Aku, Teman Lama dan Kepiting Saos Padang

” Ka, ini Fa!”

Begitu suara di seberang memperkenalkan diri. Ingatan saya melayang pada sosok seorang teman kala masih bersekolah asrama empat belas tahun lalu. — dan terima kasih facebook yang membuat kami masih terhubung serta mengetahui kabar masing-masing.

Sore itu, teman lama saya itu berkunjung ke kota Padang dan menanyakan dimana rekomendasi makan Kepiting paling enak di Kota Padang. Saya bukan pemburu kuliner namun penikmat kuliner, dan belasan tahun mengenal Padang sungguh saya tidak terlalu tahu mengenai kepiting kecuali semangkuk sup kepiting lezat ibu saya.

 

29693862_10215035906992416_1168751956_o
Salah satu sudut di Bandara Internasional Minangkabau (BIM), Padang Pariaman

 

Tak banyak rumah makan, restoran, caffee atau apalah namanya yang saya ketahui di kota Padang yang menjaga kualitas rasa makanan. Sebab, ketika berada di kota ini, saya lebih memilih berdiam diri di rumah. Menikmati asyiknya menjadi pengangguran dengan mengkhayal suatu saat bisa mengukir kisah menyenangkan dengan Ji Chang Wook. (menonton drama korea ; red) .

Pun dengan wisata di kota Padang sendiri, Selain pantai saya tidak tahu harus kemana lagi. Padahal ada beragam keindahan alam yang menyenangkan saat kita mengeksplore atau menjelajahi wisata di Sumatra Barat khususnya kota Padang.  Tak kalah seru lah dengan kulinernya yang melegenda tersebut.

Singkat cerita, yang berkunjung siapa yang ‘tuan rumah’ siapa. hehehe, jadi teman saya berinisiatif menelusuri pesisir pantai Padang dan menanyakan dimana terdapat tempat makan yang menjual kepiting.

Akhirnya… tadaaaa berlabuhlah di Pondok Ikan Bakar Khatib Sulaiman !

****

Akhirnya Bertarung dengan Kepiting di Pondok Ikan Bakar Khatib Sulaiman

Tadinya ketika melalui saluran telpon teman saya menyebutkan nama ” Khatib Sulaiman” saya pikir adalah kawasan Khatib Sulaiman. Karena bingung, saya pun menyusul di tugu Perdamaian di Pantai Padang. Saya pun menyerahkan kunci motor, membiarkan ia menjadi pengemudi.

Dan, laju motor memasuki area parkir Pondok Ikan Bakar Khatib Sulaiman. ” Oh, …. ini toh !” baru ‘ngeh’ dengan apa yang diucapkannya dengan ‘Khatib Sulaiman’ hehehehe…

 

29748131_10215035871631532_904030218_o.jpg
Pondok Ikan Bakar Khatib Sulaiman — terletak di pesisir pantai Padang tak jauh dari Tugu perdamaian

 

 Butuh sepuluh menit untuk menunggu seporsi Kepiting Saos Padang — sebenarnya ada dua pilihan, antara saos Padang atau saos tiram. Karena teman saya yang ngebet mau makan kepiting , saya pun menyerahkan pilihan ke dia.

Seporsi Kepiting Saos Padang disajikan yang membuat saya melongo dengan kejumbo-annya. Plus dengan sebuah alat — dibilang tang , entahlah.. aku tak tahu namanya apa :(.

Seingat saya, terakhir kali makan kepiting itu beberapa tahu lalu, itu pun ukurannya mini dan di sup sama ibu saya. Ehm… ntar, Oh, iya… terakhir kali itu dua tahun lalu di Incheon, di dalam burger Crab nya Lotteria. — burger terenak yang pernah saya coba sampai saat ini :D, mungkin karena lapar kali yaaaa 😀

Saya pun memperhatikan cara teman saya memainkan alat untuk membuka cangkang . Sempat bingung sih, soalnya biasanya saya makan kepiting main “cucuik” ( Nggak ngerti bahasa cucuik kalau di Indonesia kan apa ya? ).

 

29748765_10215035868031442_846507636_o.jpg
Pertarungan siap dimulai !

 

Butuh beberapa menit untuk bisa ahli memainkan alat dan menjepit cangkang serta memecahkannya dan lalu menikmati dagingnya. Kalau dilihat perjuangannya sih sebelas dua belas dengan makan kuaci kali ya.

 

29748246_10215035877991691_1644712267_o
Tiba-tiba saya ingat ayah yang beberapa hari lalu berkunjung ke Padang dan harusnya ngajak makan di sini 😦 hiks Semoga diberi rejeki untuk selalu membahagiakan keluarga 🙂

 

Untuk rasa sih bagi saya biasa saja, tapi tetap nikmat kok layaknya masakan Padang umumnya. — nggak tahu kalau ikan bakar sebagai andalan tempat makan ini.

Butuh satu jam untuk mengakhiri pertarungan dengan kepiting. Ah, nikmat mana yang kamu dustai saat perut terasa kenyang?

Alhamdulillah.

Tibalah saatnya membayar. Saya pun mengeluari uang yang langsung di tolak teman saya. Ia membayar tagihan untuk pertarungan dengan kepiting saos Padang. Alhamdulillah. Allah maha baik.

Maka di sepanjang jalan pulang saya berdo’a semoga teman saya tidak kapok berkunjung ke Padang. — Kelak jika ia mengabari sehari sebelumnya, saya rela deh mencari informasi rekomendasi yang enak-enak di Padang. Asal dibayari lagi *eh … Nggak ding, bercanda !

 

Happy long weekend !

 

 

 

Kuala Lumpur : A Beautiful day from a stranger

Suatu ketika di sebuah perjalanan – tentang mereka yang hadir tanpa sebuah nama, tapi tertanam di ingatan.– quote’s ekahei

Sebuah teriakan memaksa langkah kaki kami untuk berhenti. Menoleh ke belakang. Seorang perempuan bertubuh kurus dan berkulit tidak coklat seperti saya melambaikan tangan. Perempuan yang beberapa menit lalu saya hampiri sekedar bertanya dimana bisa menemui area jalan yang saya tuju.

Saya melempar pandang kepada kedua adik saya yang ekspresi mereka sulit saya pahami. Ragu saya mengikuti langkah perempuan tersebut yang memaksa saya untuk mengikutinya.

“ Saya antar you ke tempat tujuan,” begitu ia berujar.

Ia membawa langkah kami ke area bangunan yang agak sepi. Sebuah mobil L-200 menunggu. Jantung berdebar, pikiran negatif mulai bermunculan. Mata saya memandang awas satu persatu ke arah dua adik saya yang terlihat juga ragu. Perempuan itu memaksa kami menaiki mobil tersebut. Saya mengabaikan pikiran mengerikan, sudut hati berusaha menyakin bahwa tak akan terjadi apa-apa.

28535043_10214790539338378_1124925917_n
Mesjid Jamek ; Setelah di Renovasi, mesjid jamek jadi lebih keren dan adem plus menyenangkan.

 

Saya menarik napas. Ternyata mobil tersebut grab car yang ia pesan. Tapi, tetap saja hati saya tidak tenang. Sepanjang perjalanan kami banyak bermain dalam diam. Tubuh saya kaku dan bingung bagaimana bersikap – untuk pertamakalinya dalam sejarah perjalanan saya kebingungan bersikap pada orang asing.

Pun dengan dua adik saya yang baru pertamakali melakukan perjalanan keluar negeri. Tak banyak kalimat yang keluar dari mulut kami, si perempuan sibuk dengan ponsel dan berbicara dengan supir grab. Sampai dimana ia memngeluarkan selembar uang 20 RM yang membuat saya kebingungan bersikap : haruskah saya mengantikan uang si mbak tersebut?

Kami turun dekat kawasan Pudu, ia pun ikut turun. Dan menyakinkan apakah saya akan aman jika berjalan sendiri dan memahami arah tujuan. Ia memberi arahan kemana langkah kaki kami harus berjalan. Saya pun mengangguk. Saya mengucapkan terima kasih atas kebaikannya.

28511917_10214790539138373_1297245355_n
Dataran Merdeka : salah satu tempat populer di kalangan wisatawan asing — hal wajib disinggahi saat ke KL

 

Kami berjalan, dan saya menoleh ke belakang, ia masih mengawasi langkah kami. Setelah yakin baru ia menghampir sebuah bus yang melintas. Dan… satu jam berlalu, saya terdiam menyadari pertolongan Allah ditengah kelelahan kami melangkah mencari alamat hotel lewat kebaikan perempuan asing tersebut.

****

 

28459432_10214790539058371_410227706_n
Gedung Sultan Abdul Samad ; dibangun pada 1897 oleh A.C. Norman. Selama masa pendudukan Inggris di Malaya, gedung ini digunakan sebagai kantor beberapa departemen pemerintah. — Tak heran arsitekturnya khas bangunan tua di Inggris.

Kuala Lumpur bagi saya bukan sekedar tempat persinggahan untuk sebuah kata ‘liburan’,  tapi kota ini bagaikan berkunjung ke rumah seorang teman sekedar memperoleh rasa menyenangkan. Maka, tak banyak tempat yang sudah saya kunjungi di ibukota Malaysia tersebut.

Beberapa kali singgah, saya lebih senang duduk di Go KL dan menikmati perkotaan lewat kaca jendela bus gratis tersebut yang berakhir di KL Sentral dan kembali ke KLIA2 untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya. Yup, Kuala Lumpur tak ubahnya bagi saya persinggahan sesaat sekedar melampiaskan kesenangan belaka.

Menarik bagi saya adalah keragaman kota ini yang menyenangkan. Diantara gedung perkotaan, ragam etnis terlihat saling menghargai satu sama lain. Inilah menjadi alasan dasar saya mengajak dua adik saya untuk liburan ke negara tetangga tersebut awal tahun kemaren – bahwa hidup ini tak sekedar nikmatnya sepiring nasi Padang.

Jauh sebelumnya, saat saya masih duduk di bangku sekolah, Kuala Lumpur tak ubahnya sebuah kota yang membuat saya geram penuh amarah dengan ulah yang kerap diberitakan media ; entah menyiksa para butuh migran, entah soal perebutan budaya dan lain sebagainya. Sayangnya, semua terbantahkan ketika pertamakalinya melakukan solo traveling dan singgah di KLIA sekelompok Mahasiswa berkewarganegaraan Malaysia memberikan saya ice cream. – saya mah anaknya mudah luluh dengan makanan.

28535364_10214790539418380_71905608_n
BATIK ?!

Traveling mengajarkan saya untuk melihat sesuatu dari berbagai sudut pandang tentang keragamanan. Bersama dua adik saya, sayangnya karena menganggap sudah akrab dengan kota ini, saya memulai awal yang salah. Saya lupa memasang paket rooming dan mengabaikan stand simcard lokal. Alhasil, saat menuju penginapan, kami merepotkan diri dengan berjalan tak tentu dn bertanya pada beberapa orang yang ditemui.

Termasuk seorang perempuan muda berkulit putih dan bermata sipit.  Gayanya terlihat santai dengan baju kaos putihnya, dia akhirnya memberi arahan jalan yang harus kami tempuh saat saya bertanya mengenai daerah Pudu Lama, tempat dimana saya akan menginap.

Setelah beberapa ratus meter saya berjalan, tiba-tiba perempuan itu menyusul langkah kaki dan berteriak memanggil kami. Ia pun mengajak untuk ikut bersamanya yang sempat membuat saya curiga. Ternyata ia mengantarkan saya dengan grabcar yang ia order. Tadinya saya pikir ia hanya akan menyinggahi saya di suatu tempat, ternyata ia ikut turun dan memastikan bahwa kami aman sampai tujuan.

Saya tak mungkin lupa sorot mata kekhawatiran seorang kakak di sepasang matanya. Lama saya terpaku, yang akhirnya membuat saya menyesal tak memberi apa-apa selain ucapan terima kasih. Diam-diam saya menyelipkan sebuah do’a : semoga hal-hal yang baik di anugerah kepada perempuan tersebut.

28534129_10214790539458381_1524120189_n
Salah satu kawasan di mesjid Jamek ; terlihat potret pasangan nan romantis — ah semoga ekanya disegerakan menemui sahabat hati 🙂

****