Nasehat untuk Udin

 Dear Udin….

Oktober baru saja berlalu, dan November sudah berkurang enam hari. Tapi, aku berharap tak ada yang basi dari surat ini.

Oktober adalah bulanmu, dan mungkin juga bulan yang paling membahagiakanmu tahun ini, bukan?

Oktober adalah hari lahirmu, hari yang bagi sebagian orang adalah hari membahagiakan, merayakan berbagai prosesi bersama sahabatnya — dan, maafkan aku yang tidak hadir disisimu saat merayakan berkurangnya usiamu.

Oktober adalah hari dimana akhirnya kau bisa tertawa lega bercampur rasa senang yang mungkin tak bisa kau ucapkan dengan kata-kata. Akhirnya, S.ikom!!! Ketidakpastian yang hampir berujung rasa putus asa terjawab sudah — Lagi-lagi aku minta maaf tak hadir disisimu untuk sekedar ikut tertawa dihari wisudamu.

Oktober, dimana aku berniat menghadiahkanmu dengan kado untuk merayakan kebahagiaanmu — dan untuk sekian kalinya aku minta maaf karena mengurungkan untuk merealisasikan niat ini.

Udin yang baik, terima kasih telah menjadikanku bagian dari teman-temanmu sekedar meluapkan kegelisahan dan kegembiraan. Mengenalmu adalah anugerah terindah Tuhan untukku– tentu kau tak bisa menampik, bukan. bagaimana kesepiannya awal-awal menjadi perantau di kota yang asing. maka, sedikit lebay, aku seperti menemui kehangatan keluarga dalam dirimu.

Udin, banyak ragam emosi dalam pertemanan kita, yang membawaku pada persepsi tertentu mengenai karaktermu. Memahami setiap luapan emosi yang kau tumpahkan setiap kali kau merasa lelah dengan perjalanan ini.

Ada rentang waktu kita saling mengabaikan satu sama lain. Bukan karena amarah yang disebabkan oleh pertengkaran. Tapi, lebih karena kesibukan menjalani hidup yang lebih asyik dan menyerukan diluar lingkaran pertemanan kita. Tapi, bukan berarti aku melupakan dirimu, dan aku yakin begitupun sebaliknya.

Aku bukan temanmu yang baik yang bisa membawamu pada langkah kebaikan, dan juga bukan temanmu yang bisa kau ajak bersusah payah dengan rentetan masalahmu. Tapi, percayalah terkadang aku memikirkan beberapa petuah layaknya nasehat sang ibu kepada anaknya, untuk aku bagi kepadamu.

Maka ijinkan aku membaginya padamu sebagai kado Oktober-mu :

Pertama, saat kamu merayakan Oktobermu tahun ini. Diantara tiupan lilin dan lezatnya kue yang kau terima dari teman-temanmu, ingatlah usiamu tak lagi muda lagi. Ada rangkai tanggung jawab yang menghantuimu sebagai sosok yang dewasa. Membimbing adikmu untuk meraih masa depan yang cerah, merangkul keluargamu untuk dapat menikmati hidup yang indah, dan untuk dirimu sendiri bahwa hidup tak lagi sekedar tawa hura-hura tapi juga tawa kebahagiaan. Raihlah dengan langkah bijak.

Kedua, Saat kau menanti surprise party dari teman-temanmu, ingatlah bahwa kau juga harus menyiapkan ‘kejutan’ untuk dirimu sendiri. Bahwa, tak ada lagi kata ‘santai’ dalam hidup ini. Waktu terus berlalu, dan akan mengerus usiamu. Satu detik pun berlalu, tak bisa kau ganti dengan rupiah. Isilah harimu dengan menyiapkan hal-hal yang menakjubkan dalam hidup. * sejujurnya aku iri dengan kebebasan yang kau miliki,

Ketiga, Tetap tersenyum, dan jangan takut diremehkan dengan apa yang kau miliki saat ini. Jangan pernah merasa minder, dan bersyukur dengan apa yang kau punya. Jadilah diri sendiri, dan tunjukkan apa adanya dirimu adalah ada.

Keempat, berhentilah mengeluh. Yang kau perlukan adalah dirimu dan Tuhanmu, maka biarkan langkahmu berjalan sesuai dengan ‘nyamannya’ dirimu. Jangan berharap pada orang lain, beharaplah pada diri sendiri dan Tuhanmu. Bahwa kau mampu melakukan hal-hal yang menakjubkan. Maka fokuslah pada dirimu sendiri.

Kelima, tetap sederhana dan rendah hati. Jangan terpaku pada keputus asaan dan kemalasanmu. Jangan lupa kau libatkan Tuhanmu dalam setiap langkahmu.

Terakhir adalah, ingat bahwa materi bukanlah segalanya dalam hidup ini.  Bersyukur adalah jalan terbaik untuk merasakan kebahagiaan. Percayalah, jika kau yakin dengan dirimu, Insya Allah apa yang kau yakini bisa kau raih.

Regards,

Eka — temanmu yang sedang belajar mengalahkan kalimat Mario Teguh–