tidak menyenangkan selama ini yang saya alami bersama Pak Aie adalah ketika bocor ban di daerah yang belum jauh dari rumah. Saat itu pukul sepuluh malam, lima belas menit lepas dari rumah tiba-tiba ban truk berbunyi cukup keras. Suasana sepi, tak ada kendaraan lain yang lalu lalang.

16558753_1374216105963615_635721856_n

Salah satu perjalanan saya adalah mengunjungi museum kereta api di Sawahlunto

Jika ada, tak ada yang mau berhenti sekedar membantu pak Aie. Dari dalam truck, saya kecil mengamati keresahan pak Aie di jalan menunggu kendaraan lain untuk mau mengantar saya dan dia pulang ke rumah agar beristritahat (saat itu belum ada ponsel untuk mengehubungi ayah saya) sejenak. Sayangnya sia-sia, berakhir dengan menunggu pagi yang kemudian keesoknya menumpangi Angkot kota.

Saya tersadar pengalaman perjalanan masa kecil dengan pak Aie membuat saya jadi terbiasa untuk tak banyak mengeluh dalam perjalanan. Ketika ketinggalan Subway terakhir saat backpacking ke Korea tahun lalu, dengan hati tabah saya memilih berjalan kaki seorang diri menembus dinginnya cuaca musim gugur saat itu.

Saya pun pernah terjebak di warung mie aceh di Pasar Minggu saat ketinggalan bus Damri yang akan membawa saya ke bandara untuk melakukan penerbangan paling pagi. Sementara untuk kembali ke kosan di lenteng agung bukan pilihan yang baik mengingat angkutan umum sudah tidak ada – saat itu kondisi keuangan saya sedang memprihatinkan. Saya memohon ke karyawan mie aceh untuk tidak tutup terlebih dahulu dan membiarkan saya menunggu di warungnya hingga  Damri pertama melintas di depan warung tersebut.

Sekolah di Perjalanan

Perjalanan mengasah sisi nurani saya menjadi pribadi yang lebih baik pada kehidupan sosial. Tersadar terhadap hampir tujuh tahun semasa kecil menikmati perjalanan dengan truk bersama Pak Aie melintasi jalanan Sumatera membuat saya tumbuh dengan baik. Pak Aie mengisi ruang kosong yang seharusnya di isi dengan ayah saya yang sangat sibuk saat itu.

13442342_10209200013538727_5173343686293616954_n

“ Eka itu apa bacaannya?” dari balik kemudinya Pak Aie memperlambat laju truk. Menepi sejenak.

“ Dua kali lima berapa?”

“ Coba ucapkan A sampai Z!”

Pak Aie dan Truknya saat itu tak ubahnya ruang kelas dan sekolah bagi saya. Tak sekedar mengajarkan berhitung, membaca selama perjalanan, tapi juga berbaur dan bersosialisasi yang baik selama perjalanan tanpa memandang latar belakang seseorang. Tentang pelajaran moral yang kadang tidak saya dapatkan di bangku sekolah dasar dulu.

****

Aha Moment Skyscanner

Saya memulai perjalanan sejak usia belum genap enam tahun saat bersama Pak Aie hingga pengujung sekolah dasar. Pak Aie kemudian lepas dari ayah dan saya pun melewati masa tumbuh yang biasa tanpa perjalanan yang berarti.

20161114_142442

Perjalanan adalah candu yang tak terbantahkan.  Hingga ketika semasa kuliah kembali saya diingatkan pada moment menyenangkan akan sebuah perjalanan. Tak banyak perjalanan yang saya lakukan saat itu mengingat keuangan dan waktu yang saya dedikasikan untuk menjadi mahasiswa yang baik.

Perkenalan saya pada situs skyscanner membangkit hasrat saya untuk melakukan perjalanan yang lebih jauh, dalam artian melintasi negara, menemui hal-hal yang baru ; bahasa, budaya, suasana dan sistem transportasi. Kemudahan informasi yang diberikan Skyscanner mengenai waktu dan biaya untuk tiket pesawat promo membawa langkah saya akhirnya nekat melakukan solo backpacking untuk pertamakalinya ke negara asing ; Thailand 2015 lalu.

Keberanian juga didukung dengan beberapa informasi di blog tentang Bangkok — meskipun teman saya yang sempat berlibur di sana mengingatkan tentang kriminalitas Bangkok. Saya percaya pada pikiran positif, pada hati yang selalu berdo’a dan langkah nan tenang semua akan baik-baik saja.

22236424_10213600457267070_960960519_n.png

Skyscanner inspirasi cerdas untuk menentukan destinasi liburan

Mengembalikan momen menyenangkan selama perjalanan adalah mengukir cerita perjalanan itu sendiri. Kerinduan saya akan perjalanan diobati dengan solusi yang ditawarkan oleh Skyscanner lewat informasi tiket murah yang akhirnya bisa mewujudkan perjalanan itu sendiri. Saya tak perlu bergadang sekedar mengejar harga yang memuaskan.

22184777_10213600456347047_494749641_n

Skyscanner membandingkan harga dari beberapa situs travel perjalanan yang memudahkan Anda untuk memilih

Hal yang menyenangkan adalah tawaran sewa mobil dan info hotel yang sesuai dengan budget bisa kita dapatkan di situs perjalanan nan cerdas ini. Selain itu,bagi saya situs ini inspirasi kebingungn saya yang terkadang tidak tahu mau kemana. Sebab tawaran informasi destinasi populer menjadi inspirasi tersendiri bagi saya. (****)

Iklan

Kuala Lumpur ; Putrajaya yang Panas, Putrajaya yang Mengagumkan

“Putrajaya nggak ada bagusnya sih. Biasa saja menurutku. Panas.” Cece pemilik guest house tempat dimana saya dan dua teman saya ; Silta dan Mara melepaskan penat berguman sesaat setelah mendengar perdebatan kecil kami bertiga tentang destinasi selanjutnya.

 “Aku dulu ngikut tour. 15 ringgit kalo tak salah. Mending sih ikut paket tournya aja…”

Sebelumnya kalimat itu terlontar dari perempuan asal Jakarta ini.  Cece menatap kami bertiga dengan ekspresi yang sulit dipahami. Saya menghela napas, melempar pandangan pada Mara yang sudah menyerah — memilih untuk kembali ke Jakarta.

mesjid-putra-jaya

Nama mesjid Putra diambil dari nama mantan Perdana Menteri Malaysia pertama, (Alm) Tunku Abdul Rahman Putra Al Haj, sebagai salah satu bentuk penghormatan rakyat dan pemerintahan Malaysia terhadap beliau.

Baiklah!

Perjalanan ini bukanlah perjalanan egois, ada langkah-langkah kaki lain yang mengikuti langkah saya. Tak ada renungan berarti, tak ada waktu sia-sia untuk sekedar bernapas sejenak mengambil jeda  dari kelelahan yang mampir. Saya pun mengalah tidak memaksa Mara untuk ke kawasan Putrajaya.

****

Tahun lalu, saya sempat diajak ke Putrajaya Square dengan rombongan tour umroh yang pernah saya ikuti. Sempat merasakan sholat zuhur di tempat ini, kawasan mesjid Putra memberi kesan tersendiri bagi saya. Ya, saat itu, seperti biasa ikut dalam rombongan tour selalu di desak soal waktu yang terburu-buru. Dan, saat itu saya pun bertekad suatu hari bisa kembali mampir di tempat ini.

Inilah menjadi alasan saya kenapa harus mampir ke Putrajaya meskipun saya buta dengan arah dan transportasi serta tempat seperti apa sebenarnya kawasan ini. Mengabaikan kelelahan di wajah teman saya, Silta, saya pun mengajaknya menaiki KLIA Ekspress (padahal sisa ringgit sudah menipis 😦 ) menuju stasiun Putrajaya. Kami sempat kebingungan, pusing-pusing tak jelas kemana langkah selanjutnya.

” Bagaimana menuju mesjid Putrajaya?”

Pertanyaan saya pun membuat beberapa orang di stasiun Putrajaya yang saya tanyakan mengeryit dahi bingung — Dan, beberapa saat kemudian setelah mutar-mutar di kawasan tersebut saya pun tersadar pada pertanyaan yang membingungkan tersebut. Ternyata yang saya maksud sama masyarakat setempat disebut mesjid Putra.

puta-jaya

Bus Putrajaya Sightseeing tour ; peserta tour tak menyiakan kesempatan yang diberi uncle untuk mengabadikan moment dalam bidikan kamera.

Kelelahan membuat kami tersesat pada jalan yang benar ( Ya kali ka… tersesat di jalan yang benar 😀 ). Ya, kami menemukan tempat mangkal bis. Segerombolan turis sedang mengerumuni seorang uncle. Saya pun menghampiri uncle tersebut. Ternyata ia sedang menawarkan Putrajaya sightseeing tour.

Tanpa pikir panjang saya pun turut serta ikut paket tour yang menghabiskan waktu sekitar dua jam dengan harga 20 Ringgit atau sekitar enam puluhan ribu lebih rupiah yang ditawarkan uncle tersebut.

Putrajaya Sightsseeing tour ; Mengenal lebih jauh kawasan pusat administrasi pemerintahan Malaysia

Mesjid Putra yang saya kunjungi setahun silam adalah merupakan kawasan Putrajaya Square. Mengabungan arsitektur tempo dulu yang dipadu dengan kemodernan bangunan mesjid ini menawarkan keindahan yang tak terbantahkan. Terletak dipinggirkan danau, mesjid Putra memiliki puncak menara yang menjulang tinggi. Menakjubkan! Sesekali cobalah sholat di mesjid ini.  Oh, ya kawasan ini juga terdapat komplek tempat tinggal perdana menteri Malaysia.

jubah

Perbedaan keyakinan tak menyurut hati untuk bisa menikmati keindahan bangunan mesjid. Bagi mereka yang tidak menggunakan hijab atau pakaian pendek  dipinjamkan jubah percuma. Inilah hidup yang menyenangkan ; saling menghargai 🙂

Yup, Putrajaya merupakan pusat administrasi pemerintahan negara Malaysia. Begitu uncle yang ternyata sopir bus Putrajaya Sightseeing tour menjelaskan secara singkat. Baru diresmikan sekitar tahun 1995 lalu, kawasan ini ditata begitu apik dengan ragam bangunan menakjubkan bertujuan mengatasi kepadatan Kuala Lumpur. Tak heran terlihat beberapa bangunan pemerintahan saat bus kami melaju dengan kecepatan santai.

bukan-harry-potter

Bukan Hogwarts School ; jadi jangan harap bisa bertemu si manis Ronald Weasley. Heh, Pak cieknya cukup ganteng lho! 😀

Dari mulai Jembatan yang melintasi danau cukup luas ; Jembatan Seri perdana dan Jembatan putra, serta beberapa gedung pusat pemerintahan seperti kehakiman, putrajaya Ministry of finance dan lain sebagainya membuat mata saya pun terpana pada arsitektur megah khas ala Eropa dan jalanan yang cukup luas.

pemandangan

salah satu sudut kawasan Putrajaya dari seberang Putrajaya Convention Centre (PCC)

Mengikut paket tour Putrajaya Sightseeing adalah pilihan yang tepat bagi saya. Melintasi kawasan Putrajaya seperti Dataran kemerdekaan Putrajaya, Mesjid Putra, Putrajaya Convention Centre (PCC), dan beberapa gedung pemerintahan. Menyenangkan !

Menghabiskan waktu sekitar dua jam, berhenti di spot-spot tertentu yang menarik untuk di foto, uncle  memberi jeda waktu  dan kesempatan untuk kami mengambil foto. Oh, ya bus ini beroperasi sampai pukul 03.00 p.m.

PutraJaya ; Biasa saja, tapi mengagumkan !  

” Wajar cece itu bilang biasa saja, lah dia udah pernah ke sini !” seloroh saya ditengah panasnya cuaca Putrajaya. “Tapi bagi yang belum pernah, ini adalah tempat yang harus dikunjungi.”

Sebagai orang yang menghabiskan masa kecil di pelosok daerah transmigrasi Jambi, melihat bangunan-bangunan yang ada di kawasan Putrajaya adalah kemewahan tersendiri bagi saya.

kehakiman

Bukannya takut debu sih sebenarnya, tapi Yoona nya takut hitam makanya pake masker :p

Silta tertawa pelan. Ia beberapa kali berkomentar mengenai foto yang diambilnya jadi gelap karena cahaya matahari yang lagi semangatnya. Padahal banyak spot menarik untuk berpose diantara ragam bangunan yang mengagumkan tersebut.

Dari jendela kaca bus, saya melempar pandangan ke danau yang cukup luas. Menikmati pemandangan pada beberapa bangunan dan taman yang terlihat asri. Di tengah teriknya matahari dan keringat yang mengucur di dahi, pikiran saya sempat mengkhayal.

Sungguh menyenangkan melintasi pinggiran danau di sore menjelang senja. Bersepeda santai bersama seorang sahabat hati yang entah dimana keberadaannya. Ah, Yoona terlalu merindukan moment tersebut!

jembatan

Ada yang lagi ngikuti K-Drama ”On the way to the airport” salah satu pemandangan ya ini : Jembatan Seri perdana. Oh, ya pengemar AA boleh lho nonton episode ! *kode airport aja sih.

🙂