5 Hal Seru Yang Bisa Kamu Lakukan di Bangkok Ketika Ketersediaan Baht Terbatas

One’s destination is never a place, But a new way of seeing things — Henry Miller

Thailand salah satu negara populer tujuan backpacker Internasional. Memiliki daya tarik budaya, keindahan alam dan keunikan kuliner menjadi alasan negara ini banyak dikunjungi wisatawan asing. Selain itu, tentu saja akomodasi yang dinilai murah menjadi nilai plus bagi negara gajah putih ini. Hal ini juga berlaku bagi Bangkok, sebagai ibukota dari negara tersebut.

Alasan ini juga membuat saya memilih Thailand sebagai perjalanan solo traveller pertama saya ke luar negeri awal September 2015 lalu. Sempat terlena dengan wisata bahari yang ditawarkan di Aonang Beach, Krabi membuat budget perjalanan saya ke Thailand diluar kendali. Sementara penerbangan kembali ke tanah air melalui Bangkok — dan rasanya kurang afdol tak melakukan city tour di kota ini.

Maka jalan terbaik adalah lupakan sejenak Maddam Tussaud dan Grand Palace yang menjadi ikon Bangkok. Berikut ada lima hal yang tak kalah seru bisa lakukan tanpa menghilangkan esensi liburan yang tetap meninggalkan kesan menyenangkan :

1. Menikmati Pagi di Santichai Prakarn

Saya memilih menginap di daerah Khaosan Road, kawasan terkenal backpacker dunia berkumpul. Di kawasan ini kamu bisa menyaksikan ragam traveller antar negara dan streetfood khas Thailand yang mengugah rasa. Tapi lupakan sejenak tentang dua hal itu termasuk mengurungkan niat untuk berbelanja oleh-oleh.

Keluarlah di subuh hari, berjalan kaki menikmati pagi yang segar menyusuri jalanan Khaosan Road yang lengang menuju Santichai Prakarn. Santichai Prakarn adalah sebuah taman yang tidak terlalu luas tapi bersih. Saya menikmati pagi yang indah di sungai Chao Praya sambil melihat oma-oma yang melakukan Taichi.

photo 1
jam operasional Santichai Park

2. Menyaksikan kota Bangkok dari Wat Arun Temple

Rasanya ada yang kurang belum menyinggahi kuil saat mengunjungi kota Bangkok, sementara untuk memasuki Grand Palace persediaan baht saya terbatas. Pilihannya adalah mampir ke Wat Arun yang tak kalah indahnya –apalagi jika kamu menikmati ketika sunrise atau sunset. Kamu bisa menaiki prang (menara) melalui tangga yang tampak curam dan dibutuhkan kehati-hatian untuk bisa menikmati kota Bangkok. Biaya masuknya cukup murah bilang dibandingkan Grand Palace. Disini kamu bisa berfoto menggunakan baju khas budaya Thailand– bisa dikatakan semacam baju adat kalau di Indonesia.

Dari Satichai Prakarn menuju Wat Arun Temple kamu bisa berjalan kaki menuju stasiun boat Tha Tien Pier. Lumayan jauh sih bagi yang tidak biasa jalan. Anggap saja kamu sedang jalan santai di

pagi hari. Oh, ya sebelum menyemberang ke Wat Arun, ada sebuah pasar, nah jangan lupa mampir untuk sarapan Pad Thai di sana yang tertulis Halal. Lanjutkan membaca “5 Hal Seru Yang Bisa Kamu Lakukan di Bangkok Ketika Ketersediaan Baht Terbatas”

Cerpen : USAI

Semua sudah punya cerita masing-masing

Barangkali kalimat Arina beberapa hari yang lalu benar adanya ketika aku kembali mempertanyakan hubungan lingkaran pertemanan antara kami –Aku, Arina, dan Alan. Aku dengan rentetan deadline sepanjang hari yang lupa bahwa harusnya ada rentetan tawa yang diraih. Sementara, Arina terlalu sibuk menciptakan dramaqueen. Alan?

Hari ini tiba-tiba aku menyesal mengajak Alan bertemu setelah hampir setahun tidak lagi melihat wajah ceria dengan senyum lebar yang selalu terukir setiap kali kami bersama. Aku tidak mengikuti perkembangannya meskipun sesekali Arina mengabarkanku tentang Alan yang semakin bersinar.

Arina : Ka, liat Alan di TV X. Gila, koplak…!

Aku masih menyimpan kalimat Arina yang masuk dalam blackberry messenger. Tiga bulan yang lalu. Kalimat yang terabaikan begitu saja, disela-sela kesibukan mengejar narasumber. Selebihnya, tiga bulan terakhir ini gadis melankolis itu tak lagi memberi kabar tentang Alan. Tak ada obrolan yang tercipta baik melalui blackberry messenger atau pun pertemuan yang diagendakan. Dari akun jejaring sosial yang dimiliki Arina di dunia maya, aku ketahui ia masih disibukan dengan kisah dramaqueen­-nya.

Akhirnya, beberapa hari yang lalu aku memutuskan untuk menjadi yang pertama menghubunginya sekaligus berniat mengagendakan ‘pertemuan’ diantara kami bertiga. Sayangnya, Arina memiliki ribuan alibi untuk tak bisa memenuhi perjumpaan ini. Aku menarik napas. Perdebatan singkat pun terjadi.

Arina: Ka, aku ada tugas keluar kota. Kamu ganti hari lain dong

Membaca kalimatnya terasa mendengar rengekan khas Arina.

Azka: Rin, aku sengaja mengambil cuti. Ini udah hampir setahun kita tidak bertemu. Berada di kota yang sama, tapi tidak pernah bertemu

Arina: Ka, hari lain please…

Bayanganku berhalusinasi, wajah memelas Arina menatapku seperti yang sering ia lakukan saat kami masih menghabiskan waktu dibangku kuliah dulu.

Azka: Aku tidak yakin untuk hari lain. Selalu wacana doang

Arina: Ka

Arina memasang emoticon ‘sedih’. Aku melanjutkan mengetik keypad ponsel smartphone-ku.

Azka : Alan apakabarnya ya Rin? Gue kangen bisa berkumpul bertiga lagi

Arina: Kan udah punya cerita masing-masing Ka’… tidak selamanya berjalan beriringan. Move on dong!

Aku terdiam membaca kalimat Arina dan tidak punya gambaran ekspresi seperti apa yang ditunjukkan cewek berkulit kuning langsat itu ketika mengungkapkan kalimat tersebut. Kan kita udah punya cerita masing-masing Ka’…

Lanjutkan membaca “Cerpen : USAI”