Menyusuri Romantisme Sudut Perkotaan Seoul, Korea Selatan

Seoul menjadi destinasi impian bagi sebagian anak muda yang terperangkap virus Hallyu. Kota ini mendunia dengan romantisme tak terbantahkan.

Saya mengunjungi Seoul di pertengahan November ketika negara ini sudah mulai memasuki musim dingin. Sayangnya tak ada persiapan khusus selain mengandalkan jaket jenis windbreaker keluaran brand alat outdoor yang biasa digunakan saat mendaki gunung – cukup tangguh mengatasi suhu 10-15 degree menurut saya. Maka lupakan senyum penuh keriangan melangkah dengan cepat menghampiri destinasi favorit yang digadangkan media dan travel agen di tanah air ; Nami Island dan N Seoul tower.

Hari pertama di Seoul setelah menembus dinginnya udara subuh, saya memilih berdiam di livingroom guesthouse berbagi cerita sesama tamu penginapan dengan topik basa-basi seraya menyantap sarapan. Saya menikmati pagi menjelang siang yang tenang dan santai hingga sinar mentari menembus jendela menyadari saya akan waktu; pada penjelajahan sesungguhnya yang belum jua dimulai.

Itaewon menjadi salah satu kawasan favorit tujuan wisatawan (1)

Teriknya matahari ternyata tak sejalan dengan hembusan angin yang masih saja menyisakan dingin. Terbiasa dengan panasnya pesisir kota Padang, tentu ini cukup membuat tubuh mungil saya tidak nyaman. Reflek saya memasuki dua telapak tangan ke dalam saku jaket agar menyisakan kehangatan. Perjalanan mengajarkan saya pada sikap nrimo tanpa banyak protes, langkah saya tetap berjalan dengan santai menikmati cerahnya cuaca menjelang siang menelusuri kawasan Itaewon.

Street Market di Itaewon

Kawasan ini cukup populer bagi wisatawan internasional. Banyak dijumpai turis dari berbagai negara sepanjang jalan. Tulisan yang tersebar untuk memberitahu keterangan tak saja dalam bentuk huruf hangeul, tapi juga Inggris, Jepang, dan Mandarin. Tempat ini benar-benar kawasan turis. Saya pun menemui mie instan favorit tanah air di salah satu mart di Itaewon yang menjual barang dari berbagai negara ; Indomie.

Salah satu restoran bernuangsa mancanegara yang terdapat di Itaewon

Bisa dikatakan Itaewon adalah kampung global. Menawarkan sensasi berada ditengah keanekaragaman budaya yang menyenangkan. Untuk mengukuhkan daerah ini sebagai kawasan global, banyak dijumpai restoran yang menawarkan masakan dari berbagai belahan dunia seperti Thailand, Jepang, China, Belgia, New York, Italia, Mexico, Perancis, Turki, India bahkan Melayu. Umumnya di buka oleh Imigran asing yang datang ke Korea Selatan. Sebagian bahan kebutuhan masakan mereka impor dari negara asal untuk menjaga citra rasa otentik. ( Ah, jadi kepikiran untuk buka rumah makan Padang di sini:) )

Suasana malam di Itaewon

Seperti halnya Khaosan Road di Thailand, Itaewon  tak lepas dari banyaknya bar dan klub  malam – ini juga menjadi salah satu daya tarik Itaewon. Keramaian terasa saat malam tiba. Jika pagi hari menjelang siang kawasan ini relatif tenang. Saya pun menelusuri tiap gang jalanan. Menghirup atmosfer yang menyenangkan. Tujuan saya segera bertamu ke mesjid besar yang terkenal di Seoul.

Mesjid Pusat , Seoul

Tulisan arab Allahuakbar bewarna hijau berdiri dengan megah pada keindahan arsitektur bangunan mesjid menyambut langkah kecil saya usai berjalan mendaki memasuki halaman mesjid. Keramaian dihari Jum’at  yang memenuhi mesjid membuat haru tak terbantahkan perlahan-lahan menyusup di relung hati ini. Berbagai warna kulit memenuhi kawasan tersebut dengan damai. Terpancar kebahagiaan yang tak terbantahkan.

14992076_10210531766951730_4133870001042045703_n

Sebagai mesjid besar tempat ini kerap dijadikan sebagai tujuan wisata dan juga sebagai tempat mendengar pembicaraan berkenaan dengan Islam. Siang itu usai melaksanakan sholat, saya menjumpai rombongan pelajar Korea Selatan di halaman mesjid.

 “ Songsaenim (guru) !” teriak salah satu diantara mereka. Sang guru langsung menoleh ke saya diiringi rombongn pelajar yang berjalan menghampiri saya.

“ Dapankah kamu menolong kita. Berapa kali kamu sholat dalam sehari?” dengan bahasa Inggris yang pelan ia mengungkapkan hati-hati pada saya.

“ Lima.” Rupanya mereka sedang ada tugas sekolah mengenai pengenalan agama Islam.  Saya pun meladeni pertanyaan Songsaenim, sementara sang murid sibuk menulis di kertas.

keindahan mesjid besar Seoul di kala malam hari

Tadinya saya ingin melanjutkan perjalanan ke Namsan Park, sayangnya rasa penasaran saya pada kota ini membuat saya memilih jalan acak memasuki sebuah gang yang membuat saya tersasar. Hingga saya menemui perumahan yang tertata rapi. Menelusuri suasana sepi seraya mengamati bangunan perumahan yang ternyata tak jauh berbeda dengan bangunan perumahan yang selama ini saya lihat dalam drama Korea.

Pusat pertokoan Barang Antik, Itaewon

Langkah menyesatkan diri membawa saya pada deretan pertokoan barang antik di kawasan Itaewon. Sejenak saya merasa seperti terjebak di Jalan Surabaya, Jakarta. Bedanya tentu pada apa yang dijual. Jika di jalan surabaya di dominasi pada penjual tas dan sepatu, tempat ini mengutamakan furniture nan antik dan jadul.

kawasan pertokoan furniture antik di Itaewon

Sepasang kaki saya masih ingin berjalan. Melewati guguran daun pepohonan yang menyemarakan suasana jalanan kota. Menyenangkan dari kota ini adalah kenyamanan bagi pejalan kaki. Saya tidak menemui klakson motor yang menganggu keasyikan melangkah seperti yang pernah saya alami di kawasan Sudirman, Jakarta.  Pepohonan di sepanjang jalan cukup membantu saya merelaksasi pandangan mata dan pikiran. Menambah kesejukan siang itu.

Menikmati sore di Hangang Park

Bagi saya tak ada yang menyusahkan hati jika tersesat di dalam kota. Saya menyukai atmosfer perkotaan ditengah kesibukan aktivitas warga lokal yang berseliweran. Mata saya tak sengaja menangkap tulisan Hangang Park setelah lama melangkah. Saya pun memasuki semacam terowongn khusus pejalan kaki dan sepeda. Beberapa sepeda terparkir.

Terowongan Menuju Hangang Park (1)

Pandangan mata saya menangkap beberapa kamera pengawas dalam terowongan ini. Tergiang ucapan seorang teman, Lastin, yang sedang menempuh studi Magisternya di salah satu universitas Korea Selatan.

“ Korea Selatan relatif aman. Motor terparkir dengan meninggalkan kunci, tak ada yang mengambil. Kalau di Jakarta udah hilang kali. Di sini CCTV dimana-mana.”

Selain Lastin, seorang teman yang lain pun menyakini hati saya bahwa tak perlu ditakuti dari kota ini. “ Kalau kamu kemalaman, tetap aman kok,” ungkapnya lewat pesan facebook seminggu sebelum kedatangan saya ke kota megapolitan ini.

Saya teringat saat menikmati makan siang nasi instan di sebuah mini market, tertempel banyak foto orang yang sama sebagai pelaku pencurian di tempat tersebut yang tertangkap kamera pengawas. Itulah kenapa perasaan saya tetap aman terus berjalan menelusuri kesunyian terowongan. Di ujung terowongan sebuah jalanan luas khusus berolahraga menyambut saya. Di sisi jalanan tersebut sebuah sungai terbentang luas ; Sungai Han.

Kawasan Hangang Park yang dimanfaatkan tempat berolahraga

Terbentang dengan luas sepanjang 514 KM, sungai Han mengalir disepanjang kota Seoul yang menjadi penghubung antara wilayah yang Utara dan Selatan ibukota Korea Selatan ini. Ada banyak park yang di bangun pemerintahan Korea Selatan disisi sungai tersebut sebagai relaksasi bagi penduduknya.

Untuk bisa menikmati keromantisme kota seoul dengan menelusuri sungai, saya menyarankan mengikuti wisata kapal sungai Hangang yang start-nya di Jamsil Hangang. Perjalanan hampir memakan waktu dua jam mengelilingi sungai Han dengan pemandangan gedung tinggi menjulang khas arsitektur futuristik dan cahaya lampu nan indah. Itu pun  jika memilih tour di malam hari.

Pemandangan kota dari pinggir sungai Han

Sayangnya, karena budget terbatas saya lebih memilih untuk menikmatinya dengan duduk tenang di pinggir sungai Han seraya menyantap bekal roti serta telur rebus yang saya bawa dari guesthouse – sisa dari jatah sarapan. Cerita keindahan cukup saya dapati dari roomate di penginapan yang melakukan wisata tersebut lewat foto yang dipamerkannya.

Menghabiskan sisa malam di Hongdae

Hongdae, distrik yang berada di sekolah seni Hongik University semakin larut kehidupan makin dinamis

Malam menjelang, alih-alih ikut terlibat dalam keriuhan dunia malam Itaewon saya memilih penjelajahan yang cukup jauh dari daerah tersebut. Kawasan populer di kalangan anak muda, Hongdae. Sebuah kawasan di sekolah seni terkemuka di Korea Selatan, Universitas Hongik. Lantunan lagu salah satu boyband, BigBang mengalun cukup keras memecah keramaian jalanan Hondae yang penuh anak muda. Kerumunan anak muda membuat rasa penasaran saya untuk mendekat. Rupanya sedang ada pertunjukan dance oleh  cowok berparas lembut khas boyband negeri ginseng.

Atraksi dance yang dilakukan pemuda Seoul di kawasan Hongdae

Hongdae penuh enerjik khas dunia muda. Kawasan ini memang terkenal dengan musisi jalanan yang kerap menjadikan jalanan di Hongdae sebagai panggung dadakan. Selain itu, tempat yang mayoritas dipenuhi oleh seniman muda ini juga terdapat Pasar HeeMang atau pasar Loak yang buka setiap akhir pekan. Jejaran pertokoan yang menjual ragam kebutuhan fashion menarik hati saya untuk singgah sekedar singgah sejenak. Keberadaan tempat nongkrong sejenis caffee menyemarakan kehidupan khas dunia muda. Saya merasa menemui dunia yang telah memudar dalam jiwa saya beberapa tahun ini.

Hongdae juga diidentikan dengan musisi underground yang memiliki khas tersendiri

Malam itu, di sebuah taman kawasan Hongdae, saya menikmati nyanyian merdu dari musisi jalanan. Meskipun tak paham makna lagu yang disenandungkan entah kenapa tak mengurangi kesan romantis terhadap lagu tersebut. Di sekeliling saya banyak pasangan saling mengenggam tangan.

Romantis pasangan yang dimabuk asmara menikmati alunan lagu dari musisi jalanan Hongdae

Perlahan saya beranjak pergi. Malam yang semakin larut namun kehidupan di tempat ini masih saja hidup sementara kondisi badan tak bisa membohongi usia yang tak lagi muda. Saya butuh istirahat.

stand penjualan ring atau cincin sebagai tanda mengungkap rasa pada pasangan

Sepanjang jalan menuju stasiun subway, saya menjumpai jejaran beberapa stand penjual beraneka ragam cincin baik terbuat dari perak maupun plastik dengan desain lucu. Beberapa barang couple dijajakan sepanjang jalan yang membuat saya menelan ludah. Tersadar mengenai romantisme kehidupan yang tiba-tiba saya rindukan; menikmati dramaqueen khas dunia muda. Ibukota Korea Selatan ini masih saja menyisakan hal sama dengan cerita-cerita drama mereka yang mendunia di luar sana ; romantisme kehidupan pasangan. (Eka Hei)

Menemui Indonesia di Selatan Ibukota Negeri Ginseng

Menyinggahi kota Ansan adalah jawaban kerinduan akan sebuah negeri yang menyenangkan dengan keramahan dan masakannya ; Indonesia.

Udara dingin langsung menyapa tubuh saya sesaat keluar dari Subway line 4 di stasiun Ansan. Perjalanan satu jam lebih dari stasiun Dongdaeumun, Seoul – kawasan tempat saya menginap– tidak begitu melelahkan. Maklum saya melewati dengan terlelap sejenak mengabaikan keindahan pemandangan diluar sana dari jendela kaca Subway pagi itu.

Saya merapat sweater pemberian seorang mahasiswa Indonesia yang lagi kuliah di Busan yang saya temui tak sengaja dalam perjalanan saat di Busan. Rasa kasihan melihat tubuh ringkih ini hanya terselimuti jacket tipis membuat Mahasiswa tersebut menghadiahkan sweater yang nyaman bagi saya.

DSC03653
Sebuah taman terbuka yang berada tak jauh dari kawasan keramaian Ansan Stasiun

Saya datang di awal November ketika Korea Selatan memasuki musim gugur yang saya perkirakan awalnya cuaca tak terlalu dingin. Sayangnya, meskipun matahari bersinar terik anginnya cukup membuat tangan membeku kedinginan. Saya jadi teringat ucapan  seorang teman : “ kita tidak pernah tahu apa yang terjadi dalam perjalanan.”

Mata saya sejenak terpejam. Menghirup udara dingin. Menghentikan langkah. Menikmati suara riuh di sekitar stasiun Ansan. Sebuah percakapan yang akrab membuat saya menyunggingkan senyum. Logat Jawa nan kental.

Tempat itu bernama Ansan

Terletak di Selatan Seoul, ibukota Korea Selatan, Ansan adalah sebuah kota di provinsi Gyeonggi, Korea Selatan. Kota ini bukanlah termasuk tujuan wisata populer seperti Busan saat traveling ke negeri ginseng. Namun ketenangan kota kecil ini mampu menjawab kerinduan akan rumah disela-sela rasa lelah sepanjang perjalanan menjelajahi negeri ginseng.

DSC03649
Minggu Pagi di Ansan

Rasa itulah yang membuat saya rela bangun pagi setelah kelelahan berjibaku di pusat perbelanjaan Myeongdong, Seoul, tadi malam hanya sekedar ingin melakukan perjalanan ke Ansan. Semesta pun menyambut saya dengan sinar matahari yang cukup cerah. Saya pun menelusuri lorong stasiun Ansan yang sejenak mengingatkan saya pada kawasan Glodok dan Mangga Dua, Jakarta, dengan ragam pertokoannya. Beberapa tulisan dalam bahasa Indonesia berseliweran. Akhirnya mata ini bisa terlepas juga dari huruf Hangul – huruf Korea. Suara-suara dengan logat Jawa pun menghampiri telinga saya.

Kaki saya melangkah dengan semangat, melempar pandangan pada penjual sayuran dengan senyum terukir. Ahjumma pun melempar senyum yang sama ; Ah, bahasa senyum memang selalu menyenangkan!

DSC03615
Koridor stasiun Ansan. Menariknya, disini masih ditemui street market — pedagang kaki lima, yang tertata rapi dan bersih.

“ Mas Mesjid dimana ya?”

Kaki saya terhenti pada segerombolan pemuda yang asyik bercengkrama. Mereka sejenak memandang saya. Salah satu dari mereka memberi arahan. “ Mbaknya menyeberang di bawah dulu. Nanti jalan lurus belok kiri udah jalan aja terus.”

“ Kira-kira sepuluh menitlah jalan,” sahut mas yang satu lagi.

Saya mengangguk. Beberapa diantara mereka tersenyum menyadari ekspresi wajah saya mendengar jalan kaki selama sepuluh menit. “Tenang mbak. Nggak capek kok jalannya.”

Saya nyengir. Kalau di negeri sendiri ini udah manggil abang ojek. Pikir saya. Saya pun mengucapkan terima kasih. Berjalan mengikuti arahan mereka.  Lagi-lagi wajah saudara setanah air banyak saya temui sepanjang jalan. Saya menghela napas penuh kelegaan. Ada ketenangan menyusup di dalam diri ini. Tak lagi khawatir soal bahasa dan tersesat.

DSC03613
Mas-mas yang lagi menikmati liburan. Adakah sahabat hati eka diantara mereka? *eh 

Mereka benar bahwa saya tak akan lelah menelusuri perjalanan sepuluh menit ke mesjid dari stasiun Ansan dengan berjalan kaki. Daun-daun yang berguguran di sepanjang jalan menyegarkan mata . Pun pertokoaan yang tertata rapi. Saya pun banyak menemui makanan khas Indonesia.

 Ah… INDONESIA. Kenapa selalu menghadirkan rindu?

Kenyamanan di Mesjid Shirathol Mustaqim -Ansan

Sebuah mesjid berdiri kokoh diantara bangunan yang ada di kawasan Danwon-gu, Ansan. Ragu saya memasuki mesjid. Seorang pemuda sedang berjalan memasuki area mesjid. Saya pun tampak ragu memilih bahasa yang digunakan ; Inggris atau Bahasa. Reflek saya mengeluarkan bahasa Indonesia. Ia pun menjawab dengan bahasa yang sama dengan lancar. Memberi arahan tentang tempat wudhu dan sholat khusus wanita yang terletak di lantai 3. Mesjid ini cukup bersih dan nyaman.

DSC03626
Renovasi pada mesjid Shirathol Mustaqim ini tak lepas dari sumbangsih perkumpulan pemuda Indonesia yang ada di Korea Selatan

            Merupakan kota industri yang banyak mendatangkan pekerjaan asing termasuk Indonesia, Ansan kerap dijadikan meeting point bagi Imigran termasuk di mesjid ini. Dari obrolan dengan salah satu pekerja yang berasal dari Malang yang sudah dua tahun berada di Korea Selatan, ia menceritakan kepengurusan mesjid tersebut bercampur dari berbagai Negara ; ada yang dari Pakistan, Bangladesh dan Indonesia.

            “Namun, karena orang Indonesia suka ngumpul kali ya. Jadi kadang emang lebih suka terlihat aktif orang Indonesia di sana.”

            Saya mengangguk menyetujui omongannya. Menyadari beberapa tulisan di mesjid menggunakan bahasa Indonesia termasuk terjemahan alqur’an dalam bahasa Indonesia yang saya temui saat menunaikan sholat di sana. Saya pun menjumpai brosur informasi tentang paket menunaikan ibadah haji dalam bahasa Indonesia di pintu masuk mesjid.

            “ Dan tempat ini menjadi tujuan bagi mereka yang ingin mencari makanan halal,” tukas si Mas.

            Dari cerita teman saya yang lain, mesjid ini juga banyak dapat bantuan dari perkumpulan pemuda Indonesia yang ada di Korea Selatan.

            Kehangatan di semangkuk Bakso

Lupakan mie rebus instan dengan potongan cabe rawit di kala dingin merasuki tubuh ini.  Ada yang tak kalah lezat yang membuat kamu menelan ludah dan terkenang rasa kaldu kuah bakso di ujung lidah. Rasanya makanan inilah yang paling dirindukan selama berada di luar Indonesia. Apalagi dikala udara dingin, sangat menginginkan abang bakso lewat depan rumah.

DSC03633
Kangen Bakso. Ini kali kedua menikmati semangkuk bakso di luar Indonesia ; Malaysia dan Korea Selatan.

Saya pun tak dapat menahan diri untuk memesan semangkuk bakso saat menemui warung bakso di dekat mesjid. Mengabaikan harga yang cukup mahal jika dirupiahkan – 8000 won. Di warung ini juga tersedia beberapa produk makanan khas Indonesia seperti teh dan mie instan.

Rusdi, sang pengelola pun bercerita pada saya warung bakso yang dikelolanya ini hasil kerja sama dengan warga Korea sebagai pemilik. “ saya cerita ada nih  usaha yang tidak repot, tidak butuh modal besar, dan sederhana tapi selalu dicari. Yaitu bakso.” Ia pun menambahkan warung bakso yang bernama Kangen Bakso ini adalah warung bakso pertama di daerah Ansan.

 Ditangan Rusdi bakso dibuat dengan citra rasa yang tak kalah lezat dengan bakso di tanah air. Mengimpor daging dari Australia, ia pun memastikan kehalalan daging bakso yang digunakannya.

DSC03628.JPG
Kangen Indonesia… melipir ke Ansan aja 🙂

Saya beruntung datang di Minggu siang, saat para pekerja Imigran lagi menikmati liburannya. Dua orang mbak-mbak asal Surabaya yang sudah tinggal selama tiga tahun di Korea Selatan bercerita pada saya, ia kerap menghabiskan Minggu  di Ansan –padahal ia tidak tinggal di kawasan ini – sekedar melampiaskan kerinduan pada masakan Indonesia

The Little Town Indonesia

“ Boleh mbak sepatunya!”

Saya terperanjat kaget ketika melintasi pertokoan dengan tumpukan sepatu olahraga yang di obral. Sebuah sapaan membuat saya akhirnya menyungging senyum tipis. Mengelengkan kepala. Saya seperti terlempar dari negeri Ginseng sejenak. Tidak seperti beberapa pusat pertokoaan yang saya kunjungi di Seoul, sepatu ini tertulis ‘made in China’ dengan jelas di sebuah kertas yang terletak diantara tumpukan sepatu tersebut.

DSC03658
Adakah nyelip sahabat hati eka di antara mas-mas yang ngerumpi asyik ini? *Eh

Pertamakalinya selama seminggu berada di negeri dongeng saya melihat produk selain ‘made in Korea’. Saya terkenang pada ucapan seorang pedagang pusat perbelanjaan Good Morning di Dongdaemun saat menawar belanjaan. “ Ini made in Korea bukan China.”

Kaki saya melangkah memasuki kawasan yang tertulis kuliner internasional. Ansan memang terkenal dengan kawasan imigran asing melihat beberapa pabrik dan universitas yang berada di kota kecil ini. Kamu dapat menemui masakan Vietnam, Thailand dan tentu saja Indonesia. Tapi entah kenapa mata saya lebih banyak menangkap tulisan berbahasa Indonesia termasuk ‘warung Indonesia’.

Tak sekedar menjual ragam masakan tradisional Khas Indonesia, di kawasan ini juga mudah ditemui warung yang menjual produk Indonesia. Ketika saya kesulitan mencari money changer yang mau menerima rupiah selama berada di Seoul, di kota Ansan lah Rupiah disambut dengan hangat. Yup, pada akhirnya Rupiah saya diterima untuk ditukar dengan Won.

DSC03645.JPG
Keramaian Ansan di suatu minggu pagi nan cerah

Menikmati Minggu di daerah Ansan adalah agenda yang tepat saat menyinggahi Negeri Ginseng. Menemui Indonesia lewat wajah-wajah saudara setanah air yang sedang berjuang di negeri orang, menikmati ragam kuliner Indonesia yang menambah rasa syukur terlahir sebagai Indonesia. Saya seperti menemui ‘pelukan ibu’ di kota Ansan. Dan… Jika harus mengambil kesimpulan saya menyebut daerah Ansan adalah The Little Town Indonesia nya South Korea. (Eka)

 

Sabtu Pagi di Seocho Flea Market

Bagi saya hidup dimulai ketika aktivitas pasar mulai bergeliat ditengah suara kokok ayam dan adzan yang mulai bergema. Betapa saya menyukai suasana pagi seperti itu yang perlahan entah kenapa memudar dalam kehidupan saya. Saya teringat masa kecil dulu, rasa senang disela ngantuk memperhatikan aktivitas pasar raya Padang dari dalam truk saat adzan mulai berkumandang dari mesjid Muhammadiyah. Saat itu, saya sedang menemani Pak Aie, kerabat ayah saya, membongkar muat jengkol dan nangka yang kami bawa dari daerah transmigrasi Jambi. Ini mungkin menjadi alasan kenapa saya menyukai suasana pasar.

Saya mengunjungi Seoul di pertengahan November yang dingin menusuk dengan kondisi badan yang masih remuk akibat kecelakaan lalu lintas yang saya alami sehari sebelum penerbangan. Pikiran saya masih kalut terpaku pada perdebatan dengan sang ayah yang menyuruh saya segera menikah beberapa hari lalu. Tersadar pada itinerary yang tak ada dan tujuan yang tak pasti, satu-satunya keinginan saya saat itu adalah bermain di pasar tradisional kota ini –entah untuk apa.

dsc03413
Senja di pinggir sungai Han, Hangang Park, Seoul

Sayangnya, saya terlalu lelah setelah semalaman menelusuri Hangang Park dengan berjalan kaki dari Itaewon sehingga mengabaikan membuat itenerary kemana tujuan keesok harinya. Alhamdulillah, di tengah kelelahan, kamar saya kedatangan tiga mahasiswi yang satu diantara mereka berasal dari Indonesia.

Paginya, usai menunaikan sholat subuh — tadinya saya ingin menelusuri Itaewon sesudah sholat subuh di mesjid, sayangnya saya tertidur pulas 😦 –, iseng saya menanyakan tujuan mereka.

Flea Market.

Saya pun menawarkan diri untuk ikut dalam perjalanan mereka. Sesuatu yang menarik. Pasar barang bekas yang ada cuma di hari Sabtu. Bersama Firza dan Saidah, Mahasiswa Ulsan dari Malaysia, serta Mbak Rani Mahasiswa Ulsan dari Indonesia saya memulai Sabtu pagi yang menyenangkan.

Seocho Saturday Market ; Pasar Loak Tertua di Korea

Sebenarnya ada begitu banyak Flea Market yang diadakan setiap hari Sabtu yang tersebar di Seoul. Flea market bisa dikatakan pasar loak tapi seperti bazaar. Sejenak saya teringat pada Sunday Morning UGM Yogyakarta , bedanya di UGM diadakan minggu pagi dan bukan secondhand stuff.  Saya hanya mengikuti langkah Firza, yang menjadi tour guide.

dsc03458
Penjual tanaman pun ada di Seocho Saturday Market

Di kemudian hari, saya baru tahu kenapa pilihannya adalah Seocho Saturday Market. Ternyata Flea Market ini merupakan terluas dan tertua di kota Seoul yang mulai ada sejak tahun 1988. Beroperasi dari mulai pukul 09.00 pagi hingga 03.00 sore, pasar ini menjadi favorit sebagian orang Korea untuk mencari barang dengan harga relatif murah.

Saya bukan tipe orang yang betah berlama-lama dalam hal berbelanja, namun melihat ragam barang yang dijual menarik hati, kaki saya menghampiri satu persatu tenda. Senyum manis Ahjumma dan Ahjusshi menyapa saya. Keterbatasan bahasa tak jadi hambatan untuk melakukan transaksi jual beli. Mengandalkan jari dan kalkulator saya mendapatkan sebuah jacket yang akhirnya saya jual sesampai di Padang.

dsc03451
Mendapatkan senyum ramah Ahjumma dan Ahjusshi ini ; masih tega nawar??? — Sepatunya sudah murah juga 🙂

Tak saja baju, peralatan dapur pun ada di tempat ini. Saya sempat terpaku pada stand buku, sayangnya bertulis hangeul. Oh, ya tempat ini bisa juga menjadi alternatif untuk membeli oleh-oleh. Kan pada nggak nanya ini baru atau bekas. *eh

dsc03442
Tersesat yang disengajakan ; Lost in Seocho Flea Market.

” Ini lu jual 200 ribu laku Ka!” seru Mbak Rani saat menemuikan coat cantik. ” Lu tinggal laundry aja.”

Otak dagang saya pun bekerja, tapi …. tersadar saya tak bawa koper. Untuk perjalanan sembilan hari saya cuma mengandalkan tas ransel Jan-sport yang berisi tiga helai baju yang saya bawa. Satu sisi, tentu saja kondisi keuangan menjadi kendala juga.

Saya pun mengurungkan niat. Berjalan keluar area Flea Market. Menghirup udara pagi seraya melempar pandangan. Dari informasi yang saya dapat, sebagian dari mereka ada pedagang yang regular dan ada juga dadakan. Mereka mengumpulkan barang bekas yang layak digunakan kembali baik itu milik pribadi atau tetangga. Untuk membuka lapak di sini  harus mendaftar di website resmi Seocho terlebih dahulu, dan itu harus jauh-jauh hari sebab peminat yang ingin buka lapak banyak agar mendapat tempat.

dsc03450
Seocho Flea Market

Lelah berkeliling, di sepanjang jalan depan Flea Market ada banyak caffee yang bisa kamu singgahi. Sayangnya, selain budget saya terbatas sekedar nongkrong manis di caffee, Firza membatasi waktu kami di Flea Market. Sebab, perjalanan masih terus berlanjut. Ehm… tiba-tiba saya teringat, sejauh hasil pengamatan dari menghampiri satu persatu pedagang di Flea Market, ternyata tidak semua barang merupakan barang bekas. Yah, tak ada salahnya mencari oleh-oleh di sini.

dsc03453
Belanja Sampai Puas di Flea Market

Akhir dari sebuah perjalanan
Mendarat di sudut pertokoan
Buang kepenatan 

” Belanja Terus Sampai Mati” — Efek Rumah Kaca

Menuju ke Seocho Saturday Flea Market : 

  • Gunakan Subway Line 2 atau Line 4 tujuan Sadang Station (Exit 14)
  • Belok kiri dan jalan lurus sampai kamu menemukan pasar ‘dadakan’ di sepanjang Jalan yang disediakan/ menemukan keramaian.
  • Jika ragu, bertanya lah pada dua atau tiga orang di sana agar tidak tersesat.