Bulan: Maret 2017

Menemui Indonesia di Selatan Ibukota Negeri Ginseng

Menyinggahi kota Ansan adalah jawaban kerinduan akan sebuah negeri yang menyenangkan dengan keramahan dan masakannya ; Indonesia.

Udara dingin langsung menyapa tubuh saya sesaat keluar dari Subway line 4 di stasiun Ansan. Perjalanan satu jam lebih dari stasiun Dongdaeumun, Seoul – kawasan tempat saya menginap– tidak begitu melelahkan. Maklum saya melewati dengan terlelap sejenak mengabaikan keindahan pemandangan diluar sana dari jendela kaca Subway pagi itu.

Saya merapat sweater pemberian seorang mahasiswa Indonesia yang lagi kuliah di Busan yang saya temui tak sengaja dalam perjalanan saat di Busan. Rasa kasihan melihat tubuh ringkih ini hanya terselimuti jacket tipis membuat Mahasiswa tersebut menghadiahkan sweater yang nyaman bagi saya.

DSC03653

Sebuah taman terbuka yang berada tak jauh dari kawasan keramaian Ansan Stasiun

Saya datang di awal November ketika Korea Selatan memasuki musim gugur yang saya perkirakan awalnya cuaca tak terlalu dingin. Sayangnya, meskipun matahari bersinar terik anginnya cukup membuat tangan membeku kedinginan. Saya jadi teringat ucapan  seorang teman : “ kita tidak pernah tahu apa yang terjadi dalam perjalanan.”

Mata saya sejenak terpejam. Menghirup udara dingin. Menghentikan langkah. Menikmati suara riuh di sekitar stasiun Ansan. Sebuah percakapan yang akrab membuat saya menyunggingkan senyum. Logat Jawa nan kental.

Tempat itu bernama Ansan

Terletak di Selatan Seoul, ibukota Korea Selatan, Ansan adalah sebuah kota di provinsi Gyeonggi, Korea Selatan. Kota ini bukanlah termasuk tujuan wisata populer seperti Busan saat traveling ke negeri ginseng. Namun ketenangan kota kecil ini mampu menjawab kerinduan akan rumah disela-sela rasa lelah sepanjang perjalanan menjelajahi negeri ginseng.

DSC03649

Minggu Pagi di Ansan

Rasa itulah yang membuat saya rela bangun pagi setelah kelelahan berjibaku di pusat perbelanjaan Myeongdong, Seoul, tadi malam hanya sekedar ingin melakukan perjalanan ke Ansan. Semesta pun menyambut saya dengan sinar matahari yang cukup cerah. Saya pun menelusuri lorong stasiun Ansan yang sejenak mengingatkan saya pada kawasan Glodok dan Mangga Dua, Jakarta, dengan ragam pertokoannya. Beberapa tulisan dalam bahasa Indonesia berseliweran. Akhirnya mata ini bisa terlepas juga dari huruf Hangul – huruf Korea. Suara-suara dengan logat Jawa pun menghampiri telinga saya.

Kaki saya melangkah dengan semangat, melempar pandangan pada penjual sayuran dengan senyum terukir. Ahjumma pun melempar senyum yang sama ; Ah, bahasa senyum memang selalu menyenangkan!

DSC03615

Koridor stasiun Ansan. Menariknya, disini masih ditemui street market — pedagang kaki lima, yang tertata rapi dan bersih.

“ Mas Mesjid dimana ya?”

Kaki saya terhenti pada segerombolan pemuda yang asyik bercengkrama. Mereka sejenak memandang saya. Salah satu dari mereka memberi arahan. “ Mbaknya menyeberang di bawah dulu. Nanti jalan lurus belok kiri udah jalan aja terus.”

“ Kira-kira sepuluh menitlah jalan,” sahut mas yang satu lagi.

Saya mengangguk. Beberapa diantara mereka tersenyum menyadari ekspresi wajah saya mendengar jalan kaki selama sepuluh menit. “Tenang mbak. Nggak capek kok jalannya.”

Saya nyengir. Kalau di negeri sendiri ini udah manggil abang ojek. Pikir saya. Saya pun mengucapkan terima kasih. Berjalan mengikuti arahan mereka.  Lagi-lagi wajah saudara setanah air banyak saya temui sepanjang jalan. Saya menghela napas penuh kelegaan. Ada ketenangan menyusup di dalam diri ini. Tak lagi khawatir soal bahasa dan tersesat.

DSC03613

Mas-mas yang lagi menikmati liburan. Adakah sahabat hati eka diantara mereka? *eh 

Mereka benar bahwa saya tak akan lelah menelusuri perjalanan sepuluh menit ke mesjid dari stasiun Ansan dengan berjalan kaki. Daun-daun yang berguguran di sepanjang jalan menyegarkan mata . Pun pertokoaan yang tertata rapi. Saya pun banyak menemui makanan khas Indonesia.

 Ah… INDONESIA. Kenapa selalu menghadirkan rindu?

Kenyamanan di Mesjid Shirathol Mustaqim -Ansan

Sebuah mesjid berdiri kokoh diantara bangunan yang ada di kawasan Danwon-gu, Ansan. Ragu saya memasuki mesjid. Seorang pemuda sedang berjalan memasuki area mesjid. Saya pun tampak ragu memilih bahasa yang digunakan ; Inggris atau Bahasa. Reflek saya mengeluarkan bahasa Indonesia. Ia pun menjawab dengan bahasa yang sama dengan lancar. Memberi arahan tentang tempat wudhu dan sholat khusus wanita yang terletak di lantai 3. Mesjid ini cukup bersih dan nyaman.

DSC03626

Renovasi pada mesjid Shirathol Mustaqim ini tak lepas dari sumbangsih perkumpulan pemuda Indonesia yang ada di Korea Selatan

            Merupakan kota industri yang banyak mendatangkan pekerjaan asing termasuk Indonesia, Ansan kerap dijadikan meeting point bagi Imigran termasuk di mesjid ini. Dari obrolan dengan salah satu pekerja yang berasal dari Malang yang sudah dua tahun berada di Korea Selatan, ia menceritakan kepengurusan mesjid tersebut bercampur dari berbagai Negara ; ada yang dari Pakistan, Bangladesh dan Indonesia.

            “Namun, karena orang Indonesia suka ngumpul kali ya. Jadi kadang emang lebih suka terlihat aktif orang Indonesia di sana.”

            Saya mengangguk menyetujui omongannya. Menyadari beberapa tulisan di mesjid menggunakan bahasa Indonesia termasuk terjemahan alqur’an dalam bahasa Indonesia yang saya temui saat menunaikan sholat di sana. Saya pun menjumpai brosur informasi tentang paket menunaikan ibadah haji dalam bahasa Indonesia di pintu masuk mesjid.

            “ Dan tempat ini menjadi tujuan bagi mereka yang ingin mencari makanan halal,” tukas si Mas.

            Dari cerita teman saya yang lain, mesjid ini juga banyak dapat bantuan dari perkumpulan pemuda Indonesia yang ada di Korea Selatan.

            Kehangatan di semangkuk Bakso

Lupakan mie rebus instan dengan potongan cabe rawit di kala dingin merasuki tubuh ini.  Ada yang tak kalah lezat yang membuat kamu menelan ludah dan terkenang rasa kaldu kuah bakso di ujung lidah. Rasanya makanan inilah yang paling dirindukan selama berada di luar Indonesia. Apalagi dikala udara dingin, sangat menginginkan abang bakso lewat depan rumah.

DSC03633

Kangen Bakso. Ini kali kedua menikmati semangkuk bakso di luar Indonesia ; Malaysia dan Korea Selatan.

Saya pun tak dapat menahan diri untuk memesan semangkuk bakso saat menemui warung bakso di dekat mesjid. Mengabaikan harga yang cukup mahal jika dirupiahkan – 8000 won. Di warung ini juga tersedia beberapa produk makanan khas Indonesia seperti teh dan mie instan.

Rusdi, sang pengelola pun bercerita pada saya warung bakso yang dikelolanya ini hasil kerja sama dengan warga Korea sebagai pemilik. “ saya cerita ada nih  usaha yang tidak repot, tidak butuh modal besar, dan sederhana tapi selalu dicari. Yaitu bakso.” Ia pun menambahkan warung bakso yang bernama Kangen Bakso ini adalah warung bakso pertama di daerah Ansan.

 Ditangan Rusdi bakso dibuat dengan citra rasa yang tak kalah lezat dengan bakso di tanah air. Mengimpor daging dari Australia, ia pun memastikan kehalalan daging bakso yang digunakannya.

DSC03628.JPG

Kangen Indonesia… melipir ke Ansan aja 🙂

Saya beruntung datang di Minggu siang, saat para pekerja Imigran lagi menikmati liburannya. Dua orang mbak-mbak asal Surabaya yang sudah tinggal selama tiga tahun di Korea Selatan bercerita pada saya, ia kerap menghabiskan Minggu  di Ansan –padahal ia tidak tinggal di kawasan ini – sekedar melampiaskan kerinduan pada masakan Indonesia

The Little Town Indonesia

“ Boleh mbak sepatunya!”

Saya terperanjat kaget ketika melintasi pertokoan dengan tumpukan sepatu olahraga yang di obral. Sebuah sapaan membuat saya akhirnya menyungging senyum tipis. Mengelengkan kepala. Saya seperti terlempar dari negeri Ginseng sejenak. Tidak seperti beberapa pusat pertokoaan yang saya kunjungi di Seoul, sepatu ini tertulis ‘made in China’ dengan jelas di sebuah kertas yang terletak diantara tumpukan sepatu tersebut.

DSC03658

Adakah nyelip sahabat hati eka di antara mas-mas yang ngerumpi asyik ini? *Eh

Pertamakalinya selama seminggu berada di negeri dongeng saya melihat produk selain ‘made in Korea’. Saya terkenang pada ucapan seorang pedagang pusat perbelanjaan Good Morning di Dongdaemun saat menawar belanjaan. “ Ini made in Korea bukan China.”

Kaki saya melangkah memasuki kawasan yang tertulis kuliner internasional. Ansan memang terkenal dengan kawasan imigran asing melihat beberapa pabrik dan universitas yang berada di kota kecil ini. Kamu dapat menemui masakan Vietnam, Thailand dan tentu saja Indonesia. Tapi entah kenapa mata saya lebih banyak menangkap tulisan berbahasa Indonesia termasuk ‘warung Indonesia’.

Tak sekedar menjual ragam masakan tradisional Khas Indonesia, di kawasan ini juga mudah ditemui warung yang menjual produk Indonesia. Ketika saya kesulitan mencari money changer yang mau menerima rupiah selama berada di Seoul, di kota Ansan lah Rupiah disambut dengan hangat. Yup, pada akhirnya Rupiah saya diterima untuk ditukar dengan Won.

DSC03645.JPG

Keramaian Ansan di suatu minggu pagi nan cerah

Menikmati Minggu di daerah Ansan adalah agenda yang tepat saat menyinggahi Negeri Ginseng. Menemui Indonesia lewat wajah-wajah saudara setanah air yang sedang berjuang di negeri orang, menikmati ragam kuliner Indonesia yang menambah rasa syukur terlahir sebagai Indonesia. Saya seperti menemui ‘pelukan ibu’ di kota Ansan. Dan… Jika harus mengambil kesimpulan saya menyebut daerah Ansan adalah The Little Town Indonesia nya South Korea. (Eka)