Bulan: November 2013

Season Change

Film Thai bagi saya selalu menyisakan kata  ‘sederhana tapi menghibur’.  Itulah kenapa saya selalu menanti film thai yang lebih kepada genre romance. Ide cerita yang sederhana namun dikemas dengan adegan-adegan yang bikin tertawa. Salah satunya, Season Change. Menonton film besutan sutradara, Nithiwat Tharathorn (Dear Galileo), awalnya pikiran saya langsung tertuju pada film Indonesia ‘Cinta Pertama’ , simpel sih, karena pakaian sekolahnya dan gedung sekolahnya, meskipun sebenarnya tak sama.

Season change dirilis pada 2006, bercerita mengenai Pom (Witawat Singhalampong), seorang remaja yang terjebak masuk sekolah Mahidol College of Music karena cewek yang ia sukai dan bahkan tak menyadari kehadirannya, Dao (Yuwarnart Arayanimitsakul). Di sisi lain, Pom didukung oleh kemampuannya bermain drum. Demi Dao, Pom juga masuk ke kelas klasik yang akhirnya juga membuatnya  meninggalkan band yang ia bentuk bersama dua temannya, karena kelelahan membagi waktu antara musik Rock dan Klasik.

Sementara itu, masuknya Pom ke sekolah music tidak diketahui oleh ayahnya yang berharap ia belajar kedokteran. Tentu saja Pom merahasiakan hal ini dari ayahnya. Saatnya, kehadirannya di sekolah musik diketahui oleh teman baik ayahnya yang berprofesi dokter. Untuk menutupi kebohongannya, Pom meminta bantuan Aom, putri sang dokter tersebut untuk menyuruh sang dokter menjaga rahasianya. Persahabatan pun juga terjalin antara Aom dan Pom. Bisa ditebak terjadi konflik cinta segitiga.

Suatu hari, ada seleksi ‘beasiswa’ ke Hungaria, yang juga menjadi obsesi Dao. keikut sertaan Dao, membuat Pom juga melibatkan dirinya dalam seleksi beasiswa tersebut. Apalagi, sang profesor, dosen drum Pom menyarankannya sejak dulu untuk ikut ambil bagian di beasiswa. Sayangnya, perjalanan seleksi beasiswa itu melibatkan peran orang tua yang akhirnya, rahasia Pom terbongkar. Bahwa selama ini ia berbohong sekolah di kedokteran tapi justru di sekolah musik. Namun , kekerasan hati ayahnya lama-lama memudar saat sang profesor memberi pengertian , ditambah tentu saja nasehat dari teman baik sang ayah, dokter –ayahnya Aom.

Seleksi beasiswa juga yang akhirnya membuat Pom bisa berbicara dengan Dao. Sadar bahwa selama ini Pom masuk sekolah musik, terutama kelas klasik karena seorang cewek memancing amarah tersendiri bagi Aom –yang tentu saja cemburu. Amarah Aom yang membuat Aom menjauh dari Pom. Meskipun menjadi dekat dengan Dao, namun  Aom yang menjauh membuat Pom merasa kehilangan. Endingnya bisa ditebak kemana hati Pom akhirnya tertuju.

Ide sederhana tapi dikemas menarik dengan konflik yang lazim ‘dekat’  dalam kehidupan sehari-hari.  Seperti, sikap ayahnya yang berharap Pom masuk kedokteran, Ibunya meskipun marah tapi tetap  perhatian dengan menyarankan Pom membawa susu dus saat Pom kabur dari rumah dan memilih tinggal di kos/dorm temannya. Tak kalah penting adalah gambaran sosok Pom sendiri , seorang remaja yang digambarkan masih tidak tahu tujuan kecuali tertuju pada gadis yang ditaksir dan musik merupakan kesukaannya. Hanya sekedar itu!

Sepanjang film, saya tidak berhenti tersenyum, tertawa geli, dan bahkan mengeluarkan air mata ketika adegan Aom melihat stabilo yang diberikannya kepada Pom berada ditangan Dao. Terus amarah Aom sambil ‘mengembalikan’ payung.  Film yang membuat kamu merindukan masa remajamu, tentunya. Banyak scene yang romantis tapi tidak lebay.  Untuk itu, kalau di ukur dari 1-10, saya memilih film ini pada angka 8,5.

Pom meminjamkan payung yang semula buat Dao kepada Aom--

Pom meminjamkan payung yang semula buat Dao kepada Aom–

Aom dan Pom belajar. Disini Aom memberikan Stabilo pink pada Pom. Ehm...

Aom dan Pom belajar. Disini Aom memberikan Stabilo pink pada Pom. Ehm…

* Catatan : Untuk gambar saya search di google*

Iklan

Apa Yang Membuatmu Mau Menjadi Indonesia?

Suatu malam, sepulang dari acara Tempo Institute ‘’Menjadi Indonesia’’ di Galeri Nasional, Jakarta, saya langsung mengupdate personal message di BBM dengan kalimat  :

“Apa yang membuatmu mau menjadi Indonesia? Jika Media Massa saja lupa akan nilai berita?”

Kalimat itu saya kutip dari pembacaan puisi yang dibawakan di acara tersebut. Inti tulisan ini sebenarnya bukan membahas dari acara tersebut, nah disinilah awal permulaannya. Ketika tiba-tiba salah satu teman saya masuk ke chatroom dan menanggapi status saya dengan kalimatnya:

“Apa yang membuatmu mau menjadi Indonesia? Jika sudah banyak pemuda pemudi yang lebih mengilai budaya k-pop ketimbang budaya Indonesia yang beragam, dari sabang sampai merauke?”

Saya tersenyum membaca komentarnya. Saya tahu ini ditujukan kepada saya, yang memang terperangkap dalam virus hallyu. Tapi, komentarnya cukup membuat hati saya sedikit ‘panas’ dan ingin membalas dengan ‘argumen’ yang tentu saja memancing perdebatan. Tapi, saya terlalu lelah melakukannya, selelah hati ini menjawab pertanyaan tentang ‘nasionalisme’.

Saya ingin mempertanyakan kepada teman saya, apakah dia punya bukti bahwa Kami—saya–, yang mengilai K-Pop melupakan budaya Indonesia? Bagi saya realitis saja, bagaimana dengan musik Indonesia saat ini? Saya lelah jika harus berdebat hal-hal yang simpel seperti ini sebenarnya. Saya akan menjawab dengan pernyataan yang sederhana saja :

Saya terperangkap dengan virus Hallyu bukan berarti lidah ‘rendang’ saya beralih pada ‘ Kimchi’

Saya terperangkap dengan virus Hallyu bukan berarti saya lupa bahwa kita punya keberagaman budaya yang begitu indah termasuk keberagaman alat musik tradisionalnya.

Menyukai K-POP bukan berarti melupakan Indonesia. Justru Hiburan Korea menyadari kita banyak hal (next: saya akan menulisnya dengan bahasan tersendiri). Pertanyaan saya kembali pada :

“Bagaimana dengan musik Indonesia?”

Kita punya beragam alat musik tradisional yang diakui dimata dunia yang sayangnya terabaikan. Jika pemerintah sadar, bahwa ‘musik’ bisa mengangkat nama Indonesia di mata internasional. Kita bisa membuat ‘gelombang’ tersendiri seperti Jepang dengan Harajukunya, Korea dengan Hallyu nya dan dunia barat dengan western-nya.

Jika pelaku industri musik tak sekedar memikirkan bisnis semata, tapi juga kualitas dengan memberi sesuatu yang baru pada dunia hiburan seperti kolaborasi antara musik tradisional dengan modern. Bisa dibayangkan, bukan?

Kembali ke Hallyu. Tak bisa dimungkiri, musik ditawarkan Korea Selatan dengan boyband/girlbandnya sederhana, namun riang dan ceria. Mereka bisa ‘membaca’ peluang dengan memanfaatkan media untuk terus menyebarkan virus Hallyu. Tak sekedar musik, dalam segi drama pun mereka menawarkan ‘dongeng’ tapi dikemas dalam bentuk yang sangat ‘dekat’ dengan kehidupan. Juga Variety show-nya, tak bisa dijabarkan lagi. Menghibur, bukan?

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Sejujurnya, saya lupa bagaimana menikmati televisi dan kapan terakhir benar-benar menikmati program televisi tanah air. Kita dengan drama sinetron yang tak pernah usai, dengan variety show sangat jelas settingannya, dan infotainment yang juga tak lepas dari settinganya. Hallyu menjawab segala kejenuhan kami dengan hiburan yang disajikan televisi tanah air.

Apa yang membuatmu mau menjadi Indonesia?

Kami—saya–, yang gemar menghabiskan waktu berjam-jam mendowload program variety Korea sejujurnya lelah menonton acara lawakan televisi yang menjurus pada kekerasan verbal, terutama mengacu pada fisik. Lalu, apa yang bisa dibanggakan dari semua itu???

Soal Selera

Saya lelah berhadapan dengan mereka yang selalu ‘memandang’ penuh ejek pada kami yang berteriak bahkan mengeluarkan air mata ketika para bintang dari Korea Selatan itu menyinggahi negeri ini. Tak sedikit rupiah yang dikeluarkan demi memuaskan batin. Dan, tidak sedikit perjuangan yang ‘memalukan’ demi melihat mereka secara dekat.

Bagaimana mungkin salah satu teman dari teman saya, yang terperangkap virus K-POP terpikir memberikan blankon ke Idol? Bukankah Blankon bagian dari budaya Indonesia? Apakah ia melupakan budayanya sendiri?

Ini soal selera. Tak lebih. Bukan soal siapa ‘melupakan’ siapa… saya, k-poper hanya sedang berkelana yang tetap kembali ke rumah, yaitu Indonesia.

CN BLUE Akan Persembahkan Kenangan Terindah Untuk Boice

CN BLUE AKAN PERSEMBAHKAN KENANGAN TERINDAH UNTUK BOICE

Image

Akhirnya penantian panjang Boice sebutan fans CN BLUE di tanah air untuk bisa menyaksikan idol-nya terjawab sudah. Pasalnya, band beraliran pop-rock asal Korea Selatan ini siap menyapa para pengemarnya melalui konser bertajuk 2013 CN BLUE : BLUE MOON WORLD TOUR yang akan berlangsung nanti malam, Sabtu (19/10) di Tennis Indoor Stadium, Senayan, Jakarta.

Ditemui saat jumpa pers di Hotel Intercontinental, Jumat (18/10), band yang beranggotakan Jung Yong Hwa (Vokalis), Lee Jong Hyun (Gitaris), Lee Jung Shin (Bassist), dan Kang Min Hyuk ( Drum) mengaku sangat senang akhirnya bisa menghibur Boice Indonesia.” Akhirnya kami bisa datang setelah sekian lama menunggu. Kami akan memberikan kenangan terindah untuk Boice Indonesia,”ungkap Yonghwa yang merupakan leader dari CN BLUE.

Jonghyun pun menambahkan, “Setelah adanya masalah yang lalu, akhirnya kami bisa datang dan sangat senang menyapa Indonesia.” Seperti diketahui pada 2011 lalu, CN BLUE sempat berencana mengadakan konser di Indonesia. Sayangnya, adanya benturan masalah dengan pihak promotor membuat band ini pun batal menyapa pengemarnya.

Sementara Jungshin mengucapkan rasa terima kasih kepada Boice Indonesia yang telah setia menunggu mereka selama ini. Mengangkat tema Blue Moon pada konser dunia mereka kali ini, keempat pria tampan ini berharap konser ini akan menjadi besar dan terus akan ada setiap tahunnya. “Ful moon kan cuma sekali, kalqu blue moon dua kali, jadi lebih spesial. Kami ingin memberikan pemanpilan yang luar biasa dan istimewa untuk Boice,” tukas Min Hyuk.

Nama CN Blue sendiri merupakan singkatan dari “Code Name” dan diikuti “Blue” yang mengambarkan karakter individu personilnya. Seperti ‘B’ mengacu pada burning yang merupakan Lee Jong Hyun, Lovely adalah Minhyuk, Untouchable merupakan Lee Jung Shin, dan Emotional yaitu Jung Yong Hwa.

*Tulisan ini dimuat di Koran Jakarta, 19 Oktober 2013*