Bulan: Januari 2013

Hei Jakarta! ( I’m back)

Hei Jakarta !

Saya memejamkan mata sesaat. Menatap langit Jakarta yang mendung. Melangkah ragu menyelusuri garbarata menuju pintu kedatangan.

“ Hei Jakarta, saya kembali,”

Entah apa kata itu tercekat di kerongkongan saya. Saya terdiam penuh keraguan. Menatap pemandangan di luar jendela kaca. Pesawat. Tiba-tiba airmata saya jatuh. Ada sesuatu yang menarik saya untuk membalikkan badan dan berlari.

Allah.

****

Saya benci ketika berada dalam keraguan. Ketika ketidakpastian menghiasi hari-hari saya. Ketika saya ‘blank’ pada apa yang seharus saya lakukan. Sayangnya, saya sedang menghadapi situasi seperti ini.

Mama atau biasa saya panggil ama adalah (mungkin) jawaban dari langkah keraguan ini. Dua minggu berada di rumah, bukan saja keraguan yang saya dapat tapi ‘kegelisahan’. Saran ama adalah saran yang terbaik menurut saya, sayangnya saya belum berminat untuk menjalaninya.

Buka toko dan mengajar di sini –tempat orangtua saya tinggal.

Saya terdiam. Saya bisa saja melewati ‘gambaran’ kehidupan yang ditawarkan ama dan ini sangat nyaman. Sayangnya, saya takut tidak menikmati kenyamanan tersebut. Saya mencintai perjalanan dan masih berkeinginan menjadi wartawan.

Lepas dari ama, saya beranjak ke kota yang saya cintai, kota Padang. Padang membuat saya betah dengan kegiatan tanpa ‘makna’. Menikmati dan berteriak labil pada drama Korea ( Oh…* Tolong abaikan.) . Profesi pengangguran benar-benar saya nikmati, tidur larut malam, bangun siang dan menghabiskan hari dengan kegiatan menonton.

Saya benci pada kegiatan yang tak membuat saya ‘berarti’ sementara hari terus berganti.

****

Saya kembali, Jakarta!

Saya menguatkan hati untuk melangkah. Teringat pada percakapan saya dengan teman ayah saya ketika saya menjelaskan jawaban atas pertanyaannya, : Why must Jakarta?

Kenapa harus Jakarta? saya mengeja pertanyaannya dalam hati.

Menurut saya tak bisa di ingkari Fenomena Jakartasentris. Apa-apa Jakarta. Pintu mimpi Jakarta. Pemerintahan, Industri, dan hiburan serta segala hal yang tergambar di Media. Sinetron Jakarta, film Jakarta, musik Jakarta, dan lain sebagainya.

Saya butuh Jakarta untuk pengalaman mengamalkan materi kuliah selama empat tahun ini agar tak terbuang sia-sia. Saya butuh ilmu dari ‘Jakarta’ untuk bisa saya berikan kelak ke daerah. Saya butuh Jakarta, untuk membuat saya lebih percaya diri melangkah.

Saya masih butuh BELAJAR ditengah krisis diri.

****

Saya terduduk menunggu Damri di tengah kebingungan. Kemana dan siapa yang akan saya tuju. Saya terdiam. Menyadari situasi saya bukan lagi menyandang profesi ‘Mahasiswa’ rantau yang punya kamar kos.

Saya orang kebingungan dan kehilangan sebagian diri saya. Saya memejamkan mata. Berharap ada kekuatan hati untuk kembali melangkah dan memenuhi kalimat-kalimat ‘bualan’ yang pernah saya keluarkan.

Hei Jakarta!

 

Ijinkan saya beraktifitas di tengah kemelutmu, bukan untuk selama-lamanya. Tapi, lebih pada pengalaman yang membuat saya terlahir sebagai manusia cerdas.

Menelusuri Jejak Yang Terabaikan Melalui Rumah Tua

Saya tidak mengenal Tan Malaka sebaik para pencinta sejarah, tidak semengerti para peneliti yang menelusuri jejak-jejak sejarah beliau. Dan, sebuah nama yang tidak saya temui dalam buku sejarah semasa sekolah dulu. Tapi, saya tahu bahwa Tan Malaka adalah  konseptor lahirnya Republik Negeri ini.

Ketidaktahuan dan keinginan untuk lebih mengenal sosok Tan Malaka menjadi alasan yang membawa saya berani menempuh perjalanan hampir empat jam dari kota Padang ke daerah yang belum pernah saya jelajahi sebelumnya, tepatnya ke Nagari Pandam Gadang, Payakumbuh. Untuk mencapai lokasi ini, dari kota Padang kita bisa menggunakan travel tujuan suliki dan berhenti di simpang tugu suliki. Kemudian dilanjutkan dengan ojek tinggal bilang ‘’Rumah Tan Malaka.”

****

Image

Suatu hari di Minggu Siang (27/01), Rumah masa kecil Tan Malaka, Pandam Gadang, Sumatra Barat.

Minggu Siang (27/01), Langkah kaki saya tiba-tiba terhenti tepat di belakang sebuah rumah gadang tua yang terlihat rapuh dan tak terurus. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu yang terlihat lusuh.  Saya menatap ragu dengan segala tanya menghiasi benak saya.

Benar ini rumah Tan Malaka?

Sejujurnya bagi saya tak ada yang menarik dari rumah gadang tua ini kecuali unsur Tan Malaka yang akhirnya membawa langkah kaki saya ke tempat ini. Rumah tua yang merupakan tempat dimana Tan Malaka menghabiskan masa kecil. Dan sejak 21 Februari 2008 bangunan tua ini diresmikan menjadi museum Tan Malaka oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata.

Kembali saya melangkahkan kaki, menuju depan rumah gadang tersebut. Pemandangan masih menyisa kalau bangunan ini tak ubahnya bangunan tua yang terabaikan. Perlahan kaki saya melangkah menaiki anak tangga.

Ada rasa takut ketika kaki memasuki rumah ini. Bukan karena sunyi yang menyelimuti tempat ini, tapi lebih kepada suara berderik dari sela-sela lantai kayu saat kaki melangkah. Bayangan adegan kaki Ringgo yang terjebak diantara papan yang rapuh dalam film tanah surga menghantui saya.

Saya menarik napas. Melepaskan sepatu dan hati-hati menelusuri tiap sudut ruangan berdebu. Mata saya terpaku pada koleksi buku mengenai Tan Malaka yang di tempatkan dalam bangunan kaca. Selain koleksi buku mengenai pemikiran Tan Malaka, beberapa foto Tan Malaka terpajang termasuk saat bersama Ir.Soekarno. Tak banyak foto Tan Malaka yang terpajang. Saya memperkirakan tak lebih dari lima belas foto.

Image

Di belakang koleksi buku, terpajang ranji Tan Malaka. Ranji adalah silsilah keluarga.

Kaki saya melangkah ke samping ruangan. Sebuah foto besar Tan Malaka dan di sudutnya terdapat tempat tidur. Saya kembali melangkah. Mengamati tiap sudut ruangan. Ada sebuah meja yang menarik perhatian saya di pintu masuk –yang terlewatkan begitu saja ketika saya memasuki ruangan ini–.

Dua buah buku tamu. Saya menelusuri tiap lembar kertas yang terdapat dari buku tamu tersebut. Sudah berapa banyak orang yang datang dari berbagai profesi, latar pendidikan yang berbeda, daerah yang berbeda bahkan dari Negara luar. Satu kesimpulan yang sama, mereka berharap rumah ini dijaga dan di rawat. Sayangnya, hasil dari bincang-bincang saya dengan tukang ojek yang mengantar saya ke tempat ini kendala dana dan perhatian dari pemerintah menjadi faktor tempat ini tak terawat.

Seperti sosok Tan Malaka yang terabaikan begitu saja, bangunan tua yang di bangun tahun 1936 beratapan seng dan sebagian dinding dengan anyaman bambu dan dipadu oleh kayu bernasib sama dengan dirinya. Tak ubahnya tampak seperti orang tua yang diabaikan oleh anaknya seorang diri.

Image

Kembali belajar dari sosok Tan Malaka, bapak yang terabaikan.

**** Padang, 28 Januari 2013. Sudut restoran cepat saji di kawasan Ahmad Yani.