Review Film Surau dan Silek : Tentang Ambisi dan Filosofi Silek Bagi Sang Petarung

” Silek lahirnya mencari  kawan, batinnya mencari Tuhan.”

SURAU

Film dibuka dengan cerita kekalahan tokoh bernama Adil dalam melawan Hardi yang disinyalir melakukan kecurangan. Adil tak sendiri, dua sahabatnya , Kurip dan Akbar yang berada dalam guru yang sama, Rustam ( Gilang Dirga), pun mengalami hal yang serupa.

Kekalahan cukup membuat Adil tak terima. Apalagi di sekolah, Hardi kerap memperolok-olok dirinya yang membuat emosi Adil tersulut untuk berkelahi. Hardi terkadang juga menyindir keadaan ekonomi Adil yang tidak berkecukupan. Sikap teman sekolah sekaligus rivalnya di gelangang itulah yang membuat Adil terobsesi memenangkan laga selanjut yang diadakan 6 bulan sekali.

IMG_9893

Di satu sisi, kegalauan Rustam yang tak saja sebagai guru silek tapi juga Mamak (paman) Adil membuat ia mengambil keputusan untuk merantau. Meninggalkan tanggung jawabnya terhadap tiga bocah yang berambisi untuk menang dalam laga .

Kepergian Mak Rustam tentu membawa tiga sahabat ini cukup terpukul ditengah pertandingan yang semakin dekat. Beruntung, mereka memiliki teman cantik nan cerdas bernama Rani yang mengenalkan mereka pada Gaek Johar seorang pensiun dosen yang memilih kembali ke kampung Halaman.

Bagi Adil, silek membawa kebanggaan tersendiri atas kemenangan mengalahkan Hardi, Sedangkan bagi Kurip Silek adalah ‘Paga diri’ , sedangkan Dayat sekedar menguruskan badan gemuknya.

IMG_9894

Dibawah bimbingan Gaek Johar perlahan pandangan mereka tentang ambisi sebuah kemenangan pun berubah. Tentang silek yang mendatangkan pertemanan dan mengenal Tuhan.

“Silek tuh untuak mancari kawan jo mancari Tuhan. Indak kalah manang nan jadi ukuran.”

****

Film surau dan silek adalah salah satu film yang sempat mampu ‘menghantui’ pikiran saya usai menontonnya. Film ini bukanlah film yang bertema Laga. Tapi sebuah film drama anak-anak yang ringan, sederhana dan penuh makna. Ibarat makanan khas Minang, ia seperti kerupuk balado.

IMG_9781

Kehadiran Praz Teguh, sebagai teman Rustam cukup mengelitik dengan bahasa minangnya yang kental. Ya, hampir 90 persen film ini mengunakan bahasa minang — tenang bagi tak paham ada subtittlenya lho!

‘Jualan’ dari sponsor pada film ini pun terlihat sangat soft — Kehadiran hotel Ananda yang sekilas dilihatkan dan snack merk Ananda pada saat Gaek masuk rumah sakit hanya beberapa detik tak banyak. Tetap fokus pada cerita.

Berikut ada beberapa poin kesimpulan berdasarkan pandangan pribadi saya dari film yang disutradarai oleh Sineas Muda asal Minangkabau, Arief Malinmudo.

Film anak-anak yang sarat akan moral agama 

Bagi saya film Surau dan Silek tak hanya berkisah tentang persahabatan tapi juga hubungan nan renyah antara mereka bertiga, Adil, Kurip dan Akbar ; penuh tawa. Mengajarkan ketulusan khas anak-anak dan bagaimana saling mengatasi perasaan dendam — mengabaikan emosi masing-masing.

IMG_9896

Kondisi Adil sebagai anak yatim, juga kembali mengingat pada ajaran nilai agama mengenai tiga perkara ; Sedekah Jariah, ilmu yang bermanfaat dan do’a anak yang sholeh. Pesan ibunya yang selalu mengingatkan Adil tentang sang Abak (ayah) yang menyadarkan pentingnya menjadi pribadi yang sholeh agar Abaknya tenang di alam kubur.

Pun pada nilai-nilai kecurangan yang dilakukan Hardi pada akhirnya akan terkalahkan dengan sendirinya.

Menjaga kearifan lokal

Sebagai pemuda yang lahir dan besar di ranah Minangkabau tentu Arif paham mengenai tentang peran Surau bagi orang minangkabau. Bagi saya film ini mengingatkan saya kembali pada arti Minangkabau dalam diri saya yang mulai perlahan mengikis.

SURAU DAN SILEK

Bagi pemuda Minangkabau dulunya surau tak ubahnya basecamp dimana bisa mempelajari banyak hal termasuk silek. Maka itulah sebab dulunya di rumah gadang tak ada kamar untuk kaum pemuda.

Arif memberi kejutan yang menarik dari film Surau dan Silek, bukan memperlihatkan bagaimana budaya Minang tempo dulu. Tapi, lebih pada menyadari keberadaan surau dalam kehidupan budaya Minangkabau; tentang filosofi silek yang tak lepas dari nilai-nilai agama.

Ya, sebagai orang minang yang memegang falsafah hidup : ” Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah” terlihat jelas dalam film ini — meskipun dalam alur cerita tidak menyingung hal ini.  Dan, perlu digarisbawahi walaupun mengandung unsur agama, film ini general bukan tentang agama. Sangat pas ditonton bersama keluarga dan sahabat.

Media promosi bagi pariwisata Minangkabau

Film surau dan silek adalah film kedua yang saya nonton setelah Denias :Senandung di atas awam yang mampu memanjakan mata saya dengan keindahan alam ibu pertiwi. Mengambil lokasi di daerah Bukittinggi, salah satu kota wisata di Sumatera Barat film ini menyuguhi alam yang membuat saya terpukau.

18159885_10212159979176018_1613034098_o
salah satu scene yang terdapat di film Surau dan Silek.

Bagi saya film merupakan media efektif dalam mempengaruhi setiap individu. Meskipun tidak bertujuan untuk “jualan” mengenai pariwisata Minangkabau, drama anak-anak ini membuat kita penasaran ingin mengunjungi daerah tersebut. Ya, setidaknya mengagumi keindahan alam Minangkabau yang tak terbantahkan. (eka hei)

Surau _ Silek promo