Sebuah Perjalanan Sunyi Menuju Rumahmu, Tan Malaka

“Benar ini rumahnya?”

Saya membalikkan badan memasang ekspresi setengah tak percaya. Tukang ojek yang mengantar dari pasar Libonang, Suliki, Payakumbuh ke tempat ini hanya  mengangguk. Ia berlalu begitu saja –entah kemana—, membiarkan saya terpaku pada pemandangan di depan. Meninggalkan saya seorang diri.

13072060_10206167763621283_95662344_o
Selamat datang di rumah masa kecil Tan Malaka ( foto by yura

Sebuah bangunan khas rumah adat Minangkabau terlihat usang dan tak terawat. Kesan rapuh melekat pada bangunan yang beratap 5 gonjong terbuat dari seng. Perlahan saya melangkahkan kaki menuju anak tangga dan membuka pintu rumah. Derik suara dari sela-sela lantai kayu membuat hati berdesir kaget. Gamang saya melangkah.

Sebuah nama : Tan Malaka

“Ia Tan Malaka, orang pertama yang menulis konsep Republik Indonesia… tapi hidupnya berakhir tragis diujung senapan tentara republik didirikannya.” – Tan Malaka

Adalah Sutan Ibrahim Gelar Datuk Malaka atau lebih dikenal dengan sebutan Tan Malaka, seorang anak bangsa yang terkenal dengan pemikiran radikalnya tentang pergerakan kemerdekaan Indonesia dan turut berperan dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Ketidaktahuan dan keinginan untuk lebih mengenal sosok Tan Malaka menjadi alasan yang membawa saya berani menempuh perjalanan hampir empat jam dari kota Padang ke daerah yang belum pernah saya jelajahi sebelumnya. Untuk mencapai lokasi ini, dari kota Padang kita bisa menggunakan travel minibus tujuan Suliki. Kemudian dilanjutkan dengan menggunakan jasa ojek. Cukup mengatakan :‘’Ke rumah Tan Malaka.”

IMG00766-20130127-1311
Menelusuri jejak sunyi sang konseptor Republik Negeri ini

Perjalanan tak lebih dari lima belas menit dengan menggunakan kendaraan bermotor akan mengantarmu menemui ‘Tan Malaka’. Nama pemuda kelahiran Nagari Pandan Gadang, Suliki, Payakumbuh 02 Juni 1897 ini memang tak sepopuler bapak Proklamasi Indonesia, Soekarno, namun sesungguhnya ia adalah konseptor lahirnya Republik Indonesia.

Pahlawan Tanpa Cerita

“Bangunkanlah semangat menyerang buat meruntuhkan yang lama-usang-dan mendirikan masyarakat yang baru-kokoh-kuat.” –Tan Malaka, Madilog

Mata saya mengitari isi rumah gadang yang memiliki ruangan lepas begitu saja. Tak banyak perkakas kecuali beberapa meja yang tampak rapuh. Sebuah foto Tan Malaka terpajang. Kaki saya melangkah lebih jauh. Di sebuah dinding terdapat ranji. Ranji adalah istilah Minangkabau untuk mengungkapkan silsilah keluarga.

13091553_10206167760461204_843015888_o
Salah satu perkakas yang ada di dalam ruangan, musik Talempong ; musik tradisional Minangkabau ( foto : by : yura)

 Foto yang terpajang tidak terlalu banyak dan diantaranya terselip photo Tan bersama Soekarno. Pikiran saya mencoba menerka cerita yang pernah terjadi semasa hidup beliau. Sebuah cerita yang tak pernah saya temui saat belajar sejarah di bangku sekolah dulu. Namanya pun tak pernah ada di buku sejarah tersebut.

Kosong.

Menguak kisah pilu

“Selama toko buku ada, selama itu pustaka bisa dibentuk kembali. Kalau perlu dan memang perlu, pakaian dan makanan dikurangi.” Tan Malaka – Madilog

Adalah Hari Poeze, sejarawan asal Belanda yang menulis secara rinci tentang perjalanan Tan Malaka dalam lima jilid buku berjudul “ Tan Malaka, Gerakan kiri dan Revolusi Indonesia”.  Menurut Poeze, sosok Tan belum banyak diungkapkan secara luas mengenai perjalanan dalam masa revolusi kemerdekaan Indonesia.

Kaki saya terhenti disebuah lemari kaca. Beberapa buku pemikiran Tan Malaka terpajang rapi. Saya teringat pada satu bagian di bukunya yang berjudul Madilog. Ketika dalam masa pelariannya, ia sempat mengisahkan membuang lembaran bukunya ke tengan laut.

13052610_10206167755021068_719686295_o
Koleksi buku di museum Tan Malaka ( foto by : yura)

Banyak rintangan yang dihadapi pendiri partai Musyawarah Rakyat Banyak (Murba) ini ketika turut serta memperjuangan kemerdekaan Indonesia. Hidupnya tak lepas dari pelarian, pembuangan dan pengusiran dari ibu pertiwi. Tan bahkan dituduh sebagai dalang dibalik penculikan Sutan Sjahrir pada Juni 1946.

Pada saat kemederkaan 1945, Tan berperan penting mendorong para pemuda yang bekerja di bawah tanah masa pendudukan Jepang untuk mencetus “Revolusi. Baginya seratus persen adalah merdeka.” Sayangnya, ia terbunuh di Kediri pada Februari 1949.

Oleh Soekarno Tan Malaka ditetapkan sebagai pahlawan Nasional melalui ketetapan presiden RI no 53 tanggal 23 Maret 1963. Sangat disayang, namanya menghilang dari catatan buku sejarah –entah karena sebab apa. Tak heran nama Tan Malaka tak sepopuler Bung Hatta.

Saksi Bisu Nama Itu Tetap Ada 

“Ingatlah! Bahwa dari dalam kubur, suara saya akan lebih keras daripada dari atas bumi.”—Tan Malaka

Kaki saya melangkah menghampir sebuah meja yang berada di pintu masuk. Terabaikan begitu saja oleh mata saya saat memasuki rumah ini beberapa menit lalu. Sebuah buku besar polio terbentang di atasnya. Buku yang digunakan sebagai buku tamu. Tangan saya meraba kertas buku berdebu.

Mata saya menangkap nama-nama yang berseliweran di atas kertas yang mulai tampak  kusam. Jejak nama yang tertinggal tercatat ada yang perorangan maupun komunitas yang berasal dari daerah yang jauh seperti Jakarta, Salatiga, maupun Malaysia. Bahkan ada yang dari Belanda. Menandakan betapa seorang Tan Malaka Berhasil membuat mereka mau melangkahkan jauh demi rasa penasaran tempat yang pernah membesarkan bapak republik negeri ini.

Ragam tulisan tangan mengutip kalimat-kalimat inspirasi Tan Malaka menghiasi kesan mereka. Tan membuktikan kalimatnya, orang-orang mencari ‘keberadaan’nya lewat rumah ini. Ada kerinduan terdalam dari tulisan yang tertinggal tentang sosok yang hingga akhir hayatnya berteman dengan sepi.

Sebuah Harapan pada Rumah Tan Malaka

“Belajarlah dari Barat, tapi jangan jadi peniru Barat, melainkan jadilah murid dari Timur yang cerdas” – Tan Malaka

Seperti apa masa kecil yang dilalui Tan Malaka di rumah gadang ini? Maka tak ada gambaran jelas dibenak saya ketika menelusuri setiap jejak yang tertinggal di rumah tua ini. Di resmikan pada 21 Februari 2008 sebagai museum Tan Malaka oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata saat itu, tak ada dampak berarti. Maka lupakan khayalan saya tentang quote-quote Tan Malaka yang mengetarkan dada tersebut terpaut di dinding rumah.

rumah-tan-malaka-3
Sisis belakang keadaan bangunan rumah Tan Malaka sekaligus dijadikan Museum

Seperti sosok Tan Malaka yang terabaikan begitu saja, bangunan tua yang di bangun 1936 beratapan seng dan sebagian dinding dengan anyaman bambu serta dipadu oleh kayu bernasib sama dengan dirinya. Bagi saya tak ubahnya tampak seperti orang tua yang diabaikan oleh anaknya seorang diri. Menikmati kesunyian masa tua ditengah alam Payakumbuh nan indah.

            Saya menarik napas dalam-dalam. Kurang lebih setengah jam menelusuri tiap sudut rumah tua, kaki saya memilih langkah keluar. Melepas pandangan ke alam Payakumbuh. Semilir angin menyapa saya, mengakhiri perjalanan ini. Tapi, tidak untuk kerinduan yang mendalam terhadap bapak konseptor republik ini. (ekahei)

**** tulisan ini pernah diterbitkan di Phinemo

 

 

 

 

Menelusuri Jejak Yang Terabaikan Melalui Rumah Tua

Saya tidak mengenal Tan Malaka sebaik para pencinta sejarah, tidak semengerti para peneliti yang menelusuri jejak-jejak sejarah beliau. Dan, sebuah nama yang tidak saya temui dalam buku sejarah semasa sekolah dulu. Tapi, saya tahu bahwa Tan Malaka adalah  konseptor lahirnya Republik Negeri ini.

Ketidaktahuan dan keinginan untuk lebih mengenal sosok Tan Malaka menjadi alasan yang membawa saya berani menempuh perjalanan hampir empat jam dari kota Padang ke daerah yang belum pernah saya jelajahi sebelumnya, tepatnya ke Nagari Pandam Gadang, Payakumbuh. Untuk mencapai lokasi ini, dari kota Padang kita bisa menggunakan travel tujuan suliki dan berhenti di simpang tugu suliki. Kemudian dilanjutkan dengan ojek tinggal bilang ‘’Rumah Tan Malaka.”

****

Image
Suatu hari di Minggu Siang (27/01), Rumah masa kecil Tan Malaka, Pandam Gadang, Sumatra Barat.

Minggu Siang (27/01), Langkah kaki saya tiba-tiba terhenti tepat di belakang sebuah rumah gadang tua yang terlihat rapuh dan tak terurus. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu yang terlihat lusuh.  Saya menatap ragu dengan segala tanya menghiasi benak saya.

Benar ini rumah Tan Malaka?

Sejujurnya bagi saya tak ada yang menarik dari rumah gadang tua ini kecuali unsur Tan Malaka yang akhirnya membawa langkah kaki saya ke tempat ini. Rumah tua yang merupakan tempat dimana Tan Malaka menghabiskan masa kecil. Dan sejak 21 Februari 2008 bangunan tua ini diresmikan menjadi museum Tan Malaka oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata.

Kembali saya melangkahkan kaki, menuju depan rumah gadang tersebut. Pemandangan masih menyisa kalau bangunan ini tak ubahnya bangunan tua yang terabaikan. Perlahan kaki saya melangkah menaiki anak tangga.

Ada rasa takut ketika kaki memasuki rumah ini. Bukan karena sunyi yang menyelimuti tempat ini, tapi lebih kepada suara berderik dari sela-sela lantai kayu saat kaki melangkah. Bayangan adegan kaki Ringgo yang terjebak diantara papan yang rapuh dalam film tanah surga menghantui saya.

Saya menarik napas. Melepaskan sepatu dan hati-hati menelusuri tiap sudut ruangan berdebu. Mata saya terpaku pada koleksi buku mengenai Tan Malaka yang di tempatkan dalam bangunan kaca. Selain koleksi buku mengenai pemikiran Tan Malaka, beberapa foto Tan Malaka terpajang termasuk saat bersama Ir.Soekarno. Tak banyak foto Tan Malaka yang terpajang. Saya memperkirakan tak lebih dari lima belas foto.

Image
Di belakang koleksi buku, terpajang ranji Tan Malaka. Ranji adalah silsilah keluarga.

Kaki saya melangkah ke samping ruangan. Sebuah foto besar Tan Malaka dan di sudutnya terdapat tempat tidur. Saya kembali melangkah. Mengamati tiap sudut ruangan. Ada sebuah meja yang menarik perhatian saya di pintu masuk –yang terlewatkan begitu saja ketika saya memasuki ruangan ini–.

Dua buah buku tamu. Saya menelusuri tiap lembar kertas yang terdapat dari buku tamu tersebut. Sudah berapa banyak orang yang datang dari berbagai profesi, latar pendidikan yang berbeda, daerah yang berbeda bahkan dari Negara luar. Satu kesimpulan yang sama, mereka berharap rumah ini dijaga dan di rawat. Sayangnya, hasil dari bincang-bincang saya dengan tukang ojek yang mengantar saya ke tempat ini kendala dana dan perhatian dari pemerintah menjadi faktor tempat ini tak terawat.

Seperti sosok Tan Malaka yang terabaikan begitu saja, bangunan tua yang di bangun tahun 1936 beratapan seng dan sebagian dinding dengan anyaman bambu dan dipadu oleh kayu bernasib sama dengan dirinya. Tak ubahnya tampak seperti orang tua yang diabaikan oleh anaknya seorang diri.

Image
Kembali belajar dari sosok Tan Malaka, bapak yang terabaikan.

**** Padang, 28 Januari 2013. Sudut restoran cepat saji di kawasan Ahmad Yani.