Menemui Kebaikan di Let’s Read

Keep reading. It’s one of the most marvelous adventures anyone can have

Lloyd Alexander

salah satu koleksi buku yang berada di rumah

Saya terpaku cukup lama usai membaca salah satu cerita di aplikasi Let’s Read berjudul ” Ibu Guru Hebat” . Sepertinya halnya Sarah, saya penasaran dengan ibu guru yang diceritakan oleh Reta dan membuat saya tak sabaran mengeser ke kanan untuk segera menyelesaikan cerita tersebut. Misteri ibu guru Reta pun terkuak dengan pengenalan terhadap sosok Bu Een Sukaesih, bu guru nan menakjubkan. Sosok ibu guru digambarkan dalam cerita mengalami Rheumatoid Arthritis ( RA) yang membuatnya lumpuh, namun tidak menghambat aktivitasnya dalam mengajar.

Bu Een adalah guru yang pintar dengan menguasai ragam mata pelajaran seperti Bahasa Inggris, Sejarah, Komputer dan matematika. Siapa pun boleh datang dan belajar ke rumah buk Een. Sebuah cerita yang sederhana namun mengasah sisi humanis saya sebagai makhluk sosial. Keterbatasan yang dimiliki oleh buk Een ternyata tidak membuat beliau berhenti berkarya. Dan, tentu saja kebaikan hati anak murid beliau saling membantu di rumah buk Een seperti membersihkan rumah. Sejatinya begitulah kehidupan saling menolong dan berbuat baik.

Membaca bagi saya bukan saja sekedar hobi tapi sebuah sarana sebagai pembentukan karakter. Saya percaya buku dan tulisan apa yang kita baca akan membentuk kita seperti apa. Dan, sedihnya adalah ketika saya memperhatikan anak-anak di lingkungan saya yang jauh dari kebaikan lebih banyak berteriak serta terpaku pada game di ponsel. Sungguh sangat langka melihat bocah memegang buku bacaan – kecuali mungkin di kota kali ya ?

Sejatinya cerita baik seperti kisah buk Een bisa dijadikan sebagai perenungan bagi anak untuk menjadi pribadi yang baik dan lebih humanis. Adik saya tumbuh dengan minat bacanya yang bikin orangtua saya mengeleng kepala. Ayah saya sempat ngedumel kala lihat buku-buku yang ada di kamar adik.

“ Ini kalau di totalin bisa beli mobil nih! ” begitu ayah berujar jika dihitung -hitung jumlah buku yang sudah dibeli sejak usia dia sekolah dasar. Membacalah yang membuat adik saya tahu bagaimana transaksi membeli buku online.

Ayah mungkin tidak sadar, deretan buku tersebut membentuk karakter adik lebih bijak dan jeli dalam membaca situasi. Adik tahu dimana ia harus berbicara dan menjaga sikap serta lebih mawas diri. Dan, kisah “Ibu Guru Hebat” bukan satu – satunya kisah yang menghadirkan nilai kebaikan. Ada banyak kisah yang membuat kita terperangkap pada perenungan akan kesederhanaan cerita yang disajikan di Let’s Read, sebuah aplikasi perpustakaan digital masa kini.

Let’s Read more !

Saatnya mengunduh lets read yang bisa kamu nikmati di kala offline — tanpa perlu pakai data membaca cerita anak 🙂

Let’s Read adalah perpustakaan digital berisi buku cerita anak yang dapat di unduh di playstore. Aplikasi ini dipersembahkan oleh komunitas literasi dan The asia foundation dalam rangka bertujuan untuk membudayakan kegemaran membaca sejak dini dengan menghadirkan ragam cerita bergambar nan menarik dan sederhana.

Kehadiran Let’s Read di tengah kemajuan era teknologi yang tak lepas dari smartphone adalah oase di tengah gersangnya kebiasaan membaca terutama dalam dunia anak. Solusi bagi ibu – ibu muda yang terkadang berat mengeluarkan lembaran rupiah demi satu buah buku, namun disisi lain ia ingin anaknya bisa membaca dengan baik. Ada banyak bacaan baik hanya bermodal smartphone. Tak ada alasan untuk mengkambinghitamkan anak kecanduan ponsel pintar, kalau yang di buka adalah bacaan di Let’s read !

Saya belum punya menikah dan punya anak. Tapi menelusuri cerita -cerita di Let’s read membuat saya kehilangan kata-kata. Seperti menemukan mutiara nan indah. Tak sekedar menyajikan cerita, tapi juga informasi soal cerita tersebut dari berbagai bahasa yang bisa jadi media belajar bagi kita. Dan, menariknya adalah informasi soal tingkat kesulitan membaca yang justru sebagai tantangan dalam diri ini. Membaca jadi menyenangkan, bukan?

Ada banyak kebaikan dalam perihal membaca, dan ada ratusan cerita bergambar yang menawarkan nilai kebaikan dalam tumbuh kembang anak saat melewati masa emasnya hingga ia akrab dengan bacaan yang baik. Inilah yang tanpa sadar ditawarkan oleh Let’s Read menurut saya pribadi. Bagi orang dewasa membacakan kisah – kisah yang terdapat di Let’s read tanpa sadar kembali belajar tentang kebahagiaan sederhana khas dunia anak-anak — mengasah sisi humanis dan senyum menyenangkan. Bagi bocah ia belajar mengenai rangkaian kalimat dan imajinasi dan pembentukan karakter menjadi pribadi yang mengembirakan.

Beberapa cerita unggulan yang terdapat di Let’s read Indonesia

Tentang membaca kisah …

Saya dan adik tumbuh di sebuah desa yang tidak terdaftar di peta. Bahkan untuk menyebut dimana kami tinggal, kami terpaksa mengatakan nama kota Kabupaten bukan nama daerah dimana kami tinggal. Membaca buku kala saya kecil dulu merupakan kemewahan yang terangkai dalam khayalan saya. Tak ada perpustakaan dan tak ada toko buku di desa saya seperti hal yang digambarkan dalam cerita – cerita yang saya baca.

Saya bersyukur ada salah satu guru yang berinisiatif menjual Majalah Bobo yang ia ambil dari kota kabupaten dan dijual dengan harga sedikit mahal dari tarif mengingat biaya transportasi. Bagi anak yang gemar membaca, majalah Bobo tak bisa memenuhi kepuasan mengisi waktu sepanjang hari Minggu atau kala liburan tiba. Majalah Bobo hanya hitungan jam sudah selesai di baca, sementara ada banyak waktu yang membuat bosan jika tak ada kegiatan. Terkadang saya mesti mengubek -ngubek koran bekas dagangan ayah yang beliau beli lumayan banyak dari kota Padang kemudian membagikan perkilo. Koran tersebut dijual ke pedagang toko baju atau penjual ikan asin.

Di koran bekas saya menemui cerita dongeng salah satunya tentang bawang merah dan bawang putih yang mengajarkan saya tentang nilai kebaikan dari bawang putih. Cerita tersebut dimuat dalam sisipan terbitan hari Minggu pada sebuah koran daerah. Kecintaan saya pada cerita dimanfaatkan oleh saudara kembar saya kala ia minta tolong. ” Ka, temani Eda ke kamar mandi dong. Eda ada cerita , kemaren nemu di Koran minggu di toko,” kalimat itu menjadi kalimat pamungkas membuat saya menuruti apa maunya Eda.

Saya tumbuh menjadi pribadi yang jatuh cinta pada kata-kata dan cerita termasuk dongeng yang mengajarkan nilai kebaikan. Buku bergambar berjudul Heidi yang dibelikan ibu saya sepulang dari kota Padang kala saya sekolah dasar dulu melekat dalam ingatan saya. Betapa menyenangkan memiliki pribadi ramah dan periang seperti halnya Heidi. — dikemudian hari saya baru tahu kalau Heidi berangkat dari kisah novel yang ditulis oleh Johanna Spyri pada 1879.

surganya pengemar bacaan

Tumbuh dengan kegemaran membaca membuat saya sadar buku memberi banyak kebaikan dalam setiap langkah menuju kedewasaan diri. Meniti kata dan menata langkah adalah proses yang di dapat kala bergelut dengan ragam bacaan. Let’s read more dan temukan kebaikan di ragam cerita bergambar yang terdapat di aplikasi Let’s read !

Sponsored Post Learn from the experts: Create a successful blog with our brand new courseThe WordPress.com Blog

WordPress.com is excited to announce our newest offering: a course just for beginning bloggers where you’ll learn everything you need to know about blogging from the most trusted experts in the industry. We have helped millions of blogs get up and running, we know what works, and we want you to to know everything we know. This course provides all the fundamental skills and inspiration you need to get your blog started, an interactive community forum, and content updated annually.

Pantai Morgan Bangau Putih dan Definisi Bahagia Sederhana

... tentang langkah yang tak seharusnya berhenti.

20200927_073759
                                                               

2020 adalah tahun dimana menyadarkan saya pada realitas baru akan pandemi yang mengubah wajah kehidupan dunia dengan ragam emosi yang tak terkatakan. Saya — Kita mungkin sudah memasuki masa kejenuhan dengan kondisi seperti ini. Tapi, setidaknya bersyukur masih bisa menghirup oksigen dengan baik, membau sabun mandi bahkan bau badan sendiri dan menikmati waktu sendiri di rumah. Cuma, yah kita perlu menjaga kewarasan diri dari arus informasi yang bikin melelahkan dan kebencian tak beralasan, semisalnya teori konspirasi.

Berada di rumah berbulan -bulan dengan kehaluan bersama opa-opa Korea alias marathon drakor ternyata tak melulu memberi dampak kebahagiaan bagi saya. Ada kebosanan kala menyadari tubuh saya mulai mengendat, dan pikiran yang tidak fokus. Bukannya takut gemuk, hanya saja … saya ngerasa ada yang hilang dari diri ini ketika pengetahuan saya sepanjang 2020 adalah soal nikmatnya rebahan dan langkah yang terhenti. Saya butuh sejenak beranjak, demi mengembalikan keceriaan hari – hari yang menjemukan ini.

Tak ingin ketinggalan hal -hal yang kekinian, bersepeda sepertinya adalah pilihan tepat. Tubuh sehat, syukur-syukur dapat bonus mengurangi berat badan. Dan … yang penting ada bahan untuk update sosial media demi eksistensi diri dengan caption : ” Olahraga tipis tipis … “*eh

20200927_071035

Belasan tahun tinggal di kawasan ini, menyadarkan saya pada waktu yang saya habiskan selama ini. Kala rumah adalah tempat ternyaman untuk menghabiskan waktu dari kelelahan, dan jalanan adalah area memupuk kegembiraan tanpa menyadari ada hal yang menyenangkan yang harus saya rawat dan jaga. Adalah senyum dan sapaan tetangga yang kerap terabaikan selama ini. Hiks —

Menjumpai Impian Semasa Bocah

Dulu kala awal – awal pindah ke daerah ini, saya diberitahukan kalau di belakang kawasan rumah ada pantai. Tak terlalu jauh sekitar kurang lebih hampir satu kiloan. Layaknya bocah kala itu, saya dan beberapa sepupu yang jarak usianya tak terlalu jauh penasaran dengan cerita tersebut. Kami pun berjalan kaki menelusuri perumahan yang berakhir cuma menemui pasir khas pasir pantai. Tidak terlihat gelombang air dan debur suara pantai. Perjalanan kala itu berakhir dengan keputus-asaan tidak menemui pantai — yang kemudian hari saya sadari tertutup oleh rumah penduduk. Keputusasaan yang berujung pada lupa dan tenggelam dalam rutinitas lainnya hingga dewasa.

 

20200916_181446

Belasan tahun kemudian, fakta bahwa posisi rumah saya berada di pesisir pantai juga menimbulkan kekhawatiran akan bencana alam soal ancaman tsunami. Beberapakali kejutan gempa yang membuat beberapa orang terpaksa melarikan diri sejenak ke daerah yang dianggap aman. Tapi, pada akhirnya akan kembali kepada Allah, meminta agar terhindar dari kegelisahan tersebut.

 

Dan, fakta bahwa laut terkadang membekukan ingatan akan rasa lelah adalah hal yang disyukuri kala pandemi ini. Saya tak perlu khawatir soal transportasi dan menemui kerumunan orang untuk sekedar bersantai sejenak menikmati debur suara ombak yang menenangkan hati. Cukup menelusuri kerandoman kawasan dekat rumah dengan kayuhan sepeda.

 

Pantai Morgan Bangau Putih, Parupuk Tabing, Padang

 

Suara debur ombak membuat perasaan buncah yang tak terbantahkan. Saya disambut dengan pemandangan yang mengemaskan kala seekor kucing yang berada di sisi kapal nelayan sedang duduk melepas pandangan ke laut. Sayangnya saya kehilangan momen mengabadikan pemandangan tersebut disaat memarkirkan sepeda dan si kucing menyadari keberadaan saya. Kucing tersebut menoleh ke belakang, kemudian beranjak pergi begitu saja. Ingatan itu tergambar jelas dalam benak saya.

 

 

Adalah pantai Morgan Bangau Putih, begitu orang-orang menamai pantai yang terletak di kawasan Parupuk Tabing, kecamatan Koto Tangah, Padang tersebut. Pesisir pantai ini belum terlalu familiar sebagai objek wisata sehingga masih menyisakan suasana sepi nan menenangkan. Sepi bukan berarti sunyi. Berada di antara perumahan, pantai ini memberi kesan layaknya teras rumah yang dinikmati pada penghujung sore selepas pulang kerja.

 

Menikmati suara debur ombak tanpa gangguan tukang parkir dan tukang ngamen adalah sesuatu yang menyenangkan bagi saya. Saat duduk melepas pandangan ke laut lepas tanpa paksaan harus membeli makanan atau minuman adalah kegembiraan tersendiri. Saya jadi ingat beberapa tahun lalu, sepulang dari Gramedia dan sejenak menghabiskan sore di pantai belakang Gramedia Padang. Sekedar duduk di atas batu besar di pinggir pantai betapa kesal saat itu dihampiri pengamen yang memaksa untuk diberi rupiah ~~ bukannya nggak mau berbagi, hanya saja tidak terlalu suka caranya hiks

 

Pantai Morgan Bangau Putih memberi kebahagiaan dengan kesederhanaannya yang tenang. Mungkin karena berada di area perumahan penduduk, pantai ini merupakan tempat bersantai warga sekitar. Di penghujung sore pemandangan bocah – bocah berenang dan bapak memancing sementara sang ibuk sekedar duduk di atas bebatuan dengan mata yang awas pada anaknya adalah pemandangan yang biasa ditemui di pesisir pantai. Atau ketika pasangan suami istri menelusuri pesisir pantai beriringan dengan nyaman dan sekelompok remaja yang menghabiskan waktu dalam kebersamaan nan akrab.

20200927_070827

 

Kala pagi tiba, terlihat pemandangan tak kalah bikin haru yaitu ketika para istri menunggu di pesisir pantai menanti sang kepala keluarga yang berlayar dari laut dengan binar mata penuh harap. Dan ketika Ahad pagi, kegiatan “maelo pukek” atau lebih tepatnya menarik pukat ke daratan. Mata ibuk-ibuk langsung terhipnotis dengan geliat ikan segar di dalam pukat.

 

Suatu sore saya pernah melarikan diri sejenak sekedar menghirup udara segar ke pantai Morgan Bangau Putih. Siluet senja dan lintasan pesawat komersil mengisi waktu bersantai saya di pesisir pantai.

20200916_181346

 

Dari potongan cerita yang saya kumpulan di pesisir pantai dekat rumah, saya melupakan sesaat soal keriuhan dan kepenatan yang tak beralasan ini. Pada kesederhanaan pemandangan wajah – wajah santai di pesisir pantai yang saya temui , menyadarkan soal kesederhanaaan hidup yang membahagiakan.

 

Jadi kamu masuk tim mana : Menikmati pagi di pantai atau menjumpai siluet senja?

 

Apapun itu jangan lupa bersyukur 🙂

Belajar Gizi Sebagai Bekal Ilmu Kelak Menjadi Seorang Ibu

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar — QS. An-nisa ; 9)

Bohong kalau saya tidak pernah mengkhayal menjadi seorang ibu, dan rangkaian kelak ingin membesar anak seperti apa. Naluri perempuan saya menginginkan hal ini segera terwujud … yang sayangnya kadang dinilai orang bahwa saya tidak ada keinginan untuk menikah sehingga diusia yang seharusnya saya sudah ‘bermain’ dengan bocah malah asyik berkelana.

” Mungkin Allah memberi kita waktu untuk berilmu dulu Ka!”

Begitu seorang teman pernah menghibur saya. Benar, untuk segera mewujudkan keluarga yang bahagia dibutuhkan ilmu berumah tangga — yang sayangnya tidak ada pelajaran dalam mata kuliah saya. Pun dengan menjadi ibu yang baik, yang tak ada pnedidikan formal untuk mewujudkan idealnya seorang ibu seperti apa. Itu kenapa … menjadi ibu adalah belajar sepanjang masa.

IMG-20191105-WA0019
seminar bertajuk “Peduli Gizi Anak Menuju Generasi Emas 2045″(5/11) dalam rangka Hari Kesehatan Nasional (HKN) di Aula Pimpinan Wilayah Aisyiyah Sumbar, Ulak Karang, Padang.

Termasuk mulai belajar soal Gizi terlepas basic ilmu yang saya miliki ilmu sosial. Baik mengenai gizi sebagai pemenuhan kebutuhan untuk diri sendiri dan juga kelak untuk keluarga terutama anak, sebagai generasi penerus kehidupan ini. Karena kesalahan pola asuh menjadi faktor penyumbang gizi buruk pada anak. Hal ini diungkapkan oleh Arif Hidayat, ketua harian Yayasan Abhipraya Insan Cendikia (YAICI) dalam seminar bertajuk “Peduli Gizi Anak Menuju Generasi Emas 2045″(5/11) dalam rangka Hari Kesehatan Nasional (HKN) di Aula Pimpinan Wilayah Aisyiyah Sumbar, Ulak Karang, Padang.

Dalam seminar yang terlaksana atas kerjasama YAICI dan Aisyiyah ini juga turut menghadirkan dr.Hj. Merry Yuliesday, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat, Dra. Noor Rochmah, dari Aisyiyah serta Dra. Hilda Murni, Apt. MM dari BPOM Padang. Kesalahan pola asuh tersebut erat kaitan dengan pemberian makanan sehari-hari untuk menunjang pertumbuhan balita. Padahal anak akan mempunyai pertumbuhan yang baik meskipun dalam kondisi ekonomi lemah jika  pola asuh yang baik dalam pemberian makanan sehari-hari.

Cegah Stunting dengan pemenuhan gizi yang tepat

Pola asuh yang tidak tepat dalam memenuhi kebutuhan gizi salah satu yang menyebab terjadinya stunting pada anak. Stunting merupakan bentuk kekurangan gizi kronis yang secara fisik memiliki tinggi badan dibawah standar pertumbuhan anak normal. Dampak dari stunting terganggunya perkembangan otak , kecerdasan , ganggunan pada pertumbuhan hingga metabolisme tubuh.

20191105_114736
Berbagi ilmu mengenai gizi, termasuk dengan dosen muda dari kesehatan masyarakat Universitas Andalas ( UNAND) , Padang. Sebut saja namanya Baekyun. *kalem*

Sedihnya, Sumatera Barat ternyata merupakan salah satu propinsi dengan prevalensi stunting tinggi, yaitu mencapai 30,8%.  Disamping karena kondisi ekonomi, juga akibat kurangnya pemahaman mayarakat dalam memenuhi kebutuhan gizi keluarga. Padahal untuk memenuhi gizi tidak harus dengan makanan mahal dan gizi dalam bentuk obat-obatan yang dijual.  Memanfaatkan apa yang ada disekitar adalah salah satu yang bisa kita lakukan dalam memenuhi gizi yang baik. Seperti apa yang diajarkan oleh agama yang saya yakini, bahwa pola makan yang baik adalah sesuai dengan kebiasaan kaumnya selama  tidak menimbulkan bahaya dan melanggar syariat. Artinya sesuai dengan kebiasaan makan jenis makanan yang mudah didapatkan dalam negeri. Tidak perlu memaksa diri untuk mengosumsi keju atau gandum sementara kita punya ubi yang gizinya baik bagi tubuh, bukan?

Kenali Isi Piringmu !

Jika dulu kita mengenal prinsip 4 sehat 5 sempurna — yang mana susu menjadi bagian dari pemenuhan pola makan tersebut. Maka pola makan yang dianjurkan tersebut tak lagi berlaku. Berdasarkan anjuran dari kementerian kesehatan bahwa kita perlu mengenal isi piring saat kita makan. Karena, sehat berawal dari isi piring. Adapun yang harus diperhatikan adalah batas GGL ( gula, garam dan lemak), yang mana disarankan per orang perhari sebagai berikut : gula  50 gr ( 4 sendok makan), Garam 5 gr ( 1 sendok teh) dan lemak 67 gr ( 5 sendok makan minyak).

20191111_105833
Karena sehat berawal dari isi piringku

Adapun panduan piring makan adalah  ; 1/2 dari piring makan terdiri dari sayuran dan buah. 1/4 dari piring isinya dengan protein dan 1/4 lagi dengan karbohidrat. Dengan contoh sederhananya adalah : 1/4 kita isi dengan nasi, 1/4 lagi kita isi dengan lauk , dan 1/2 kita isi sayuran seperti bayam , kangkung, timun dan lain sebagainya, plus juga pisang atau pepaya yang mudah kita temui di lingkungan ini. Mudah bukan?

Stop Konsumsi SKM Sebagai Pemenuhan Kebutuhan Gizi

Masih lekat dalam ingatan yang saya dapat dari tayangan layar segi empat bahwa pagi sebelum ke sekolah sarapan dengan setangkup roti serta segelas susu yang bisa memicu kepintaran belajar. Ironisnya segelas susu itu berasal dari SKM atau yang kita kenal dengan istilah Susu Kental Manis ternyata bukan termasuk kategori susu sebagai pemenuhi gizi yang tepat sebagai minuman.

20191105_103226
Talkshow mengenai SKM bukanlah sebagai minuman yang memenuhi gizi bagi tumbuh kembang anak

Kandungan gulanya cukup membuat was-was. Lebih dari 50% kandungan di dalam sekaleng SKM ternyata Gula dan tidak sampai 1 % kandungan proteinnya. Hal serupa juga diungkapkan oleh Arif , ” Susu kental manis memiliki kandungan gula yang tinggi yaitu 20 gram persekali saji dengan nilai protein 1 gram. Dengan kandungan nutrisi seperti itu, skm hanya masuk dalam kategori bahan makanan dan minuman atau topping.”

Sayangnya masih ada aja produsen yang jahil yang masih mempromosikan bahwa SKM merupakan susu sebagai pemenuhan gizi. Tak heran, di masyarakat persepsi tersebut melekat erat, sehingga ketika SKM menjadi pilihan mereka untuk memenuhi gizi sang anak. Sedih hiks !

Untuk itu , Hilda memaparkan bahwa BPOM sudah mengeluar surat edaran kembali kepada produsen terkait persepsi bahwa SKM merupakan minuman susu. Ia pun juga mengungkapkan bahwa sebenarnya produsen sudah memuat label mengenai kandungan tersebut, hanya saja kita kurang aware terhadap hal tersebut dan lebih memperhatikan label harga.

Apapun itu, jangan pernah menjadikan SKM sebagai penganti air susu ibu ya teman-teman.

🙂

Tentang Mereka yang disebut Sebangsa dan Setanah Air

“Menemui kejadian apa selama di Korea?” tanya Umi, teman saya saat kuliah dulu. Ketika itu kami sedang jumpa kangen setelah setahun lebih saya tidak mengunjungi ibukota ; Jakarta.

Saya terdiam sejenak. Kemudian menyeruput pelan coklat dingin di hadapan saya.

korea blog.jpg

Saya menghela napas. Menerawang pada beberapa peristiwa yang cukup membuat dada saya sesak dan sudut mata berair. Bukan pada peristiwa mengerikan yang menimpa saya saat perjalanan ke negara orang. Bukan juga pada rasa lapar ditengah dinginnya kota Seoul.

Tapi… pada perlakukan saudara setanah air yang tak sengaja saya temui di sana.

Ah… Indonesia !

****

Saya mengunjungi Seoul seorang diri sebagai pelarian dari rasa jenuh pada pertanyaan yang menjemukan ; Kapan nikah. Sialnya sehari sebelum keberangkatan saya ditabrak motor yang membuat tulang pungung saya terasa nyeri. Sebagai pelaku perjalanan yang mengandalkan ransel tentu hal ini yang sungguh menyiksa.

 

Tak ada persiapan matang. Mengandalkan tas ransel bersifat daily backpack saya hanya membawa tiga helai baju dan beberapa bungkus sambal serta abon – lupa membawa mie kemasan dan sereal sebagai amunisi di sana. Sementara itu, saya memiliki waktu seminggu untuk menikmati Korea Selatan.

korea 1

Saya tidak terlalu melakukan riset seperti perjalanan saya ke Thailand. Tak ada Itinerary dan rencana yang pasti selain sekedar menikmati atmosfer kota demi melepaskan rasa lelah akan teror pertanyaan.

Ditengah kebingungan tersebut, saya mengukir senyum saat tak sengaja mendengar percakapan yang akrab di telinga saya ketika beberapa orang mengobrol dengan bahasa yang sangat saya kuasai. Saat itu, saya usai melaksanakan sholat di mesjid besar area Itaewon. Mesjid ini menjadi tempat wisata favorit bagi sebagian wisatawan asing.

Beberapa orang yang saya perkirakan berusia dua puluhan tahun itu pun menyibukan diri mengabadikan moment di depan mesjid lewat kamera mereka. Saya mengambil kesempatan untuk menyapa.

“ Indonesia?”

Mereka mengangguk.

“ Indonesianya dimana?”

“ Jakarta.”

Saya pun mengangguk. Menanyakan destinasi mereka kemana. Salah satu dari mereka pun menjawab pertanyaan saya. “  Oh, bisa bareng dong. Kebetulan saya juga ke sana.”

Ekspresi mereka tampak ragu. Mengangguk dengan berat. Sebagian dari mereka kembali sibuk dengan kamera ponsel dan tongsis. Sementara saya beranjak menanti mereka seraya juga sibuk mengabadikan momen.

Setengah jam kemudian. Tak ada dari mereka yang menghampiri saya dan berlalu begitu saja.

Saya terdiam.

Bukankah kita masih Indonesia?

****

korea 2

Di hari lain …

Saya mendengar grasak-grusuk tak jelas saat sedang menjemur beberapa kain di hostel. Kembali saya mendengar percakapan yang sangat akrab di telinga saya. Rupanya beberapa gadis berusia dua puluhan baru saja melakukan check in. Saya menanyakan darimana mereka berasal ; Indonesia.

Saya pun menawarkan diri untuk bergabung dengan mereka yang hendak ke Namsam Park . Rasanya seru kalau melakukan perjalanan sesama saudara setanah air di negeri orang. Sayangnya mereka mengacuhkan saya. Sibuk pada barang bawaan mereka. Satu diantara mereka masih keberatan di lempar ke kamar di lantai atas oleh petugas hostel – berpisah dari teman-temannya.

Saya pun menawarkan untuk tidur di kamar saya yang punya dua ranjang dan berada di lantai yang sama dengan teman-temannya. Sayangnya mereka menatap curiga pada saya dan mengacuhkan begitu saja.  

Baiklah!

korea 3.JPG

Saya tertawa pelan menceritakan hal itu pada Umi – antara miris dan entah bagaimana menyebut perasaan ini. Saya mengenal Indonesia dengan keramahan dan persaudaraan yang menyenangkan.

“Sejujurnya saat itu gue sempat menangis, Mi,” saya mengukir senyum mengenang puzzle-puzzle kejadian tersebut yang masih tergambar jelas di benak saya.

 Tapi.. pengalaman itu tak membuat saya berkecil hati tentang Indonesia. Saya percaya keramahan dan kesetiaan dalam persaudaraan sebangsa dan setanah air masih melekat erat pada mereka yang menyayangi merah putih.

Sebab sebelum peristiwa tersebut, saat menyasarkan diri di Busan, saya banyak dibantu oleh warga negara Indonesia yang tinggal di sana. Memberi saya makanan khas Indonesia ditengah kegalauan saya pada kehalalan makanan. Membagi cerita menyenangkan mereka sebagai perantau di negeri orang. Dan, mentraktir saya streetfood kota tersebut sebagai bekal dalam perjalanan ke Seoul.

Indonesia tetaplah Indonesia. Di tengah kegelisahan akan karakter sebagian orang-orangnya yang membuat saya menghela napas akhir-akhir ini, saya percaya keramahan dan rasa persaudaraan itu masih ada.

(ekahei)

Catatan ; Tulisan ini pertama kali dimuat di situs Travellous beberapa tahun lalu — hanya sekedar berbagi kisah dibalik ‘kebanggaan’ akan solo traveling ada kisah yang tak selalu menyenangkan 🙂

Menikmati Pagi di Pantai Muaro Penjalinan, Padang

“Bahagia itu bisa beraktivitas pagi di pantai,” begitu Eda ( kembaran saya) berujar kala saya menghempaskan tubuh disisinya. Turut menikmati suara debur ombak. Pagi itu, cuaca cukup bersahabat meskipun gulungan ombak cukup besar.

20190627_063951
Kala Eda Mengabadikan momen pagi di pantai

Saya bukanlah orang yang terbiasa beraktivitas di pagi hari. Sebagai penderita insomnia, pagi kerap saya lalui dengan tertidur kecuali ketika sedang liburan di suatu tempat. ” Gimana mau bangun rumah tangga, bangun pagi aja susah!” begitu kerap saya berkelakar setiap orang-orang terlalu peduli mempertanyakan, kenapa saya belum nikah-nikah juga.

” Udah ada ayunan sama pondok,” begitu Eda mengajak untuk ke pantai Muaro Penjalinan pagi itu. Sebuah pantai yang tak jauh dari rumah. Hanya sekali naik angkot atau dua puluh menit berjalan kaki. Entah karena ingin melakukan suatu perubahan beralih ke penikmat pagi, saya pun menyambut ajakan Eda.

Muaro Penjalinan bukanlah sebuah pantai tujuan destinasi wisata favorit. Beberapa meter dari pantai tersebut, terdapat pantai Pasir Jambak yang akhir-akhir ini dijadikan sebagai tempat wisata. Sayangnya, saya belum pernah ke pantai pasir Jambak tersebut sejak empat belas tahun lalu kala mengunjungi rumah seorang teman.

Tak ada yang istimewa dari Muaro Penjalinan kecuali pemandangan laut lepas dan kapal nelayan yang sesekali berlayar. Tapi, tempat ini salah satu tempat favorit mengawali aktivitas pagi sekedar menelusuri pesisir pantai atau berlari di pinggir kanal dan melepas pandangan dengan bersantai di atas bebatuan besar.

20190627_063534

Eda benar, sudah ada ayunan dan pondok kayu yang bisa dinikmati untuk bersantai ataupun mengabadikan momen lewati bidikan kamera. Lumayan untuk dokumentasi di sosial media dengan caption galau -galauan.

Bagaimana menikmati pagi di pantai?

Eda membuat pilihan ke saya, apa yang lebih menyenangkan berada di pantai. Kala menikmati pagi atau menyaksikan matahari tenggelam. “Jadi Eka tim mana ; pagi atau sore? “

Tak ada jawaban yang saya lontarkan atas pertanyaan tersebut. Laut bagi saya tak ubahnya suatu tempat yang bisa membekukan ingatan tentang kelelahan.  Memberi sensasi yang menyenangkan, meskipun terkadang kekesalan melihat sampah-sampah yang berserakan akibat ulah kita ; manusia.

Muaro Penjalinan, Tabing, Padang

Muaro Penjalinan sebenarnya sebuah tempat perlabuhan aliran sungai penjalinan dengan air laut, dan pesisir pantainya yang dikenal dengan nama pantai Ujung Batu. Namun bagi orang lokal, tempat ini sudah melekat dengan nama ; muaro penjalinan.

Bagi saya, pantai ini cukup ramah di kantong alias tak perlu bayaran untuk bisa menikmati deburan suara ombak, dan aktivitas manusia lainnya seperti ; olahraga dan surfing. Cuma butuh ongkos angkot dari rumah dan kesehatan badan yang baik.

Jika beruntung adalah menemui pemandangan pagi di pesisir pantai kala melihat nelayan berlabuh dan sementara anak istri mereka sudah menunggu di pinggir pantai. Menyambut dengan senyum bahagia.

resize.JPG
Pada suatu ketika, dalam perjalanan menjemput rejeki ( foto : Yulma, adik bungsu saya)

Sungguh bagi saya itu pemandangan yang bikin haru dan berkesan.

Kala menjelang sore, aktivitas di Muaro Penjalinan biasanya dihiasi oleh  olahraga , mancing dan berjalan santai di pesisir pantai. Oh ya tempat ini juga dijadikan area bagi pencinta papan seluncur atau surfing.

Untuk menuju tempat ini, bisa menggunakan aplikasi transportasi online atau menggunakan angkot tujuan Tabing (putih) dan Lubuk Buaya (orange) dari arah pasar raya Padang. Cukup bilang, “Muaro Penjalinan,” ke bapak sopirnya. Kemudian berjalananlah menuju pantai dengan langkah santai

Kembali ke pertanyaan soal pantai ; Kamu Tim Pagi atau Sore?

— Bagi saya tak masalah soal pagi atau pun sore, karena pantai selalu memberi kesan yang berbeda. Asal jangan menikmati kala siang hari ditengah cuaca Padang yang cukup panas.

Muaro Penjalinan / Pantai Ujung Batu

Tabing, Pasia Nan Tigo, Kec, Koto Tangah, Padang 25171

Rank ala eka : 6/10

Resolusi Travelling 2019 : Berburu Keindahan Sunrise dan Mengukir Cerita di Sudut Perkotaan

“ Gimana mau bangun rumah tangga, bangun pagi aja berat ! ” kelakar seorang teman kala dia menginap di rumah saya.

Saya bukanlah orang yang mudah bangun pagi, tidur selesai menunaikan sholat subuh adalah kenikmatan yang sulit saya jelaskan alasannya. Meskipun beberapakali ibu saya mengomel soal kebiasaan tersebut. “ Tidur abis subuh itu memang nikmat Ka, tapi bisa buat pikun.”

Satu-satunya yang bisa membuat saya semangat beraktivitas di pagi hari selain tanggung jawab pekerjaan adalah traveling. Karena entah kenapa saya masih percaya pagi selalu menyimpan cerita penuh harapan indah akan kehidupan. Itu kenapa setiap memasuki pergantian tahun, saya berharap bisa bangun pagi dengan perasaan baik dan semangat.

jagalchi
Suatu pagi di Jagalchi Fish Market, Busan

Pagi selalu menawarkan cerita baru tentang impian akan hidup yang lebih baik dari sebelumnya. Saya tak mungkin lupa momen menelusuri pagi selepas subuh di Jagalchi, kala Ahjumma mulai berkemas terhadap dagangannya, dan para Ahjushi yang sibuk dengan box-box ikan dan mengangkat ke dalam mobil pick up. Di wajah mereka tersimpan harapan janji kehidupan yang lebih baik terhadap semangat memulai hari di pagi hari.

Terlepas dari kebiasaan saya menelusuri sudut perkotaan sekitar penginapan kala traveling untuk sekedar mengamati aktivitas manusia di pagi hari, saya lupa pada momen romantisme pagi bermula. Kala matahari perlahan-lahan mulai muncul diatas horizon di timur dengan keindahan pancaran pantulan cahaya. Pada kekuasaan-Nya yang menciptakan pergantian hari yang begitu menakjubkan.

Saya ingin mengabadikan momen itu dalam bidikan kamera dan ingatan di ruang pikiran dan menyesap ke dalam relung hari ini. Akan syahdu nya romantisme matahari terbit. Pada rasa syukur akan kehidupan yang masih bisa dinikmati.

Saya bukan penikmat gunung, meskipun beberapa orang kerap terjebak dengan image ‘anak gunung’ yang melekat dalam diri ini. Kelelahan mendaki bukanlah sesuatu yang saya harapkan, meskipun beberapa dari mereka mengatakan mendaki gunung adalah candu tersendiri.

Laut
Laut mmembekukan segala ingatan yang melelahkan ; menenangkan.

Saya penyuka laut, namun, tidak semua laut bisa memberi pemandangan yang menakjubkan dengan budget gembelita ala saya. Akses penginapan yang dekat laut terkadang membuat saya ingin menangis pilu.

Saya pengemar pendar cahaya lampu dan gedung perkotaan. Dan, rasanya menyenangkan kala mengabadikan momen matahari terbit diantara bangunan perkotaan yang menakjubkan.

53609546_483563922179394_7251656291901243392_n
Santai sejenak di salah satu Mall di Singapore

 

Dan, inilah beberapa list resolusi perjalanan saya yang mungkin bisa jadi inspirasi teman-teman sekedar berburu keindahan matahari terbit dan menikmati pagi yang menyenangkan . Siapa tahu kita bisa join dan traveling bareng. — Oh, ya anaknya juga available lho buat dijadikan teman hidup *kalem*

Menikmati Sunrise di Merlion Park, Singapore

Kesan saya terhadap negara tetangga ini tak lebih dari rasa lelah dan membosankan dengan kesibukan aktivitas manusianya. Tapi entah kenapa, selalu ada magnet yang membuat saya ingin kembali, kembali dan kembali menelusuri negara tersebut.

Dua kali mengunjungi Singapore, saya tak pernah menginap atau menghabiskan malam di negara tersebut. Akomodasi yang mahal menjadi alasan untuk saya memilih menyeberang kembali ke Batam atau terus melanjutkan perjalanan ke negara seberang ; Malaysia.

53345299_1141303909364062_8827136998578847744_n

Mungkin ini yang menjadi alasan kenapa Singapore terus menarik hati saya untuk segera kembali menyinggahi dan menikmati atmosfer perkotaan negara tersebut yang ramah bagi penyuka jalan kaki seperti saya. Tentunya untuk menemui keindahan sunrise diantara ragam bangunan angkuh dan futuristik khas Singapore.

Saya ingin kembali ke Singapore sebagai slow traveler, barangkali melupakan sejenak tentang kekhawatiran akan akomodasi yang mahal. Saya lupa akan keberadaan RedDoorz di Singapore, yang menawarkan harga sesuai kantong gembelita seperti saya.

53570256_307709829828774_9077344351381618688_n
Pemandangan salah satu sudut perkotaan Singapore

Pengalaman saya pernah menginap di RedDoorz Tebet, Jakarta, membuat saya tidak terlalu khawatir akan harga murah yang ditawarkan. Kebersihan kamar mandi yang menjadi prioritas saya ketika menginap terjaga dengan baik. Pun dengan kamar yang dibersihkan dengan rapi. Wi-fi nya terbilang lancar serta tentu saja ada hiburan dengan ketersediaan televisi di kamar bukan di lobby penginapan.

Menarik adalah ketika saya mendapatkan amnesti alat mandi yang tentunya mengurangi beban di ransel. Tak perlu repot-repot packing persoalan sabun, shampo, sikat gigi plus bonus sisir lho. Dan, itu semua gratis yang bisa digunakan pada destinasi selanjutnya.

53740559_2120911814873330_6488085920707772416_n(1)
Yang tersisa dari pengalaman menginap di RedDoorz — tempat fasilitas alat mandi 🙂

Lalu bagaimana dengan RedDoorz di Singapore?

Ketika membuat resolusi perjalanan, penginapan adalah hal yang harus dipikirkan baik-baik. Kala menelusuri web RedDoorz, ada 6 jaminan yang mereka tawarkan seperti apa yang telah saya alami kala menginap di RedDoorz, tebet, Jakarta. Dari kebersihan kamar mandi, kerapian dan kebersihan kamar, wi-fi, air mineral, amnesti alat mandi, dan televisi. Sesuatu yang tak perlu dikhawatirkan bukan?

Mengabadikan Aktivitas Pagi di Hong Chi Minh City, Vietnam

Saya belum pernah ke Vietnam, termasuk ke Hong Chi Minh, sebuah nama yang kerap berseliweran diantara pengemar traveling. Rasa penasaran terhadap salah satu tempat destinasi favorit turis tersebut membuat saya kerap berselancar soal kota yang terkenal dengan riuh suara motornya. Dua tahun yang lalu saya pernah mengikrar diri untuk menyinggahi negara ASEAN sebelum memasuki usia 30 termasuk tentunya Vietnam.

Menelusuri Hong Chi Minh di internet tak memberi gambaran pasti tentang kota tersebut seperti apa selain konsep bangunannya khas Eropa. Tapi, satu yang pasti saya tak bisa membayangkan romantisme geliat pagi di Hong Chi Minh yang menyenangkan tersebut. Selalu ada cerita yang seru untuk segera dijumpai. Keluar dari penginapan selepas subuh, menelusuri sudut bangunan perkotaan sekedar menjumpai keindahan matahari terbit diantara bangunan perkotaan.

panduan-wisata-vietnam-1
Keindahan Ho Chi Minh ( Sumber foto : Blog RedDoorz )

Saya teringat dimana Eun Ji Won dan Lee Se Geun menikmati secangkir kopi di warung sederhana kala syuting variety show Korea, The Journey To The West di Vietnam. Sebagai penikmati kopi, rasanya pagi begitu menyenangkan kala diawali oleh aroma kafein. Dan, menikmati lorong-lorong pasar di Hong Chi Minh, berburu secangkir kopi tentu memberi kesan tersendiri bukan?

Karena pagi adalah cara menawarkan kesan dan cerita yang menyenangkan. Keindahan pagi nan sederhana di Hong Chi Minh masuk dalam list resolusi travelling tahun ini. Salah satu alasan saya juga, adalah keberadaan RedDoorz yang membuat saya tak perlu khawatir soal budget liburan yang nyaman di kantong dan tentunya juga di hati.

Menyapa Pagi di Jakarta

Sempat menghabiskan waktu selama lima tahun tinggal di Jakarta, ibukota Indonesia tercinta ini tentu memberi kesan berarti dalam perjalanan hidup saya. Selama lima tahun di Jakarta, saya tak benar-benar menikmati suasana pagi yang menyenangkan selain kemacetan dan tertidur di dalam bus Patas.

53595910_325809248283813_7464191674801979392_n(1).jpg
Merindukan langit Jakarta

Pagi saya sering dilalui dengan terlelap di tempat tidur. Dan kehidupan kerap berawal dari jarum jam sudah menunjukkan angka sepuluh. Namun, ada momen yang membuat saya terpaku pada pagi di Jakarta, yaitu kala menikmati pagi di taman Suropati.

Dua tahun sudah saya tak menyapa Jakarta, meskipun saya sadar Jakarta bukanlah tempat impian destinasi liburan orang-orang seperti saya. Kota yang menjemukan sekaligus menawarkan cerita penuh emosi bagi saya pribadi. Dan sejujurnya pilihan resolusi traveling 2019 ke Jakarta bukanlah pilihan yang tepat mengingat harga tiket domestik yang bikin keuangan saya menjerit pilu.

Tapi, saya rindu Jakarta. Kerinduan yang tentu harus dibayar tuntas, bukan? Untuk menuntaskan kerinduan namun tak membuat kantong saya menjerit, cara terbaik adalah dengan memilih akomodasi yang murah. Murah bukan berarti menawarkan kualitas tidak mengenakan.

foto eka

Kenyamanan tetap menjadi salah satu prioritas dalam sebuah perjalanan. RedDoorz masih menjadi andalan saya dalam menekankan budget liburan termasuk perjalanan menuntaskan rindu ke Jakarta. Menikmati pagi di taman Suropati, Bersepeda di Kota Tua, dan nongkrong malam hari di bundaran HI sambil menikmati kopi abang – abang sepeda ( eh masih ada nggak ya? )

Tiga destinasi itu menjadi prioritas utama Resolusi traveling 2019 selain tentunya resolusi perjalanan kehidupan nan spesial ; pernikahan. *Ehmmmm… berabe benaran kerudung * — Jadi kapan kita Ta’arufan??? 😀

 

Mengukir Cerita Bahagia Naik KA Bandara Minangkabau, Padang Pariaman

Bagi saya, bandara bukan sekedar tempat dimana terjadinya keberangkatan dan kedatangan serta ragam perpisahan dan pertemuan. Tapi, ia mencuatkan keinginkan untuk melangkah lebih jauh ; melakukan perjalanan.

43565428_1751099858333888_3296082499951656960_n
Bandara Internasional Minangkabau (BIM), Ketaping, Padang Pariaman

Dan … transportasi kereta adalah membekukan segala cerita perjalanan tersebut. Yup, bagi saya ada romansa tersendiri kala mengunakan kereta api. Romantisme kehidupan saat mata melepas pandangan ke luar jendela dan menikmati deru suara nan tenang. Alasan tersebut menjadikan kereta sebagai transportasi favorit saya dalam menikmati setiap perjalanan.

Kehadiran KA Ekspress Bandara Minangkabau (BIM) awal Mei lalu adalah jawaban dari kebahagiaan saya sebagai pengemar transportasi tersebut. Membayangkan rangkaian romantisme perjalanan dari kereta, menelusuri koridor Skybridge, kemudian bandara dan hijrah ke pesawat.

Rasanya menyenangkan, bukan?

43554493_732568217081896_2013864900434067456_n
Koridor jembatan penghubung antara stasiun dengan BIM

Rekreaksi Menyenangkan Dengan KA Ekspress Bandara Internasional Minangkabau (BIM)

Untuk mengatasi rasa malas beraktivitas, Di suatu Minggu pagi nan cerah saya berinisiatif melakukan perjalanan menggunakan kereta api. Inginnya sih naik kereta ke Pariaman sekedar berburu lontong gulai tunjang di Kuraitaji yang terkenal dari cerita orang selama ini menghampiri saya.

kereta bim 2
Stasiun BIM KA Ekspress

Sayangnya, seperti biasa tiket kereta ke Pariaman sudah sold out. Akhirnya saya memutuskan iseng naik kereta ke bandara. Sebelumnya, saya pernah menaiki KA Ekspress BIM kala ikut mengantar seorang teman ke Bandara. Namun, kali ini tentu berbeda.

Tak ada tujuan yang pasti. Kecuali berburu roti boy yang ada outletnya di Bandara.

Saya tak sendiri, meskipun terbilang sepi, beberapa penumpang yang saya temui di kereta ternyata bertujuan untuk mencari pengalaman baru bagaimana nikmatnya naik kereta. Satu keluarga besar yang terdiri dari kakek, nenek, ayah, ibu serta om dan tante plus anak -anak kecil dengan logat Melayu Jambi saling mengungkapkan kegembiraan satu sama lain.

Kereta bim 1
Suasana di dalam KA Ekspress yang didominasi warna hijau

 

Sang kakek dengan sabar menjawab pertanyaan sang cucu kala kereta melintas dengan tenang. Sementara para ibuk dan bapak riuh berbagi cerita mengenai pengalaman mereka pernah menaiki ragam transportasi kereta di luar kota Padang.

Menguping pembicaraan mereka, saya melempar pandangan lepas ke luar Jendela. Beberapa pemandangan hijau nan asri dapat kita temui. Sesuatu yang mulai jarang terlihat akhir-akhir ini.

Dan, celetukan khas anak kecil pun kerap terdengar dengan sang kakek serta sesekali si nenek ikut nibrung.

 

pemandangan yang cukup menenangkan bagi saya. Adem.

43460501_1485445831556829_1447365293981564928_n(1)
Suatu pagi yang menenangkan di Bandara. Menyaksi pesawat lepas landas dari balik pagar

Saya kira mereka hendak melakukan perjalanan dengan pesawat atau menjemput salah satu anggota keluarga. Ternyata tidak. Ketika roti Boy sudah di tangan, dan menikmati suasana teras bandara, saya kembali ke Skybridge berjalan menuju ruang tunggu kereta. Mereka pun menelusuri jalan yang sama dengan saya.

Kami pun menanti jadwal keberangkatan kereta menuju kembali ke Kota Padang.

kereta bim 3
Ruang tunggu stasiun BIM

Diam – diam saya menikmati kebahagiaan keluarga besar dari luar kota tersebut. Sebuah rekreaksi keluarga yang menyenangkan. Bermodal tiket 10.000,- per orang mereka menemui pengalaman baru nan mewah ( tentu dari kebahagiaan lho menurut saya). Dari balik pagar tinggi, mereka juga sempat menikmati menonton laju pesawat yang lepas landas. Memberi pengetahuan dan informasi bagi anak kecil yang ikut serta dengan mereka.

Dan, lagi -lagi saya teringat sebuah kalimat kala mengamati kebahagiaan keluarga tersebut : “Bahagia itu sungguh sederhana. Dengan menciptakan hal -hal sederhana, hati ini pun terasa bahagia,”

 

Nyamannya KA Ekspress Bandara Internasional Minangkabau

Diresmikan oleh presiden Jokowi, desain KA Ekspress BIM di dominasi warna hijau nan rapi dan menyenangkan pandangan mata. Saat memasuki kereta sejenak saya teringat pada AREX ( Airport Railroad Express) nya Korea karena adanya ketersediaan peletakan koper / tas (meskipun tak seluas di AREX).

kereta BIM
Saat memasuki kereta, disisi pintu masuk terdapat tempat bagasi

Hawa sejuk khas AC ( air conditioner) menyapa tubuh saya . Tak ada penentuan kursi dimana harus duduk. Kita dapat memilih sesuai keinginan … mungkin karena baru kali ya, jadi kereta ini lumayan sepi. Saya tidak menyiakan kesempatan untuk duduk di dekat jendela.

Meskipun kursinya agak keras, namun tidak mengurangi kenyamanan. Antara jarak kaki pun dengan bangku depan lumayan luas. Dan, ini sungguh menguntungkan bagi mereka yang memiliki tubuh yang tumbuh ke atas ( baca ; tinggi).

43429615_735879796750940_6551022567577092096_n
ketersediaan colokan listrik salah satu fasilitas yang menyenangkan di KA Ekspress BIM

Apa yang menyenangkan bagi kaum milineal seperti saya ? bukan WIFI , maklum saya lagi tajirr kuota. Tak lain adalah ketersediaan colokan listriknya yang berguna untuk men-charger smartphone saya yang boros baterai, sementara saya butuh buat update cerita plus futu – futu cantik. Oh, ya satu lagi kebersihan kereta terjaga dengan baik.

****

 

kereta bim 4
Loket informasi dan pembelian tiket di Stasiun BIM

 

Menempuh perjalanan tidak sampai 30 menit dari stasiun Tabing menuju Bandara Internasional Minangkabau (BIM). Saya menikmati atmosfer pagi yang menyenangkan menelusuri koridor Skybridge Stasiun BIM.

Sebagai tambahan informasi KA Ekspress BIM ini melewati 4 stasiun utama, yaitu ; Stasiun Padang ( Simpang Haru), Tabing, Duku, dan BIM dengan tarif Rp 10.000,- sekali jalan. Bagi saya ini cukup murah, aman dan nyaman dibandingkan transportasi lainnya. Tentu hal ini merupakan kebahagiaan sederhana bagi kebutuhan traveller receh seperti saya. (Ekahei)

jaadwal kereta
TIPS : Untuk merasakan pengalaman menaiki KA Ekspress atau ingin menggunakan transportasi ini, cari tahu jadwal keberangkatan biar tidak menunggu terlalu lama di Bandara

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sepotong Cerita Lelah Menjumpai Kesegaran Nyarai, Lubuk Alung, Sumatera Barat

Traveling shows you a different world and offers different experiences. hearing about a place can’t ever compare to experiencing it yourself

keindahan nyarai
Keindahan Air Terjun Nyarai, Lubuk ALung, Padang Pariaman, Sumatera Barat

Yulma, adik saya, tampak ragu melangkah tatkala melihat sebatang pohon besar yang melintang sebagai jembatan untuk menuju seberang. Ada kecemasan di raut mukanya, sementara disisi kanan kami sudah terlihat keindahan air terjun. Dengan keraguan kami pun hati-hati melangkah berusaha menjaga keseimbangan. Perlahan dan tenang hingga bisa mengistirahatkan badan seraya melempar pandangan ke nyarai ; air terjun.

Terletak di dalam hutan lindung Gumaran, Lubuak Alung, Sumatera Barat, sebuah air terjun setinggi delapan meter mengoda mata, pikiran dan hati untuk segera melompat berenang dan merasakan sensasi air kehijauan nan jernih. Selain itu, terdapat sebuah kolam yang terbentuk secara alami di bawah air terjun tersebut.

menyeberang melalui sebatang kayu besar
Suasana di Nyarai nan tenang dan damai serta menyegarkan tentunya 🙂

Perpaduan pepohonan hijau nan lebat, batu-batuan berukuran besar mendukung keteduhan nan damai adalah jawaban dari kesegaran yang terbantahkan dari Nyarai. Namun, bagi saya yang kerap terjebak pada liburan yang berhubungan dengan laut dan perkotaan, menarik adalah proses perjalanan nan melelahkan untuk menemui kesegaran tersebut.

Meskipun saya cukup kuat untuk berjalan, Trekking adalah sesuatu yang melelahkan sekalipun mengoda untuk dilakukan. Menikmati tantangan menelusuri jalanan berlika – liku menembus hutan. Setidaknya itulah yang harus dilakukan untuk menemui oase keindahan yang ditawarkan Nyarai.

NYARAI2
Salah satu jalur yang harus ditempuh dalam perjalanan menjumpai kesegaran Nyarai

Menempuh kurang lebih setengah jam dari jalan utama Lubuk Alung, sebuah kampung nan tenang serta kehidupan yang terlihat santai menyambut kami. Ada begitu banyak plang petunjuk arah yang memudarkan kekhawatiran akan tersesat saat itu. Motor kami tetap melaju dengan kecepatan sedang menikmati ketenangan tersebut ; damai.

Perjalanan pun belum jua usai saat motor kami terparkir di sebuah lapangan dan sebuah posko awal terlihat di sana. Membayar tiket masuk Rp 20.000 per orang, seorang guide yang dibekali kotak P3K akan menemani perjalanan melintasi hutan Gumaran untuk berjumpa dengan kesegaran nyarai.

Melewati jalan setapak menaiki bukit, menuruni lembah, menyusuri tepian sungai hingga berjalan dibawah pepohonan yang membentuk lorong-lorong. Sensasi alam inilah yang justru menarik minat banyak pengunjung yang datang.

Dibutuhkan waktu sekitar dua jam melintasi hutan dan menyeberangi sungai untuk sampai tujuan. Selama dalam perjalanan, ada beberapa spot menarik salah satunya goa kecil dan makam ( yang konon katanya merupakan makam pahlawan PDRI). Perjalanan panjang tersebut tidak begitu terasa berat. Sebab di beberapa titik terdapat pondokan warung sekedar melepaskan penat dan mengisi perut yang lapar dengan cemilan khas Indonesia: gorengan bakwan, pisang dan tahu.

NYARAI1
Melintasin aliran sungai merupakan sensasi alam yang tak terlupakan sebagai kenangan yang menyenangkan

Pemandangan menakjubkan Air Terjun Nyarai pun menguap rasa lelah saya usai melintasi hutan lindung tersebut. Sebatang pohon besar terbentang berfungsi sebagai jembatan menuju seberang. — yang membuat Yulma ragu untuk melangkah.

Di tempat ini juga terdapat warung kayu yang menjual aneka makanan. Jadi tak perlu membebani diri dengan barang bawaan beraneka makanan dari rumah, kecuali memang berniat membawa kembali sampah makananmu pulang.

Karena tidak bisa berenang, saya pun memilih untuk melipir ke sungai nan tenang yang dipenuhi bebatuan tak jauh dari air terjun. Sekedar merasakan kesejukan air yang menyegarkan. Menikmati udara alam yang mendamaikan hati. Melepas penat setelah terkungkung dengan kesibukan rutinitas yang melelahkan.

Menikmati Air Terjun Nyarai sebaiknya dilakukan ketika musim panas. Sebab jika musim hujan debit air terlalu besar dan airnya terlihat keruh. Tentu soal keamanan mengingat kebecekan dan licinnya jalanan sepanjang menelusuri hutan.

Untuk Menuju Nyarai kita harus wajib di dampingi pemandu lokal
Untuk menuju Nyarai harus ditemani oleh pemandu lokal agar tidak tersesat 🙂

Tempat ini menjadi alternatif bagi mereka sekedar melepaskan kebosanan aktivitas perkotaan seperti saya. Bisa dikatakan surga tersembunyi di balik tenangnya Hutan Gumaran.

Oh, ya perlu diingat meskipun tiket masuk per-orang, namun perjalanan ini disarankan bergroup minimal 10 orang. Karena pembayaran tetap dilakukan untuk 10 orang sekalipun jumlah orangnya bertiga ataupun berlima. Tapi, tenang … bisa gabung dengan group lain. Menambah teman baru sekaligus sebagai teman memecah kesunyian saat melintasi hutan.

 

Catatan : Cerita yang sama pernah saya tulis di detik travel Community

 

 

Aku, Teman Lama dan Kepiting Saos Padang

” Ka, ini Fa!”

Begitu suara di seberang memperkenalkan diri. Ingatan saya melayang pada sosok seorang teman kala masih bersekolah asrama empat belas tahun lalu. — dan terima kasih facebook yang membuat kami masih terhubung serta mengetahui kabar masing-masing.

Sore itu, teman lama saya itu berkunjung ke kota Padang dan menanyakan dimana rekomendasi makan Kepiting paling enak di Kota Padang. Saya bukan pemburu kuliner namun penikmat kuliner, dan belasan tahun mengenal Padang sungguh saya tidak terlalu tahu mengenai kepiting kecuali semangkuk sup kepiting lezat ibu saya.

 

29693862_10215035906992416_1168751956_o
Salah satu sudut di Bandara Internasional Minangkabau (BIM), Padang Pariaman

 

Tak banyak rumah makan, restoran, caffee atau apalah namanya yang saya ketahui di kota Padang yang menjaga kualitas rasa makanan. Sebab, ketika berada di kota ini, saya lebih memilih berdiam diri di rumah. Menikmati asyiknya menjadi pengangguran dengan mengkhayal suatu saat bisa mengukir kisah menyenangkan dengan Ji Chang Wook. (menonton drama korea ; red) .

Pun dengan wisata di kota Padang sendiri, Selain pantai saya tidak tahu harus kemana lagi. Padahal ada beragam keindahan alam yang menyenangkan saat kita mengeksplore atau menjelajahi wisata di Sumatra Barat khususnya kota Padang.  Tak kalah seru lah dengan kulinernya yang melegenda tersebut.

Singkat cerita, yang berkunjung siapa yang ‘tuan rumah’ siapa. hehehe, jadi teman saya berinisiatif menelusuri pesisir pantai Padang dan menanyakan dimana terdapat tempat makan yang menjual kepiting.

Akhirnya… tadaaaa berlabuhlah di Pondok Ikan Bakar Khatib Sulaiman !

****

Akhirnya Bertarung dengan Kepiting di Pondok Ikan Bakar Khatib Sulaiman

Tadinya ketika melalui saluran telpon teman saya menyebutkan nama ” Khatib Sulaiman” saya pikir adalah kawasan Khatib Sulaiman. Karena bingung, saya pun menyusul di tugu Perdamaian di Pantai Padang. Saya pun menyerahkan kunci motor, membiarkan ia menjadi pengemudi.

Dan, laju motor memasuki area parkir Pondok Ikan Bakar Khatib Sulaiman. ” Oh, …. ini toh !” baru ‘ngeh’ dengan apa yang diucapkannya dengan ‘Khatib Sulaiman’ hehehehe…

 

29748131_10215035871631532_904030218_o.jpg
Pondok Ikan Bakar Khatib Sulaiman — terletak di pesisir pantai Padang tak jauh dari Tugu perdamaian

 

 Butuh sepuluh menit untuk menunggu seporsi Kepiting Saos Padang — sebenarnya ada dua pilihan, antara saos Padang atau saos tiram. Karena teman saya yang ngebet mau makan kepiting , saya pun menyerahkan pilihan ke dia.

Seporsi Kepiting Saos Padang disajikan yang membuat saya melongo dengan kejumbo-annya. Plus dengan sebuah alat — dibilang tang , entahlah.. aku tak tahu namanya apa :(.

Seingat saya, terakhir kali makan kepiting itu beberapa tahu lalu, itu pun ukurannya mini dan di sup sama ibu saya. Ehm… ntar, Oh, iya… terakhir kali itu dua tahun lalu di Incheon, di dalam burger Crab nya Lotteria. — burger terenak yang pernah saya coba sampai saat ini :D, mungkin karena lapar kali yaaaa 😀

Saya pun memperhatikan cara teman saya memainkan alat untuk membuka cangkang . Sempat bingung sih, soalnya biasanya saya makan kepiting main “cucuik” ( Nggak ngerti bahasa cucuik kalau di Indonesia kan apa ya? ).

 

29748765_10215035868031442_846507636_o.jpg
Pertarungan siap dimulai !

 

Butuh beberapa menit untuk bisa ahli memainkan alat dan menjepit cangkang serta memecahkannya dan lalu menikmati dagingnya. Kalau dilihat perjuangannya sih sebelas dua belas dengan makan kuaci kali ya.

 

29748246_10215035877991691_1644712267_o
Tiba-tiba saya ingat ayah yang beberapa hari lalu berkunjung ke Padang dan harusnya ngajak makan di sini 😦 hiks Semoga diberi rejeki untuk selalu membahagiakan keluarga 🙂

 

Untuk rasa sih bagi saya biasa saja, tapi tetap nikmat kok layaknya masakan Padang umumnya. — nggak tahu kalau ikan bakar sebagai andalan tempat makan ini.

Butuh satu jam untuk mengakhiri pertarungan dengan kepiting. Ah, nikmat mana yang kamu dustai saat perut terasa kenyang?

Alhamdulillah.

Tibalah saatnya membayar. Saya pun mengeluari uang yang langsung di tolak teman saya. Ia membayar tagihan untuk pertarungan dengan kepiting saos Padang. Alhamdulillah. Allah maha baik.

Maka di sepanjang jalan pulang saya berdo’a semoga teman saya tidak kapok berkunjung ke Padang. — Kelak jika ia mengabari sehari sebelumnya, saya rela deh mencari informasi rekomendasi yang enak-enak di Padang. Asal dibayari lagi *eh … Nggak ding, bercanda !

 

Happy long weekend !

 

 

 

Kuala Lumpur : A Beautiful day from a stranger

Suatu ketika di sebuah perjalanan – tentang mereka yang hadir tanpa sebuah nama, tapi tertanam di ingatan.– quote’s ekahei

Sebuah teriakan memaksa langkah kaki kami untuk berhenti. Menoleh ke belakang. Seorang perempuan bertubuh kurus dan berkulit tidak coklat seperti saya melambaikan tangan. Perempuan yang beberapa menit lalu saya hampiri sekedar bertanya dimana bisa menemui area jalan yang saya tuju.

Saya melempar pandang kepada kedua adik saya yang ekspresi mereka sulit saya pahami. Ragu saya mengikuti langkah perempuan tersebut yang memaksa saya untuk mengikutinya.

“ Saya antar you ke tempat tujuan,” begitu ia berujar.

Ia membawa langkah kami ke area bangunan yang agak sepi. Sebuah mobil L-200 menunggu. Jantung berdebar, pikiran negatif mulai bermunculan. Mata saya memandang awas satu persatu ke arah dua adik saya yang terlihat juga ragu. Perempuan itu memaksa kami menaiki mobil tersebut. Saya mengabaikan pikiran mengerikan, sudut hati berusaha menyakin bahwa tak akan terjadi apa-apa.

28535043_10214790539338378_1124925917_n
Mesjid Jamek ; Setelah di Renovasi, mesjid jamek jadi lebih keren dan adem plus menyenangkan.

 

Saya menarik napas. Ternyata mobil tersebut grab car yang ia pesan. Tapi, tetap saja hati saya tidak tenang. Sepanjang perjalanan kami banyak bermain dalam diam. Tubuh saya kaku dan bingung bagaimana bersikap – untuk pertamakalinya dalam sejarah perjalanan saya kebingungan bersikap pada orang asing.

Pun dengan dua adik saya yang baru pertamakali melakukan perjalanan keluar negeri. Tak banyak kalimat yang keluar dari mulut kami, si perempuan sibuk dengan ponsel dan berbicara dengan supir grab. Sampai dimana ia memngeluarkan selembar uang 20 RM yang membuat saya kebingungan bersikap : haruskah saya mengantikan uang si mbak tersebut?

Kami turun dekat kawasan Pudu, ia pun ikut turun. Dan menyakinkan apakah saya akan aman jika berjalan sendiri dan memahami arah tujuan. Ia memberi arahan kemana langkah kaki kami harus berjalan. Saya pun mengangguk. Saya mengucapkan terima kasih atas kebaikannya.

28511917_10214790539138373_1297245355_n
Dataran Merdeka : salah satu tempat populer di kalangan wisatawan asing — hal wajib disinggahi saat ke KL

 

Kami berjalan, dan saya menoleh ke belakang, ia masih mengawasi langkah kami. Setelah yakin baru ia menghampir sebuah bus yang melintas. Dan… satu jam berlalu, saya terdiam menyadari pertolongan Allah ditengah kelelahan kami melangkah mencari alamat hotel lewat kebaikan perempuan asing tersebut.

****

 

28459432_10214790539058371_410227706_n
Gedung Sultan Abdul Samad ; dibangun pada 1897 oleh A.C. Norman. Selama masa pendudukan Inggris di Malaya, gedung ini digunakan sebagai kantor beberapa departemen pemerintah. — Tak heran arsitekturnya khas bangunan tua di Inggris.

Kuala Lumpur bagi saya bukan sekedar tempat persinggahan untuk sebuah kata ‘liburan’,  tapi kota ini bagaikan berkunjung ke rumah seorang teman sekedar memperoleh rasa menyenangkan. Maka, tak banyak tempat yang sudah saya kunjungi di ibukota Malaysia tersebut.

Beberapa kali singgah, saya lebih senang duduk di Go KL dan menikmati perkotaan lewat kaca jendela bus gratis tersebut yang berakhir di KL Sentral dan kembali ke KLIA2 untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya. Yup, Kuala Lumpur tak ubahnya bagi saya persinggahan sesaat sekedar melampiaskan kesenangan belaka.

Menarik bagi saya adalah keragaman kota ini yang menyenangkan. Diantara gedung perkotaan, ragam etnis terlihat saling menghargai satu sama lain. Inilah menjadi alasan dasar saya mengajak dua adik saya untuk liburan ke negara tetangga tersebut awal tahun kemaren – bahwa hidup ini tak sekedar nikmatnya sepiring nasi Padang.

Jauh sebelumnya, saat saya masih duduk di bangku sekolah, Kuala Lumpur tak ubahnya sebuah kota yang membuat saya geram penuh amarah dengan ulah yang kerap diberitakan media ; entah menyiksa para butuh migran, entah soal perebutan budaya dan lain sebagainya. Sayangnya, semua terbantahkan ketika pertamakalinya melakukan solo traveling dan singgah di KLIA sekelompok Mahasiswa berkewarganegaraan Malaysia memberikan saya ice cream. – saya mah anaknya mudah luluh dengan makanan.

28535364_10214790539418380_71905608_n
BATIK ?!

Traveling mengajarkan saya untuk melihat sesuatu dari berbagai sudut pandang tentang keragamanan. Bersama dua adik saya, sayangnya karena menganggap sudah akrab dengan kota ini, saya memulai awal yang salah. Saya lupa memasang paket rooming dan mengabaikan stand simcard lokal. Alhasil, saat menuju penginapan, kami merepotkan diri dengan berjalan tak tentu dn bertanya pada beberapa orang yang ditemui.

Termasuk seorang perempuan muda berkulit putih dan bermata sipit.  Gayanya terlihat santai dengan baju kaos putihnya, dia akhirnya memberi arahan jalan yang harus kami tempuh saat saya bertanya mengenai daerah Pudu Lama, tempat dimana saya akan menginap.

Setelah beberapa ratus meter saya berjalan, tiba-tiba perempuan itu menyusul langkah kaki dan berteriak memanggil kami. Ia pun mengajak untuk ikut bersamanya yang sempat membuat saya curiga. Ternyata ia mengantarkan saya dengan grabcar yang ia order. Tadinya saya pikir ia hanya akan menyinggahi saya di suatu tempat, ternyata ia ikut turun dan memastikan bahwa kami aman sampai tujuan.

Saya tak mungkin lupa sorot mata kekhawatiran seorang kakak di sepasang matanya. Lama saya terpaku, yang akhirnya membuat saya menyesal tak memberi apa-apa selain ucapan terima kasih. Diam-diam saya menyelipkan sebuah do’a : semoga hal-hal yang baik di anugerah kepada perempuan tersebut.

28534129_10214790539458381_1524120189_n
Salah satu kawasan di mesjid Jamek ; terlihat potret pasangan nan romantis — ah semoga ekanya disegerakan menemui sahabat hati 🙂

****

Jatuh Cinta di Ashaabee Exhibition, Mekkah

What Does Sahaaabee (Companion) Mean?

— A sahaaabee (fem.sahaabiyah) is any person who met the Prophet, sallallahu ‘alayhi wa sallam, followed him and died a Muslim.

Ashaabee merupakan kosa kata bahasa arab yang berarti sahabat — para sahabat. Seorang teman pernah berkata kepada saya, sahabat adalah salah satu cerita terindah yang dititipkan Tuhan yang harus dijaga selamanya, mengalir waktu bersama, yang harus dirawat dengan pupuk kepercayaan dan disiram dengan kasih sayang. Sebuah pernyataan yang manis dan menyenangkan tentunya.

y4mP-H_JiKsTVz0GBHJj6XTS7DNqHuGtP9y-be9VtDD1xUhz3jZOpK9SrPAqEKEEYcJKzmgdJ-Ba-5fDzwBXpf1u68R1MT4TycrSTmnQ6ngaOxOJr5Lr5rrxBn5iGOKMZ9joz0lIkTHfaJH5A8AGl0dlTJ8rhOBeCvegQt3Kekn1VLONI4auSO-wWgivTVIPHjru_QMk3IFspPPD_xveJcurQ
Salah satu yang terdapat di ruangan pertama dalam Ashaabee Exhibition

Pernyataan tersebut tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kasih sayang para sahabat Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam kepada beliau, Masya Allah mereka adalah manusia-manusia yang mulia. Allah pun memuji mereka dalam Alqur’an. Mereka mempercayai kebenaran yang disampaikan oleh Rasulullah sallallahu ‘alayhi wa sallam, mendukung beliau dan melindungi beliau hingga mengorbankan diri sendiri atas kecintaan terhadap Muhammad sallallahu ‘alayhi wa sallam.

Tak ada yang lebih menakjubkan dan penuh haru mengenai perjalanan nabi Muhammad sallallahu ‘alayhi wa sallam bersama para sahabatnya dalam menyebarkan Islam yang dirangkum secara ringkas di Ashaabee Exhibition, atau lebih dikenal dengan museum sahabat nabi. Sebuah pameran yang terletak tak jauh dari Masjidil Haram, tepatnya ke arah kawasan Jabal Omar. Dibuka selepas sholat ashar hingga ditutup sekitar pukul 11 Malam, pameran ini menjadi salah satu destinasi yang harus disinggahi sekedar menambah rasa kecintaan terhadap Rasulullah dan para sahabat beliau disela melaksanakan ibadah umroh. — Mempelajari teladan para sahabat dalam mencintai Rasulullah sallallahu ‘alayhi wa sallam.

Adalah Ali bin Abi Tholib radhiyallahu’ anhu, salah satu empat sahabat nabi Muhammad yang paling utama ( Abu bakar, Umar Bin Khatab, Utsman Bin Affan dan Ali Bin Abi Thalib — radhiyallahu ‘ anhum ajma’in) pernah ditanya, ” Bagaimana Cinta kalian kepada Rasulullah sallallahu ‘alayhi wa sallam?

Ali menjawab.” Demi Allah, beliau lebih kami cintai daripada harta, anak-anak, ayah dan ibu kami serta kami juga lebih mencintai beliau daripada air dingin pada saat dahaga. ( sumber : Rumaysho)

y4mhmzTWZ918NcusHmwgjJKee9nlqxhxvzCiOwh4lHf9cfS2m-0a-JBZZ8yQRf2BWjhXiIvXq-9B6n9d0Czu-ZM09U2mvz7kWgNgwZ_g1sX9cyaEVnveqLTCEzgx474AI2mYlyr5k1abIqIVwiKjxQh7okUKD-rxMeUV0NzpJMaJ5BM7FnX_qEex5YG4bcoE5nr1tN5WJgF9x7uXfLBQECFog

Kemuliaan Sahabat Nabi

Saya jatuh cinta sebelum beberapa langkah memasuki Ashaabee Exhibition pada suasana kawasan Jabal Omar yang memberi romantisme tersendiri sore itu saat saya mengiringi langkah Ama — ibu saya. Langit Mekkah sore selepas ashar kala itu mampu membuat diri terpaku pada kekuasaan Allah dalam menghadirkan kehidupan yang menakjubkan. Pada lalu lalang orang – orang yang melepas kelelahan dan menikmati waktu dengan bercengkrama satu sama lain atau sekedar menikmat kopi hangat.

simpan
Suatu sore di Jabal Omar, Mekkah Al Mukarromah

Namun, perasaan cinta yang berbeda membuat langkah kaki saya terhenti, pada rangkaian keindahan potongan ayat Alqur’an tatkala memasuki pameran atau lebih dikenal dengan museum sahabat nabi. Mengabaikan sejenak suara Mutawwif, pendamping selama mengikuti ibadah umroh yang memberi ide untuk mengikuti tour ke museum tersebut. Rangkaian beberapa ayat Alqur’an terpajang rapi di dinding dan penjabaran mengenai kedudukan para sahabat nabi yang ditampilkan dalam dua bahasa ; Arab dan English.

Suara tour guide memecahkan keheningan saya terhadap beberapa tulisan mengenai kemuliaan sahabat nabi. Di Ashaabee Exhibition sendiri memang disediakan tour guide berbahasa Indonesia yang dikhususkan untuk memandu jamaah Indonesia dalam memberi informasi mengenai museum tersebut. Untuk itu, disarankan mengunjungi museum tersebut dengan kelompok atau rombongan umroh lainnya agar memudahkan prosedur dalam mengikuti jalannya tour.

IMG-20191230-WA0003
Penjabaran sekilas mengenai napak tilas perjuangan Rasulullah sallallahu ‘alayhi wa sallam dan para sahabat beliau

Disamping itu, tentu ada harga tiket masuk yang lebih murah dan sudah diatur oleh pihak travel umroh. Untuk personal sendiri tiket masuk ke Ashaabee Exbition dikenakan : 15 Riyal atau setara dengan Rp 60.000,- ( 1 Riyal : kurs : 4.000,-), dan digratiskan untuk anak-anak dan orang tua yang berusia 60th ke atas.

Ashabee Exhbition ; Napak Tilas Perjuangan Rasullullah sallallahu ‘alayhi wa sallam dan Para Sahabat Beliau

Jangan bayangkan kalau museum ini terdiri dari artefak kuno yang membosankan. Ashabee Exhbition memanfaatkan modernisasi teknologi yang mengagumkan antara audio visual, ilustrasi gambar dan beberapa market seolah – olah membuat kita melintasi waktu menyelami jejak Rasulullah sallallahu ‘alayhi wa sallam dalam menyebarkan agama Islam. Disamping itu, interiornya ruangan yang membuat seolah-olah menelusuri lorong waktu.

IMG-20191230-WA0008
Suasana di salah satu ruangan di pameran sahabat nabi

Terdiri dari 10 ruangan yang memiliki cerita berbeda namun saling berkaitan terhadap kisah hidup Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam dan para sahabatnya dalam memperjuangkan kebenaran dan mengenalkan tauhid yang sebenar-benarnya. — Ingat melalui museum ini pun kita tidak menemui cerita perayaan Maulid nabi yang dilakukan oleh Nabi maupun para sahabatnya 🙂 , itu kenapa saya tak lagi menghadiri atau merayakan perayaan Maulid nabi karena tak ada dicontohkan oleh para sahabat nabi.

Pada ruangan pertama, merupakan ruangan resepsionis dan informasi mengenai keutamaan para sahabat nabi termasuk larangan memperolok-olok sahabat nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam. Dan, cerita dimulai ketika di ruangan dua, di tempat ini diawali dengan menceritakan orang yang pertamakali membenarkan dakwah nabi Muhammad, yaitu Istri beliau, Siti Khadijah yang merupakan perempuan yang pertama kali yang beriman terhadap kalimat tauhid, sementara Laki-laki yang pertamakali beriman adalah sahabat beliau Abu Bakar as siddiq. Pada ruangan kedua ini juga dijelaskan mengenai perjuangan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam dalam berdakwah di kota Mekkah. Dan, diangkatnya beliau sebagai nabi dan rasulullah di kota tersebut.

Selain itu, juga terdapat ilustrasi peta dan kota Mekkah di masa jahiliyyah yang ditampilkan dengan menarik dan beberapa kisah orang -orang yang beriman kepada Allah serta menerima kebenaran yang disampaikan oleh Rasulullah namun mendapat siksaan dari kaum Quraisy. Diantaranya kisah Ammaar Ibn Yaasir dan keluarganya. Juga ada video yang menjelaskan keutamaan para sahabat nabi.

gambar
Penjelasan di sampaikan dalam bahasa Arab dan Inggris

Memasuki ruangan ke tiga, masih lanjutan dari orang -orang yang menerima kebenaran dari Rasulullah sehingga ruangan tiga ini diberi nama ” Allah yang mencintai mereka (sahabat nabi)”, yaitu orang – orang yang bertahan dalam keadaan yang sangat sulit demi agama Allah diantaranya adalah Abu Bakar As Siddiq, Aisyah bin Abu Bakar, Umar Bin Khattab, Usman Bin Affan, Ali bin Abi Thalib serta Bilal.

Di ruangan tersebut juga terdapat napak tilas perjalanan hijrah ke Madinah yang saat itu bernama ota Yatsrib atas perintah dari Allah subhanahu wa ta’ala dan memilih jalur berbeda dari pengikuti agar tidak diikuti oleh kaum kafir quraisy. Ilustrasi jalur perjalanan Rasulullah dijabarkan lewat layar grafik yang informatif. Sebab hijrahnya Rasulullah dan para sahabat ke kota Madinah salah satunya karena adanya siksaan dan tekanan yang datang dari kaum kafir quraisy.

Memasuki ruangan ke empat, mengenai tibanya Rasulullah dan para pengikutnya di Kota Yatsrib yang sambut suka cita oleh penduduk setempat. Disinilah lahirnya nama Kota Madinah oleh persaudaraan dua golongan yang disatukan oleh nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam yaitu antara kaum Anshor ( penduduk kota Yatsrib) dan kaum Muhajirin ( pengikut Rasulullah yang datang dari Mekkah).  Masya Allah, persaudaraan tersebut membuat kaum Anshor mewariskan sebagian harta mereka untuk kaum Muhajirin.

y4mQku_zBriiP88zTqRqpYskylhYxWHzL4lBtkYF5FalUR8flmZ9jX9oKqUzMEXWowhJ545rvEs5XcUUQ3zDPytYi-cPk2hhZZT0Cx026mIYKO6dtZw1ZtiT-J54D8MzqU8OQX2CDvgz_-mjWr-zcls9LR1o2d19194rsq7ieU_Yq5Sy8niBSDO4G3s9Gby1dDXG9omg45oXe2nnJMrd6SOtw
Salah satu tampilan visual yang terdapat di pameran

Islam sangat diterima dengan baik di Madinah Al-munawarroh. Mendapat tempat yang menyenangkan di kota tersebut. Di kota ini Rasulullah mendirikan mesjid Quba, mesjid yang pertamakali di dirikan oleh Rasulullah dalam perjalanan hijrah beliau menuju Madinah. Di kota ini juga Rasulullah mendirikan mesjid Nabawi, yang berada di dekat tempat tinggal beliau. di Nabawi terdapat Raudah — taman surga, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam. 

“Di antara rumahku dan mimbarku, terdapat Raudhoh ( taman) diantara taman -taman surga ( HR. Bukhari no. 1196 dan Muslim no.1390)

Islam meraih kejayaan Islam di Madinah. Namun, kejayaan tersebut tentu tidak disukai oleh kaum quraisy sehingga terjadi berbagai perperangan. Diantaranya yang terkenal adalah perang Uhud, yang memakan cukup banyak korban muslim. Ada banyak faktor terjadi perang Uhud, salah satunya karena dendam akan kekalahan di perang Badar.Peristiwa tersebut dijabarkan di ruangan ke lima dengan memutarkan film peristiwa perang Uhud, yang terjadi di Jabal atau gunung Uhud. Kekalahan tersebut tak lepas dari kelalaian terhadap perintah rasulullah untuk tetap berada di bukit rumah.

Usai mengalami kekalahan di Perang Uhud, dan kembali melakukan perang hingga memperoleh kembali kemenangan, kehidupan di madinah pun berjalan dengan normal. Di ruangan enam inilah diceritakan beberapa kisah sahabat nabi termasuk kondisi Madinah sebelum datangnya Islam. Salah satunya kisah yang terdapat di ruangan enam ini mengenai Zainab binti Jahsy, istri Rasulullah yang sangat gemar menginfakan harta beliau.

Yang bikin haru adalah ruangan tujuh, yang mengisahkan peristiwa meninggalnya Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam karena sakit yang dirasakan yang disebabkan oleh sisa racun yang diberikan oleh wanita Yahudi melalui hadiah daging kambing. Meninggalnya Rasulullah menyadarkan kita bahwa beliau adalah manusia yang tidak boleh kita sembah, tapi harus kita taati sebagai utusan Allah, sang pencipta kehidupan ini. Wafatnya Rasulullah tentu menyisakan kesedihan yang mendalam bagi kaum muslimin saat itu. Ada banyak kisah menarik di saat detik-detik wafatnya beliau, termasuk kecintaan dan perhatian beliau terhadap kaum muslimin. Masya Allah, Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhammad Kamaa shollaita ‘ala ibroohim wa ‘ala aali ibrohim, innaka hamidun majiid.

IMG-20191230-WA0024

Ruangan selanjutnya adalah ruangan delapan, yang mengisahkan tentang Khulafa Ar Rasyidin yaitu Abu Bakar As Siddiq, Umar Bin Khattab, Utsman Bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Dimasa tersebut berkembang ilmu pengetahuan mengenai Islam. Dan di era kepemimpinan Abu Bakar as Siddiq, Alqur’an mulai dibukukan. Selain itu juga terdapat kisah sesudah kekhalifahan Khulafa Ar Rasyidin yang disampaikan dengan visual grafik yang menarik dan ringkas. Terakhir dari napak tilas perjalanan Rasulullah dan para sahabat dalam menyiarkan Islam berakhir di ruang sembilan yang menyuguhkan informasi mengenai kejayaan Islam di luar jazirah arab.

y4mV7cgbyN1EMq3Lvbsb723XFS04Skadv87vNUw0ZOD9NHPTR6Ujz8w9wJDceqzenvHnznW1PsG0WIeRkf20UvNTM23_FN-LW217xYGAQOmGevjBFDLk7CQoGUV4nB8YY-o2zGIHCKPZOz7Ktt8Q4eNPRZu9EvqEv9HvdCeeuQmJfI66IelhCGDQPln3U-yisNo2byy5zW1XOEh7Ys_RomlFQ
Bentuk awal Alqur’an tanpa harkat

Pada ruangan ke 10, yang merupakan ruangan terakhir dari pameran tersebut adalah ruangan Souvenir bagi pengunjung yang berminat untuk berbelanja baik itu sajadah maupun alqur’an.

****

Kita tak bisa melampaui batas kemuliaan para sahabat nabi yang begitu mencintai Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam melebihi diri mereka. Saya jatuh cinta pada kisah kasih sayang antara Abu Bakar as Siddiq dan Rasulullah. Pada cinta Umar Bin Khattab kepada Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam.

Saya jatuh cinta pada kecerdasan Utsman Bin Affan dalam menghapal Alqur’an dan mempelajarinya — disamping sifat dermawan beliau, radhiyallahu ‘anhu.  Dan tersenyum pada kisah cinta antara Ali Bin Thalib dengan putri Rasulullah, Fatimah radhiyallahu ‘anha.

y4mFzsIXjhDOjoqOWvyfBalGEIufDN8lqjXfLCe4_EUS6kap2dfUB8Sx0CS9AAi6GKtgyCYRuf0g6Qv9-RBy2a4hbiWCngz4Iw0iugbYCfAHQkCi2rIF9Ug6EfdhrN9bDVv28jpkN4k4FKFyEMrcyu1adqmOjZk9Rtq1tKcnbsvcSwu91wioZUpBb_uZz__xk-C620LylquaGwISufrTevViQ
Visual yang mengagumkan dari sebagian interior di Exhibition Ashaabee

Ashaabee Exhibition, sebuah pameran yang tak saja membuat takjub dengan interior dan ragam ilustrasi, audio visual, grafik, market serta pemandangan langit – langit ruangan yang memanfaatkan teknologi modern dalam menyuguhkan sekilas cerita Rasulullah dan para sahabat tanpa sedikit terselip rasa bosan, namun ada desiran emosi dan sudut mata yang berair. Pada cinta dan rindu yang menghiasi hati ini.

.

gambat
Grafis yang menjelaskan kisah para sahabat radhiyallahu ‘anhum

Sore memang menghadirkan romantisme yang menyenangkan, namun bagi saya waktu yang terbaik untuk mengunjungi tempat ini adalah selepas Isya. Sehingga bisa berlama – lama menyelami setiap kisah yang diberi keterangan lewat dua bahasa ; Arab dan Inggris dan dijabarkan dengan baik oleh seorang tour guide pameran dengan kemampuan story telling yang menyenangkan.