Thailand

Ao Nang Beach : Ketenangan di Pesisir Thailand Selatan

Namanya tak sepopuler pantai Patong yang ada di Phuket, pun jarang hadir ditengah hiruk pikuk obrolan ketika merencanakan liburan di daerah Thailand Selatan. Namun, pantai ini mampu mengukir kenangan yang tak terabaikan baik oleh hati maupun pikiran. Ketenangannya yang membuat hati jatuh berkali-kali pada rasa nyaman.

image (1)

Menikmati Sore di tepi pantai Aonang

Setidaknya perasaan itu yang saya rasakan ketika memutuskan kaki melangkah menelusuri pantai Ao Nang seorang diri sekedar menikmati sore menjelang senja. Sesekali kaki saya terhenti sekedar mengamati beberapa wisatawan asyik duduk menikmati deburan ombak. Ada yang sibuk mengabadikan moment lewat bidikan kamera dengan pemandangan laut lepas. Ada yang sekedar duduk santai di atas pasir nan bersih dari sampah dan ada juga sekedar mengukir kata di atas pasir pantai lalu difoto kemudian dihapus lagi tulisan pasir tersebut dengan kaki.

 

Ao Nang Beach memiliki garis pantai sepanjang dua puluh kilometer dari kota Krabi. Menempuh perjalanan hampir satu jam dari Krabi dengan menggunakan angkutan umum saya disuguhi pemandangan keindahan batu-batu yang menjulang tinggi dan terselip warna hijau tumbuhan di tebing batu tersebut.

Menikmati Ketenangan Ao Nang Beach
Ada yang bilang, perjalanan yang berkesan, bukan kemana tujuan kita tapi dengan siapa kita melakukan perjalanan. Tapi bagi saya yang kerap terjebak perjalanan solo, berkesan itu menikmati proses perjalanan itu sendiri.

aonang beach

Menyaksikan kebahagiaan turis India menikmati debur ombak Aonang Beach

Ao Nang tidak seramai pantai Patong di Phuket — dan mungkin menjadi alasan tempat ini kurang populer. Suasananya yang masih terbilang sepi cocok bagi kamu sekedar melepaskan rasa lelah beraktivitas kerja selama ini. Ya, itulah yang saya rasakan ketika berada di tempat ini.

Saya menemukan pemandangan yang menyenangkan ketika keluarga India membentangi tikar dan duduk di atasnya sambil menikmati cemilan. Tak ada percakapan berarti diantara mereka selain melepas pandang ke arah pantai. Pun begitu dengan sang anak. Tak ada kehebohan selain menikmati angin pantai.

(lebih…)

5 Hal Seru Yang Bisa Kamu Lakukan di Bangkok Ketika Ketersediaan Baht Terbatas

One’s destination is never a place, But a new way of seeing things — Henry Miller

Thailand salah satu negara populer tujuan backpacker Internasional. Memiliki daya tarik budaya, keindahan alam dan keunikan kuliner menjadi alasan negara ini banyak dikunjungi wisatawan asing. Selain itu, tentu saja akomodasi yang dinilai murah menjadi nilai plus bagi negara gajah putih ini. Hal ini juga berlaku bagi Bangkok, sebagai ibukota dari negara tersebut.

Alasan ini juga membuat saya memilih Thailand sebagai perjalanan solo traveller pertama saya ke luar negeri awal September 2015 lalu. Sempat terlena dengan wisata bahari yang ditawarkan di Aonang Beach, Krabi membuat budget perjalanan saya ke Thailand diluar kendali. Sementara penerbangan kembali ke tanah air melalui Bangkok — dan rasanya kurang afdol tak melakukan city tour di kota ini.

Maka jalan terbaik adalah lupakan sejenak Maddam Tussaud dan Grand Palace yang menjadi ikon Bangkok. Berikut ada lima hal yang tak kalah seru bisa lakukan tanpa menghilangkan esensi liburan yang tetap meninggalkan kesan menyenangkan :

1. Menikmati Pagi di Santichai Prakarn

Saya memilih menginap di daerah Khaosan Road, kawasan terkenal backpacker dunia berkumpul. Di kawasan ini kamu bisa menyaksikan ragam traveller antar negara dan streetfood khas Thailand yang mengugah rasa. Tapi lupakan sejenak tentang dua hal itu termasuk mengurungkan niat untuk berbelanja oleh-oleh.

Keluarlah di subuh hari, berjalan kaki menikmati pagi yang segar menyusuri jalanan Khaosan Road yang lengang menuju Santichai Prakarn. Santichai Prakarn adalah sebuah taman yang tidak terlalu luas tapi bersih. Saya menikmati pagi yang indah di sungai Chao Praya sambil melihat oma-oma yang melakukan Taichi.

photo 1

jam operasional Santichai Park

2. Menyaksikan kota Bangkok dari Wat Arun Temple

Rasanya ada yang kurang belum menyinggahi kuil saat mengunjungi kota Bangkok, sementara untuk memasuki Grand Palace persediaan baht saya terbatas. Pilihannya adalah mampir ke Wat Arun yang tak kalah indahnya –apalagi jika kamu menikmati ketika sunrise atau sunset. Kamu bisa menaiki prang (menara) melalui tangga yang tampak curam dan dibutuhkan kehati-hatian untuk bisa menikmati kota Bangkok. Biaya masuknya cukup murah bilang dibandingkan Grand Palace. Disini kamu bisa berfoto menggunakan baju khas budaya Thailand– bisa dikatakan semacam baju adat kalau di Indonesia.

Dari Satichai Prakarn menuju Wat Arun Temple kamu bisa berjalan kaki menuju stasiun boat Tha Tien Pier. Lumayan jauh sih bagi yang tidak biasa jalan. Anggap saja kamu sedang jalan santai di

pagi hari. Oh, ya sebelum menyemberang ke Wat Arun, ada sebuah pasar, nah jangan lupa mampir untuk sarapan Pad Thai di sana yang tertulis Halal. (lebih…)

Patayya dan mimpi ke Europa

You must give everything to make your life as beautiful as the dreams that dance in your imagination.
― Roman Payne

Part 7

07 September 2015

Adalah  film serial ‘Before’ — Sunrise, Sunset, dan Midnight– salah satu film yang menghipnotis saya dengan keindahan arsitektur kota salah satu Negara Eropa. Selain itu, ada banyak film Hollywood yang menampilkan pesona Benua Eropa yang megah bagai negeri dongeng. Museum, Kereta api, dan udara dingin serta bangunan- bangunan tua yang menakjubkan.

Dan, Eropa masih menjadi mimpi terindah di hati saya suatu hari kelak bisa menjelajahi benua itu dengan ransel di punggung dan kamera di leher. Itulah kenapa alasan saya memilih ke Mini siam, sebuah taman yang berisi beberapa miniatur bangunan landmark bersejarah dari Eropa dan juga beberapa negara Asia seperti Singapura serta tentunya Thailand sebagai destinasi saya di Pattaya. Seperti Menara Eiffel –Paris, London Bridge, Operanya Sydney, Merlionnya Singapura dan lain sebagainya.

Mini Siam

Terletak di pinggir jalan, tepatnya di 387 Moo 6, Sukhumvit Rd, Pattaya City –Sebenarnya, kalau naik Minivan dari Eastern bus Bangkok dan memperhatikan google map bisa turun tepat di depan Mini Siam dengan patokan Mcdonald.

Saya mengawali perjalanan di suatu pagi dari Khaosan Road, meninggalkan hostel setelah semalam sempat pamit ke Mr.Aris bahwa saya akan check out besok pagi. Mengunakan bus no 14 menuju BTS Siam dan kemudian melanjutkan perjalanan ke BTS Ekkamai.

Dari Ekkamai, menuju Eastern bus terminal dapat ditempuh dengan jalan kaki. Sebuah Minivan membawa saya dalam perjalanan yang memakan waktu hampir dua jam lebih ini.

Son Seon Hok —bukan bertampang spt yonghwa atau Gdragon kecuali mungkin bagian kulit sama, turis dari Korea Selatan yang satu minivan dengan saya menyadari bahwa tujuan saya sudah terlewat sesaat ketika laju minivan sudah memasuki kota Pattaya. Ia menunjukkan ponselnya dengan aplikasi google map. Saya cuma menarik napas dan memilih turun di poolnya minivan biar tak bingung.

Pool Minivan sendiri adalah setelah Big C — semacam Giant mungkin — di antara persimpangan 4, –yang baru kemudian saya tahu arah ke kanan menuju Pattaya beach. Seon Hok sendiri berencana ke Pattaya Beach, dan ia mengabaikan saran si supir yang tak bisa bahasa Inggris untuk naik ojek dengan terus berjalan dan sempat melambaikan tangannya ke saya yang masih terpaku bingung.

Saya menyebutkan tujuan saya, yang langsung diarahkan oleh supir naik ojek. Seon Hok menoleh ke belakang, menatap saya yang berjalan mengarah ke pangkalan ojek mengikuti langkah si sopir. Dengan bismillah dan berdo’a semoga tidak nyasar atau kena tipu… dan lebih penting jangan diculik.

Laju ojek membawa saya ke kawasan layaknya seperti Khaosan Road yang banyak jejaran pub dan penginapan. Saya menatap bingung. Tukang ojek dengan bahasa isyarat memberikan saya ponselnya dan menyuruh untuk menghubungi siapa yang bisa dihubungi dimana pasti tujuan saya.

Saya : Mini Siam… not here.

Tukang ojek : !#$%^^

Keadaan berlangsung tak sampai lima menit berdebat soal tujuan dengan bahasa tarzan masing-masing. Tukang ojek menarik napas, ia kembali menyuruh saya untuk naik kembali. Saya pun dengan pasrah mengikutinya. Sampai kami bertemu pangkalan ojek di dekat kawasan tersebut, dan si tukang ojek menyuruh saya untuk menanyakan tujuan saya ke salah satu tukang ojek sana.

Dan, ternyata ada nama lokal untuk kawasan mini siam –tapi saya lupa apa. Alhasil kami kembali melintasi panasnya kota Pattaya. Dan, yang membuat saya terenyuh, dengan jarak seperti naik ojek antara Slipi-Kuningan terus belok ke Benhil, dia tetap mengambil ongkos yang dipatokan dari awal yaitu 50 bath.

Antara dilema ingin memberi tip atau tidak mengingat sisa bath saya tak seberapa. Dan, pada akhirnya saya memilih berdo’a melepas kepergian sang bapak.

” Semoga rejekimu lancar pak.” ucap saya lirih sebelum memasuki kawasan mini Siam.

Akhirnya juga saya merasakan ‘kekesalan’ menjadi turis asing ketika dipatok harga masuk yang jauh berbeda dari turis lokal –Apakabarnnya bule di Prambanan ya? 300 bath untuk turis asing dan 120 bath untuk turis lokal. Harusnya, saya menyamar sebagai turis lokal secara muka tak jauh beda dengan mereka — Sayang bahasa Thailand tak semudah bahasa minang 😦

Jerman

Gumul Simpang lima Kediri :p

Tak banyak pengunjung hari itu, jangan khawatir menjelajahi mini siam tak seluas windows of the wordnya Shenzen, China, jadi bisa ditempuh dengan jalan kaki. Oh, ya disini kita dibekali payung untuk melindungi diri dari terik matahari. Lagi, saya mengistirahatkan diri di depan patung Merlion yang ada tamannya — Seperti yang saya lakukan di Shenzen dulu. Lebih lama menghabiskan waktu di tempat ini sekedar melepas lelah.

singapura

Melepas lelah di Merlion

Menanti Sunset di Pattaya Beach

Lepas dari Mini Siam, dengan mengandalkan angkot saya menuju arah Patayya beach atas arahan seorang teman yang memang tinggal di sekitar sana. Sebut saja Sarah, seorang murid pindahan yang menarik perhatian saya dan Marhamah, teman saya waktu SMP, untuk berkenalan dengan sarah di pengujung saya kelas 3 SMP. Saat itu karena keterbatasan Bahasa, kami cuma mengobrol malam itu di Asrama Sarah hari itu saja dan tak ada hari lain.

Maka tak banyak memori saya tentang sosoknya. Melalui Indah, seorang teman yang awalnya berencana ikut perjalanan saya ke Thailand, saya akhirnya kembali mengenal Sarah. Lepas dari Mini Siam rasanya tak ada salahnya menemui Sarah.

Sarah tinggal di dalam kawasan Mesjid, di dekat Pattaya Beach, dari cerita sarah saya tahu bahwa mesjid ini punya seorang muslim Thailand, dan disekitarnya ada beberapa rumah yang dikontrakan. Di mesjid ini tentunya saya menemukan makanan halal.

Setelah mengistirahatkan diri dan berbagi cerita dengan Sarah, selepas Ashar saya berencana menikmati Pattaya beach sambil menanti sunset. Sayangnya, karena sedang hamil dan memiliki anak kecil, Sarah tak bisa menemani saya. Tapi, ia berjanji akan meminta tolong adiknya untuk mengantar saya ke terminal bus menuju bangkok selesai saya dari Pattaya Beach.

patt

Jajanan yang wajib coba

Pattaya beach dari cerita yang saya dapat betapa indahnya. Lagi bagi saya tak jauh beda dengan pantai di Pariaman, Sumatra Barat, hanya saja pengelolaannya lebih baik — kata orang sih lebih ke Bali, sayangnya saya belum pernah ke Bali.

Streetfood Pattaya

Streetfood Pattaya

Saya menelusuri Walking Street dan melepas lelah di salah satu spot seperti taman di Pattaya. Sedang asyik menikmati snack kacang yang sempat saya beli di Sevel,  sebuah familiar melintas di depan saya dan terdiam memandang saya. Bukan, bukan wajah Yonghwa atau Gdragon.

Seon Sok. ” Hei,” seru saya.

Seon Sok melambaikan tangan. Mengambil posisi di sebelah saya. Tak banyak cerita yang bisa kami bagi, sebab sepanjang perjalanan dari Bangkok di Van tadi pagi, kami mengobrol banyak. Saya meracuni Seon Sok untuk datang ke Indonesia, melihatkan beberapa foto yang ada di ponselnya saya. Foto Harau di BukitTinggi dan Dieng, Wonosobo. –Sayangnya, tak ada foto pas di Karimun Jawa di ponsel saya 😦

Seon Sok memuji keindahan alam di foto saya, dan gantian ia memamerkan foto-foto kampung halamannya, Daiju. Sampai ia memamerkan foto makanan Teobboki yang di tengahnya ada ra’men. Saya cuma bisa memasang ekspresi takjub. –diam-diam menyelipkan do’a semoga mimpi untuk buka warung makan Padang di Korea Selatan terwujud.

sunset

Detik-detik keindahan sunset di Pattaya

Saya dan Seon Sok lebih banyak diam melepas pandangan ke laut. Seon Sok memuji keindahan sunset di Pattaya. Saya pun mengabadikan beberapa foto. Kurang lebih setengah jam, pemuda Korea Selatan yang berusia dua puluh tahun itu pun melirik jarum jam, dan ia segera pamit mengingat masih ada spot yang harus ia kejar. Saya pun ikut beranjak pergi mengingat harus sampai kembali ke Bangkok jangan lewat dari pukul 09.00 P.M , sebab harus mengejar bus A1 ke Bandara — dan saya tak bisa membayangkan naik taksi ke Don mueng dengan sisa bath yang makin menipis.

Karena menemui minivan ke bangkok di sepanjang Pattaya Beach, saya pun memutuskan langsung naik dan mengirim pesan pamit ke Sarah dan memohon maaf untuk menolak janjinya tadi.

La jeu gan. Pob gan mai na, Thailand