Sepotong Cerita Lelah Menjumpai Kesegaran Nyarai, Lubuk Alung, Sumatera Barat

Traveling shows you a different world and offers different experiences. hearing about a place can’t ever compare to experiencing it yourself

keindahan nyarai
Keindahan Air Terjun Nyarai, Lubuk ALung, Padang Pariaman, Sumatera Barat

Yulma, adik saya, tampak ragu melangkah tatkala melihat sebatang pohon besar yang melintang sebagai jembatan untuk menuju seberang. Ada kecemasan di raut mukanya, sementara disisi kanan kami sudah terlihat keindahan air terjun. Dengan keraguan kami pun hati-hati melangkah berusaha menjaga keseimbangan. Perlahan dan tenang hingga bisa mengistirahatkan badan seraya melempar pandangan ke nyarai ; air terjun.

Terletak di dalam hutan lindung Gumaran, Lubuak Alung, Sumatera Barat, sebuah air terjun setinggi delapan meter mengoda mata, pikiran dan hati untuk segera melompat berenang dan merasakan sensasi air kehijauan nan jernih. Selain itu, terdapat sebuah kolam yang terbentuk secara alami di bawah air terjun tersebut.

menyeberang melalui sebatang kayu besar
Suasana di Nyarai nan tenang dan damai serta menyegarkan tentunya 🙂

Perpaduan pepohonan hijau nan lebat, batu-batuan berukuran besar mendukung keteduhan nan damai adalah jawaban dari kesegaran yang terbantahkan dari Nyarai. Namun, bagi saya yang kerap terjebak pada liburan yang berhubungan dengan laut dan perkotaan, menarik adalah proses perjalanan nan melelahkan untuk menemui kesegaran tersebut.

Meskipun saya cukup kuat untuk berjalan, Trekking adalah sesuatu yang melelahkan sekalipun mengoda untuk dilakukan. Menikmati tantangan menelusuri jalanan berlika – liku menembus hutan. Setidaknya itulah yang harus dilakukan untuk menemui oase keindahan yang ditawarkan Nyarai.

NYARAI2
Salah satu jalur yang harus ditempuh dalam perjalanan menjumpai kesegaran Nyarai

Menempuh kurang lebih setengah jam dari jalan utama Lubuk Alung, sebuah kampung nan tenang serta kehidupan yang terlihat santai menyambut kami. Ada begitu banyak plang petunjuk arah yang memudarkan kekhawatiran akan tersesat saat itu. Motor kami tetap melaju dengan kecepatan sedang menikmati ketenangan tersebut ; damai.

Perjalanan pun belum jua usai saat motor kami terparkir di sebuah lapangan dan sebuah posko awal terlihat di sana. Membayar tiket masuk Rp 20.000 per orang, seorang guide yang dibekali kotak P3K akan menemani perjalanan melintasi hutan Gumaran untuk berjumpa dengan kesegaran nyarai.

Melewati jalan setapak menaiki bukit, menuruni lembah, menyusuri tepian sungai hingga berjalan dibawah pepohonan yang membentuk lorong-lorong. Sensasi alam inilah yang justru menarik minat banyak pengunjung yang datang.

Dibutuhkan waktu sekitar dua jam melintasi hutan dan menyeberangi sungai untuk sampai tujuan. Selama dalam perjalanan, ada beberapa spot menarik salah satunya goa kecil dan makam ( yang konon katanya merupakan makam pahlawan PDRI). Perjalanan panjang tersebut tidak begitu terasa berat. Sebab di beberapa titik terdapat pondokan warung sekedar melepaskan penat dan mengisi perut yang lapar dengan cemilan khas Indonesia: gorengan bakwan, pisang dan tahu.

NYARAI1
Melintasin aliran sungai merupakan sensasi alam yang tak terlupakan sebagai kenangan yang menyenangkan

Pemandangan menakjubkan Air Terjun Nyarai pun menguap rasa lelah saya usai melintasi hutan lindung tersebut. Sebatang pohon besar terbentang berfungsi sebagai jembatan menuju seberang. — yang membuat Yulma ragu untuk melangkah.

Di tempat ini juga terdapat warung kayu yang menjual aneka makanan. Jadi tak perlu membebani diri dengan barang bawaan beraneka makanan dari rumah, kecuali memang berniat membawa kembali sampah makananmu pulang.

Karena tidak bisa berenang, saya pun memilih untuk melipir ke sungai nan tenang yang dipenuhi bebatuan tak jauh dari air terjun. Sekedar merasakan kesejukan air yang menyegarkan. Menikmati udara alam yang mendamaikan hati. Melepas penat setelah terkungkung dengan kesibukan rutinitas yang melelahkan.

Menikmati Air Terjun Nyarai sebaiknya dilakukan ketika musim panas. Sebab jika musim hujan debit air terlalu besar dan airnya terlihat keruh. Tentu soal keamanan mengingat kebecekan dan licinnya jalanan sepanjang menelusuri hutan.

Untuk Menuju Nyarai kita harus wajib di dampingi pemandu lokal
Untuk menuju Nyarai harus ditemani oleh pemandu lokal agar tidak tersesat 🙂

Tempat ini menjadi alternatif bagi mereka sekedar melepaskan kebosanan aktivitas perkotaan seperti saya. Bisa dikatakan surga tersembunyi di balik tenangnya Hutan Gumaran.

Oh, ya perlu diingat meskipun tiket masuk per-orang, namun perjalanan ini disarankan bergroup minimal 10 orang. Karena pembayaran tetap dilakukan untuk 10 orang sekalipun jumlah orangnya bertiga ataupun berlima. Tapi, tenang … bisa gabung dengan group lain. Menambah teman baru sekaligus sebagai teman memecah kesunyian saat melintasi hutan.

 

Catatan : Cerita yang sama pernah saya tulis di detik travel Community

 

 

Aku, Teman Lama dan Kepiting Saos Padang

” Ka, ini Fa!”

Begitu suara di seberang memperkenalkan diri. Ingatan saya melayang pada sosok seorang teman kala masih bersekolah asrama empat belas tahun lalu. — dan terima kasih facebook yang membuat kami masih terhubung serta mengetahui kabar masing-masing.

Sore itu, teman lama saya itu berkunjung ke kota Padang dan menanyakan dimana rekomendasi makan Kepiting paling enak di Kota Padang. Saya bukan pemburu kuliner namun penikmat kuliner, dan belasan tahun mengenal Padang sungguh saya tidak terlalu tahu mengenai kepiting kecuali semangkuk sup kepiting lezat ibu saya.

 

29693862_10215035906992416_1168751956_o
Salah satu sudut di Bandara Internasional Minangkabau (BIM), Padang Pariaman

 

Tak banyak rumah makan, restoran, caffee atau apalah namanya yang saya ketahui di kota Padang yang menjaga kualitas rasa makanan. Sebab, ketika berada di kota ini, saya lebih memilih berdiam diri di rumah. Menikmati asyiknya menjadi pengangguran dengan mengkhayal suatu saat bisa mengukir kisah menyenangkan dengan Ji Chang Wook. (menonton drama korea ; red) .

Pun dengan wisata di kota Padang sendiri, Selain pantai saya tidak tahu harus kemana lagi. Padahal ada beragam keindahan alam yang menyenangkan saat kita mengeksplore atau menjelajahi wisata di Sumatra Barat khususnya kota Padang.  Tak kalah seru lah dengan kulinernya yang melegenda tersebut.

Singkat cerita, yang berkunjung siapa yang ‘tuan rumah’ siapa. hehehe, jadi teman saya berinisiatif menelusuri pesisir pantai Padang dan menanyakan dimana terdapat tempat makan yang menjual kepiting.

Akhirnya… tadaaaa berlabuhlah di Pondok Ikan Bakar Khatib Sulaiman !

****

Akhirnya Bertarung dengan Kepiting di Pondok Ikan Bakar Khatib Sulaiman

Tadinya ketika melalui saluran telpon teman saya menyebutkan nama ” Khatib Sulaiman” saya pikir adalah kawasan Khatib Sulaiman. Karena bingung, saya pun menyusul di tugu Perdamaian di Pantai Padang. Saya pun menyerahkan kunci motor, membiarkan ia menjadi pengemudi.

Dan, laju motor memasuki area parkir Pondok Ikan Bakar Khatib Sulaiman. ” Oh, …. ini toh !” baru ‘ngeh’ dengan apa yang diucapkannya dengan ‘Khatib Sulaiman’ hehehehe…

 

29748131_10215035871631532_904030218_o.jpg
Pondok Ikan Bakar Khatib Sulaiman — terletak di pesisir pantai Padang tak jauh dari Tugu perdamaian

 

 Butuh sepuluh menit untuk menunggu seporsi Kepiting Saos Padang — sebenarnya ada dua pilihan, antara saos Padang atau saos tiram. Karena teman saya yang ngebet mau makan kepiting , saya pun menyerahkan pilihan ke dia.

Seporsi Kepiting Saos Padang disajikan yang membuat saya melongo dengan kejumbo-annya. Plus dengan sebuah alat — dibilang tang , entahlah.. aku tak tahu namanya apa :(.

Seingat saya, terakhir kali makan kepiting itu beberapa tahu lalu, itu pun ukurannya mini dan di sup sama ibu saya. Ehm… ntar, Oh, iya… terakhir kali itu dua tahun lalu di Incheon, di dalam burger Crab nya Lotteria. — burger terenak yang pernah saya coba sampai saat ini :D, mungkin karena lapar kali yaaaa 😀

Saya pun memperhatikan cara teman saya memainkan alat untuk membuka cangkang . Sempat bingung sih, soalnya biasanya saya makan kepiting main “cucuik” ( Nggak ngerti bahasa cucuik kalau di Indonesia kan apa ya? ).

 

29748765_10215035868031442_846507636_o.jpg
Pertarungan siap dimulai !

 

Butuh beberapa menit untuk bisa ahli memainkan alat dan menjepit cangkang serta memecahkannya dan lalu menikmati dagingnya. Kalau dilihat perjuangannya sih sebelas dua belas dengan makan kuaci kali ya.

 

29748246_10215035877991691_1644712267_o
Tiba-tiba saya ingat ayah yang beberapa hari lalu berkunjung ke Padang dan harusnya ngajak makan di sini 😦 hiks Semoga diberi rejeki untuk selalu membahagiakan keluarga 🙂

 

Untuk rasa sih bagi saya biasa saja, tapi tetap nikmat kok layaknya masakan Padang umumnya. — nggak tahu kalau ikan bakar sebagai andalan tempat makan ini.

Butuh satu jam untuk mengakhiri pertarungan dengan kepiting. Ah, nikmat mana yang kamu dustai saat perut terasa kenyang?

Alhamdulillah.

Tibalah saatnya membayar. Saya pun mengeluari uang yang langsung di tolak teman saya. Ia membayar tagihan untuk pertarungan dengan kepiting saos Padang. Alhamdulillah. Allah maha baik.

Maka di sepanjang jalan pulang saya berdo’a semoga teman saya tidak kapok berkunjung ke Padang. — Kelak jika ia mengabari sehari sebelumnya, saya rela deh mencari informasi rekomendasi yang enak-enak di Padang. Asal dibayari lagi *eh … Nggak ding, bercanda !

 

Happy long weekend !

 

 

 

Kuala Lumpur : A Beautiful day from a stranger

Suatu ketika di sebuah perjalanan – tentang mereka yang hadir tanpa sebuah nama, tapi tertanam di ingatan.– quote’s ekahei

Sebuah teriakan memaksa langkah kaki kami untuk berhenti. Menoleh ke belakang. Seorang perempuan bertubuh kurus dan berkulit tidak coklat seperti saya melambaikan tangan. Perempuan yang beberapa menit lalu saya hampiri sekedar bertanya dimana bisa menemui area jalan yang saya tuju.

Saya melempar pandang kepada kedua adik saya yang ekspresi mereka sulit saya pahami. Ragu saya mengikuti langkah perempuan tersebut yang memaksa saya untuk mengikutinya.

“ Saya antar you ke tempat tujuan,” begitu ia berujar.

Ia membawa langkah kami ke area bangunan yang agak sepi. Sebuah mobil L-200 menunggu. Jantung berdebar, pikiran negatif mulai bermunculan. Mata saya memandang awas satu persatu ke arah dua adik saya yang terlihat juga ragu. Perempuan itu memaksa kami menaiki mobil tersebut. Saya mengabaikan pikiran mengerikan, sudut hati berusaha menyakin bahwa tak akan terjadi apa-apa.

28535043_10214790539338378_1124925917_n
Mesjid Jamek ; Setelah di Renovasi, mesjid jamek jadi lebih keren dan adem plus menyenangkan.

 

Saya menarik napas. Ternyata mobil tersebut grab car yang ia pesan. Tapi, tetap saja hati saya tidak tenang. Sepanjang perjalanan kami banyak bermain dalam diam. Tubuh saya kaku dan bingung bagaimana bersikap – untuk pertamakalinya dalam sejarah perjalanan saya kebingungan bersikap pada orang asing.

Pun dengan dua adik saya yang baru pertamakali melakukan perjalanan keluar negeri. Tak banyak kalimat yang keluar dari mulut kami, si perempuan sibuk dengan ponsel dan berbicara dengan supir grab. Sampai dimana ia memngeluarkan selembar uang 20 RM yang membuat saya kebingungan bersikap : haruskah saya mengantikan uang si mbak tersebut?

Kami turun dekat kawasan Pudu, ia pun ikut turun. Dan menyakinkan apakah saya akan aman jika berjalan sendiri dan memahami arah tujuan. Ia memberi arahan kemana langkah kaki kami harus berjalan. Saya pun mengangguk. Saya mengucapkan terima kasih atas kebaikannya.

28511917_10214790539138373_1297245355_n
Dataran Merdeka : salah satu tempat populer di kalangan wisatawan asing — hal wajib disinggahi saat ke KL

 

Kami berjalan, dan saya menoleh ke belakang, ia masih mengawasi langkah kami. Setelah yakin baru ia menghampir sebuah bus yang melintas. Dan… satu jam berlalu, saya terdiam menyadari pertolongan Allah ditengah kelelahan kami melangkah mencari alamat hotel lewat kebaikan perempuan asing tersebut.

****

 

28459432_10214790539058371_410227706_n
Gedung Sultan Abdul Samad ; dibangun pada 1897 oleh A.C. Norman. Selama masa pendudukan Inggris di Malaya, gedung ini digunakan sebagai kantor beberapa departemen pemerintah. — Tak heran arsitekturnya khas bangunan tua di Inggris.

Kuala Lumpur bagi saya bukan sekedar tempat persinggahan untuk sebuah kata ‘liburan’,  tapi kota ini bagaikan berkunjung ke rumah seorang teman sekedar memperoleh rasa menyenangkan. Maka, tak banyak tempat yang sudah saya kunjungi di ibukota Malaysia tersebut.

Beberapa kali singgah, saya lebih senang duduk di Go KL dan menikmati perkotaan lewat kaca jendela bus gratis tersebut yang berakhir di KL Sentral dan kembali ke KLIA2 untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya. Yup, Kuala Lumpur tak ubahnya bagi saya persinggahan sesaat sekedar melampiaskan kesenangan belaka.

Menarik bagi saya adalah keragaman kota ini yang menyenangkan. Diantara gedung perkotaan, ragam etnis terlihat saling menghargai satu sama lain. Inilah menjadi alasan dasar saya mengajak dua adik saya untuk liburan ke negara tetangga tersebut awal tahun kemaren – bahwa hidup ini tak sekedar nikmatnya sepiring nasi Padang.

Jauh sebelumnya, saat saya masih duduk di bangku sekolah, Kuala Lumpur tak ubahnya sebuah kota yang membuat saya geram penuh amarah dengan ulah yang kerap diberitakan media ; entah menyiksa para butuh migran, entah soal perebutan budaya dan lain sebagainya. Sayangnya, semua terbantahkan ketika pertamakalinya melakukan solo traveling dan singgah di KLIA sekelompok Mahasiswa berkewarganegaraan Malaysia memberikan saya ice cream. – saya mah anaknya mudah luluh dengan makanan.

28535364_10214790539418380_71905608_n
BATIK ?!

Traveling mengajarkan saya untuk melihat sesuatu dari berbagai sudut pandang tentang keragamanan. Bersama dua adik saya, sayangnya karena menganggap sudah akrab dengan kota ini, saya memulai awal yang salah. Saya lupa memasang paket rooming dan mengabaikan stand simcard lokal. Alhasil, saat menuju penginapan, kami merepotkan diri dengan berjalan tak tentu dn bertanya pada beberapa orang yang ditemui.

Termasuk seorang perempuan muda berkulit putih dan bermata sipit.  Gayanya terlihat santai dengan baju kaos putihnya, dia akhirnya memberi arahan jalan yang harus kami tempuh saat saya bertanya mengenai daerah Pudu Lama, tempat dimana saya akan menginap.

Setelah beberapa ratus meter saya berjalan, tiba-tiba perempuan itu menyusul langkah kaki dan berteriak memanggil kami. Ia pun mengajak untuk ikut bersamanya yang sempat membuat saya curiga. Ternyata ia mengantarkan saya dengan grabcar yang ia order. Tadinya saya pikir ia hanya akan menyinggahi saya di suatu tempat, ternyata ia ikut turun dan memastikan bahwa kami aman sampai tujuan.

Saya tak mungkin lupa sorot mata kekhawatiran seorang kakak di sepasang matanya. Lama saya terpaku, yang akhirnya membuat saya menyesal tak memberi apa-apa selain ucapan terima kasih. Diam-diam saya menyelipkan sebuah do’a : semoga hal-hal yang baik di anugerah kepada perempuan tersebut.

28534129_10214790539458381_1524120189_n
Salah satu kawasan di mesjid Jamek ; terlihat potret pasangan nan romantis — ah semoga ekanya disegerakan menemui sahabat hati 🙂

****