Bulan: Oktober 2015

Kesederhanaan Hidup di Sepiring Sampadeh

Adalah sampadeh, begitu saya sedari kecil menyebutnya. Dia tak mendunia seperti rendang sang juara diantara 50 masakan terlezat di dunia versi CNN International Tapi, dia membumi diantara lauk pauk yang disajikan di rumah makan Padang.

Sampadeh bukanlah sesuatu yang favorit dibawa anak rantau dari rumah ketika kembali ke tanah rantau. Sebab, tentu ia tidak seperkasa rendang yang bisa bertahan sampai sebulan. Tapi, ia selalu menyelipkan rasa rindu akan suasana sederhananya kebahagiaan.

Sampadeh — atau bahasa Indonesianya Asam-pedas– juga tidak populer seperti deretan makanan lezat yang kerap disebut orang tentang masakan Padang — Rendang, dendeng balado, itik lado ijo, gulai kikil dan tunjang. *tetiba lapar.

Dan, sampadeh tak menimbulkan efek yang mengerikan bagi kesehatan tentang olahan masakan minang seperti kolestrol…

atau seperti iklan minuman kesehatan yang memperlihatkan deretan piring berisi lauk-pauk khas di rumah makan Padang yang bisa menyebabkan panas dalam.

*****

Sampadeh, begitu telinga saya akrab mendengar nama itu. Sebuah nama yang mengacu pada salah satu masakan tradisional khas Sumatra yang biasanya mengunakan ikan segar. Keluarga saya kerap mencampur dengan tahu atau terkadang kentang.

Sampadeh tak sekedar ada di rumah makan Padang dan Sumatra Barat. Hampir sebagian wilayah Sumatra ada. Di Aceh, dikenal dengan sebutan asam keueng. Di Riau biasanya olahan sampadeh dari ikan Patin. Tak heran ada yang bilang sampadeh merupakan masakan bumi nusantara Sumatra.

Ditelisik dari sejarah, kata seorang teman kegemaran masyarakat Minangkabau yang merantau membuat masakan ini hampir ada di semenanjung daerah Sumatra hingga ada yang bilang sampai Malaysia. Maka ada yang bilang sampadeh merupakan masakan khas melayu.

Namun, dari segi rasa yang dihasilkan setiap daerah tentu berbeda dan memiliki karakter yang khas tapi tidak meninggalkan citra rasa keunikan perpaduan asam dan pedas. Konon kepiawaian padusi* Minangkabau yang terlatih mengolah rempah-rempah yang ada dan menyesuaikan dengan daerah mereka berada menjadi bumbu masakan. Ini yang membuat rasa sampadeh tiap daerah berbeda tapi masih memberi sensasi sama yaitu rasa asam dan pedas.

Segar.

sampadeh

Kesegaran Sampadeh

****

” Segar.”

Saya menarik napas lega mendengar kata yang keluar dari mulut Mimin, teman kosan saya saat menjadi perantau di Ibukota beberapa tahun silam. Malam itu, saat berkeliling mengitari aneka bumbu masakan di supermarket salah satu mall. Mata saya terhenti pada sebungkus asam kandis, sesuatu yang belum pernah saya temukan setelah hampir lima tahun berada di Jakarta.

Maka dengan bermodal asam kandis dan bumbu yang ada di kulkas kosan saya mengolah masakan sampadeh. Saya membeli beberapa potong ikan segar. Tak butuh waktu lama untuk mengolahnya menjadi masakan berkuah merah tersebut.

ikan

Jeruk nipis berfungsi menghilangkan bau amis pada ikan

Sebab, mengolah sampadeh sungguhlah sederhana dengan bumbu minimalis yang tentu berbeda dengan masakan Sumatra Barat lainnya –apalagi rendang. Terbiasa dengan olahan masakan yang ‘ribet’, tak heran sebagian orang Minangkabau mengatakan masakan sampadeh adalah masakan orang pemalas.

bumbu

Tanpa serai, daun kunyit, dan daun ruku-ruku yang kata mama saya penetral rasa sehingga ‘melindungi’ lambung agar tetap aman. 😦

Bagaimana tidak, dengan memasuki ikan dan tahu atau sayuran lain dengan semua bumbu seperti cabe giling, bawang merah dan bawang putih yang sudah dihaluskan, dikasih air dan dimasak dengan tambahan asam kandis, garam, serai, daun jeruk, daun kunyit atau daun ruku-ruku. Biasanya saya akan menambah potongan tomat ditengah-tengah proses memasak. Rebus sampai ikan tak lagi terasa amis dan kuah terlihat sedikit mengental.

Simpel. Tak butuh waktu lama seperti olahan rendang yang perlu kita aduk terus menerus sampai satu jam untuk menghasilkan rasa yang pas dan tidak hangus. Sebenarnya, sampadeh pun tanpa serai atau daun kunyit masih terasa sampadeh. Bagi saya yang terpenting dari masakan ini adalah cabe giling halus dan asam kandis, tomat serta bawang merah dan putih.

sam

Sensasi segarnya tomat dalam sampadeh

Masakan yang ramah bagi tubuh

Percaya atau tidak dari ragam pujian kebanyakan orang tentang keunikan kuliner Sumatra Barat nan lezat ada yang mengeluh tentang masakan ini. Seorang peserta tour yang ditemukan saudara saya saat jalan-jalan ke Sumatra Barat sempat stress soal makan. Makanan bersantan, berlemak dan berminyak terbayang dibenaknya.

Tapi tidak dengan sampadeh. Tampilan merahnya tak sebanding dengan rasa pedas yang terbayang. Mimin, teman saya itu sempat menolak ketika saya menyuruhnya untuk menyicip masakan sampadeh saya karena takut pedas. Saya bilang pedasnya normal.  Namun, hal mengejutkan justru mimin bilang ‘segar’ dan beberapa kali menyeruput kuah sampadeh dengan normal.

Rasa segar yang bisa melegakan hati bagi mereka yang takut akan kolestrol. Sebab, sampadeh memiliki kandungan gizi dan protein yang sehat untuk badan. Proses memasakan dengan cara direbus tak merusak nilai protein pada ikan termasuk dari segi rempah yang digunakan dapat menetralkan rasa pedas dari cabe giling sehingga aman untuk perut.

Oh, ya bagi tak suka dengan olahan ikan yang kerap digunakan dalam masakan sampadeh, biasanya juga bisa dengan daging. Mama saya biasanya mencampurnya dengan labu siam atau dalam bahasa minangkabau japan. Untuk menyeimbangi protein hewani dengan nilai gizi dari sayur-sayuran.

Filosofi sampadeh

Bagi saya hidup itu seperti sampadeh. Ketegasan dari warna merah yang merekah tak melulu menghasilkan sensasi pedas yang berefek pada kesehatan perut. Artinya bahwa hidup adalah sewajarnya dan tidak berlebihan. Dalam artian adalah kesederhanaan.

Bahwa hidup tak melulu soal rasa manis, tapi juga asam dan pedas namun masih memberi napas segar bagi kehidupan. Kesederhanaan hidup bukan soal tak menikmati tapi memberi ruh bagi rasa nikmat itu sendiri. Kesegaran bagi kehidupan.

Dan, bahagia itu sederhana. Melihat wajah sumringah mimin menikmati sampadeh.

****

catatan :

Padusi : Gadis/perempuan dalam bahasa Minangkabau

Kado : Cerita Bersama Ajeng

Aku sangat terharu saat tiba-tiba beberapa hari sebelum pernikahanmu, kau menghubungiku — dan aku lupa kapan terakhir kali kita melakukan komunikasi. Aku bahagia, mendapatkan kabar bahagiamu bukan melalui perantaraan pemberitahuan di sosial media tapi dari ketulusan hatimu menyapaku lewat blackberry messenger , terlebih bukan pesan berantai.

Sayangnya, aku tak dapat berada ditengah prosesi hari bahagiamu– dan aku tak bisa membayangkan wajah sumringah bahagiamu bercampur rasa haru yang sangat. Akhirnya, dimana langkahmu mengukir sebuah kisah baru dan membangun keluarga yang indah.

Dan, jauh ribuan kilometer aku turut bahagia. Sangat bahagia *peluk*

Aku ingin menghadiahkanmu sepasang benda yang mungkin bisa berarti bagimu. Sayangnya, kau menolak halus tawaranku. Pada akhirnya, do’a terindah dari seorang teman adalah kado yang terbaik.

****

konyol

Acara pementasan dalam Rangka Hari tanpa TV

Aku lupa kapan pertama kali kita berkenalan dan menjabat tangan –dan rasanya tak ada jabat tangan saling menyebutkan nama seingatku–, memoriku cuma mengingatkan kalau kita sama-sama terjebak di kelas yang sama, Dasar-dasar Ilmu Jurnalistik. Apakah saat itu kita sempat duduk bersebelahan? aku rasa tidak. Paling, cuma sekedar menyapa dengan senyum.

Aku ingat jelas, disuatu siang kau duduk menyandar di koridor kelas. Mendengar musik dengan ponsel Nokiamu, kalau tidak salah bewarna biru bagian pinggirnya. Aku menghampiri dan bertanya kau sedang mendengar apa.

Mengejutkan. Kau mendengar lagu Sheila on 7, yang terdiri dari lagu lama mereka  saat kita duduk di bangku sekitar SD-SMP. Takjub menemukan list lagu mereka hampir satu album ada di file musikmu. Tak banyak obrolan saat itu.

Pertemanan kita tidak seakrab kisah persahabatan Cinta and genk ala AADC, atau tidak sedekat Kugi dan Noni ala Perahu Kertas. Tapi, kau adalah termasuk salah satu diantara teman-teman yang mampu mengisi cerita penuh tawa. Suatu hari kelak akan aku bagi kepada anakku jika merindukan masa-masa itu.

Memoriku tentangmu adalah larut dalam antusiasmu ketika membahas tentang tulisan, penulis dan buku. tiba-tiba aku rindu membaca tulisanmu di note FB saat dulu kita saling ngetag-in nama untuk sekedar membaca tulisan masing-masing.

Ingatanku tentangmu adalah gadis ceria nan jujur dan entah kenapa mau melakukan hal konyol.Aku tak mungkin lupa saat kita menghabiskan malam di Taman Menteng dengan kantong plastik besar menjajakan aneka snack yang sebenarnya untungnya tak seberapa dengan rasa lelah melintasi jalanan Lenteng Agung-Menteng.

Aku lupa isi obrolan saat kau memacu motormu di kawasan kuningan. Satu yang aku tahu saat itu kita berbicara tentang mimpi dan kehidupan. Kau termasuk salah satu teman yang menyenangkan dalam bercerita mengenai topik itu.

Aku cuma terdiam merasa bersalah saat kau terbirit-birit keluar dari ruangan setelah tertawa lepas saat kita latihan teater. Saat itu kau tak sengaja pipis di celana gara-gara ulah konyolku.

Selain ruang kelas, perpustakaan adalah teman dimana kita berbagi tawa dan cerita. Menceritakan banyak hal termasuk berbicara tentang orang lain — Aish, entah kenapa saat itu membicarakan orang seperti rekreaksi jiwa 😦

****

Teruntuk Ajeng,

Usiamu makin beranjak dewasa, pengalaman membuat pola pikiran dan sikapmu semakin bijak. Aku tahu kau gadis cerdas dalam menentukan setiap langkahmu. Dan, disini aku mengukir do’a terbaik untukmu, agar kau bahagia selalu bersama sahabat hati yang telah kau pautkan namanya di hatimu.

Tetaplah menjadi Ajeng yang jujur, ceria dan antusias.

Happy Wedding, Ajeng.

ajeng

Ajeng bersama umi, onic, dan sadryna, dan eka. Ayoo siapa yang nyusul ajeng dalam waktu dekat? 🙂

Salam bahagia

Temanmu yang masih menanti lahirnya novelmu.

5 makanan wajib dibawa dalam perjalanan

Saya suka makan tapi tidak suka makan asap apalagi menghirupnya. Pengalaman dari beberapakali saya melakukan perjalanan mengajarkan saya apa yang seharusnya dibawa — termasuk tentunya bawa uang, dan apa yang harus ditinggalkan — dan jangan berpikir membawa rumah ketika melakukan perjalanan kecuali perasaan.

Bukan anak pramuka aja yang belajar tentang survival, sebaga pejalan mesti menguasai teknik survival biar nggak nangis disudut hostel karena kelaparan. Bukan soal kelaparan, tapi juga soal selera.

Terlahir sebagai orang Indonesia yang kaya akan bumbu rempahnya, apalagi lahir dan besar dengan lidah kuliner lezat Sumatra Barat membentuk saya memiliki karakter selera yang rada bawel.

Kelaparan bukan berarti tidak menemukan makanan atau tidak memiliki uang untuk makan. Tapi, lagi disebabkan soal selera –bukan berarti Indomie seleraku. Sebab, alkisah suatu hari pernah mengalami ada ragam makanan yang terlihat lezat waktu perjalanan ke Shenzen, tapi cuma bisa nelan ludah karena pas nyicip rasanya…

Nah, berikut 5 bahan makanan yang kerap saya bawa selama perjalanan — berlaku juga untuk perjalanan dalam negeri. Selain menyelamatkan selera, juga menyelamatkan isi kantong tentunya.

  1. Mie instan

Beberapa orang ada yang bawa pop mie, dan ada juga bawa Indomie. Lagi tergantung selera mau bawa yan mana. Tapi, bagi saya paling nggak makanan tempat itu, mie gelas. Sebab, mie gelas praktis bisa diseduh dengan menggunakan gelas hostel/guest house. Biasanya saya meletakan posisi mie gelas untuk survival di saat malam hari. Sembari menahan hawa dingin AC penginapan.

2. Sereal

Saya memilih energen jahe dan kacang hijau. Syukur-syukur kalau pihak hostel ngasih breakfast roti dan teh. Kalau tidak? Energen cukup membuat saya bertahan dari rasa lapar hingga siang menyambut selama perjalanan liburan ke Thailand kemaren. Posisinya tentu saja saya letakan di bagian sarapan.

3. Sambal

Jika ibumu berbaik hati seperti mama saya yang membekalkan dengan ayam balado atau udang dan syukur-syukur rendang dalam perjalanan saya ke Jakarta atau melakukan tour ke Shenzen dulu. Sayangnya, perjalanan ke Thailand tanpa seijin dan sepengetahuan beliau. Alhasil pilihan adalah sambal instan.

Untuk hal ini saya memilih sambal terasi ABC sachetan. Sambal ini berguna saat kamu tidak berselera makan, atau sulit menemukan makanan halal. Belilah nasi putih –Iya, jika ada nasi– seperti di Sevel. Juga cocok kok digabungkan dengan roti.

Saya memposisikan sambal di makan siang saya.

4. Kacang atau coklat superman

Kacang adalah kaya akan kandungan gizinya, begitulah ahli gizi menyebutnya. Jangan berpikir tentang jerawat, jika kamu masih berpikir soal perut yang tidak berteriak. Kacang teman disaat melepas lelah di sebuah taman atau sekedar duduk di halte bis. Begitu juga dengan coklat superman yang fungsinya sama dengan kacang. Mengatasi rasa lapar. Bukan untuk mengajakmu terbang sesaat ke rumah, menyantap masakan ibuk sebelum kembali meLakukan perjalanan.

5. Tolak angin/Antangin

Orang pintar minum tolak angin. Begitulah iklan mengatakannya. Tapi bukan termakan iklan– sebab saya tidak suka makan iklan, tapi obat ini ampuh sebagai survival disaat kamu merasa dinginnya tidur di bandara.

energen

Survival ala Eka

Dari lima makanan diatas tentu harus dibawa dari rumah, selain menyelamatkan isi kantongmu, juga akan kesulitan menemukannya. Percayalah harga tolak angin bisa dua kali lipat di bandara jika dibandingkan dengan warung depan rumah. – jelas iyalah ka..

Oh, ya jangan lupa berbagi ya ke teman-teman perjalanan yang kamu temukan dalam perjalanan. Saya waktu itu memberikan sambal terasi ABC ke bule asal Swedia dan bilang ini khas Indonesia. Sayangnya, ia menolak dengan alasan pernah sakit perut waktu nyoba sambal ketika tinggal di Semarang.  😦 *Lagi soal selera ka….

*** P.S : Ini berlaku untuk perjalanan singkat. Ssst… berlaku juga untuk anak kos.