Menikmati Pagi di Pantai Muaro Penjalinan, Padang

“Bahagia itu bisa beraktivitas pagi di pantai,” begitu Eda ( kembaran saya) berujar kala saya menghempaskan tubuh disisinya. Turut menikmati suara debur ombak. Pagi itu, cuaca cukup bersahabat meskipun gulungan ombak cukup besar.

20190627_063951
Kala Eda Mengabadikan momen pagi di pantai

Saya bukanlah orang yang terbiasa beraktivitas di pagi hari. Sebagai penderita insomnia, pagi kerap saya lalui dengan tertidur kecuali ketika sedang liburan di suatu tempat. ” Gimana mau bangun rumah tangga, bangun pagi aja susah!” begitu kerap saya berkelakar setiap orang-orang terlalu peduli mempertanyakan, kenapa saya belum nikah-nikah juga.

” Udah ada ayunan sama pondok,” begitu Eda mengajak untuk ke pantai Muaro Penjalinan pagi itu. Sebuah pantai yang tak jauh dari rumah. Hanya sekali naik angkot atau dua puluh menit berjalan kaki. Entah karena ingin melakukan suatu perubahan beralih ke penikmat pagi, saya pun menyambut ajakan Eda.

Muaro Penjalinan bukanlah sebuah pantai tujuan destinasi wisata favorit. Beberapa meter dari pantai tersebut, terdapat pantai Pasir Jambak yang akhir-akhir ini dijadikan sebagai tempat wisata. Sayangnya, saya belum pernah ke pantai pasir Jambak tersebut sejak empat belas tahun lalu kala mengunjungi rumah seorang teman.

Tak ada yang istimewa dari Muaro Penjalinan kecuali pemandangan laut lepas dan kapal nelayan yang sesekali berlayar. Tapi, tempat ini salah satu tempat favorit mengawali aktivitas pagi sekedar menelusuri pesisir pantai atau berlari di pinggir kanal dan melepas pandangan dengan bersantai di atas bebatuan besar.

20190627_063534

Eda benar, sudah ada ayunan dan pondok kayu yang bisa dinikmati untuk bersantai ataupun mengabadikan momen lewati bidikan kamera. Lumayan untuk dokumentasi di sosial media dengan caption galau -galauan.

Bagaimana menikmati pagi di pantai?

Eda membuat pilihan ke saya, apa yang lebih menyenangkan berada di pantai. Kala menikmati pagi atau menyaksikan matahari tenggelam. “Jadi Eka tim mana ; pagi atau sore? “

Tak ada jawaban yang saya lontarkan atas pertanyaan tersebut. Laut bagi saya tak ubahnya suatu tempat yang bisa membekukan ingatan tentang kelelahan.  Memberi sensasi yang menyenangkan, meskipun terkadang kekesalan melihat sampah-sampah yang berserakan akibat ulah kita ; manusia.

Muaro Penjalinan, Tabing, Padang

Muaro Penjalinan sebenarnya sebuah tempat perlabuhan aliran sungai penjalinan dengan air laut, dan pesisir pantainya yang dikenal dengan nama pantai Ujung Batu. Namun bagi orang lokal, tempat ini sudah melekat dengan nama ; muaro penjalinan.

Bagi saya, pantai ini cukup ramah di kantong alias tak perlu bayaran untuk bisa menikmati deburan suara ombak, dan aktivitas manusia lainnya seperti ; olahraga dan surfing. Cuma butuh ongkos angkot dari rumah dan kesehatan badan yang baik.

Jika beruntung adalah menemui pemandangan pagi di pesisir pantai kala melihat nelayan berlabuh dan sementara anak istri mereka sudah menunggu di pinggir pantai. Menyambut dengan senyum bahagia.

resize.JPG
Pada suatu ketika, dalam perjalanan menjemput rejeki ( foto : Yulma, adik bungsu saya)

Sungguh bagi saya itu pemandangan yang bikin haru dan berkesan.

Kala menjelang sore, aktivitas di Muaro Penjalinan biasanya dihiasi oleh  olahraga , mancing dan berjalan santai di pesisir pantai. Oh ya tempat ini juga dijadikan area bagi pencinta papan seluncur atau surfing.

Untuk menuju tempat ini, bisa menggunakan aplikasi transportasi online atau menggunakan angkot tujuan Tabing (putih) dan Lubuk Buaya (orange) dari arah pasar raya Padang. Cukup bilang, “Muaro Penjalinan,” ke bapak sopirnya. Kemudian berjalananlah menuju pantai dengan langkah santai

Kembali ke pertanyaan soal pantai ; Kamu Tim Pagi atau Sore?

— Bagi saya tak masalah soal pagi atau pun sore, karena pantai selalu memberi kesan yang berbeda. Asal jangan menikmati kala siang hari ditengah cuaca Padang yang cukup panas.

Muaro Penjalinan / Pantai Ujung Batu

Tabing, Pasia Nan Tigo, Kec, Koto Tangah, Padang 25171

Rank ala eka : 6/10

Mengukir Cerita Bahagia Naik KA Bandara Minangkabau, Padang Pariaman

Bagi saya, bandara bukan sekedar tempat dimana terjadinya keberangkatan dan kedatangan serta ragam perpisahan dan pertemuan. Tapi, ia mencuatkan keinginkan untuk melangkah lebih jauh ; melakukan perjalanan.

43565428_1751099858333888_3296082499951656960_n
Bandara Internasional Minangkabau (BIM), Ketaping, Padang Pariaman

Dan … transportasi kereta adalah membekukan segala cerita perjalanan tersebut. Yup, bagi saya ada romansa tersendiri kala mengunakan kereta api. Romantisme kehidupan saat mata melepas pandangan ke luar jendela dan menikmati deru suara nan tenang. Alasan tersebut menjadikan kereta sebagai transportasi favorit saya dalam menikmati setiap perjalanan.

Kehadiran KA Ekspress Bandara Minangkabau (BIM) awal Mei lalu adalah jawaban dari kebahagiaan saya sebagai pengemar transportasi tersebut. Membayangkan rangkaian romantisme perjalanan dari kereta, menelusuri koridor Skybridge, kemudian bandara dan hijrah ke pesawat.

Rasanya menyenangkan, bukan?

43554493_732568217081896_2013864900434067456_n
Koridor jembatan penghubung antara stasiun dengan BIM

Rekreaksi Menyenangkan Dengan KA Ekspress Bandara Internasional Minangkabau (BIM)

Untuk mengatasi rasa malas beraktivitas, Di suatu Minggu pagi nan cerah saya berinisiatif melakukan perjalanan menggunakan kereta api. Inginnya sih naik kereta ke Pariaman sekedar berburu lontong gulai tunjang di Kuraitaji yang terkenal dari cerita orang selama ini menghampiri saya.

kereta bim 2
Stasiun BIM KA Ekspress

Sayangnya, seperti biasa tiket kereta ke Pariaman sudah sold out. Akhirnya saya memutuskan iseng naik kereta ke bandara. Sebelumnya, saya pernah menaiki KA Ekspress BIM kala ikut mengantar seorang teman ke Bandara. Namun, kali ini tentu berbeda.

Tak ada tujuan yang pasti. Kecuali berburu roti boy yang ada outletnya di Bandara.

Saya tak sendiri, meskipun terbilang sepi, beberapa penumpang yang saya temui di kereta ternyata bertujuan untuk mencari pengalaman baru bagaimana nikmatnya naik kereta. Satu keluarga besar yang terdiri dari kakek, nenek, ayah, ibu serta om dan tante plus anak -anak kecil dengan logat Melayu Jambi saling mengungkapkan kegembiraan satu sama lain.

Kereta bim 1
Suasana di dalam KA Ekspress yang didominasi warna hijau

 

Sang kakek dengan sabar menjawab pertanyaan sang cucu kala kereta melintas dengan tenang. Sementara para ibuk dan bapak riuh berbagi cerita mengenai pengalaman mereka pernah menaiki ragam transportasi kereta di luar kota Padang.

Menguping pembicaraan mereka, saya melempar pandangan lepas ke luar Jendela. Beberapa pemandangan hijau nan asri dapat kita temui. Sesuatu yang mulai jarang terlihat akhir-akhir ini.

Dan, celetukan khas anak kecil pun kerap terdengar dengan sang kakek serta sesekali si nenek ikut nibrung.

 

pemandangan yang cukup menenangkan bagi saya. Adem.

43460501_1485445831556829_1447365293981564928_n(1)
Suatu pagi yang menenangkan di Bandara. Menyaksi pesawat lepas landas dari balik pagar

Saya kira mereka hendak melakukan perjalanan dengan pesawat atau menjemput salah satu anggota keluarga. Ternyata tidak. Ketika roti Boy sudah di tangan, dan menikmati suasana teras bandara, saya kembali ke Skybridge berjalan menuju ruang tunggu kereta. Mereka pun menelusuri jalan yang sama dengan saya.

Kami pun menanti jadwal keberangkatan kereta menuju kembali ke Kota Padang.

kereta bim 3
Ruang tunggu stasiun BIM

Diam – diam saya menikmati kebahagiaan keluarga besar dari luar kota tersebut. Sebuah rekreaksi keluarga yang menyenangkan. Bermodal tiket 10.000,- per orang mereka menemui pengalaman baru nan mewah ( tentu dari kebahagiaan lho menurut saya). Dari balik pagar tinggi, mereka juga sempat menikmati menonton laju pesawat yang lepas landas. Memberi pengetahuan dan informasi bagi anak kecil yang ikut serta dengan mereka.

Dan, lagi -lagi saya teringat sebuah kalimat kala mengamati kebahagiaan keluarga tersebut : “Bahagia itu sungguh sederhana. Dengan menciptakan hal -hal sederhana, hati ini pun terasa bahagia,”

 

Nyamannya KA Ekspress Bandara Internasional Minangkabau

Diresmikan oleh presiden Jokowi, desain KA Ekspress BIM di dominasi warna hijau nan rapi dan menyenangkan pandangan mata. Saat memasuki kereta sejenak saya teringat pada AREX ( Airport Railroad Express) nya Korea karena adanya ketersediaan peletakan koper / tas (meskipun tak seluas di AREX).

kereta BIM
Saat memasuki kereta, disisi pintu masuk terdapat tempat bagasi

Hawa sejuk khas AC ( air conditioner) menyapa tubuh saya . Tak ada penentuan kursi dimana harus duduk. Kita dapat memilih sesuai keinginan … mungkin karena baru kali ya, jadi kereta ini lumayan sepi. Saya tidak menyiakan kesempatan untuk duduk di dekat jendela.

Meskipun kursinya agak keras, namun tidak mengurangi kenyamanan. Antara jarak kaki pun dengan bangku depan lumayan luas. Dan, ini sungguh menguntungkan bagi mereka yang memiliki tubuh yang tumbuh ke atas ( baca ; tinggi).

43429615_735879796750940_6551022567577092096_n
ketersediaan colokan listrik salah satu fasilitas yang menyenangkan di KA Ekspress BIM

Apa yang menyenangkan bagi kaum milineal seperti saya ? bukan WIFI , maklum saya lagi tajirr kuota. Tak lain adalah ketersediaan colokan listriknya yang berguna untuk men-charger smartphone saya yang boros baterai, sementara saya butuh buat update cerita plus futu – futu cantik. Oh, ya satu lagi kebersihan kereta terjaga dengan baik.

****

 

kereta bim 4
Loket informasi dan pembelian tiket di Stasiun BIM

 

Menempuh perjalanan tidak sampai 30 menit dari stasiun Tabing menuju Bandara Internasional Minangkabau (BIM). Saya menikmati atmosfer pagi yang menyenangkan menelusuri koridor Skybridge Stasiun BIM.

Sebagai tambahan informasi KA Ekspress BIM ini melewati 4 stasiun utama, yaitu ; Stasiun Padang ( Simpang Haru), Tabing, Duku, dan BIM dengan tarif Rp 10.000,- sekali jalan. Bagi saya ini cukup murah, aman dan nyaman dibandingkan transportasi lainnya. Tentu hal ini merupakan kebahagiaan sederhana bagi kebutuhan traveller receh seperti saya. (Ekahei)

jaadwal kereta
TIPS : Untuk merasakan pengalaman menaiki KA Ekspress atau ingin menggunakan transportasi ini, cari tahu jadwal keberangkatan biar tidak menunggu terlalu lama di Bandara

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sepotong Cerita Lelah Menjumpai Kesegaran Nyarai, Lubuk Alung, Sumatera Barat

Traveling shows you a different world and offers different experiences. hearing about a place can’t ever compare to experiencing it yourself

keindahan nyarai
Keindahan Air Terjun Nyarai, Lubuk ALung, Padang Pariaman, Sumatera Barat

Yulma, adik saya, tampak ragu melangkah tatkala melihat sebatang pohon besar yang melintang sebagai jembatan untuk menuju seberang. Ada kecemasan di raut mukanya, sementara disisi kanan kami sudah terlihat keindahan air terjun. Dengan keraguan kami pun hati-hati melangkah berusaha menjaga keseimbangan. Perlahan dan tenang hingga bisa mengistirahatkan badan seraya melempar pandangan ke nyarai ; air terjun.

Terletak di dalam hutan lindung Gumaran, Lubuak Alung, Sumatera Barat, sebuah air terjun setinggi delapan meter mengoda mata, pikiran dan hati untuk segera melompat berenang dan merasakan sensasi air kehijauan nan jernih. Selain itu, terdapat sebuah kolam yang terbentuk secara alami di bawah air terjun tersebut.

menyeberang melalui sebatang kayu besar
Suasana di Nyarai nan tenang dan damai serta menyegarkan tentunya 🙂

Perpaduan pepohonan hijau nan lebat, batu-batuan berukuran besar mendukung keteduhan nan damai adalah jawaban dari kesegaran yang terbantahkan dari Nyarai. Namun, bagi saya yang kerap terjebak pada liburan yang berhubungan dengan laut dan perkotaan, menarik adalah proses perjalanan nan melelahkan untuk menemui kesegaran tersebut.

Meskipun saya cukup kuat untuk berjalan, Trekking adalah sesuatu yang melelahkan sekalipun mengoda untuk dilakukan. Menikmati tantangan menelusuri jalanan berlika – liku menembus hutan. Setidaknya itulah yang harus dilakukan untuk menemui oase keindahan yang ditawarkan Nyarai.

NYARAI2
Salah satu jalur yang harus ditempuh dalam perjalanan menjumpai kesegaran Nyarai

Menempuh kurang lebih setengah jam dari jalan utama Lubuk Alung, sebuah kampung nan tenang serta kehidupan yang terlihat santai menyambut kami. Ada begitu banyak plang petunjuk arah yang memudarkan kekhawatiran akan tersesat saat itu. Motor kami tetap melaju dengan kecepatan sedang menikmati ketenangan tersebut ; damai.

Perjalanan pun belum jua usai saat motor kami terparkir di sebuah lapangan dan sebuah posko awal terlihat di sana. Membayar tiket masuk Rp 20.000 per orang, seorang guide yang dibekali kotak P3K akan menemani perjalanan melintasi hutan Gumaran untuk berjumpa dengan kesegaran nyarai.

Melewati jalan setapak menaiki bukit, menuruni lembah, menyusuri tepian sungai hingga berjalan dibawah pepohonan yang membentuk lorong-lorong. Sensasi alam inilah yang justru menarik minat banyak pengunjung yang datang.

Dibutuhkan waktu sekitar dua jam melintasi hutan dan menyeberangi sungai untuk sampai tujuan. Selama dalam perjalanan, ada beberapa spot menarik salah satunya goa kecil dan makam ( yang konon katanya merupakan makam pahlawan PDRI). Perjalanan panjang tersebut tidak begitu terasa berat. Sebab di beberapa titik terdapat pondokan warung sekedar melepaskan penat dan mengisi perut yang lapar dengan cemilan khas Indonesia: gorengan bakwan, pisang dan tahu.

NYARAI1
Melintasin aliran sungai merupakan sensasi alam yang tak terlupakan sebagai kenangan yang menyenangkan

Pemandangan menakjubkan Air Terjun Nyarai pun menguap rasa lelah saya usai melintasi hutan lindung tersebut. Sebatang pohon besar terbentang berfungsi sebagai jembatan menuju seberang. — yang membuat Yulma ragu untuk melangkah.

Di tempat ini juga terdapat warung kayu yang menjual aneka makanan. Jadi tak perlu membebani diri dengan barang bawaan beraneka makanan dari rumah, kecuali memang berniat membawa kembali sampah makananmu pulang.

Karena tidak bisa berenang, saya pun memilih untuk melipir ke sungai nan tenang yang dipenuhi bebatuan tak jauh dari air terjun. Sekedar merasakan kesejukan air yang menyegarkan. Menikmati udara alam yang mendamaikan hati. Melepas penat setelah terkungkung dengan kesibukan rutinitas yang melelahkan.

Menikmati Air Terjun Nyarai sebaiknya dilakukan ketika musim panas. Sebab jika musim hujan debit air terlalu besar dan airnya terlihat keruh. Tentu soal keamanan mengingat kebecekan dan licinnya jalanan sepanjang menelusuri hutan.

Untuk Menuju Nyarai kita harus wajib di dampingi pemandu lokal
Untuk menuju Nyarai harus ditemani oleh pemandu lokal agar tidak tersesat 🙂

Tempat ini menjadi alternatif bagi mereka sekedar melepaskan kebosanan aktivitas perkotaan seperti saya. Bisa dikatakan surga tersembunyi di balik tenangnya Hutan Gumaran.

Oh, ya perlu diingat meskipun tiket masuk per-orang, namun perjalanan ini disarankan bergroup minimal 10 orang. Karena pembayaran tetap dilakukan untuk 10 orang sekalipun jumlah orangnya bertiga ataupun berlima. Tapi, tenang … bisa gabung dengan group lain. Menambah teman baru sekaligus sebagai teman memecah kesunyian saat melintasi hutan.

 

Catatan : Cerita yang sama pernah saya tulis di detik travel Community