5 Hal yang disadari Selama Perjalanan Umroh

Beberapa pohon kurma adalah pemandangan pertama menarik mata saya untuk tetap terjaga meskipun AC bus mengoda menyuruh segera terlelap. Namun, sayangnya saat bus mulai menjauh bandara Jeddah tak ada pemandangan onta yang berkeliaran di antara Padang pasir yang saya lihat dari balik jendela kaca Bus. –seperti apa yang saya bayangan tentang negeri ini sebelumnya.

AC Bus sepertinya tidak lelah merayu saya untuk segera terlelap. Namun, sayangnya, godaan nasi kotak yang dibagikan muthawwif lokal membuat tetap terjaga. Mengunyah. Menikmati ‘Indonesia’ di lidah dengan pemandangan gurun pasir.

Saya memejamkan mata usai menikmati masakan sunda. Hati saya pelan-pelan mengeja kalimat :

“Shobahul Khoir, Arab Saudi!!!”

  1. Jangan khawatir soal makanan

Memiliki pengalaman buruk soal makanan ketika berada di luar negeri, membuat saya membawa satu pack sambal terasi kemasan dan mie gelas. Sayangnya, kekhawatiran saya dijawab oleh nikmatinya menu sunda dua jam pertama berada di negara ini.

Jika menu catering yang disediakan pihak Tour tak mengugah selera– Sayangnya, selalu mengugah selama perjalanan saya kemaren –, Ada pop mie yang bisa ditemui di minimart, baik itu di Madinah atau mekkah. Oh, ya Burger King juga ada, KFC apalagi dan … klo mo nge-bucks (starbucks) juga bisa lho *tapi masak jauh-jauh ke Madinah dan Mekkah cuma nge-bucks L, puas-puasin aja minum air zam-zam. Selain segar, Free lho! 😀

IMG_3153Dalam arti kata tak usah khawatir soal makanan. Berani mencoba makanan lokal sana?dijamin Halal 100% 😀

  1. Jangan bebani koper kecuali ketika pulang ke Indonesia

Jangan bebani koper dengan setumpuk pakaian. Perjalanan umroh biasanya memakan waktu 9-14 hari, dan bukan berarti membawa pakaian segituh lho apalagi dikali dua dengan asumsi pakaian malam dan siang.

Bawalah pakaian maksimal 2 pakaian ihram, tiga pakaian main, satu pakaian tidur. Kita bisa memanfaatkan wastafel kamar hotel untuk mencuci pakaian yang esok paginya udah kering. Itu pun jika sayang mengeluarkan Riyal untuk sekedar mengunakan jasa laundry-an hotel.

Disini perlu membawa deterjen sachet dari kampung halaman lho. Lagian waktu kita lebih banyak dihabiskan di Mesjid, jadi tak perlu jenis pakaian buat ke kantor, ke taman, ke mall, ke salon, apalagi ke pantai (lho?!)

Bebanilah koper dengan kiloan kurma yang dijamin keaslian manisnya tanpa tambahan ‘manis buatan’ yang kerap ditemui di pasar kampung saya.

koperAtau bisa juga bebani koper dengan air zam-zam, dengan cara packing yang benar agar tidak tumpah dan membasahi koper. Ala saya :“lakbani botol air mineral yang berisi air zam-zam kemudian masuki ke dalam plastik, dan lakbani lagi.”

Ingat : meskipun di Madinah dan Mekkah kita sepuasnya minum air zam-zam bukan berarti dibawa ke Indonesia sepuasnya. Jatah dari pihak tour biasanya 5 Liter. Dan, masih berani coba beli di negeri sendiri sementara kemaren ada isu peredaran air zam-zam palsu (nah lho!)

  1. Jangan pusing soal bahasa

Ibadah umroh adalah salah satu ibadah yang membuat kita bertemu dengan saudara seiman dari berbagai pelosok negara. Dan tentu saja, sebagai alat komunikasi untuk menyampaikan pesan, bahasa yang digunakan jelas berbeda-beda. Syukur-syukur kalau bisa menguasai bahasa mereka atau bahasa Inggris sebagai bahasa Internasional.

Berbicaralah dengan baik dan benar dengan bahasa yang dikuasai. Entah orang yang kita ajak bicara mengerti atau tidak. Kalau soal pedagang, tenang mereka sudah memahami bahasa Indonesia dengan baik kok.

Saya sempat beberapakali dihampiri orang Turki dan dia berbicara dengan bahasa ibunya sementara muka saya memahaminya dengan tampang melongo. ‘’what did you said?”*dengan grammar dan pronoun kacau*. Dia berbicara panjang lebar, mengajak mengobrol. Dan lagi-lagi saya membalas dengan memamerkan sajadah saya yang bertulisan ‘’made in Turki’’ tak lupa menyunggingkan senyum. Ia membalas dengan senyuman manis.image(4)

Di lain waktu ada orang Turki yang juga bicara kepada saya yang membuat saya hampir putus asa menterjemahkan kalimatnya selain senyumannya yang membuat saya betah untuk mendengar ocehannya. Setelah panjang lebar, akhirnya ia menunjukkan roti yang saya pegang. Ternyata dia ingin saya share roti tersebut padanya.

Atau setelah panjang lebar ternyata dia ingin berfoto bersama saya setelah ia mengeluarkan kamera. Lagi-lagi kami diselamatkan dengan ukiran senyuman.

  1. Jangan pusing soal mereka yang menitipkan oleh-oleh padamu kecuali doa untuk mereka.

Umroh adalah perjalanan ibadah. Perjalanan mengenal diri sendiri dan sang khalik (setidaknya itu yang rasakan), bukan sekedar perjalanan cuci mata dan berbelanja ( Meskipun kegiatan ini juga saya lakukan. Heheehh….)

sumber foto : search google
sumber foto : search google

Jangan bebani kepala dengan “apa ya nanti yang dikasih ke si fulan?” , “beli apa ya buat si udin”, bla..bla..bla. Berberlanjalah semampunya dengan barang-barang yang menarik perhatian mata dan hati. Ada baiknya, mencetak foto gambar kabbah atau suasana mesjid Nabawi yang diambil dengan kamera ponsel/digital ketika sampai di kampung halaman. Kemudian memberikan foto tersebut kepada mereka yang menagih oleh-oleh. Plus dengan ucapan do’a : “Semoga kalian bisa segera ke sana dan melihat kabbah secara nyata.” jangan lupa tersenyum dengan tulus.

  1. Sibukan diri dengan Berzikir dan Baca Alqur’an

image(5)Seringlah berzikir dan itikaf di Nabawi dan Masjidil Haram. Sesuatu yang mungkin sulit dilakukan ketika berada di kampung halaman. Ini kesempatan untuk bisa khatam Alqur’an tanpa dibebani pikiran :“Waduh tugas kantor belum kelar nih”, “Waduh ketinggalan Sinetron GGS nih gara-gara macet” dan lain sebagainya. (eka)

Note : Buat teman-teman, khusus untuk daerah Padang yang berminat umroh menggunakan  jasa tour travel yang saya gunakan untuk umroh kemaren bisa kontak saya di email saya : ekaherlina622(at)hotmail(dot)com