Bulan: November 2016

Suatu Sore yang Terik di Malaka, Malaysia

oleh : Eka Herlina * 

“Kamu juga bisa ikut Melaka River Cruise. 15 ringgit saja,” jelas William sembari memberi lingkaran pada peta kertas yang telah disiapkannya. Ia menjabarkan satu persatu tempat yang menarik yang bisa saya kunjungi di Malaka termasuk tempat makanan halal. Diam-diam saya mengagumi sosoknya sebagai penjaga guesthouse yang memahami informasi apa yang dibutuhkan oleh tamu.

malaka

Saya mengunjungi Malaka di suatu siang yang panas menyengat di awal September 2016 –sehari sesudah menunaikan ibadah Idul Adha di Kuala Lumpur. Informasi yang dipaparkan William tak terlalu saya simak, rasa lelah perjalanan dari Kuala Lumpur membuat saya ingin segera melepas penat dengan tidur dan kembali beraktivitas menjelang sore.

Sebagai penikmat sejarah, kota Malaka salah satu destinasi impian saya untuk menelusuri jejak perdagangan Portugis di kota kecil ini. Kota ini sukses menjadi pusat perdagangan antar bangsa sekitar abad 15. Sayangnya, kondisi pikiran dan badannya saya yang kelelahan usai pusing-pusing di Kuala Lumpur, membuat saya malas segera ‘membaca’ Malaka.

Malaka menawarkan sensasi seperti sebuah taman yang menenangkan ditengah terik panasnya matahari. Setidaknya itu yang saya rasakan sesaat mendaratkan kaki di kota yang mendapat predikat World Heritage Site dari UNESCO. Panasnya matahari sore tak menyurutkan kaki saya untuk melangkah santai menelusuri sungai Malaka. Sesekali berhenti menyaksikan Cruise yang melintas.

Malaka Red Square ; Kota Tua Yang Menakjubkan

Saya melepas penat di salah satu tempat duduk di kawasan Malaka Red Square. Melempar pandangan ke beberapa wisatawan baik asing maupun lokal yang asyik berfoto ria. Dari berbagai gaya dengan keceriaan yang menyenangkan.

Kebahagiaan bukan saja milik mereka yang berfoto ria, tapi juga para abang becak yang menghiasi becaknya dengan ragam modifikasi yang indah. Senyum gembira terpancar di wajah si Abang, menawarkan becaknya pada saya. Saya mengeleng kepala. Menghirup udara sore yang panas. Si abang pun tetap ramah menawarkan becaknya dengan harga yang ia bilang murah dari turis biasanya.

“ 20 ringgit saja.”

Lagi-lagi saya tersenyum tipis mengeleng kepala. Kembali berjalan menelusuri kawasan Malaka Red Square atau di kenal dengan sebutan Dutch Square. Di tempat ini terdapat gereja protestan pertama di Malaysia, Christ Church yang dibangun sekitar tahun 1753. Pembangunan gereja ini dalam rangka memperingati 100 tahun pendudukan Belanda di Malaka. Menarik adalah bata merah pembangunan gereja ini didatangkan langsung dari Belanda.

20160924_174756.jpg

Seraya menghela napas, saya beralih pandangan lepas ke Stadthuys, yang dibangun sekitar tahun 1641 an, yang awalnya merupakan rumah dinas gubernur Belanda. Saat Malaka jatuh ke penjajahan Inggris tempat ini dialihfungsikan menjadi alun-alun.

            Bangunan tersebut masih terawat dengan baik. Berdiri dengan kokoh. Saya pun mengakui totalitas Belanda dalam segi pembangunannya yang penuh cerita nan menawan.

Selain bangunan tersebut, di Red Square ini terdapat juga Menara Jam Tan Beng Swee, yang dibangun pada 1886 oleh seorang pemuda Malaka sebagai penghormatan terhadap ayahnya. Jam ini masih berfungsi dengan baik.

Kehadiran replika kincir angin di kawasan ini juga menjadi bukti keberadaan kolonial Belanda di tempat ini. Selain itu juga terdapat air mancur Queen Victoria Fountain, yang dibangun saat Malaka jatuh ke tangan Inggris pada 1904 sebagai persembahan kepada Ratu Victorias dalam rangka perayaan 60 tahun kekuasaan. Dua kekuasaan di masa lalu tergambar dengan bukti bangunan yang menakjubkan.

 

Menyaksikan Keindahan Malaka dari Menara Taming Sari

Menikmati Malaka di pengujung sore adalah pilihan yang tepat. Saya merasakan sensasi yang berbeda saat melihat bangunan tua ketika kaki ini menelusuri tak tentu arah menuju Menara Taming Sari. Mata saya menatap takjub pada sebuah replika kapal Flor De La Mar yang difungsikan sebagai Museum Maritim. Kapal Flor de La Mar sendiri merupakan kapal milik Portugis yang pernah ditengelam di selat Malaka pada November 1511.

Di seberangan kapal tersebut, sebuah pusat perbelanjaan oleh-oleh menanti saya. Karena perjalanan ini adalah bertujuan untuk menenangkan pikiran saya dari keramaian ibukota Malaysia sebelumnya saya kunjungi, saya melangkah santai. Tidak untuk membeli oleh-oleh, sekedar menikmati aktivitas jual beli yang tampak tenang.

Tak ada yang bisa saya beli di pusat oleh-oleh tersebut selain satu bungkus bumbu masak asam pedas – sebagai orang Minangkabau masakan ini sangat khas bagi lidah saya. Saya menyadari bahwa makanan favorit saya ini, tidak saja milik suku saya, tapi masyarakat Melayu pada umumnya. Di Aceh pun dapat ditemui masakan asam pedas. Begitu pedagang tersebut bercerita pada saya.

 Saya mengakhir ‘istirahat’ sejenak dari kelelahan menikmati kehidupan urban Kuala Lumpur di bawah menara Taming Sari. Mengadahkan kepala. Menerka pemandangan apa yang akan terlihat di sana.

taming sari.jpg

Sebuah selat dengan lautan luas terbentang, di seberang sana pulau tempat saya dilahirkan dan dibesarkan berada ; Sumatera. Nun jauh kebelakang, berabad-abad dulu, pikiran saya membayangkan kapal-kapal perdagangan yang lalu lalang melintas selat tersebut. Salah satu dari mereka, mungkin singgah di pelabuhan Teluk Bayur. Entahlah… sejarah tetap saja menjadi cerita yang menarik nan penuh praduga. (ekahei)

*Tulisan ini pernah dimuat di Phinemo

 

 

Melihat Kuala Lumpur Lewat Drama Musikal

“ Mara kira Kuala Lumpur itu isinya semua orang Melayu.” Pandangan mata Mara terlempar jauh mengamati kesibukan orang-orang yang berlalu lalang di KL Sentral. Siang itu kami asyik menyantap makan siang di salah satu restoran cepat saji. Ini pengalaman pertama Mara menginjak Kuala Lumpur.

                Saya cuma tersenyum tipis menanggapi komen Mara yang sudah saya kenal sejak masih duduk dibangku menengah pertama. Menyantap kentang goreng sembari menyapu pandangan yang sama dengan Mara. Siapa tahu diantara lalu lalang orang-orang itu terselip sahabat hati yang mau berbagi suka dan duka *halah.

img-20160918-wa0039

Kemegahan Kuala Lumpur Lewat Twin Tower

                Komentar Mara tentang Kuala Lumpur menyadarkan saya pada satu hal tentang multietnis negeri ini yang berjalan damai—sesuatu yang akhir-akhir ini terlihat memudar di negeri ini . Sejujurnya selama ini saya mengabaikan ragam manusia yang memenuhi ibukota Malaysia ini. Bagi saya Kuala Lumpur tak ubahnya tempat transit yang nyaman. Tak lebih.

                Berkat kebaikan omndut, saya mendapatkan sebuah tiket drama musikal. Saat itu, sebagai orang yang pernah berkecimpungan dalam dunia teater tentu penasaran bagaimana serunya menonton drama musikal di negeri orang. Ini alasan kenapa aku mengajukan diri ke omndut untuk sebuah tiket gratis – kebetulan saat itu mo berkunjung ke KL juga.

MUD : ‘’ Our Story of Kuala Lumpur”

Drama yang terdiri dari empat babak dengan latar belakang tahun 1857-1881 ini kembali membuat saya teringat pada komentar Mara tentang Kuala Lumpur. Berlangsung hampir satu jam lebih dengan tiga tokoh utama ; Mamat berdarah melayu, Meng berdarah China, dan Muthiah berdarah India.

Dari pengenalan tiga tokoh itu mengambarkan representasi mengenai Kuala Lumpur. Cerita dimulai pada 1857 saat kegemilangan biji timah yang mendatangi beberapa pendatang ke pertemuan dua sungai yaitu sungai Lumpur (Sungai Gombak) dan Sungai Kelang ; termasuk kehadiran Meng, Muthiah dan Mamat. Mud sendiri seperti yang kita ketahui berarti Lumpur.

dsc02878

                Tiga tokoh utama itu memiliki cerita yang beragam dan unik serta menghibur. Meng yang ceria mampu memunculkan tawa saya di sela-sela kefokusan saya memaknai kalimat yang diucapnya dalam bahasa Inggris. Maklum bahasa pengantarnya dominan english dan  kemampuan bahasa Inggris saya sebatas ; yes/no and I love you .

                Harmonisasi kehidupan di perlihatkan dalam drama ini, aneka tarian yang beberapa kali membuat kantuknya saya hilang terganti dengan decak penuh kekaguman — maklum saat itu saya menonton di jam waktunya tidur siang –. Menariknya adalah ketika pemainnya mengajak penonton ikut terlibat dalam keceriaan mereka.

                Tak saja menampilkan harmonisasi kehidupan, pada babak ketiga diperlihatkan kebakaran besar yang melanda Kuala Lumpur pada tahun 1881. Musibah pun kembali terjadi yaitu banjir besar yang memusnahkan impian mereka. Namun, ditengah rasa putus asa mereka kembali tersadar pada semangat hidup yang harus terus dijalankan. Di Akhir cerita diperlihatkan kebangkitan mereka dalam membangun Kuala Lumpur kembali. Kemeriahan pun terjadi lewat tarian yang menyenangkan.

 dsc02894

****

Bagi saya ini drama musikal yang cukup mengagumkan. Tak heran jika Tripdvisor merekomendasikan sebagai salah satu kegiatan yang bisa kamu lakukan selama berada di Kuala Lumpur ; menonton MUD ” Our story of Kuala Lumpur. Selain melakukan interaksi dengan penonton, para pemainnya juga nggak segan mengajak kita untuk terlibat dalam alur cerita dengan mengajak naik ke atas penonton. Saya pun ikut menari penuh kegembiraan.

Memperkenalkan wajah Kuala Lumpur secara singkat, drama musikal ini berlangsung hingga pengujung Desember dengan jadwal tayang pada pukul 03.00 PM dan 08.30 PM. Untuk lokasi sendiri berada di Panggung Bandaraya , dataran merdeka, Kuala Lumpur — lebih tepatnya di depan dataran merdeka atau di belakang mesjid Jamek. Untuk tiket masuk dikenakan RM 84.80. Sebandinglah dengan hiburan yang didapati  🙂 ****

DSC02887.JPG

Si bule di ajak mengaduk di atas kuali besar. Menikmati kehidupan Kuala Lumpur ceritanya…

Sang Bolang ; Mengukir Kisah Menuju Pulang

“Ka, temani gue liputan ngerjain tugas PB (Penulisan Berita) nih. Lo kan suka ngebolang, jadi tahu lah acara menarik di Jakarta.”

Kira-kira intinya begitulah kalimat Nara yang keluar di suatu siang yang panas beberapa tahun lalu. Saya mangut-mangut tak tentu. Seingat saya saat itu belum lama kami kenal sebagai seorang teman.

Perkenalan kami tak terlepas dari ketika saya meminta diri untuk bergabung ke kelompok Nara dalam rangka tugas kuliah bernama ‘ Etika Komunikasi’ — Ya, saat itu saya merasa terasing di kelas mata kuliah ini akibat jarang masuk. Dari sinilah tercipta obrolan lepas bersama Nara. Ekspetaksinya penuh kagum terhadap saya di ungkapkannya secara jujur — membuat saya melongo.

eka

Menikmati malam di Bundaran HI

Bagi Nara saya adalah Bolang –mengacu pada program acara bocah petualangan di salah satu stasiun televisi. Setiap hal yang berbau jalan-jalan maka ia akan turut serta menyampaikan ide atau mengajak saya. Nara yang haus liburan pun mengungkapkan keinginannya untuk menjelajahi yogyakarta kepada saya. Saat itu istilah backpacking belum se-booming sekarang. Ia mengajak teman dekat kami, Umi.

Saya terdiam.  Saya memang menyukai perjalanan tapi tidak terlalu suka berada di tempat wisata yang penuh keramaian. Satu sisi saya punya ketakutan mengajak teman yang punya ekspektasi tinggi terhadap saya. Alasan yang sebenarnya adalah saya belum pernah ke yogyakarta saat itu. Bagaimana kalau nanti sampai sana? Bagaimana kalau terjebak kelinglungan dan bla..bla..bla! ragam ketakutan menari di benak saya.

Ini mah yang ada bukan bocah petualang tapi malah jadi bocah hilang!

Dalam kebingungan, mata saya tertuju pada Eda, saudara kembar saya. Berbeda dengan saya yang suka melakukan perjalanan sendiri, Eda orang yang biasa melakukan perjalanan dengan teman. Satu hal yang jelas, ia pernah ke yogyakarta. Maka janji telah terukir bersama Nara diwujudkan oleh Eda.

eda

Meski jarang melakukan perjalanan bersama, Eda adalah teman yang baik dalam melakukan perjalanan selama ini 🙂

Sementara saya terjebak di atas ribuan kaki dari permukaan laut. Memandang lepas ke awan, mengembara pada pikiran ; menuju Pulang.

****

Nara bukan satu-satunya menganggap saya Bolang. Sebagian orang-orang yang pernah bersentuhan dalam artian mengobrol beberapa kali menganggap hal serupa. padahal tak ada petualang berarti yang pernah saya lakukan. Entah itu berpetualang menaklukan gunung atau buaya.

Beberapakali tawaran mengajak saya mendaki gunung pun menghampiri saya yang saya tolak secara halus karena ada ragam ketakutan yang sulit saya jabarkan –bagaimana kalau saya hilang di gunung? Bagaimana nanti saya tak bisa pulang?

Waktu saya lebih banyak dihabiskan di kampus dan jalan menuju kosan Eda di kawasan Slipi, Jakarta Barat. Jika lelah, saya melipir ke toko buku atau melangkah ke area permainan anak-anak di Mall. Memandang penuh senyum pada tawa lepas bocah yang bermain mandi bola atau kereta-keretaan.

Tak lebih.

Jika Jakarta mengandalkan wisata Dufannya, saya angkat tangan. Saya orang paling rugi berada di area permainan ini. Tak ada permainan yang membuat saya tertawa lepas di Dufan selain kelelahan mengantri dan tangisan penuh ketakutan ketika naik rollercoster. Satu-satunya yang menyenangkan adalah bersepeda menelusuri bangunan Tua hingga ke pelabuhan sunda kelapa atau menikmati pemandangan malam di bundara H.I.

photo (5)

Tak ada yang lebih menyenangkan dari secangkir coklat panas dan sore

Dan… saya merasa gagal menyandang Bolang ; bocah petualang.

****

Jika perjalanan adalah jalan menuju pulang. Sesungguhnya perjalanan itu sendiri adalah rumah untuk menemui — mengenal diri sendiri.

Saya memejam mata sejenak. Pikiran saya mengembara ke lorong waktu ketika usia saya belum genap 6 tahun. berdiri memegang dasboard mobil truk yang di kendarai oleh Pak Aie — orang kepercayaan ayah. Bernyanyi penuh keriangan saat laju mobil memasuki kawasan Muaro bungo, Jambi. Sesaat kemudian akan memasuki hutan belantara.

Begitulah perjalanan saya di mulai selama beberapa tahun hingga remaja. Menyaksikan hutan yang perlahan berubah menjadi permukiman, Jalan penuh lumpur berubah menjadi aspal, serta tanah bekas penambangan emas yang dibiarkan begitu saja.  Serta menikmati subuh di pasaraya Padang menunggu pak  Aie bertransaksi dengan orang pasar ; menurunkan nangka dan beberapa karung jengkol yang di bawa pak Aie.

 

padang

Pemandangan indah dalam perjalanan Padang-Pariaman ; menuju rumah

Tumbuh menjadi anak pedagang Minangkabau yang merantau di daerah transmigrasi Jambi, orang tua saya mengirim saya untuk menghabiskan banyak hari di Padang. Bisa dipastikan dalam setahun saya melakukan perjalanan melintasi jalanan Sumatera dari Padang-Muaro Bungo-Kuamang kuning.

Mengunakan Truk, Pak Ai kerap beristirahat di rumah makan yang isinya supir-supir truk yang baru pulang dari membawa beberapa hasil kebun seperti jengkol ke tanah Jawa. Memori kecil saya saat itu dipenuhi oleh ragam cerita yang keluar dari mulut mereka di sela-sela menyeruput kopi susu panas yang dipesan Pak Ai.

Jika ada tugas mengarang pengalaman liburan di sekolah, saya bingung menceritakan apa. Teman saya menceritakan ia menghabiskan liburan ke Jembatan Akar di Pesisir Selatan, yang satu lagi menceritakan liburan di Malibo Anai, bahkan ada dengan serunya menceritakan liburan ke Monas, Jakarta.

Saya kecil terdiam. Terkadang dalam perjalanan bersama Pak Ai, kami kerap mengalami bocor ban. Tidur di tengah kesunyian jalanan sambil menunggu pagi hingga bengkel buka. Atau menikmati kegerahan menunggu mobil di perbaiki di salah satu bengkel yang ditemui di jalanan.

Kadang yang menyenangkan sesaat sebelum memasuki kota Padang, melintasi Sitinjau Laut nan sunyi, Pak Ai membangunkan saya. Memperlambat laju mobil. Memperlihatkan keindahan lampu kota dari Panorama. Hal ini juga berlaku di siang hari saat kami meninggalkan kota Padang. Berhenti sejenak sekedar menikmati sejuknya udara di panorama sambil melempar pandangan di bawah sana.

kota-padang-padang

Menikmati pemandangan kota Padang dari ketinggian bukit Gunung Padang

Biasanya tak ada cerita yang bisa saya sajikan saat itu. Mengarang bebas dengan kalimat pembuka penuh kebohongan;” Pada suatu hari ayah mengajakku liburan ke pantai Gandoriah Pariaman…”

Sebab sesampai di Padang, tak ada liburan berarti selain berada di rumah. Terkurung dengan ragam bacaan serta televisi. Sesekali keluar menuju swalayan atau toko buku.

Tak lebih.

****

Perjalanan menuju pulang bersama truk dan pak Ai memberi kesan berarti di benak saya. Menghabiskan masa kuliah di ibukota yang memberi kebebasan dalam melangkah, saya kerap melakukan perjalanan sendiri tanpa tujuan destinasi jelas. Menaiki  kereta api ekonomi menuju daerah Kota dan terjebak menonton kuda lumping. Kadang juga terjebak obrolan dengan orang-orang tak dikenal yang saya temui baik di stasiun maupun di gerbong kereta api.

sawahlunto

Museum Kereta Api di Sawahlunto; Entah kenapa stasiun menyimpan cerita syahdu dan romantis bagi saya 🙂

Terkadang saya melipir ke Jatinangor, sekedar merasakan sensasi menjadi mahasiswa Unpad dengan menghabiskan beberapa hari di kosan teman yang kebetulan kuliah yang di sana. Pun ketika melakukan perjalanan ke Yogyakarta. Menelusuri kawasan UGM dan terjebak beberapa hari di kamar kosan teman.

Tak lebih.

****

Saya berdecak kagum melepas pandangan ke laut yang tampak terlihat hijau. Mengabaikan perasaan ingin melarikan diri saat tahu harus menyemberang selama 6 jam menuju tempat ini ; Karimun Jawa. Saat itu ketakutan menghantui saya, bagaimana jika ombak menghantam kapal ini… terus karam… terus terbenam. Arghht….!

Entah keberanian dari mana datang yang membuat saya bertahan  untuk terus melakukan perjalanan ke Karimun Jawa hingga kembali pulang ke Jakarta saat melihat wajah-wajah asing penuh senyum kegembiraan berada di sekitar saya.

traveller kaskus

Menikmati perjalanan di Karimun Jawa, Jepara.

Pun ketika saya melompat dari kapal dengan life vest untuk pertama kalinya melakukan snorkeling. Jantung saya berdebar-debar penuh ketakutan dan khayalan tak jelas menghantui saya.

Semua perasaan itu hilang saat kesegaran merasuki tubuh saya. Senyum mengembang terukir di bibir saya memperhatikan ikan-ikan indah lalu lalang di sekitar tubuh saya.

 Perjalanan seribu mil dimulai dengan satu langkah –Lao Tzu

Pengalaman melakukan perjalanan ke Karimun Jawa dengan orang-orang asing yang saya temui di situs jejaring sosial mengubah pandangan saya tentang perjalanan itu sendiri.

Tentang Indonesia yang tak sebatas jalanan lintasan Sumatera dan lautan luas Karimun Jawa. Hal ini kerap menghantui pikiran saya ; memaksa untuk kembali melangkah. Jika rumah adalah kenyaman untuk hati ini, maka sesungguhnya rumah itu adalah perjalanan.  Dan, pulang bukan tujuan akhir tapi tempat melepas lelah sejenak.

pantai-padang

Pulang bukanlah akhir dari perjalanan… ia adalah rumah sebenarnya bagi pejalan 🙂

Memeluk tubuh ibumu sekedar membisikan kalimat mengucapkan rasa syukur telah menghadirkan dan mengenal dunia yang menyenangkan ini.

Kuamang Kuning, Oktober 2016