Jatuh Cinta di Ashaabee Exhibition, Mekkah

What Does Sahaaabee (Companion) Mean?

— A sahaaabee (fem.sahaabiyah) is any person who met the Prophet, sallallahu ‘alayhi wa sallam, followed him and died a Muslim.

Ashaabee merupakan kosa kata bahasa arab yang berarti sahabat — para sahabat. Seorang teman pernah berkata kepada saya, sahabat adalah salah satu cerita terindah yang dititipkan Tuhan yang harus dijaga selamanya, mengalir waktu bersama, yang harus dirawat dengan pupuk kepercayaan dan disiram dengan kasih sayang. Sebuah pernyataan yang manis dan menyenangkan tentunya.

y4mP-H_JiKsTVz0GBHJj6XTS7DNqHuGtP9y-be9VtDD1xUhz3jZOpK9SrPAqEKEEYcJKzmgdJ-Ba-5fDzwBXpf1u68R1MT4TycrSTmnQ6ngaOxOJr5Lr5rrxBn5iGOKMZ9joz0lIkTHfaJH5A8AGl0dlTJ8rhOBeCvegQt3Kekn1VLONI4auSO-wWgivTVIPHjru_QMk3IFspPPD_xveJcurQ
Salah satu yang terdapat di ruangan pertama dalam Ashaabee Exhibition

Pernyataan tersebut tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kasih sayang para sahabat Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam kepada beliau, Masya Allah mereka adalah manusia-manusia yang mulia. Allah pun memuji mereka dalam Alqur’an. Mereka mempercayai kebenaran yang disampaikan oleh Rasulullah sallallahu ‘alayhi wa sallam, mendukung beliau dan melindungi beliau hingga mengorbankan diri sendiri atas kecintaan terhadap Muhammad sallallahu ‘alayhi wa sallam.

Tak ada yang lebih menakjubkan dan penuh haru mengenai perjalanan nabi Muhammad sallallahu ‘alayhi wa sallam bersama para sahabatnya dalam menyebarkan Islam yang dirangkum secara ringkas di Ashaabee Exhibition, atau lebih dikenal dengan museum sahabat nabi. Sebuah pameran yang terletak tak jauh dari Masjidil Haram, tepatnya ke arah kawasan Jabal Omar. Dibuka selepas sholat ashar hingga ditutup sekitar pukul 11 Malam, pameran ini menjadi salah satu destinasi yang harus disinggahi sekedar menambah rasa kecintaan terhadap Rasulullah dan para sahabat beliau disela melaksanakan ibadah umroh. — Mempelajari teladan para sahabat dalam mencintai Rasulullah sallallahu ‘alayhi wa sallam.

Adalah Ali bin Abi Tholib radhiyallahu’ anhu, salah satu empat sahabat nabi Muhammad yang paling utama ( Abu bakar, Umar Bin Khatab, Utsman Bin Affan dan Ali Bin Abi Thalib — radhiyallahu ‘ anhum ajma’in) pernah ditanya, ” Bagaimana Cinta kalian kepada Rasulullah sallallahu ‘alayhi wa sallam?

Ali menjawab.” Demi Allah, beliau lebih kami cintai daripada harta, anak-anak, ayah dan ibu kami serta kami juga lebih mencintai beliau daripada air dingin pada saat dahaga. ( sumber : Rumaysho)

y4mhmzTWZ918NcusHmwgjJKee9nlqxhxvzCiOwh4lHf9cfS2m-0a-JBZZ8yQRf2BWjhXiIvXq-9B6n9d0Czu-ZM09U2mvz7kWgNgwZ_g1sX9cyaEVnveqLTCEzgx474AI2mYlyr5k1abIqIVwiKjxQh7okUKD-rxMeUV0NzpJMaJ5BM7FnX_qEex5YG4bcoE5nr1tN5WJgF9x7uXfLBQECFog

Kemuliaan Sahabat Nabi

Saya jatuh cinta sebelum beberapa langkah memasuki Ashaabee Exhibition pada suasana kawasan Jabal Omar yang memberi romantisme tersendiri sore itu saat saya mengiringi langkah Ama — ibu saya. Langit Mekkah sore selepas ashar kala itu mampu membuat diri terpaku pada kekuasaan Allah dalam menghadirkan kehidupan yang menakjubkan. Pada lalu lalang orang – orang yang melepas kelelahan dan menikmati waktu dengan bercengkrama satu sama lain atau sekedar menikmat kopi hangat.

simpan
Suatu sore di Jabal Omar, Mekkah Al Mukarromah

Namun, perasaan cinta yang berbeda membuat langkah kaki saya terhenti, pada rangkaian keindahan potongan ayat Alqur’an tatkala memasuki pameran atau lebih dikenal dengan museum sahabat nabi. Mengabaikan sejenak suara Mutawwif, pendamping selama mengikuti ibadah umroh yang memberi ide untuk mengikuti tour ke museum tersebut. Rangkaian beberapa ayat Alqur’an terpajang rapi di dinding dan penjabaran mengenai kedudukan para sahabat nabi yang ditampilkan dalam dua bahasa ; Arab dan English.

Suara tour guide memecahkan keheningan saya terhadap beberapa tulisan mengenai kemuliaan sahabat nabi. Di Ashaabee Exhibition sendiri memang disediakan tour guide berbahasa Indonesia yang dikhususkan untuk memandu jamaah Indonesia dalam memberi informasi mengenai museum tersebut. Untuk itu, disarankan mengunjungi museum tersebut dengan kelompok atau rombongan umroh lainnya agar memudahkan prosedur dalam mengikuti jalannya tour.

IMG-20191230-WA0003
Penjabaran sekilas mengenai napak tilas perjuangan Rasulullah sallallahu ‘alayhi wa sallam dan para sahabat beliau

Disamping itu, tentu ada harga tiket masuk yang lebih murah dan sudah diatur oleh pihak travel umroh. Untuk personal sendiri tiket masuk ke Ashaabee Exbition dikenakan : 15 Riyal atau setara dengan Rp 60.000,- ( 1 Riyal : kurs : 4.000,-), dan digratiskan untuk anak-anak dan orang tua yang berusia 60th ke atas.

Ashabee Exhbition ; Napak Tilas Perjuangan Rasullullah sallallahu ‘alayhi wa sallam dan Para Sahabat Beliau

Jangan bayangkan kalau museum ini terdiri dari artefak kuno yang membosankan. Ashabee Exhbition memanfaatkan modernisasi teknologi yang mengagumkan antara audio visual, ilustrasi gambar dan beberapa market seolah – olah membuat kita melintasi waktu menyelami jejak Rasulullah sallallahu ‘alayhi wa sallam dalam menyebarkan agama Islam. Disamping itu, interiornya ruangan yang membuat seolah-olah menelusuri lorong waktu.

IMG-20191230-WA0008
Suasana di salah satu ruangan di pameran sahabat nabi

Terdiri dari 10 ruangan yang memiliki cerita berbeda namun saling berkaitan terhadap kisah hidup Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam dan para sahabatnya dalam memperjuangkan kebenaran dan mengenalkan tauhid yang sebenar-benarnya. — Ingat melalui museum ini pun kita tidak menemui cerita perayaan Maulid nabi yang dilakukan oleh Nabi maupun para sahabatnya 🙂 , itu kenapa saya tak lagi menghadiri atau merayakan perayaan Maulid nabi karena tak ada dicontohkan oleh para sahabat nabi.

Pada ruangan pertama, merupakan ruangan resepsionis dan informasi mengenai keutamaan para sahabat nabi termasuk larangan memperolok-olok sahabat nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam. Dan, cerita dimulai ketika di ruangan dua, di tempat ini diawali dengan menceritakan orang yang pertamakali membenarkan dakwah nabi Muhammad, yaitu Istri beliau, Siti Khadijah yang merupakan perempuan yang pertama kali yang beriman terhadap kalimat tauhid, sementara Laki-laki yang pertamakali beriman adalah sahabat beliau Abu Bakar as siddiq. Pada ruangan kedua ini juga dijelaskan mengenai perjuangan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam dalam berdakwah di kota Mekkah. Dan, diangkatnya beliau sebagai nabi dan rasulullah di kota tersebut.

Selain itu, juga terdapat ilustrasi peta dan kota Mekkah di masa jahiliyyah yang ditampilkan dengan menarik dan beberapa kisah orang -orang yang beriman kepada Allah serta menerima kebenaran yang disampaikan oleh Rasulullah namun mendapat siksaan dari kaum Quraisy. Diantaranya kisah Ammaar Ibn Yaasir dan keluarganya. Juga ada video yang menjelaskan keutamaan para sahabat nabi.

gambar
Penjelasan di sampaikan dalam bahasa Arab dan Inggris

Memasuki ruangan ke tiga, masih lanjutan dari orang -orang yang menerima kebenaran dari Rasulullah sehingga ruangan tiga ini diberi nama ” Allah yang mencintai mereka (sahabat nabi)”, yaitu orang – orang yang bertahan dalam keadaan yang sangat sulit demi agama Allah diantaranya adalah Abu Bakar As Siddiq, Aisyah bin Abu Bakar, Umar Bin Khattab, Usman Bin Affan, Ali bin Abi Thalib serta Bilal.

Di ruangan tersebut juga terdapat napak tilas perjalanan hijrah ke Madinah yang saat itu bernama ota Yatsrib atas perintah dari Allah subhanahu wa ta’ala dan memilih jalur berbeda dari pengikuti agar tidak diikuti oleh kaum kafir quraisy. Ilustrasi jalur perjalanan Rasulullah dijabarkan lewat layar grafik yang informatif. Sebab hijrahnya Rasulullah dan para sahabat ke kota Madinah salah satunya karena adanya siksaan dan tekanan yang datang dari kaum kafir quraisy.

Memasuki ruangan ke empat, mengenai tibanya Rasulullah dan para pengikutnya di Kota Yatsrib yang sambut suka cita oleh penduduk setempat. Disinilah lahirnya nama Kota Madinah oleh persaudaraan dua golongan yang disatukan oleh nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam yaitu antara kaum Anshor ( penduduk kota Yatsrib) dan kaum Muhajirin ( pengikut Rasulullah yang datang dari Mekkah).  Masya Allah, persaudaraan tersebut membuat kaum Anshor mewariskan sebagian harta mereka untuk kaum Muhajirin.

y4mQku_zBriiP88zTqRqpYskylhYxWHzL4lBtkYF5FalUR8flmZ9jX9oKqUzMEXWowhJ545rvEs5XcUUQ3zDPytYi-cPk2hhZZT0Cx026mIYKO6dtZw1ZtiT-J54D8MzqU8OQX2CDvgz_-mjWr-zcls9LR1o2d19194rsq7ieU_Yq5Sy8niBSDO4G3s9Gby1dDXG9omg45oXe2nnJMrd6SOtw
Salah satu tampilan visual yang terdapat di pameran

Islam sangat diterima dengan baik di Madinah Al-munawarroh. Mendapat tempat yang menyenangkan di kota tersebut. Di kota ini Rasulullah mendirikan mesjid Quba, mesjid yang pertamakali di dirikan oleh Rasulullah dalam perjalanan hijrah beliau menuju Madinah. Di kota ini juga Rasulullah mendirikan mesjid Nabawi, yang berada di dekat tempat tinggal beliau. di Nabawi terdapat Raudah — taman surga, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam. 

“Di antara rumahku dan mimbarku, terdapat Raudhoh ( taman) diantara taman -taman surga ( HR. Bukhari no. 1196 dan Muslim no.1390)

Islam meraih kejayaan Islam di Madinah. Namun, kejayaan tersebut tentu tidak disukai oleh kaum quraisy sehingga terjadi berbagai perperangan. Diantaranya yang terkenal adalah perang Uhud, yang memakan cukup banyak korban muslim. Ada banyak faktor terjadi perang Uhud, salah satunya karena dendam akan kekalahan di perang Badar.Peristiwa tersebut dijabarkan di ruangan ke lima dengan memutarkan film peristiwa perang Uhud, yang terjadi di Jabal atau gunung Uhud. Kekalahan tersebut tak lepas dari kelalaian terhadap perintah rasulullah untuk tetap berada di bukit rumah.

Usai mengalami kekalahan di Perang Uhud, dan kembali melakukan perang hingga memperoleh kembali kemenangan, kehidupan di madinah pun berjalan dengan normal. Di ruangan enam inilah diceritakan beberapa kisah sahabat nabi termasuk kondisi Madinah sebelum datangnya Islam. Salah satunya kisah yang terdapat di ruangan enam ini mengenai Zainab binti Jahsy, istri Rasulullah yang sangat gemar menginfakan harta beliau.

Yang bikin haru adalah ruangan tujuh, yang mengisahkan peristiwa meninggalnya Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam karena sakit yang dirasakan yang disebabkan oleh sisa racun yang diberikan oleh wanita Yahudi melalui hadiah daging kambing. Meninggalnya Rasulullah menyadarkan kita bahwa beliau adalah manusia yang tidak boleh kita sembah, tapi harus kita taati sebagai utusan Allah, sang pencipta kehidupan ini. Wafatnya Rasulullah tentu menyisakan kesedihan yang mendalam bagi kaum muslimin saat itu. Ada banyak kisah menarik di saat detik-detik wafatnya beliau, termasuk kecintaan dan perhatian beliau terhadap kaum muslimin. Masya Allah, Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhammad Kamaa shollaita ‘ala ibroohim wa ‘ala aali ibrohim, innaka hamidun majiid.

IMG-20191230-WA0024

Ruangan selanjutnya adalah ruangan delapan, yang mengisahkan tentang Khulafa Ar Rasyidin yaitu Abu Bakar As Siddiq, Umar Bin Khattab, Utsman Bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Dimasa tersebut berkembang ilmu pengetahuan mengenai Islam. Dan di era kepemimpinan Abu Bakar as Siddiq, Alqur’an mulai dibukukan. Selain itu juga terdapat kisah sesudah kekhalifahan Khulafa Ar Rasyidin yang disampaikan dengan visual grafik yang menarik dan ringkas. Terakhir dari napak tilas perjalanan Rasulullah dan para sahabat dalam menyiarkan Islam berakhir di ruang sembilan yang menyuguhkan informasi mengenai kejayaan Islam di luar jazirah arab.

y4mV7cgbyN1EMq3Lvbsb723XFS04Skadv87vNUw0ZOD9NHPTR6Ujz8w9wJDceqzenvHnznW1PsG0WIeRkf20UvNTM23_FN-LW217xYGAQOmGevjBFDLk7CQoGUV4nB8YY-o2zGIHCKPZOz7Ktt8Q4eNPRZu9EvqEv9HvdCeeuQmJfI66IelhCGDQPln3U-yisNo2byy5zW1XOEh7Ys_RomlFQ
Bentuk awal Alqur’an tanpa harkat

Pada ruangan ke 10, yang merupakan ruangan terakhir dari pameran tersebut adalah ruangan Souvenir bagi pengunjung yang berminat untuk berbelanja baik itu sajadah maupun alqur’an.

****

Kita tak bisa melampaui batas kemuliaan para sahabat nabi yang begitu mencintai Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam melebihi diri mereka. Saya jatuh cinta pada kisah kasih sayang antara Abu Bakar as Siddiq dan Rasulullah. Pada cinta Umar Bin Khattab kepada Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam.

Saya jatuh cinta pada kecerdasan Utsman Bin Affan dalam menghapal Alqur’an dan mempelajarinya — disamping sifat dermawan beliau, radhiyallahu ‘anhu.  Dan tersenyum pada kisah cinta antara Ali Bin Thalib dengan putri Rasulullah, Fatimah radhiyallahu ‘anha.

y4mFzsIXjhDOjoqOWvyfBalGEIufDN8lqjXfLCe4_EUS6kap2dfUB8Sx0CS9AAi6GKtgyCYRuf0g6Qv9-RBy2a4hbiWCngz4Iw0iugbYCfAHQkCi2rIF9Ug6EfdhrN9bDVv28jpkN4k4FKFyEMrcyu1adqmOjZk9Rtq1tKcnbsvcSwu91wioZUpBb_uZz__xk-C620LylquaGwISufrTevViQ
Visual yang mengagumkan dari sebagian interior di Exhibition Ashaabee

Ashaabee Exhibition, sebuah pameran yang tak saja membuat takjub dengan interior dan ragam ilustrasi, audio visual, grafik, market serta pemandangan langit – langit ruangan yang memanfaatkan teknologi modern dalam menyuguhkan sekilas cerita Rasulullah dan para sahabat tanpa sedikit terselip rasa bosan, namun ada desiran emosi dan sudut mata yang berair. Pada cinta dan rindu yang menghiasi hati ini.

.

gambat
Grafis yang menjelaskan kisah para sahabat radhiyallahu ‘anhum

Sore memang menghadirkan romantisme yang menyenangkan, namun bagi saya waktu yang terbaik untuk mengunjungi tempat ini adalah selepas Isya. Sehingga bisa berlama – lama menyelami setiap kisah yang diberi keterangan lewat dua bahasa ; Arab dan Inggris dan dijabarkan dengan baik oleh seorang tour guide pameran dengan kemampuan story telling yang menyenangkan.

Tentang Mereka yang disebut Sebangsa dan Setanah Air

“Menemui kejadian apa selama di Korea?” tanya Umi, teman saya saat kuliah dulu. Ketika itu kami sedang jumpa kangen setelah setahun lebih saya tidak mengunjungi ibukota ; Jakarta.

Saya terdiam sejenak. Kemudian menyeruput pelan coklat dingin di hadapan saya.

korea blog.jpg

Saya menghela napas. Menerawang pada beberapa peristiwa yang cukup membuat dada saya sesak dan sudut mata berair. Bukan pada peristiwa mengerikan yang menimpa saya saat perjalanan ke negara orang. Bukan juga pada rasa lapar ditengah dinginnya kota Seoul.

Tapi… pada perlakukan saudara setanah air yang tak sengaja saya temui di sana.

Ah… Indonesia !

****

Saya mengunjungi Seoul seorang diri sebagai pelarian dari rasa jenuh pada pertanyaan yang menjemukan ; Kapan nikah. Sialnya sehari sebelum keberangkatan saya ditabrak motor yang membuat tulang pungung saya terasa nyeri. Sebagai pelaku perjalanan yang mengandalkan ransel tentu hal ini yang sungguh menyiksa.

 

Tak ada persiapan matang. Mengandalkan tas ransel bersifat daily backpack saya hanya membawa tiga helai baju dan beberapa bungkus sambal serta abon – lupa membawa mie kemasan dan sereal sebagai amunisi di sana. Sementara itu, saya memiliki waktu seminggu untuk menikmati Korea Selatan.

korea 1

Saya tidak terlalu melakukan riset seperti perjalanan saya ke Thailand. Tak ada Itinerary dan rencana yang pasti selain sekedar menikmati atmosfer kota demi melepaskan rasa lelah akan teror pertanyaan.

Ditengah kebingungan tersebut, saya mengukir senyum saat tak sengaja mendengar percakapan yang akrab di telinga saya ketika beberapa orang mengobrol dengan bahasa yang sangat saya kuasai. Saat itu, saya usai melaksanakan sholat di mesjid besar area Itaewon. Mesjid ini menjadi tempat wisata favorit bagi sebagian wisatawan asing.

Beberapa orang yang saya perkirakan berusia dua puluhan tahun itu pun menyibukan diri mengabadikan moment di depan mesjid lewat kamera mereka. Saya mengambil kesempatan untuk menyapa.

“ Indonesia?”

Mereka mengangguk.

“ Indonesianya dimana?”

“ Jakarta.”

Saya pun mengangguk. Menanyakan destinasi mereka kemana. Salah satu dari mereka pun menjawab pertanyaan saya. “  Oh, bisa bareng dong. Kebetulan saya juga ke sana.”

Ekspresi mereka tampak ragu. Mengangguk dengan berat. Sebagian dari mereka kembali sibuk dengan kamera ponsel dan tongsis. Sementara saya beranjak menanti mereka seraya juga sibuk mengabadikan momen.

Setengah jam kemudian. Tak ada dari mereka yang menghampiri saya dan berlalu begitu saja.

Saya terdiam.

Bukankah kita masih Indonesia?

****

korea 2

Di hari lain …

Saya mendengar grasak-grusuk tak jelas saat sedang menjemur beberapa kain di hostel. Kembali saya mendengar percakapan yang sangat akrab di telinga saya. Rupanya beberapa gadis berusia dua puluhan baru saja melakukan check in. Saya menanyakan darimana mereka berasal ; Indonesia.

Saya pun menawarkan diri untuk bergabung dengan mereka yang hendak ke Namsam Park . Rasanya seru kalau melakukan perjalanan sesama saudara setanah air di negeri orang. Sayangnya mereka mengacuhkan saya. Sibuk pada barang bawaan mereka. Satu diantara mereka masih keberatan di lempar ke kamar di lantai atas oleh petugas hostel – berpisah dari teman-temannya.

Saya pun menawarkan untuk tidur di kamar saya yang punya dua ranjang dan berada di lantai yang sama dengan teman-temannya. Sayangnya mereka menatap curiga pada saya dan mengacuhkan begitu saja.  

Baiklah!

korea 3.JPG

Saya tertawa pelan menceritakan hal itu pada Umi – antara miris dan entah bagaimana menyebut perasaan ini. Saya mengenal Indonesia dengan keramahan dan persaudaraan yang menyenangkan.

“Sejujurnya saat itu gue sempat menangis, Mi,” saya mengukir senyum mengenang puzzle-puzzle kejadian tersebut yang masih tergambar jelas di benak saya.

 Tapi.. pengalaman itu tak membuat saya berkecil hati tentang Indonesia. Saya percaya keramahan dan kesetiaan dalam persaudaraan sebangsa dan setanah air masih melekat erat pada mereka yang menyayangi merah putih.

Sebab sebelum peristiwa tersebut, saat menyasarkan diri di Busan, saya banyak dibantu oleh warga negara Indonesia yang tinggal di sana. Memberi saya makanan khas Indonesia ditengah kegalauan saya pada kehalalan makanan. Membagi cerita menyenangkan mereka sebagai perantau di negeri orang. Dan, mentraktir saya streetfood kota tersebut sebagai bekal dalam perjalanan ke Seoul.

Indonesia tetaplah Indonesia. Di tengah kegelisahan akan karakter sebagian orang-orangnya yang membuat saya menghela napas akhir-akhir ini, saya percaya keramahan dan rasa persaudaraan itu masih ada.

(ekahei)

Catatan ; Tulisan ini pertama kali dimuat di situs Travellous beberapa tahun lalu — hanya sekedar berbagi kisah dibalik ‘kebanggaan’ akan solo traveling ada kisah yang tak selalu menyenangkan 🙂

Mengukir Cerita Bahagia Naik KA Bandara Minangkabau, Padang Pariaman

Bagi saya, bandara bukan sekedar tempat dimana terjadinya keberangkatan dan kedatangan serta ragam perpisahan dan pertemuan. Tapi, ia mencuatkan keinginkan untuk melangkah lebih jauh ; melakukan perjalanan.

43565428_1751099858333888_3296082499951656960_n
Bandara Internasional Minangkabau (BIM), Ketaping, Padang Pariaman

Dan … transportasi kereta adalah membekukan segala cerita perjalanan tersebut. Yup, bagi saya ada romansa tersendiri kala mengunakan kereta api. Romantisme kehidupan saat mata melepas pandangan ke luar jendela dan menikmati deru suara nan tenang. Alasan tersebut menjadikan kereta sebagai transportasi favorit saya dalam menikmati setiap perjalanan.

Kehadiran KA Ekspress Bandara Minangkabau (BIM) awal Mei lalu adalah jawaban dari kebahagiaan saya sebagai pengemar transportasi tersebut. Membayangkan rangkaian romantisme perjalanan dari kereta, menelusuri koridor Skybridge, kemudian bandara dan hijrah ke pesawat.

Rasanya menyenangkan, bukan?

43554493_732568217081896_2013864900434067456_n
Koridor jembatan penghubung antara stasiun dengan BIM

Rekreaksi Menyenangkan Dengan KA Ekspress Bandara Internasional Minangkabau (BIM)

Untuk mengatasi rasa malas beraktivitas, Di suatu Minggu pagi nan cerah saya berinisiatif melakukan perjalanan menggunakan kereta api. Inginnya sih naik kereta ke Pariaman sekedar berburu lontong gulai tunjang di Kuraitaji yang terkenal dari cerita orang selama ini menghampiri saya.

kereta bim 2
Stasiun BIM KA Ekspress

Sayangnya, seperti biasa tiket kereta ke Pariaman sudah sold out. Akhirnya saya memutuskan iseng naik kereta ke bandara. Sebelumnya, saya pernah menaiki KA Ekspress BIM kala ikut mengantar seorang teman ke Bandara. Namun, kali ini tentu berbeda.

Tak ada tujuan yang pasti. Kecuali berburu roti boy yang ada outletnya di Bandara.

Saya tak sendiri, meskipun terbilang sepi, beberapa penumpang yang saya temui di kereta ternyata bertujuan untuk mencari pengalaman baru bagaimana nikmatnya naik kereta. Satu keluarga besar yang terdiri dari kakek, nenek, ayah, ibu serta om dan tante plus anak -anak kecil dengan logat Melayu Jambi saling mengungkapkan kegembiraan satu sama lain.

Kereta bim 1
Suasana di dalam KA Ekspress yang didominasi warna hijau

 

Sang kakek dengan sabar menjawab pertanyaan sang cucu kala kereta melintas dengan tenang. Sementara para ibuk dan bapak riuh berbagi cerita mengenai pengalaman mereka pernah menaiki ragam transportasi kereta di luar kota Padang.

Menguping pembicaraan mereka, saya melempar pandangan lepas ke luar Jendela. Beberapa pemandangan hijau nan asri dapat kita temui. Sesuatu yang mulai jarang terlihat akhir-akhir ini.

Dan, celetukan khas anak kecil pun kerap terdengar dengan sang kakek serta sesekali si nenek ikut nibrung.

 

pemandangan yang cukup menenangkan bagi saya. Adem.

43460501_1485445831556829_1447365293981564928_n(1)
Suatu pagi yang menenangkan di Bandara. Menyaksi pesawat lepas landas dari balik pagar

Saya kira mereka hendak melakukan perjalanan dengan pesawat atau menjemput salah satu anggota keluarga. Ternyata tidak. Ketika roti Boy sudah di tangan, dan menikmati suasana teras bandara, saya kembali ke Skybridge berjalan menuju ruang tunggu kereta. Mereka pun menelusuri jalan yang sama dengan saya.

Kami pun menanti jadwal keberangkatan kereta menuju kembali ke Kota Padang.

kereta bim 3
Ruang tunggu stasiun BIM

Diam – diam saya menikmati kebahagiaan keluarga besar dari luar kota tersebut. Sebuah rekreaksi keluarga yang menyenangkan. Bermodal tiket 10.000,- per orang mereka menemui pengalaman baru nan mewah ( tentu dari kebahagiaan lho menurut saya). Dari balik pagar tinggi, mereka juga sempat menikmati menonton laju pesawat yang lepas landas. Memberi pengetahuan dan informasi bagi anak kecil yang ikut serta dengan mereka.

Dan, lagi -lagi saya teringat sebuah kalimat kala mengamati kebahagiaan keluarga tersebut : “Bahagia itu sungguh sederhana. Dengan menciptakan hal -hal sederhana, hati ini pun terasa bahagia,”

 

Nyamannya KA Ekspress Bandara Internasional Minangkabau

Diresmikan oleh presiden Jokowi, desain KA Ekspress BIM di dominasi warna hijau nan rapi dan menyenangkan pandangan mata. Saat memasuki kereta sejenak saya teringat pada AREX ( Airport Railroad Express) nya Korea karena adanya ketersediaan peletakan koper / tas (meskipun tak seluas di AREX).

kereta BIM
Saat memasuki kereta, disisi pintu masuk terdapat tempat bagasi

Hawa sejuk khas AC ( air conditioner) menyapa tubuh saya . Tak ada penentuan kursi dimana harus duduk. Kita dapat memilih sesuai keinginan … mungkin karena baru kali ya, jadi kereta ini lumayan sepi. Saya tidak menyiakan kesempatan untuk duduk di dekat jendela.

Meskipun kursinya agak keras, namun tidak mengurangi kenyamanan. Antara jarak kaki pun dengan bangku depan lumayan luas. Dan, ini sungguh menguntungkan bagi mereka yang memiliki tubuh yang tumbuh ke atas ( baca ; tinggi).

43429615_735879796750940_6551022567577092096_n
ketersediaan colokan listrik salah satu fasilitas yang menyenangkan di KA Ekspress BIM

Apa yang menyenangkan bagi kaum milineal seperti saya ? bukan WIFI , maklum saya lagi tajirr kuota. Tak lain adalah ketersediaan colokan listriknya yang berguna untuk men-charger smartphone saya yang boros baterai, sementara saya butuh buat update cerita plus futu – futu cantik. Oh, ya satu lagi kebersihan kereta terjaga dengan baik.

****

 

kereta bim 4
Loket informasi dan pembelian tiket di Stasiun BIM

 

Menempuh perjalanan tidak sampai 30 menit dari stasiun Tabing menuju Bandara Internasional Minangkabau (BIM). Saya menikmati atmosfer pagi yang menyenangkan menelusuri koridor Skybridge Stasiun BIM.

Sebagai tambahan informasi KA Ekspress BIM ini melewati 4 stasiun utama, yaitu ; Stasiun Padang ( Simpang Haru), Tabing, Duku, dan BIM dengan tarif Rp 10.000,- sekali jalan. Bagi saya ini cukup murah, aman dan nyaman dibandingkan transportasi lainnya. Tentu hal ini merupakan kebahagiaan sederhana bagi kebutuhan traveller receh seperti saya. (Ekahei)

jaadwal kereta
TIPS : Untuk merasakan pengalaman menaiki KA Ekspress atau ingin menggunakan transportasi ini, cari tahu jadwal keberangkatan biar tidak menunggu terlalu lama di Bandara